DELEIGEVEN HISTORICULTURAM

HISTORY IS ONE OF THE BEST INFORMATION FOR OUR CURRENT & FUTURE

Translate

Showing posts with label Eigypt History (Sejarah Mesir). Show all posts
Showing posts with label Eigypt History (Sejarah Mesir). Show all posts

Wednesday, 20 June 2018

YONATAN, PUTRA MAHKOTA YANG SETIA (bagian 1)


SIAPAKAH PUTRA MAHKOTA YONATAN?

Lebih dari tiga ribu tahun yang lalu, ketika kerajaan-kerajaan di wilayah Kanaan selalu berperang satu sama lain, berdirilah sebuah kerajaan baru di sekitar Sungai Yordan.
Kerajaan ini diapit oleh kerajaan-kerajaan besar pada masa itu sehingga mereka harus berperang mempertahankan wilayah mereka.
Raja kerajaan ini sangat perkasa, demikian juga putra-putra dan para panglimanya.
Sang raja memiliki beberapa putra tetapi hanya satu putranya yang termasyur.
Putranya ini kemudian menjadi putra-mahkotanya.
Nama putranya ini adalah Yonatan
___________________________________________________________________________



Yonatan ben Saul lebih dikenal sebagai Yonatan. Dia adalah salah-satu tokoh terkenal dalam sejarah kerajaan Israel. Ada banyak tokoh-tokoh dalam sejarah Israel yang dimuat dalam kitab suci Yahudi atau kitab suci Kristen yang bernama Yonatan1 tetapi Yonatan ben Saul adalah Yonatan yang paling terkenal2.

Ironis dengan statusnya sebagai putra mahkota pertama Kerajaan Israel, catatan tentang kisah hidup Pengeran Yonatan sangat sedikit dan hanya ditemukan dalam satu kitab saja yaitu salah-satu kitab sejarah di Perjanjian Lama yang bernama kitab Samuel.
Siapakah pangeran Yonatan dan bagaimanakah beliau hidup?
___________________________________________________________________________
1tokoh lain yang bernama Yonatan, yang cukup dikenal adalah Yonatan ben Abyatar (putra Abyatar, imam utama era Daud), seorang yang juga dikenal akan kesetiaannya pada Daud. Yonatan yang lain adalah Yonatan ben Yada dari klan Hezron dan sub-klan Onam, dan panitera Yonatan yang mengabdi di era Raja Zedekia
2dalam catatan sejarah Israel hanya Yonatan ben Saul yang bergelar pangeran




PUTRA MAHKOTA PERTAMA

Putra mahkota Yonatan adalah putra sulung dari Raja Saul (Arab: Thalud3). Ayahnya adalah raja pertama kerajaan Israel Bersatu4. Ini membuat Yonatan, de facto, menjadi putra mahkota pertama kerajaan ini. Yonatan lahir pada sekitar tahun 1060an SM5, atau sekitar 15-20 tahun sebelum Kerajaan Israel resmi berdiri. Tempat kelahiran Yonatan yang pasti belum di ketahui tetapi besar kemungkinan beliau lahir di kota kelahiran ayahnya yaitu di Gibea Benyamin6 tepatnya di Gibea Saul7, yaitu sebuah wilayah yang didiami suku Benyamin8. Wilayah ini dinamai Gibea sebab terdiri dari perbukitan (Ibrani: Gibea=bukit). Gibea Saul artinya wilayah tempat tinggal keluarga Saul (letaknya didalam wilayah Gibea Benyamin) atau secara harafiah berarti “bukit milik Saul”.

Nama Yonatan (Ibrani: יוֹנָתָן) adalah kependekan dari nama Yehonatan (Ibrani: יְהוֹנָתָן) yang artinya “Tuhan Yang Memberi”. Meskipun banyak nama Ibrani yang memiliki arti yang lebih indah namun banyak kalangan Kristen dan Ibrani menganggap nama “Yonatan” sebagai nama (pria) terindah dalam kitab suci Kristen dan Ibrani. Pangeran Yonatan bukanlah satu-satunya tokoh (dalam kitab suci Ibrani dan Kristen) yang menggunakan nama ini tetapi diantara semua pengguna nama ini Yonatan-lah yang paling dihormati karena dia terkenal sebagai sahabat yang paling tulus dan paling setia dalam kitab suci Ibrani dan Kristen. Dia juga termasuk dalam salah-satu tokoh Alkitab yang paling terkenal. Sifat setianya inilah yang membuat Yonatan sangat terkenal, selain karena persahabatannya dengan Daud9.

Tidak ada potret (lukisan) resmi dari masanya, atau potret wajahnya yang berasal dari masa yang sama, tentang wajah dan sosok Yonatan tetapi sebagian besar seniman di masa yang jauh setelah masa hidupnya menggambarkan Yonatan sebagai seorang pangeran yang sangat tampan dan gagah, berbadan tegap, serta bertubuh lebih tinggi dari orang-orang Israel dimasanya. Perkiraan tinggi Yonatan adalah sekitar 185 cm, jauh diatas tinggi rata-rata orang Israel pada masa itu (175 cm10). Ini karena catatan kitab Samuel menyebutkan bahwa ayahnya, Saul, adalah pria yang berwajah paling tampan di Israel dan bertubuh paling tinggi di seluruh Israel (kitab 1 Samuel pasal 9:211) sehingga para seniman beranggapan bahwa Yonatan mewarisi fisik ayahnya. Meskipun bertubuh tinggi tetapi Yonatan tidak lebih tinggi dari ayahnya karena catatan kitab Samuel menyebutkan bahwa ayahnya adalah pria yang paling tinggi di pasukan Israel pada masa hidupnya dan tingginya sangat mencolok12.

Sebagian besar sejarawan dan peneliti Ibrani dan Kristen sepakat bahwa Yonatan adalah seorang kakak yang ideal dan baik, serta kakak panutan bagi adik-adiknya. Melalui catatan dalam kitab Samuel beliau dikenal sebagai seorang pangeran bermoral tinggi dan baik-hati, bijaksana, berintegritas, dan sangat pemberani. Namun, dari semua sifat baiknya, Yonatan lebih dikenal tentang kesetiaannya.

Belum ada penemuan arkeologi atau setidaknya korespondensi kuno yang memuat nama Yonatan atau Wangsa Saul yang merujuk pada Yonatan, baik itu dalam Prasasti Mesa atau dalam surat-surat Amarna. Tetapi, dalam salah-satu surat Amarna ada seorang raja Kanaan yang bernama Raja Labayu, yang oleh sebagian kecil sejarawan, terutama pengikut teori “kronologi baru,” dihubungkan sebagai Raja Saul. Dalam surat Amarna, raja Labayu memberi-tahu Firaun (surat bernomor EA 25413) bahwa dia (Labayu) telah menegur putranya sebab putranya ini berteman dengan orang-orang Habiru (orang-orang Hebrew) tanpa sepengetahuannya. Oleh beberapa sejarawan, dan peneliti di kubu kronologi baru, orang-orang Habiru ini dihubungkan sebagai orang-orang Hebrew (salah-satu sebutan resmi orang Israel) yang menjadi pengikut Daud sebab menurut mereka pada masa itu sebutan “Hebrew” hanya diperuntukan untuk menyebut orang-orang Israel yang mengikut Daud (David Rohl, “A Test of Time: The Bible-From Myth To History,” 1995). Korespondensi kuno ini memang mirip dengan catatan kitab Samuel yang memuat kemarahan Saul pada Yonatan (kitab 1 Samuel pasal 20:3014) sebab Yonatan bersahabat erat dengan Daud dan selalu membela Daud (pemimpin orang Hebrew), bahkan membantu Daud tanpa sepengetahuan Saul.

Teori David Rohl ini belum diterima secara umum, terutama kalangan sejarawan di kubu kronologi ortodoks, dan bahkan ditentang keras oleh para sejarawan Mesir khususnya egyptologist kawakan Kenneth Kitchen. Tetapi, jika pendapat David Rohl benar maka surat-surat Amarna itu, sejauh ini, adalah satu-satunya catatan diluar kitab Samuel yang memuat tentang Yonatan.
__________________________________________________________________________________
3kemungkinan Saul dan Thalut dalam kitab suci Al-Quran adalah tokoh yang sama
4nama resmi kerajaan ini adalah “Kerajaan Israel,” tanpa kata “bersatu” tetapi dimasa-masa selanjutnya, era dari raja pertama hingga yang ketiga dikenal sebagai kerajaan “Israel Bersatu” untuk membedakannya dengan “Kerajaan Israel Utara” yang juga menggunakan nama resmi “Kerajaan Israel”, sebab setelah kerajaan ini terpecah menjadi dua, salah satu pecahannya dibagian utara menggunakan nama resmi “Kerajaan Israel” sedangkan pecahaannya dibagian selatan menggunakan nama resmi “Kerajaan Yehuda”
5mengacu pada perkiraan tahun berdiri kerajaan Israel (±1040 SM) dalam kronologi yang dibuat dan disepakati oleh para sejarawan Perjanjian Lama
6ibukota pertama kerajaan Israel
7lokasi istana pertama kerajaan Israel yang hanya digunakan di era Raja Saul
8Suku Benyamin adalah suku Israel ke-12. Nama Benyamin diambil dari nama patriak Benyamin ben Yakub, yaitu putra bungsu patriak Yakub ben Ishak ben Abraham. Nama sebelas suku lainnya juga diambil dari nama anak-anak Yakub yang menjadi leluhur masing-masing suku, yaitu: Ruben (anak sulung), Simeon, Lewi, Yehuda (suku asal Daud), Dan, Naftali, Gad, Asyer, Isakhar, Zebulon, dan Yusuf (yang memiliki dua anak dan keduanya diangkat menjadi kepala-kepala suku, yaitu Efraim dan Manasye).
9salah-satu raja terbesar Israel. Umumnya dia dikenal sebagai raja kedua, terutama dikalangan Kristen, tetapi secara de facto dia adalah raja ketiga karena sepeninggal Saul dia digantikan oleh putranya. Saat itu Daud hanya menjadi raja orang Yehuda. Daud baru resmi menjadi raja Israel setelah kematian putra Saul
10tinggi orang Israel kuno berhasil diperoleh dari penggalian-penggalian makam-makam kuno di Israel
111 Samuel pasal 9:2a-b: “…namanya Saul; seorang muda yang elok rupanya (tampan); tidak ada seorangpun di Israel yang lebih elok (tampan) rupanya (wajahnya)”
121 Samuel pasal 9:2c: “dari bahu keatas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya.”
13surat  Amarna nomor 254 terjemahan modern: “aku telah menegur putraku sebab dia membantu orang-orang Habiru dibelakangku”
14kitab 1 Samuel pasal 20:30: ”Lalu bangkitlah amarah Saul pada Yonatan, katanya kepadanya: … bukankah aku (Saul) tahu bahwa kau (Yonatan) telah memilih pihak anak Isai (Daud) dan itu noda bagi kau sendiri…..




KELUARGA YONATAN DAN WANGSA SAUL

Keluarga besar Yonatan adalah keluarga kaya dan terhormat yang nama besar dan kekayaan keluarganya ini telah ada jauh sebelum kerajaan Israel berdiri. Ayahnya adalah Raja Saul, raja pertama Israel.

Sesuai dengan catatan kitab Samuel, ibu Yonatan bernama Ahinoam, putri seorang yang bernama Ahimaas. Kakek paternalnya bernama Kish ben Abiel, seorang kaya dari suku Benyamin 15.

Menurut kitab 1 Samuel pasal 9:1, Yonatan berasal suku Benyamin dari sub-klan Afiah dan dari keluarga Abiel16 yang tinggal di wilayah Gibea Benyamin. Jika mengacu dari silsilah suku Benyamin dalam kitab 1 Tawarikh maka keluarga Yonatan berasal dari klan sub-klan besar Abiah17 yang berasal dari klan besar Bekher (putra kedua patriak Benyamin). Ayah Abiah bernama Bekher (kitab 1 Tawarikh pasal 9:8). Inilah mengapa Abiah memberikan nama Bekhorat (berasal dari  nama Bekher) pada putranya. Nama Bekhorat ini bisa ditemukan dalam silsilah ayah Yonatan (kitab 1 Samuel pasal 9:118).

Nama asli kakek buyut Yonatan masih belum jelas. Penulis kitab Samuel jelas menyebut bahwa kakek buyutnya bernama Abiel, tetapi dalam kitab Tawarikh tertulis bahwa kakek buyutnya bernama Ner, padahal dalam kitab Samuel, Ner (ayah Jenderal Abner) adalah paman paternal dari ayahnya yang artinya Kisy dan Ner adalah kakak-beradik. Mungkin penulis kitab Tawarikh bermaksud bahwa Ner ini adalah wali dari Kisy (sebagai saudara tertua) sebab ayah mereka (Abiel) telah meninggal. Dalam kitab Tawarikh, ayah Kisy (dan juga Ner) bukan bernama Abiel melainkan Yeiel sehingga penulis artikel ini berasumsi bahwa kedua nama ini berasal dari orang yang sama, yaitu dua-duanya adalah kakek buyut Yonatan. Nenek buyut Yonatan, sesuai dengan kitab Tawarikh, adalah Maakha. Kakek paternal Yonatan, Kisy, memiliki beberapa saudara laki-laki, yaitu Abdon, Zur, Baal, Nadab, Gedor, Ahyo, Zeker, dan Miklot (sesuai kitab Tawarikh), dan Ner (sesuai dengan kitab Samuel). Kakeknya adalah putra ketiga, dan ayahnya adalah putra pertama (atau mungkin putra tunggal).

Yonatan adalah anak sulung, dan memiliki enam adik laki-laki dan dua adik perempuan. Empat adik laki-laki adalah adik-adik kandungnya yaitu: Pangeran Yiswi (dipanggil juga Abinadab), Pangeran Malkisua, dan Pangeran Ishiboset (dipanggil juga Esybaal). Dua orang adik laki-laki lainnya adalah adik-adik tirinya (anak ayahnya dari seorang selir yang bernama Rizpah), yaitu Pangeran Armoni dan Pangeran Mefiboset (berbeda dengan putra kandung Yonatan yang juga bernama Mefiboset). Dua adik perempuan Yonatan adalah adik-adik kandung yang bernama Putri Merab dan Putri Mikhal.

Berdasarkan namanya, adik Yonatan yang bernama Ishiboset terindikasi cacat, sehingga tidak dilibatkan dalam pertempuran dan pemerintahan. Nama Ishiboset19 (Ibrani: pria yang memalukan) dan Esybaal20 (Ibrani: Prianya Baal atau pria penyembah Baal) masih menjadi perdebatan, tetapi penulis artikel ini berpendapat bahwa tidak ada satupun dari kedua nama itu yang adalah nama lahirnya melainkan hanya nama panggilan ejekan.

Ada dua kemungkinan mengapa adik Yonatan ini dipanggil demikian. Kemungkinan pertama adalah karena fisiknya yang cacat (seperti Mefiboshet yang ditulis dalam kitab Samuel: dinamakan demikian oleh karena dia cacat, dan juga disebut dalam kitab Tawarikh sebagai: Meribaal) sebab dulu orang cacat dianggap sangat memalukan, dan dewa Baal21 dianggap sebagai dewa yang paling menjijikan oleh orang Israel karena praktik penyembahan berhala yang sangat cabul dan tidak manusiawi sehingga apapun yang sangat memalukan dianggap setara dengan Baal. Kemungkinan kedua adalah karena Ishiboset terlibat dalam penyembahan berhala pada Baal sebab keluarga Saul juga tidak luput dengan praktek paganisme orang Kanaan dan Asia Barat lainnya, seperti yang dilakukan oleh Mikhal (putri Saul, istri Daud) yang memiliki patung pagan terafim (kitab 1 Samuel 19:13a22), oleh sebab itu diera Daud, yang ketat dengan sistem pemerintahan monarki-teokratik, kelakuan Ishiboset ini dianggap sangat memalukan sehingga namanya disebut demikian (Ishiboset), dan oleh penulis kitab Tawarikh (Nehemia ben Hakhalya) namanya diperjelas lagi menjadi Esybaal (pria penyembah Baal). Tidak mungkin kedua nama ini adalah nama aslinya sebab tidak ada orang-tua dari masa manapun yang akan memberi nama pada putranya dengan arti “pria yang memalukan.” Nama Ishiboset pertama kali dicatat ketika kitab Samuel ditulis oleh Natan (namanya tidak muncul saat kitab Samuel ditulis oleh Samuel) yang tidak pernah bertemu langsung dengan Ishiboset dan hanya mendengar perihal keadaan Ishiboset melalui orang lain, termasuk melalui Daud. Natan mengetahui nama ini melalui Daud dan orang-orangnya. Daud yang pernah tinggal di istana Saul mengenal siapa Ishiboset, sebab mereka berdua seumuran, tetapi Daud lebih mengenal pangeran itu dengan nama sindirannya, “Ishiboset,” sehingga dia meneruskan nama itu pada Natan. Sedangkan, penulis kitab Tawarikh mengutip nama Ishiboset dari kitab-kitab terdahulu dan menerjemahkan namanya keartian yang lebih rendah lagi yaitu “Esybaal”. Ishiboset bukanlah putra bungsu Saul (penulis-penulis kitab Samuel23 tidak menulis Ishiboset sebagai putra bungsu) tetapi namanya selalu tercatat terakhir. Ishiboset mungkin diasingkan oleh ayahnya sebab dia lahir pada masa, atau setelah, ayahnya berseteru dengan Nabi Samuel dan mendapat cap sebagai raja yang ditolak Tuhan. Ini mungkin membuat kondisi Ishiboset yang cacat dianggap sebagai tulah Tuhan pada keluarga Saul, atau juga karena sikapnya yang menganut paganism yang sangat ditentang oleh ayahnya yang juga membuat dia dianggap memalukan. Ishiboset yang sejak lahir dicap sebagai anak tulah dianggap sebagai anak yang memalukan oleh Saul sehingga dia tidak pernah dilibatkan dalam perang karena dianggap akan menjadi penyebab kekalahan. Ini membuat semua orang yang mengenalnya, termasuk Daud, hanya mengenal nama ejekannya ini tanpa mengingat nama aslinya. Oleh beberapa sejarawan, Ishiboset, atau Esybaal, dihubungkan sebagai tokoh yang sama dengan Mutbaal dalam Surat Amarna sebab baik Esybaal dan Mutbaal sama-sama berarti “Prianya Baal”.

Dalam suratnya pada Firaun (tablet bernomor EA 25624) Mutbaal meminta bantuan Firaun untuk menghadapi Ayab. Surat-surat ini juga menyebut nama Dadua, Yishuya, Benenima, dan kota Pella. Oleh beberapa sejarawan, nama-nama ini diterjemahkan sebagai Yoab (Ayab), Daud (Dadua), Isai (Ibrani: Yishay) ayah Daud (Yishuya), Baanah (salah-satu pemimpin suku/klan Israel, salah-satu dari dua orang yang membunuh Ishiboset), dan kota Pella sebagai Benteng Pella milik Israel yang terletak diseberang sungai Yordan. Ini artinya saat itu Mutbaal sedang berperang dengan Ayab. Mirip dengan catatan bahwa Wangsa Saul yang dipimpin oleh Panglima Abner dan Pangeran Ishiboset berperang dengan pasukan Daud, dan komandan utama Daud adalah Jenderal Yoab. Mutbaal juga hanya menyebut bahwa dia adalah putra Labayu yang tersisa dan tidak menyebut dirinya raja. Ini masih sesuai dengan catatan kitab Samuel bahwa Ishiboset adalah satu-satunya putra Saul yang hidup dan bahwa dia tidak langsung menjadi raja setelah kematian Saul dan kakak-kakaknya sebab Ishiboset baru diangkat sebagai raja oleh Abner 5½ tahun kemudian. Jika benar Mutbaal dalah Ishiboset maka artinya surat ini dikirimkan Ishiboset pada Firaun dalam masa-masa perang yang intens dengan pasukan Daud pada masa 5½ tahun tersebut.

Jika Ishiboset berusia 40 tahun saat menjadi raja25 ketika dinobatkan oleh Panglima Abner setelah berperang selama 5½ tahun dengan Daud (Abner memimpin pasukan Israel dalam 5½ tahun), dan memerintah selama 2 tahun (wafat pada usia 42 tahun) maka Ishiboset berusia ±34½ saat Yonatan meninggal, sedangkan Yonatan berusia ±55-58 tahun saat meninggal, maka artinya Yonatan dan Ishiboset berbeda 21-24 tahun. Ini artinya Ishiboset lebih tua dari Daud (Daud berusia 30 tahun saat Yonatan meninggal), dan menjadi petunjuk bahwa Daud dan Yonatan berbeda usia lebih jauh lagi, yaitu sekitar 25-28 tahun.

Yonatan masih memiliki dua orang adik-tiri26, yaitu Pangeran Armoni dan Pangeran Mefiboset yang lahir belakangan. Adiknya yang bernama Mefiboset ini juga mungkin mendapat nama itu dengan alasan yang hampir sama, yaitu terlahir cacat atau lahir dimasa-masa kaejatuhan Saul sehingga dianggap sebagai anak terkutuk, atau mungkin juga dia dipanggil demikian oleh orang-orang di istana Daud (namanya baru dicatat saat Daud telah menjadi raja) sebagai kecaman terhadap perilakunya yang (mungkin) sudah jatuh dalam penyembahan pada dewa Baal.

Tidak ada catatan mengenai nama istri Yonatan tetapi mengacu pada sifat setianya, Yonatan tidak pernah memiliki selir. Penulis artikel ini berpendapat bahwa Yonatan menikahi seorang wanita pada masa mudanya, tetapi istrinya ini lalu meninggal tanpa memberinya anak. Istri pertamanya ini dinikahi oleh Yonatan setelah ayahnya dan Nabi Samuel berseteru sehingga Samuel tidak mengenal siapa nama istrinya dan tidak menuliskan namanya saat Samuel menyusun kitab Samuel. Istrinya ini meninggal setelah kematian Samuel dan sebelum Yonatan bertemu dengan Daud sehingga Daud juga tidak mengenal istri pertama Yonatan ini. Lama setelah kematian istri pertamanya, Yonatan menikahi lagi seorang wanita yang memberinya satu orang anak, yang dinikahinya saat masa-masa pelarian Daud dari ayahnya, Saul. Ini membuat Daud tidak mengenal nama istri kedua Yonatan sehingga Daud tidak menceritakannya pada Natan saat Natan menulis riwayat Daud dan melengkapi kitab Samuel. Pendapat ini muncul sebab seorang tokoh terkenal dalam sejarah Perjanjian Lama selalu jelas asal-usulnya, yaitu nama ayah dan ibu dan istrinya. Jadi, meskipun nama riwayat tokoh wanita jarang ditonjolkan dalam kitab-kitab sejarah Ibrani tetapi nama istri dan nama ibu dari seorang tokoh terkenal pasti akan dicantumkan untuk memperjelas riwayat asal-usulnya, dan hal ini tidak ditemukan dalam riwayat Yonatan dan putranya sehingga pendapat bahwa para penulis tidak pernah bertemu dan mengenal siapa istri Yonatan menjadi sangat mungkin. Putri Mikhal (adik Yonatan, dan istri pertama Daud) memang tinggal di istana Daud. Putri Merab (putri sulung Saul) mungkin juga masih hidup (tetapi kisahnya tidak ditulis lagi, mungkin saat itu dia sudah meninggal) tapi tampaknya mereka bukanlah orang-orang yang mudah untuk dijadikan narasumber, baik oleh Natan dan juga oleh Gad, perihal keluarga Saul sebab masih trauma dengan kematian ayah dan kakak-kakaknya, terlebih lagi Daud juga menawan saudara-saudara tiri mereka (Pangeran Armoni dan Pangeran Mefiboset) dan lima orang putra-putra Merab (total ada tujuh orang pria dari keluarga Saul) dan menghukum-mati tujuh orang itu melalui tangan orang-orang Gibeon (kitab 2 Samuel 21: 8-927) sehingga sulit bagi Daud dan orang-orangnya untuk mendekatkan diri pada putri-putri Saul itu dan mengorek informasi tentang keluarga Saul termasuk nama istri Yonatan.

Ketidak-tahuan Daud perihal istri dan keturunan Yonatan ini bisa dilihat dari pertanyaannya: “Masih adakah orang yang tinggal dari keturunan Saul?” (kitab 2 Samuel 9:1) bukannya: “Masih adakah orang yang tinggal dari keturunan Yonatan?”, karena Daud memang tidak pernah tahu siapakah istri Yonatan sehingga dia tidak memperhitungkan bahwa Yonatan mungkin memiliki anak.

Kelahiran putranya menunjukan bahwa Yonatan tidak mandul, hanya saja dia memang lama tidak memiliki anak dan sama sekali belum punya anak saat bertemu (atau atas sepengetahuan) para penulis dan pemberi rujukan kitab Samuel. Hal ini kembali menegaskan kesetiaan Yonatan, sebab Yonatan, yang adalah seorang putra-mahkota, memilih untuk tidak mengambil selir semasa hidup istrinya, dengan menggunakan keturunan sebagai alasan, dan tetap setia pada pasangannya.

Anak tunggal Yonatan adalah seorang putra yang diberi-nama Mefiboset (dipanggil juga Meribaal dalam kitab Tawarikh). Status Mefiboset yang tidak beribu dikuatkan oleh catatan kitab Samuel bahwa sebelum keberadaannya diketahui oleh Daud dan sejak dia berusia lima tahun pengasuhnya (Ziba28) menjadi orang yang menguasai harta keluarga Saul, yang tidak mungkin terjadi jika ibunya masih hidup. Mefiboset baru berada dibawah perwalian Daud setelah keberadaannya diketahui oleh Daud, yaitu ketika Mefiboset telah berusia lebih dari 20 tahun. Mefiboset inilah satu-satunya dari wangsa Saul yang mempertahankan garis keturunan Saul, yang keturunannya masih terlacak29 hingga era 70 tahun pembuangan ke Babilonia bahkan diera berkuasanya Kerajaan Persia30 dan era awal masehi31.

Yonatan memiliki seorang cucu laki-laki, yang lahir setelah kematiannya, yang bernama Mikha32. Yonatan juga memiliki keponakan, yaitu anak-anak dari adik perempuannya, Merab (sekurang-kurangnya lima orang). Tetapi keponakan-keponakannya ini bukanlah para penurun Wangsa Saul sebab mereka diserahkan oleh Daud kepada orang-orang dari Konfederasi Gibeon untuk dihukum mati sebagai korban balas bagi Saul yang dulu pernah membantai orang-orang Gibeon33 padahal telah ada perjanjian damai selama ratusan tahun antara Konfederasi Gibeon dan orang Israel34. Ini membuat hanya putra Yonatan yang menjadi penurun wangsa Saul.
__________________________________________________________________________________
15Keluarga Yonatan adalah kaum Benyamin yang tinggal didekat wilayah Konfederasi Gibeon
16Abiel adalah kakek Saul atau kakek buyut Yonatan
17dalam kitab 1 Samuel ditulis sebagai Afiah, yang berasal dari nama Aviah dan Abiah yang memiliki arti yang sama. Abiah adalah salah-satu cucu patriak Benyamin
18kitab 1 Samuel pasal 9:1: “Ada seorang dari daerah Benyamin, namanya Kisy bin Abiel, bin Zeror, bin Bekhorat, bin Afiah, seorang suku Benyamin, seorang yang berada (kaya)”
19 Ibrani: Ish= pria, bosha atau boshet=memalukan
20 Ibrani: Ish= pria, baal=dewa baal
21 Baal adalah dewa utama orang Kanaan dan salah-satu dewa utama bangsa Fenesia (Inggris: Phoenician)
22kitab 1 Samuel 19:13a: “Sesudah itu Mikhal mengambil terafim dan menaruhnya di tempat tidur.”
23kitab Samuel pertama kali ditulis oleh Nabi Samuel, lalu dilengkapi oleh Nabi Natan dan Nabi Gad. Natan dan Gad adalah nabi-nabi yang mengabdi sebagai penasihat kerajaan diera Daud
24surat Amarna tablet nomor EA 256
25kitab 2 Samuel 2:10: “ Isyboset berumur empat puluh tahun pada waktu dia menjadi raja atas Israel”
26putra-putra ayahnya dari selir yang bernama Rizpah binti Aya
27kitab 2 Samuel 21: 8-9: “Lalu raja Daud mengambil dua anak laki-laki Rizpah binti Aya yang dilahirkannya bagi Saul….. dan kelima anak laki-laki Merab binti Saul….. kemudian diserahkannya ke dalam tangan orang-orang Gibeon. Orang-orang ini (orang Gibeon) menggantung mereka (keluarga Saul)….”
28Ziba adalah seorang pelayan istana Saul yang bertugas di rumah Yonatan. Dia lalu menjadi orang yang menguasai secara sepihak harta Saul dan Yonatan setelah kematian Yonatan
29keturunan Yonatan terus terlacak sebab dia dan putranya tinggal di istana Daud dengan status sebagai salah-satu putra Daud. Putranya secara hukum menjadi cucu Daud sehingga nama-nama keturunan laki-lakinya terus dicatat selama wangsa Daud masih berkuasa di Yerusalem
30peneliti kitab Ester (salah-satu kitab sejarah Perjanjian Lama) berkeyakinan bahwa wali Ratu Ester yang bernama Mordekhai adalah berasal dari wangsa Saul yang artinya Mordekhai adalah keturunan Yonatan
31sebagian besar sejarawan Kristen, khususnya peneliti sejarah Perjanjian Baru, meyakini bahwa Paulus (salah-satu rasul diluar 12 rasul Yesus) adalah keturunan wangsa Saul sebab Paulus berasal dari suku Benyamin dan nama aslinya adalah Saulus (Saul, yang ditambahi imbuhan Latin “-us”) sehingga artinya Paulus adalah keturunan Yonatan
32Mikha sudah lahir ketika Daud memanggil Mefiboset untuk tinggal di istana. Usia Mikha saat itu sekitar 5 tahun
33kitab 2 Samuel 21:1b: “Pada Saul ada hutang darah, karena ia telah membantai orang-orang Gibeon.”
34kitab Yosua 9:15a: “




HISTORISITI WANGSA SAUL

Memang belum ada catatan sejarah atau penemuan arkeologi yang menjadi bukti langsung keberadaan Kerajaan Israel Bersatu, termasuk era Saul, tetapi penemuan Surat-surat Amarna memberikan sudut-pandang baru yang sangat menarik mengenai kerajaannya Saul. beberapa sejarawan dan peminat sejarah menghubungkan bangsa “Habiru” dalam Surat-surat Amarna35 dengan “Hebrew” (Ibrani: Ibriya, sebutan resmi bangsa Ibrani) dan Raja Labayu dengan Raja Saul. Ini karena ada kecocokan kejadian dan waktu antar bangsa Habiru dan Hebrew, dan juga antar tokoh-tokoh tersebut (David Rohl, “A Test of Time: The Bible-From Myth To History,” 1995). Selain itu, Surat Amarna juga tertulis bahwa Yerusalem masih diduduki oleh orang-orang Yebus yang artinya saat itu Yerusalem belum ditaklukan oleh Daud (penaklukan Yerusalem terjadi setelah kematian Saul), sehingga pendapat bahwa salah-satu masa dalam surat-surat Amarna adalah eranya Saul semakin mengemuka sebab.

Dalam salah-satu surat Amarna, salah-satu pengirim surat adalah seorang penguasa Kanaan yang berkuasa bagian di utara Yerusalem dan menunjukan sikap yang kurang hormat pada Firaun sebab seakan-akan memperingatkan pada Firaun dan sekutu-sekutunya agar tidak mengintervensi kampanye militernya apalagi mengganggu wilayahnya di Kanaan. Penguasa ini  menulis pesan dalam bahasa Kanaan36 (yang diterjemahkan dari bahasa Akkadia dan kemudian dari bahasa Akkadia ke bahasa Mesir) dalam tablet Amarna bernomor EA 252 (p208 fig. 245) bahwa:
“…jika seekor semut terjebak, bukankah dia akan melawan balik dan menggigit tangan orang yang mengganggunya?”

Penguasa berani inilah yang bernama Raja Labayu, yang oleh beberapa sejarawan dianggap sebagai Raja Saul.

Beberapa sejarawan menghubungkan Labayu dengan Saul karena beberapa petunjuk dalam Surat Amarna, yaitu:

1.    Waktu dalam surat Amarna
Oleh beberapa sejarawan Alkitab, era hidup Saul dan Daud adalah dimasa Awal Jaman Besi. Berdasarkan penelitian terbaru melalui uji karbon pada tablet surat-surat Amarna, tablet-tablet itu juga berasal dari masa Awal Periode Besi, masa yang sama dengan masa hidup Saul. Hasil penelitian ini juga dianggap memberikan sumbangan besar pada para Egyptologist sebab akhirnya kita bisa mengetahui waktu pemerintahan Firaun Akhenaten yang, oleh para pengikut teori kronologi baru juga, hidup pada masa yang sama dengan era pemerintahan Saul. Penelitian karbon ini diyakini oleh mereka berhasil menggeser kronologi sejarah Mesir yang sudah dipegang selama bertahun-tahun dan oleh pengikut teori kronologi baru firaun Ramses II diyakini sebagai Firaun Sisak37 yang menyerbu Yerusalem dimasa pemerintahan cucu Daud, padahal oleh sejarawan konvensional Firaun Shoshenk I-lah yang dianggap sebagai Firaun Sisak.

2.    Nama Labayu
Dalam surat-surat Amarna, nama Labayu secara hypocoristic (nama pendek) dibaca sebagai “Labayu38” dan arti namanya juga dimuat dalam surat itu sebagai “Singa Agung dari N” atau “Singa Perkasa dari N”. “N” dalam arti namanya dianggap sebagai nama dewa. Nama ini mirip dengan dengan kata dalam bahasa Ibrani yaitu “Lebaim” yang berarti “Singa-singa” (Lebaim adalah kata jamak = singa-singa). Dalam lagu dan syair Daud, khususnya saat dia melarikan diri dari Saul, Daud menyebut Saul dan pasukannya sebagai singa-singa, khususnya syair yang dibukukan dalam kitab Mazmur pasal 57 ayat ke-5 yang berbunyi: “Aku terbaring di tengah-tengah singa (kata jamak, merujuk pada Saul dan pasukannya) yang suka menerkam anak-anak manusia (merujuk pada pembantaian Saul pada imam-imam di Nob), yang giginya laksana tombak (senjata yang selalu Saul gunakan untuk secara langsung membunuh Daud dan juga Yonatan) dan lidahnya laksana pedang tajam (perintah Saul untuk membunuh semua yang berhubungan dengan Daud dengan pedang).” Kata ibrani yang digunakan untuk menyebut singa (jamak) dalam syair ini adalah “Lebaim”.

3.    Letak wilayah kekuasaan Labayu
Dalam surat-surat Amarna disebutkan dengan jelas bahwa letak wilayah kekuasaan utama Labayu adalah sebuah wilayah perbukitan bagian utara kota Yerusalem. Hal memang ini sejalan dengan catatan kitab Samuel tentang wilayah awal kekuasaan Saul yang dimulai dari daerah Gibea Benyamin sebagai ibukota. Wilayah Gibea Benyamin ini adalah sebuah wilayah perbukitan yang letaknya di sisi utara kota Yerusalem.

4.    Musuh Labayu
Dalam surat-surat Amarna, raja-raja wilayah Kanaan yang berkuasa di wilayah pesisir Laut Merah hingga wilayah barat-daya ‘mengadu’ perihal Labayu yang terus memerangi mereka. Ini jelas menunjukan bahwa Labayu dan raja-raja itu bermusuhan. Laporan raja-raja itu dalam surat-surat Amarna pada Firaun juga memberikan informasi pada kita bahwa meskipun Labayu gencar memerangi raja-raja itu tetapi dia tidak berhasil merebut satupun kota di wilayah asli raja-raja itu. Jika merujuk pada wilayah raja-raja Kanaan yang disebutkan dalam surat-surat Amarna maka raja-raja itu adalah raja-raja Konfederasi Filistin, sebab Konfederasi Filistin adalah bangsa yang mendiami wilayah Kanaan di pesisir Laut Merah. Catatan kitab Samuel memang memberi-tahu kita bahwa Saul memerangi orang-orang Filistin seumur hidupnya, dan bersama dengan Yonatan dia berhasil mengusir koloni-koloni Filistin dari wilayah suku-suku Israel, tetapi catatan dalam kitab Samuel juga memberi informasi bahwa Saul tidak pernah berhasil merebut satu-pun kota asli milik bangsa Filistin39. Memang, sejak awal fokus Saul adalah merebut kembali kota-kota yang dulu sudah direbut oleh Panglima Yosua40, inilah salah-satu indikator perseteruannya dengan Nabi Samuel, yang ingin agar Saul merebut semua kota di Kanaan sesuai dengan yang dijanjikan pada Musa dan yang wilayahnya telah diwasiatkan dan bagi-bagikan oleh Panglima Yosua pada suku-suku Israel. Meski demikian, sama seperti sikap Samuel pada orang Filistin, Saul tetap menjadikan orang-orang Filistin dipesisir Laut Merah sebagai musuh abadinya.

5.    Tindakan Labayu
Dalam surat keduanya pada Firaun, yang diberi nomor EA 254, Labayu memberi-tahu pada firaun bahwa dia telah mengusir orang-orang Kanaan pesisir dan berhasil merebut kembali tanah miliknya dari mereka. Ini tidak bertolak belakang dengan catatan dalam kitab Samuel dan malahan sangat sejalan, sebab dalam kitab Samuel disebutkan bahwa Saul dan pasukan Israel berhasil mengusir orang-orang Filistin dari wilayah tradisional Israel dengan merebut koloni-koloni Filistin itu. Awal kemenangan pasukan Israel atas Filistin adalah pada Perang Geba yang dipimpin oleh Yonatan. Keberhasilan Yonatan ini membuat orang-orang Israel diseluruh penjuru Kanaan mengangkat senjata mengikuti Saul. Keberhasilan ini menjadikan Yonatan sebagai salah-satu ksatria perang ternama di Kanaan dan menjadi pangeran kesayangan orang Israel.

6.    Putra-putra Labayu
Dalam surat-surat Amarna dari Labayu dan dari raja-raja Kanaan yang lain, disebutkan perihal putra-putra Labayu (tanpa menyebut nama mereka) yang ikut memerintah bersama Labayu, berperang memerangi mereka bersama Labayu, ditegur-keras oleh Labayu, menggantikan Labayu, dan ada putra-putra Labayu (lebih dari satu putra) yang masih hidup setelah kematian Labayu. Oleh David Rohl putra-putra Labayu ini diartikan sebagai: Yonatan (berperang memerangi raja-raja Kanaan bersama Labayu dan sekaligus ditegur-keras oleh Labayu), Daud (putra atau putra menantu yang ikut memerintah bersama Labayu, tepatnya di wilayah Yudea), Ishiboset (putra yang menggantikan Labayu), dan Ishiboset dan Daud sebagai putra-putra Labayu yang masih hidup yang kerab memerangi raja-raja Kanaan itu.

7.    Kematian Labayu
Dalam surat Amarna yang bernomor 245 seorang raja Kanaan yang bernama Biridiya, yaitu raja kota Megiddo (Alkitab: Megido41) melaporkan tentang pertempuran terakhir melawan Labayu. Biridiya menemukan bahwa Labayu sudah tewas saat dia tiba di lokasi pertempuran sehingga dia tidak bisa memenuhi perintah Firaun untuk membawa Labayu ke Mesir agar dieksekusi secara terbuka (hukuman atas kelancangan Labayu). Hal ini masih sejalan dengan catatan kitab Samuel yang memuat bahwa Saul tewas (bunuh-diri) di medan perang dalam pertempuran melawan orang Filistin. Dia tidak pernah ditangkap hidup-hidup meskipun akhirnya jenasahnya diangkut oleh tentara Filistin dan dipamerkan disalah-satu tembok kota mereka.

Dalam Surat-surat Amarna, memang disebutkan bahwa Raja Labayu dan orang-orang Habiru (Hebrew) bukan berasal dari kubu yang sama. Sekilas, ini tidak sesuai dengan catatan kitab Samuel bahwa Saul adalah orang Ibrani (Israel) sehingga sudah pasti dia berasal dari kubu yang sama, tetapi para pengikut teori kronologi baru bersikeras orang-orang Ibrani selalu menyebut mereka sebagai orang “Israel” bukan orang “Hebrew” (bahasa Ibrani: Ibriya yang artinya orang-orang pendatang), dan bahwa dalam bahasa asli kitab Perjanjian Lama hanya para pengikut Daud yang menyebut diri mereka orang “Hebrew” (orang Ibriya= orang pendatang atau penumpang). Oleh sebab itu, oleh para pengikut teori kronologi baru, Habiru yang dimaksudkan dalam surat-surat Amarna adalah sebutan khusus bagi orang Israel dari gerombolan pengikut Daud (David Rohl, “A Test of Time: The Bible-From Myth To History,” 1995) yang kemudian, setelah Daud menjadi raja Israel, sebutan ini menjadi salah-satu sebutan resmi bangsa Israel khususnya Kerajaan Yehuda (Yerusalem) selain nama “Israel” untuk membedakan mereka dengan kerajaan Israel Utara (Samaria42) yang juga menyebut diri “orang Israel” sehingga pada masa hidupnya Saul memang tidak termasuk “orang Hebrew” atau “orang Ibriya” sebab dia pasti akan menyebut dirinya sebagai orang “Israel”, atau sebelum menjadi raja Israel dia akan menyebut dirinya sebagai orang “Benyamin.”



Terlepas dari keruwetan historisiti wangsa Saul dan Yonatan, kitab Samuel dan beberapa kitab sejarah lainnya dalam Perjanjian Lama tetap tegas menyatakan bahwa kharisma dan keberanian Yonatan adalah salah-satu kunci keberhasilan wangsa Saul meraih dukungan semua suku Israel dan membantu ayahnya menjadi pemimpin tunggal bangsa Israel. Kepiawaian Wangsa Saul memimpin dapat dilihat dari ketiadaan perang saudara dan konflik internal yang terbuka pada awal kerajaan Israel berdiri. Tidak ada konflik berdarah antar suku atau antar klan yang sangat umum terjadi pada sebuah kerajaan muda seperti Israel saat itu. Ayahnya juga menghindari konflik yang tidak perlu dengan kerajaan lain dan fokus merebut kembali wilayah Israel.
Wilayah Israel semakin lama semakin besar dan Yonatan juga semakin dikenal diseluruh Israel sebagai pangeran muda yang gagah berani mengusir orang Filistin dari wilayah Israel.

__________________________________________________________________________________
35Surat-surat Amarna ditemukan pada 1887 di Tell el-Amarna. Surat-surat ini adalah surat-surat dari para pemimpin asing pada Firaun, yang berasal dari wilayah-wilayah Turki, Siria, dan Siprus. Surat-surat itu dikirim pada Firaun Amenhotep IV atau yang lebih dikenal dengan nama Akhenaten
36Surat-surat dari Kanaan yang berbahasa Kanaan atau bahasa-bahasa yang digunakan oleh bangsa-bangsa yang mendiami wilayah Kanaan, termasuk Israel, dikirim pada Firaun Akhenaten setelah diterjemahkan kedalam bahasa Akkadia (dalam bentuk tulisan Cuneiform) lalu oleh para penerjemah istana Firaun ditermahkan kedalam bahasa Mesir (dalam bentuk tulisan Hieroglif).
37Firaun Ramses II dianggap Firaun Sisak oleh David Rohl sebab hasil riset dari sumber-sumber Mesir dan Kerajaan Hittit  (bangsa Het) mengungkap bahwa Firaun Ramses II dikenal di Timur Tengah dengan hypocoristicon (nama panggil) yang ditulis “Ss'” (double huruf “S”). Huruf “S” dari nama-nama Mesir sendiri diucapkan “Sh” oleh orang Ibrani (Sosenk = Shoshenk). Huruf “Ss'” ditulis tanpa huruf hidup tetapi beberapa catatan kuno Assyria mengindikasikan huruf “Ss'” dari nama-nama Mesir dibaca “Sisa” atau “Syisha”. Menurut Rohl ada kemungkinan lafal Ibrani menambahkan akhiran tegas saat menyebut nama ini sehingga dibaca “Sisak”.
38nama Labayu, yang berarti singa, mirip dengan kata dalam bahasa Ibrani: Labi atau Lebayi, yang adalah kata tunggal yang juga berarti singa,
39lima kota utama kerajaan konfederasi Filistin adalah Gat (kota asal raksasa Goliat), Gaza (wilayah yang berdekatan dengan kota Gaza modern), Ekron, Asdod, dan Askelon
40Yosua ben Nun dari suku Yusuf tepatnya sub-suku Efraim adalah Panglima Besar Israel yang memimpin Israel setelah Nabi Musa. Dia adalah pemimpin Israel yang memimpin penaklukan kota Yeriko.
41pada masa Saul dan Yonatan, Megido belum menjadi wilayah bagian kekuasaan Israel
42Samaria adalah ibukota ketiga Kerajaan Israel Selatan setelah sebelumnya beribukota di Tirza dan Sikhem




DAFTAR PUSTAKA:
-Avios, Michael; Could Saul Rule Forever? A New Look At 1 Samuel 13:13-14; the Journal of Hebrew Scriptures Volume 5 artikel 16; ISSN 1203-1542
-Garshiel, Moshe; the Book of Samuel: Its Composition, Structure and significance As A Historiographical Source; the Journal of Hebrew Scriptures Volume 10 artikel 5; ISSN 1203-1542
-Junkkaala, Eero Kalevi; Three Conquests of Canaan; Abo Academy University Press; Finlandia; 2006
-Kitchen, Kenneth Anderson; Ancient Orient and Old Testament; University of Liverpool, School of Archaelogy and Oriental Studies; Inter-varsity Press; Liverpool, Inggris; 1966
-Kitchen, Kenneth Anderson; the Old Testament Contest; University of Liverpool, School of Archaelogy and Oriental Studies; Inggris
-Kitchen, Kenneth Anderson; the Old Testament in Its World Today; University of Liverpool, School of Archaelogy and Oriental Studies; Inggris
-Kletter, Raz; Chronology and United Monarchy; 2004
-Kuliovsky, Andrew; A Reliable Historical Record
-Liver, J; King, Kingship; Encilopedia Bibica Vol. IV, the Bialic Institute, Yerusalem, 1964
-McFall, Leslie; A Translation Guide to the Chronological Data in Kings and Chronicles; Former Fellow; Tyndale House; Cambridge, Inggris
-Olaussen, Veronica Kristine; How Convincing Are the Arguments for A New Egyptian Chronology; Journal of Creation; 2003
-Rohl, David; A Test of Time: The Bible, From Myth to History; Century; London; 1995
-Sielaff, David; Israel and Judah: part 2. David as King; Grace Theological Journal Vol.5.1 halaman 95-126; Associates for Scriptural Knowledge, Portland-Amerika Serikat; September 2014
-Sostre, Samuel; David’s Treason Against Saul: A Hidden Storyline Within Biblical Text; the Jewish Bible Quarterly Volume 43:4 halama 172; edisi Oktober-Desember 2015
-Van der Veen, Peter. Theis, Christopher. Gorg, Manfred; Israel in Canaan (Long) Before Pharaoh Merenptah; Journal of Ancient Egypt Inter-conection volume 2:4; 2010
-Zaph, David L; How Are the Mighty Fallen! A Study of 2 Samuel 1:17-27; Grace Theological Journal Vol.5.1 halaman 95-126; 1984


DAFTAR WEB:
-en.wikipedia/saul
-en.wikipedia/jonathan-ben-saul
-en.wikipedia/david-king-of-israel
-en.wikipedia/samuel
-en.wikipedia/kingdom-of-israel
-en.wikipedia/gibea

__________________________________________________________________________________
Hak Cipta Artikel: Devy R
Artikel ini pertama kali ditulis dan disusun oleh Devy R dan diterbitkan oleh Deleigeven Media


PENYUSUN:
Penulis: Devy R
Editor: Deleigeven & Juliet
Penerbit: Deleigeven Media

Wednesday, 23 April 2014

PERPUSTAKAAN ALEXANDRIA, KEMEGAHAN ILMU PENGETAHUAN DI MASA LAMPAU

Sudah lama saya membaca tentang sejarah Perpustakaan Alexandria, walaupun hanya sepotong-sepotong. Namun saat saya membaca novel fiksi sejarah yang berjudul "The Alexandria Link" karya Steve Berry, saya benar-benar tertarik untuk lebih mengetahui lebih lanjut tentang Perpustakaan Alexandria.

(The Alexandria Link, karya Steve Berry)

The Alexandria Link adalah novel yang bercerita tentang Cotton Malone, seorang mantan agen lapangan elit Departemen Luar Negeri Amerika Serikat yang beralih profesi sebagai pemilik toko buku langka di Kopenhagen, Denmark. Ketentramannya terusik saat dia diberitahu bahwa putranya yang tinggal bersama mantan istrinya diculik. Para penculik meledakkan toko bukunya sebagai peringatan bahwa mereka tidak akan berhenti mengganggunya sehingga mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan: Perpustakaan Alexandria yang hilang.

Berbagai pendapat sejarah, filsafat, literatur, sains, dan agama memberikan data yang sama bahwa Perpustakaan Alexandria pernah ada didunia ini namun musnah berabad-abad yang lalu dan menjadi kabut misteri yang melegenda.

Alur novel ini sebenarnya lebih menonjolkan aksi petualangan dari Malone dan intrik politik yang menyelubungi pencarian perpustakaan tersebut ketimbang pengkajian logika dan fakta sejarah seperti yang biasa kita temui dalam novel-novel karya Dan Brown. Meskipun demikian, novel ini mampu menggambarkan tentang betapa berharganya Perpustakaan Alexandria yang digali dari beberapa sudut pandang.

(Perpustakaan Alexandria Modern di Iskadariah, tampak dari atas)


AWAL PENDIRIAN PERPUSTAKAAN

Kejayaan sebuah bangsa pada masa kuno tidak hanya diukur dari kemegahan bangunannya, namun juga dari seberapa lengkap dan megahnya perpustakaan kerajaan yang mereka miliki, karena perpustakaan negara itulah yang menyimpan semua kemegahan bangsa tersebut jikalau bangunan-bangunan megah mereka runtuh suatu saat kelak. Perpustakaan seperti itu jugalah yang merupakan ajang unjuk gengsi, karena membuktikan ilmu pengetahuan bangsa mereka berada diatas bangsa-bangsa lain. Perpustakaan juga merupakan rujukan penting bagi raja dan para pejabat negara untuk mengambil keputusan dan kebijakan, serta tempat berkumpulnya para cendekiawan kerajaan maupun dari luar kerajaan untuk bertukar pengetahuan. Alasan-alasan itupun mendasari pendirian Perpustakan Alexandria. Perpustakaan ini dibangun untuk menarik orang-orang bijak dari berbagai belahan dunia agar datang ke Mesir.

Keberadaan Perpustakaan Alexandria diketahui dan mulai dicatat pertama kali dalam sejarah modern justru melalui penemuan inkripsi kuno yang ditulis Tiberius Claudius Balbius dari Roma, Italia pada tahun 56 SM. Dia menyebutkan sebuah perpustakaan yang sangat besar telah dibangun di Alexandria, Mesir. Alexandria dibawah pemerintahan Dinasti Ptolemy, menurut Atlas Of The Greek World, merupakan pusat perdagangan dan budaya dunia. Keluarga Ptolemy adalah kalangan intelektual. Ptolemy I Soter adalah ahli sejarah, Ptolemy II Philadelphus  adalah ahli hewan, Ptolemy III Eurgetes adalah ahli literatur, sedangkan Ptolemy IV adalah penulis naskah drama. Masing-masing memilih ilmuwan terkemuka sebagai pembimbing anak-anaknya dan memberi dorongan kepada para cendekiawan untuk tinggal di Alexandria.

Ptolemy I Soter mendirikan kuil untuk para musai, dan mendirikan tempat belajar didalam kuil tersebut yang disebut musaeum (cikal bakal kata museum), dimana itu adalah tempat orang-orang terpelajar melakukan pertemuan kelompok dan berbagi pengetahuan mereka, sehingga banyak yang menganggap Perpustakaan Alexandria dibangun oleh Ptolemy I Soter. Pendapat ini tidak salah karena Musaeum menjadi Perpustakaan Utama Kerajaan.

Perpustakaan-perpustakaan kerajaan diperkirakan dibangun sempurna pada awal abad ke-3 SM oleh Ptolemy II Philadelphus, yang dikabarkan membeli seluruh perpustakaan Aristoteles, namun di masa Ptolemy III Eurgetes-lah perpustakaan berkembang pesat. Ptolemy III Eurgetes merupakan putra dari Ptolemy II Philadelphus yang naik takhta setelah ayahnya meninggal pada tahun 246 SM. Dibawah kendali Ptolemy III Eurgetes, koleksi Perpustakaan Alexandria meningkat pesat. Seluruh warga pendatang Alexandria diwajibkan memberikan beberapa buku pada perpustakaan. Ptolemy III Eurgetes juga memerintahkan mencari perangkat untuk untuk mendukung aktivitas perpustakaan. Agar mendapat kualitas terbaik, Ptolemy III Eurgetes mencarinya keseluruh wilayah Mediterania, Rhodes, hingga Athena. Pada masa Ptolemy III Eurgetes di tahun 246 SM, terdapat beberapa lokasi perpustakaan. Perpustakaan utama yaitu Musaeum yang dibangun oleh Ptolemy I yang berada di dekat istana kerajaan dan yang satu lagi, perpustakaan yang lebih kecil berada di tempat pemujaan Dewa Serapis, yang dikenal dengan nama Serapeum yang dibangun oleh Ptolemy II Philadelphus. Perpustakaan Serapeum inilah yang bertahan berabad-abad lamanya hingga peristiwa yang dinamakan Penghancuran Perpustakaan Alexandria itu benar-benar terjadi. Selain itu ada juga perpustakaan lain yang bernama perpustakaan Cesarion.



PROSES PENGUMPULAN BUKU

Pada puncak kejayaannya Alexandria berpenduduk sekitar 600.000 jiwa. Pada masa itu, pelabuhan Alexandria sangat ramai dikunjungi berbagai kapal. Ptolemy III memerintahkan agar semua kapal di pelabuhan Alexandria harus diperiksa, jika ditemukan buku-buku, maka buku-buku itu akan disalin, dan salinan-salinan itu dikembalikan kepada pemiliknya sedangkan buku yang asli disimpan dalam perpustakaan. Umumnya awak-awak kapal itu selalu membawa buku untuk menemani perjalanan. Ketika kapal berlabuh, para pemuka kota mengunjungi awak kapal, mengambil buku mereka dan menyalin isinya. Salinan ini ditulis diatas gulungan kertas papirus, lalu diletakkan di perpustakaan. Jenisnya bermacam-macam dari mulai puisi dan sejarah hingga retorika, filsafat, agama, pengobatan, ilmu pengetahuan alam, dan ilmu hukum. Sang raja konon sangat ingin membawa Mesir menuju peradaban yang tinggi. Alasan ia memerintahkan agar menyalin seluruh buku di dunia untuk menjadi koleksi perpustakaan ini agar seluruh masyarakat bisa belajar berbagai pengetahuan dan hikmah.



KOLEKSI BUKU

Sebanyak 43.000 manuskrip gulung yang berada di Serapeum dapat diakses oleh khalayak umum, sedangkan 500.000 manuskrip lainnya yang di simpan di musaeum terbatas hanya untuk kalangan pengajar, cendekiawan, dan keluarga raja. Manuskrip-manuskrip ini kian bertambah jumlahnya sehingga menembus angka 700.000 manuskrip. Sebagai  perbandingan, Perpustakaan Sorbonne pada abad 14 yang merupakan perpustakaan terbesar pada masanya hanya memiliki koleksi 1700 buku. Semua buku di perpustakaan disusun menurut temanya. Beberapa catatan sejarah menyebutkan beberapa koleksi Perpustakaan Alexandria yang berharga antara lain koleksi syair-syair terkenal seperti Homer, Hesiod, Sappho, Appolonius, Theocritus, dan Aratos. Koleksi drama terkenal antara lain berasal dari Sophocles, Euripedes, dan Aristophanes. Khusus koleksi filsafat terdapat buku-buku karangan Plato, Aristoteles, dan Philon. Sedangkan untuk kategori sejarah, perpustakaan ini memiliki koleksi Hecataeus dari Abdera dan Herodotus. Juga ada buku-buku fisika seperti buku karya Archimedes, Hipparchus, dan Hypatia. Perpustakaan ini juga memiliki koleksi buku-buku kedokteran diantaranya Medicine Corpus karya Hippocrates, dan Anatomi karya Herophilus. Satu-satunya salinan Undang-undang Roma Purba yang ditulis 700 tahun sebelum kelahiran Yesus Kristus juga dikoleksi disini. Di perpustakaan inilah, pada masa pemerintahan Ptolemy II Philadelphus, 72 cendekiawan Yahudi menerjemahkan kitab-kitab bahasa Ibrani kedalam bahasa Yunani dan menghasilkan karya Septuaginta yang termasyur itu. Septuaginta adalah terjemahan Perjanjian Lama kedalam bahasa Yunani, yang lalu disalin dan disebarkan ke berbagai negara. Hingga kini salinan-salinannya tetap menjadi rujukan.

Selain mengoleksi buku-buku, perpustakaan ini juga bekerja keras untuk membuat sejarah Mesir lengkap. Bahkan, upaya ini melibatkan banyak sejarawan dari berbagai negara. Diodorus, sejarawan terkenal pada masa tersebut merekam usaha tersebut dalam laporannya yang berbunyi, “Bukan hanya pemuka Mesir saja yang bekerja keras menyusun sejarah Mesir, tapi juga orang-orang Yunani yang berasal dari tempat-tempat yang jauh seperti Thebes. Dibawa pengarahan Ptolemy dari Lagos, mereka bekerja sangat cermat.” Diketahui beberapa di antara sejarawan Yunani yang dimaksud adalah Manethon dan Hecateaus dari Abdera.



TOKOH-TOKOH YANG PERNAH BELAJAR DAN MENGABDI

Perpustakaan Alexandria sangat berpengaruh pada munculnya tokoh-tokoh penting di bidang sejarah, sastra, astronomi, dan kedokteran pada masa itu yang tulisan-tulisan mereka sangat berpengaruh hingga di era modern. 

Archimedes, ilmuwan ternama dunia itu adalah salah-satu dari begitu banyak ilmuwan dimasanya yang belajar di Perpustakaan Aleandria. Selain Archimedes, ada Aristarchus dari Samos (Astronom abad ketiga SM. Orang pertama yang berspekulasi bahwa planet-planet mengitari matahari. Menggunakan trigonometri untuk menghitung jarak dan ukuran matahari dan bulan), Claudius Ptolemaeus (Astronom abad kedua yang tulisannya tentang geografi dan astronomi diakui sebagai naskah standar), Euklides (matematikawan abad keempat SM dan juga bapak Geometri serta pelopor ilmu optik. Karyanya yang berjudul "Elements", menjadi standar ilmu geometri sampai abad ke-19), dan Galen (dokter abad ke-2 Masehi yang ke-15 jilid bukunya menjadi naskah standar selama 12 abad).

Selain menghasilkan begitu banyak ilmuwan terkemuka, kedigdayaan Perpustakaan Alexandria sebagai perpustakaan terbaik pada masa itu juga dapat dilihat dari para pustakawan dan editor-nya. Editor alias Kepala Perpustakaan Alexandria merupakan jabatan bergengsi dimasa itu. Tidak sembarang orang yang bisa menduduki jabatan tersebut. Meski lokasi perpustakaan berada di Mesir, tapi kepala kepala perpustakaan tidak mesti orang Mesir. Editor pertama perpustakaan ini adalah Demetrius Phalareus

Seorang editor terkenal yang berasal dari Yunani bernama Erasthostenes yang lahir di Syrene (275 SM). Erasthostenes adalah seorang murid cerdas yang menempuh pendidikan di Alexandria dan Athena. Ia adalah filsuf, ahli matematika, dan astronom pada masa Raja Ptolomy III. Selama menjabat sebagai kepala perpustakaan, ia berhasil mengembangkan metode bilangan prima dan metode pengukuran keliling bumi. Ia banyak mengamati berbagai kejadian sederhana di bumi, misalnya setiap tanggal 21 Juni, semua dasar sumur di Shina (Aswan) pinggiran sungai Nil terkena cahaya matahari, artinya matahari benar-benar tegak lurus. Ditanggal yang sama di Alexandria, Erathostenes melihat tugu-tugu membentuk bayangan karena sinar matahari, sehingga membuat dia percaya bahwa bumi berbentuk bulat.  Erosthotenes mengalami kebutaan pada tahun 195 SM, namun ia tetap semangat mempelajari ilmu dan menyebarkannya ke khalayak hingga dia wafat setahun kemudian (194 SM). Hingga kini, Erosthotenes diakui sebagai orang yang pertama kali menghitung keliling bumi dengan cukup akurat. 

Selain Erosthotenes, Perpustakaan Alexandria juga pernah dipimpin oleh editor sekelas Kalimakhus, seorang pujangga yang menjadi kepala perpustakaan abad ke-3 SM. Ia adalah orang yang pertama kali menyusun Indeks untuk Perpustakaan Aleksandria. Karyanya ini menjadi sebuah mahakarya yang membentuk kanon kesusastraan Yunani klasik.

Beberapa editor terkenal lainnya adalah Zenodotus dari Ephesus (3 SM), Aristophanes dari Byzantium (2 SM), Didymus Chalcentrerus (seorang ahli tata bahasa pada abad ke-1 SM), dan yang juga paling terkenal adalah 72 cendekiawan Yahudi yang menyusun Septuaginta.

Jika dilihat dari asal para editor ini maka dapat disimpulkan bahwa Perpustakaan Alexandria memiliki reputasi yang sangat tinggi karena mampu menarik banyak orang pandai dari berbagai belahan dunia. Terbukti banyak orang non-Mesir yang bersedia yang bersedia menjadi editor alias kepala perpustakaan. Hal ini dimungkinkan karena penguasa memang memposisikan Alexandria sebagai kota intelektual. Di kota ini banyak diselenggarakan berbagai pertemuan intelektual, tempat orang-orang bertukar pikiran mengenai sejarah, filsafat, sastra, ilmu eksakta, dll. Perpustakaan ini juga menjalin hubungan dengan perpustakaan lain. Salah satunya dengan Perpustakaan Pergamun (Yunani) yang dibangun oleh Raja Eumenes II. Ilmuwan kedua perpustakaan ini saling bertukar ilmu dan pemikiran.



KEHANCURAN PERPUSTAKAAN ALEXANDRIA

Berdasarkan catatan sejarah, para sejarawan berpendapat bahwa perpustakaan utama Musaeum terbakar sehingga perpustakaan Serapeum menjadi perpustakaan utama. Penulis Kristen, Tertullian (155-230 M) menulis dalam bukunya The Apology bahwa buku-buku dalam perpustakaan para raja Ptolemy itu disimpan dalam perpustakaan Serapeaum, termasuk juga salinan dari Septuaginta. Surat-surat dari Aristeas (seorang Yahudi Alexandria) pada abad 1 M juga mendukung pendapat ini, dia menulis bahwa manuskrip-manuskrip dari Perpustakaan Utama Kerajaan telah dipindahkan ke perpustakaan Musaeum. St. Yohanes Chrysostom juga diketahui merujuk pada koleksi perpustakaan Serapeaum dalam pidatonya pada penduduk Antiokhia karena perpustakaan itu memiliki versi asli dari Septuaginta.

Sungguh sangat disayangkan, kemegahan perpustakaan besar ini berkali-kali dihantam nasib buruk. Para sejarawan berpendapat ada beberapa peristiwa-peristiwa yang diduga merusak bahkan menghancurkan perpustakaan ini.

Pertama adalah pembakaran kota Alexandria oleh Julius Caesar saat dia berperang dengan Ptolemy XIII pada tahun 48 SM (berdasarkan Kronik Perang Alexandria karya Titus Livius). Caesar memerintahkan pembakaran terhadap kendaraan-kendaraan kerajaan namun apinya menjalar ke seluruh bagian kota dan juga melalap perpustakaan. Caesar sendiri menulis dalam bukunya Alexadrian Wars bahwa, “Api yang dibakar pasukan Roma untuk membakar angkatan laut Mesir di pelabuhan Alexandria juga melahap sebuah gudang penuh dengan papirus yang berlokasi di pelabuhan.” Namun sejarawan modern membantah hal ini karena lokasi Perpustakaan Alexandria bukan terletak di dekat pelabuhan. Hal yang membatalkan tuduhan pada Caesar adalah buku Geography karya Strabo, yang mengunjungi Alexandria pada tahun 25 SM dimana bukunya menggunakan referensi yang berada didalam Perpustakaan Alexandria yang artinya Perpustakaan itu masih ada pada saat itu. Para penuduh Caesar menggunakan dasar tulisan dari beberapa penulis klasik yaitu Life Of Caesar oleh Plutarch yang ditulis pada abad 1 M, Attic Nights oleh Aulus Gellius  (Abad 2 M), dan beberapa sejarawan lain yang menyebutkan bahwa pasukan Caesar tidak sengaja membakar perpustakaan tersebut, namun kemungkinan besar para sejarawan ini keliru atas arti kata Yunani dari Bibliothekas yang berarti kumpulan buku dan Bibliotheka yang artinya Perpustakaan, sehingga mereka berpikir pembakaran buku-buku yang disimpan didekat pelabuhan Alexandria adalah pembakaran Perpustakaan Alexandria.

Kedua adalah penyerangan yang dilakukan bangsa Aurelian pada abad 3 SM.

Selain kejadian-kejadian diatas, beberapa pendapat yang masih merupakan dugaan menyebutkan bahwa kaum Kristen juga turut bertanggung-jawab kehancuran perpustakaan ini. Pendapat ini muncul karena ada kejadian pada tahun 272 M dan 391 M dimana terjadi huru-hara di kota Alexandria saat terjadi bentrok antara penganut pagan dan penganut Kristen dimana orang Kristen berusaha menghapus paganisme dari Alexandria yang menyebabkan terjadinya penghancuran Perpustakaan Serapeum itu. Dugaan ini didasari oleh catatan sejarah dimana Paus Theophilus dari Alexandria memerintahkan dihancurkannya kuil-kuil pagan termasuk Serapeaum karena perpustakaan itu merupakan perpustakaan kuil. Namun perlu diketahui, Serapeaum disebut perpustakaan kuil karena dibangun berdekatan dengan kuil namun bukan dibangunan yang sama, sehingga para sejarawan modern menolak pendapat ini karena berkeyakinan pembakaran kuil tidak mempengaruhi perpustakaan disebelahnya, karena perpustakaan Serapeaum selain menyimpan berbagai buku pagan, perpustakaan ini juga menyimpan berbagai buku sains, filsafat Yahudi dan Kristen, dan juga sejarah yang menguatkan kisah-kisah sejarah yang tercatat di Alkitab. Hingga abad ke 6 M, masih ditemukan catatan-catatan sejarah sebagai referensi yang menguatkan bahwa perpustakaan serapeaum masih ada, termasuk juga catatan dari filsuf Alexandria abad ke 5 M, Ammonius, dalam buku-bukunya, yang mengambil beberapa rujukan dari beberapa buku di Perpustakaan Serapeaum termasuk dari dua salinan The Categories yang dikarang oleh Aristoteles.

Pendapat lainnya yang juga masih merupakan dugaan adalah tindakan Khalifah Umar Bin Khattab, saat invasi ke Alexandria dibawah komando Amr Ibn Al Aas yang merebut Alexandria pada tahun 640 M, sehingga diduga menyebabkan musnahnya Perpustakaan Alexandria. Amr Ibn Al Aas  melaporkan pada Umar Bin Khattab tentang Perpustakaan Alexandria tersebut, dan menunggu perintah selanjutnya. Sembari menunggu perintah Umar Bin Khattab, Amr Ibn Al Aas mengijinkan beberapa cendekiawan untuk mengunjungi perpustakaan tersebut. Adapun termasuk dalam para cendekiawan itu adalah Philoponus murid Ammonius dan Philaretes murid Philoponus (penulis buku medis tentang detak jantung). Saat surat dari Umar Bin Khattab tiba maka, seperti dikutip, demikianlah jawabannya, “Jika apa yang ditulis sesuai dengan Kitab Tuhan, buku-buku itu tidak diperlukan. Jika tidak sesuai, buku-buku tersebut tidak diinginkan. Hancurkan.” Pendapat ini didukung oleh buku-buku karangan para penulis muslim sendiri. Al Qifti dalam bukunya, History Of Wise menuliskan bahwa pembakaran buku-buku itu berlangsung dalam enam bulan, sedangkan buku-buku yang terselamatkan hanyalah buku-buku Aristoteles, Euclid (pakar matematika), dan Ptolemy. Para sejarawan muslim lainnya pun setuju dengan pendapat ini. Mereka adalah Al Makrizi dalam bukunya Sermons adan Lessons in the Mention of Plans and Lessons in the Mention of Plans and Monument, Ibn Al Nadim dalam bukunya The Index, dan juga dalam buku History Of Islamic Urbanization karya Georgy Zeidan.

Namun, dua tindakan tersebut (oleh pengikut Kristen dan oleh Umar Bin Khattab) merupakan dugaan yang terus diperdebatkan, meskipun latar belakang sejarahnya berasal dari sejarah yang sebenarnya.




PERPUSTAKAAN ALEXANDRIA MODERN

(Perpustakaan Alexandria Modern, tampak dari samping)

Karena reputasinya yang luar biasa dimasa lalu, pemerintah Mesir lalu membangun kembali Perpustakaan Alexandria. Pembangunan memakan biaya USD. 230 juta. Dananya diperoleh secara patungan dari beberapa negara Arab dan Eropa.

(Ruang baca di Perpustakaan Alexandria Modern)

Perpustakaan Alexandria yang baru, dibangun didekat lokasi perpustakaan lama di kota Alexandria. Perpustakaan besar ini mampu menampung 8 juta buku. Bangunannya menyerupai silinder, dengan banyak jendela. Salah satu dindingnya dihiasi potongan batu granit bertuliskan simbol huruf seluruh dunia sehingga jika malam tiba menimbulkan efek dramatis dari permukaan air yang memantulkan cahaya lampu jalan berwarna keemasan. Konon, bangunan yang dirancang oleh biro arsitek asal Norwegia Snohetta tersebut menyerupai aslinya.


(Perpustakaan Alexandria Modern, ruangan bagian dalam)

Perpustakaan Alexandria modern memiliki banyak koleksi berharga, diantaranya 5.000 koleksi penting berupa manuskrip klasik tentang aneka pengetahuan dari abad 10 M- 18 M, juga ada catatan penting Napoleon yang berjudul Description de’Egypt, yang menceritakan peristiwa penyerbuan Prancis ke kota Alexandria. Koleksi penting lainnya adalah manuskrip keagamaan termasuk salinan langka Al-Quran.




------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ARTIKEL INI DISUSUN DAN DITERBITKAN PERTAMA KALI
OLEH DELEIGEVEN MEDIA

SETIAP ARTIKEL YANG MEMILIKI ISI, SUSUNAN, DAN GAYA PENULISAN
YANG MIRIP DENGAN ARTIKEL INI MAKA ARTIKEL-ARTIKEL TERSEBUT
MENYADUR ARTIKEL INI.

DILARANG KERAS MEMPLAGIAT ARTIKEL INI!

CANTUMKAN LINK LENGKAP ARTIKEL INI DISETIAP KALIMAT YANG ANDA DISADUR DARI ARTIKEL INI. SESUAI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA, JIKA MENYADUR/MENG-COPY MINIMAL SEPULUH KATA TANPA MENCANTUMKAN SUMBER DARI KALIMAT ITU (BERBEDA DARI PENCANTUMAN SUMBER DI CATATAN KAKI (FOOTNOTE) MAKA ITU ADALAH TINDAKAN PLAGIARISME.

JIKA ANDA MENYADUR SEBAGIAN BESAR ARTIKEL INI MAKA ANDA HARUS MENCANTUMKAN KALIMAT:
"ARTIKEL INI DISADUR DARI....(LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA",
ATAU:"SUMBER UTAMA DARI SEBAGIAN BESAR INFORMASI ARTIKEL INI DIAMBIL DARI (LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA"  
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Notes (Catatan):

*We strongly recommend all readers to read all the comments below for the other details which not mentioned by this article
(Sangat disarankan bagi para pembaca untnk melihat komentar-komentar artikel ini sebab beberapa komentar membahas rincian informasi yang tidak ditulis dalam artikel ini)

*Get various information about history in ENGLISH by open or follow our Instagram account: @deleigevenhistory(Dapatkan berbagai informasi sejarah dalam bahasa Inggris di akun instagram kami @deleigevenhistory)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Copyrights Story: Deleigeven Media
Copyrights Picture: Gramedia Pustaka, godreads.com, trabalibros.com, artikelpustakawan.wordpress.com, hivietnam.net

Penyusun:
Penulis : Deleigeven
Editor : Juliet
Desain : Deleigeven
Penerbit: Deleigeven Media

Daftar Pustaka:
Dunia Perpustakaan
Warta, Volume XVIII No. 4, 2013, Perpustakaan Nasional RI
The Alexandria Link, Steve Berry, 2011

Sumber website:
www.wikipedia.com/perpustakaanalexandria
www.artikelpustakawan.wordpress.com

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------