DELEIGEVEN HISTORICULTURAM

HISTORY IS ONE OF THE BEST INFORMATION FOR OUR CURRENT & FUTURE

Translate

Showing posts with label Sastra (Literature). Show all posts
Showing posts with label Sastra (Literature). Show all posts

Sunday, 30 December 2018

ISA DAN ORANG-ORANG BIMBANG




Pada suatu hari Isa, putra Mariam, berjalan-jalan di padang pasir dekat Baitul Mukadis bersama-sama sekelompok orang yang masih suka mementingkan diri sendiri.

Mereka meminta dengan sangat agar Isa memberitahukan kepada mereka “Kata Rahasia” yang telah dipergunakannya untuk menghidupkan orang mati.

Isa-pun berkata,
"Kalau kukatakan itu padamu, kau pasti menyalahgunakannya."

Mereka berkata,
"Kami sudah siap dan sesuai untuk pengetahuan semacam itu; tambahan lagi, hal itu akan menambah keyakinan kami."

"Kalian tak memahami apa yang kalian minta," kata Isa, tetapi Ia memberitahukan juga Kata Rahasia itu.

Segera setelah itu, orang-orang tersebut berjalan di suatu tempat yang terlantar dan mereka melihat seonggok tulang yang sudah memutih.

"Mari kita uji keampuhan Kata itu," kata mereka, dan diucapkanlah 'Kata Rahasia' itu.

Begitu kata diucapkan, tulang-tulang itupun segera terbungkus daging dan menjelma menjadi seekor binatang liar yang kelaparan, yang kemudian merobek-robek mereka sampai menjadi serpih-serpih daging.



Mereka yang dianugerahi nalar akan mengerti. Mereka yang nalarnya terbatas bisa belajar melalui kisah ini.



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Catatan:
Isa dalam kisah ini adalah Isa putra Maria (Al Qur’an), yang juga dikenal sebagai Yesus Kristus oleh umat Kristen (terlepas dari semua kontradiktif dan kontroversi mengenai apakah kedua tokoh ini adalah orang yang sama).

Tokoh Isa dalam cerita ini diceritakan dari sudut pandang Islami bukan dari sudut pandang Kristiani atau historis, oleh karena itu kisah ini tidak dapat ditemukan di dalam Alkitab, dan juga kisah ini memang tidak ada dalam Al Qur’an.

Kisah “Isa dan Orang-orang Bimbang” ini adalah kisah dongeng yang sering diceritakan oleh Jalaludin Rumi dan para Sufi. Kisah ini mengandung gagasan yang sama dengan yang ada dalam Magang Sihir, dan juga muncul dalam karya Rumi. Kisah ini juga selalu muncul dalam dongeng-dongeng lisan para darwis tentang Isa. Jumlah dongeng semacam itu banyak sekali.

Tokoh yang dikenal sering menceritakan kembali kisah ini adalah Jabir putra al-Hayan, yang dalam bahasa Latin di sebut Geber, penemu alkimia Kristen. Geber disebut-sebut sebagai salah seorang yang berhak menyandang sebutan Sufi. Ia meninggal sekitar 790 M. Aslinya ia orang Sabia, menurut para pengarang Barat, ia membuat penemuan-penemuan kimia penting.



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Copyrights (Hak Cipta):
Dituliskan kembali dari buku kumpulan “Kisah-kisah Sufi”, berupa kumpulan kisah nasehat para guru sufi selama seribu tahun yang lampau.


Writer : Idries Shah
Translator : Sapardi Djoko Damono
Indonesian Publisher : Pustaka Firdaus, 1984
Re-published by : Deleigeven Media

Sunday, 30 September 2018

HIDUPLAH DENGAN RUKUN



1Sungguh, alangkah baik dan indahnya,
apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.

2Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut,
yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.

3Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.

_________________________________________________________________________________

Tafsiran Umum

Mazmur atau nyanyian ini adalah nasihat dari bagi semua orang yang membacanya agar memelihara kerukunan dan menjauhi pertengkaran. Inti dari syair ini adalah kerukunan akan menciptakan kebahagian dan kesejukan (ketenangan) bagi satu sama lain dan merupakan anugerah Tuhan yang harus dijaga.

“Minyak yang baik” dalam syair ini berarti kebahagiaan.

Harun adalah saudara Musa (nabi besar yang memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir) dan juga merupakan imam besar (grand priestpertama bangsa Israel.

“embun” berarti kesejukan, dan “gunung Hermon” adalah keindahan atau bisa juga berarti Firdaus karena letaknya lebih tinggi dari Bukit Sion.

“Gunung-gunung Sion” artinya adalah kelompok-kelompok orang atau umat manusia (secara umum), atau bangsa Isarael (menurut teologia Yahudi), atau kelompok-kelompok gereja (menurut teologia Kristen) sebab Sion juga diartikan sebagai “umat percaya” dan “umat Tuhan” (contoh: Raja Sion = Raja orang percaya, Bukit Sion = Tempat orang percaya, dsb).

Secara umum, kalimat terakhir pada bait terakhir dari syair ini berarti: Tuhan akan mendatangkan berkat dan kehidupan pada umat manusia yang hidup rukun.


Catatan

Bagi kalangan Kristen dan Yahudi, penulis syair ini dianggap sebagai salah-satu perantara Firman Tuhan sebab diimani bahwa kata-kata ini berasal dari Tuhan yang menggunakan hikmat dan tangan manusia untuk menyampaikannya.

Penulis syair ini adalah Raja Daud. Seluruh syair ini disadur dari Kitab Mazmur 133:1-3 (dibaca: Kitab Mazmur pasal 133 ayat 1 hingga 3). Syair ini sejatinya adalah nyanyian pujian dari Raja Daud dalam Kitab Suci Ibrani (Yahudi) dan Alkitab Perjanjian Lama. Oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) syair ini (Mazmur 133:1-3) diberi judul “Persaudaraan Yang Rukun”. Judul ini hanya ditemukan di Alkitab berbahasa Indonesia.

Bait pertama syair ini diawali dengan kalimat: “Nyanyian Ziarah Daud”, sehingga bait pertama syair ini adalah: Nyanyian Ziarah Daud. Sungguh, alangkah baik dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun. Kalimat “Nyanyian Ziarah Daud” adalah kata-kata pembuka untuk mengumumkan nama penulis mazmur ini. Kalimat pembuka syair ini tidak dicantumkan dalam syair diatas dengan karena artikel ini bertujuan memperkenalkan syair dari Raja Daud sedangkan kalimat pembuka itu adalah penanda dan bukan bagian dari nyanyian atau mazmur yang ditulis Daud.

Nyanyian Ziarah adalah kumpulan nyanyian Ibrani yang dinyanyikan untuk merenungkan masa pembuangan ke Babilonia. Pasal 120 hingga 134 dari kitab Mazmur merupakan bagian dari Nyanyian Ziarah. Tidak semua nyanyian ziarah ditulis oleh Daud, hanya nyanyian ziarah yang diberi kode “Nyanyian Ziarah Daud” yang ditulis oleh Daud. Syair ini ditulis dan dikarang oleh Daud semasa hidupnya di Yerusalem tetapi baru digolongkan kedalam ‘Nyanyian Ziarah” pada masa Pembuangan ke Babilonia. Kekaisaran Babilonia adalah imperium kuno di negara Irak modern yang adalah salah-satu kerajaan terbesar di masa kuno. Mereka menaklukan Kerajaan Yehuda (kerajaan Israel Selatan yang dipimpin oleh Dinasti Daud) dan mengangkut bangsa Israel ke Babel (ibukota Babilonia) sebagai tawanan. Bangsa Israel ditawan disana selama 70 tahun dan masa ini dikenal sebagai masa “70 Tahun Pembuangan ke Babel”.

Daud adalah salah-satu raja di wilayah Timur Tengah yang hidup dan memerintah sekitar abad ke-11 SM. Menurut kitab sejarah raja-raja Israel dan berbagai kitab sejarah para raja Israel yang dimuat di dalam Alkitab, juga berdasarkan penelitian sementara dan konsensus sejarawan, Raja Daud (Arab: Dawud, Inggris: David) adalah raja Kerajaan Israel Bersatu yang kedua. Pendahulunya adalah mertuanya yang bernama Raja Saul. Ayahnya bernama Isai, salah-satu pemimpin klan dari suku Yehuda. Beliau lahir di kota Betlehem. Daud adalah cucu dari salah-satu pemimpin utama klan Yehuda yang bernama Boas (ayah Isai) dari istrinya yang berasal dari Kerajaan Moab yang bernama Rut. Daud adalah putra bungsu yang sehari-hari bekerja sebagai seorang penggembala domba milik ayahnya, sedangkan kakak-kakaknya (Eliab, Aminadab, dan Syama) berprofesi sebagai tentara Kerajaan Israel Bersatu. Nama Daud awalnya sama sekali tidak ada dalam daftar suksesi Kerajaan Israel Bersatu, walaupun saat itu Nabi Kerajaan dan Penasihat Utama Kerajaan, Samuel, telah mengurapi Daud (menahbiskan Daud secara agama) sebagai calon raja Israel Bersatu tetapi secara hukum dan tradisi (adat) Daud tidak ada dalam daftar pewaris raja saat itu (Raja Saul). Daud baru bertemu Saul saat Israel berperang melawan Konfederasi Filistin, ketika dia bermaksud mengantarkan makanan pada kakak-kakaknya. Pada perang itulah Daud menunjukan kepahlawanannya yang paling terkenal: Melawan Goliat. Berkat kepahlawanannya melawan Goliat, Daud menjadi orang kesayangan Saul dan bersahabat erat dengan pewaris Saul, Putra Mahkota Yonatan. Daud dibawa ke istana dan mengikuti Saul ke berbagai medan perang, sesekali Daud menjadi pemusik pribadi Saul dengan memainkan kecapi untuk menenangkan pikiran Saul sebab saat itu Saul sudah mengidap penyakit mental dan sering mengamuk karena sakitnya itu. Lama kelamaan Saul mempercayakan Daud untuk memimpin pasukan Israel di medan perang sebagai salah-satu panglima perang, dan selalu meraih kemenangan. Daud pun menjadi kesayangan rakyat Israel, dan ini menjadi awal perpecahan antara Saul dan Daud, terlebih lagi Daud telah menjadi menantu Saul sehingga namanya masuk dalam daftar suksesi, walaupun masih jauh dibawah Yonatan sebab Yonatan masih memiliki dua orang adik (Pangeran Abinadab dan Pangeran Malkisua) yang berhak atas tahta dan seorang adik (Pangeran Isyboset) yang cacat tetapi masih termasuk dalam daftar suksesi. Konflik antara Saul dan Daud semakin parah, dimulai dari perang urat syaraf dan kemudian menjadi konflik terbuka yang membuat Daud harus melarikan diri. Meski demikian, Putra Mahkota Yonatan selalu mendukung Daud bahkan rela jika tahta kelak menjadi milik Daud. Ini membuat putra-mahkota juga berkonflik dengan ayahnya. Dalam pelarian Daud, Kerajaan Israel Bersatu masih berperang dengan Konfederasi Filistin, dan dalam salah-satu pertempuran Kerajaan Israel Bersatu kalah telak. Perang itu merenggut nyawa Putra Mahkota Yonatan dan kedua adiknya. Saul yang terdesak memilih bunuh-diri. Kematian Yonatan membuat Daud sangat berduka dan mengarang sebuah elegi. Karena semua pewaris utama Saul telah meninggal rakyat pun terpecah, apakah mendukung Daud atau keluarga Saul. Mayoritas rakyat mendukung Keluarga Saul, yang masih memiliki seorang pewaris yaitu Pangeran Isyboset, dan hanya suku Yehuda (suku asli Daud) yang mendukung Daud. Kubu Pangeran Isyboset berpusat di ibukota lama Israel Bersatu di kota Gibea, tetapi Isyboset dinobatkan di kota Mahanaim (salah-satu kota penting di daerah Giliead, wilayah suku Gad yang berbatasan dengan Kerajaan Amon atau Yordania modern), sedangkan kubu Daud berpusat di kota Hebron. Isyboset lalu tewas dibunuh pengawalnya sehingga membuat Daud menjadi raja tunggal. Karena kejujuran dan kesalehannya, Daud akhirnya diakui oleh seluruh bangsa Israel sekaligus para pendukung Saul. Ini karena Daud menghukum mati para pembunuh Isyboset (sebab Daud mengharapkan penyatuan tanpa pertumpahan darah). Daud tetap bertahta di Hebron sampai beliau menaklukan kota Salem (yang lalu diubah namanya menjadi “Yerusalem”) dan bertahta disana hingga kematiannya. Pada akhirnya ketika kerajaan Israel pecah, hanya pendukung Saul yang bersedia bersatu dengan pendukung Dinasti Daud dan mempertahankan Dinasti Daud. Daud adalah raja Israel yang paling terkenal. Beliau dikenang akan ketekunan dan ketulusannya. Dinastinya disebut “Dinasti Daud” (Inggris: House of David, Ibrani: Byt el Dwd = Bait el Dawud) dan merupakan dinasti Israel terlama yang bertahta, yang keturunannya masih terlacak hingga awal masehi.

Belum ada penemuan arkeologi yang memuat nama Daud sebagai bukti langsung tentang eksistensinya tetapi banyak penemuan arkeologi yang memuat nama “Dinasti Daud” sehingga menjadi bukti dan penemuan tidak langsung tentang kebenaran eksistensinya sebagai raja Israel.

Kitab Mazmur adalah salah-satu dari kitab-kitab syair dalam Alkitab yang ditulis dalam bahasa Ibrani Kuno. Sebenarnya, kitab Mazmur adalah kitab nyanyian (sehingga dinamakan “Mazmur”). Kitab ini merupakan salah-satu kitab dalam Perjanjian Lama Alkitab yang berisi kumpulan lagu dan pujian pada Tuhan, ucapan syukur, dan ajakan berbuat baik, yang nada-nada lagunya sudah tidak diketahui. Kitab Mazmur adalah kitab dengan bab terbanyak dalam Alkitab sebab terdiri dari 150 bab (pasal), dan diakui sebagai salah-satu kitab dalam Kitab Suci Ibrani dan Kristen. Walaupun Kitab Mazmur secara luas dikenal sebagai “Mazmur Daud” tetapi Mazmur Daud hanyalah salah-satu bagian dari kitab ini, yaitu bagian pertama. Penulis Kitab Mazmur lebih dari satu-orang, dan Daud adalah penulis Mazmur terbanyak (tujuh puluh tiga Mazmur). Penulis-penulis lain adalah Bani Korah (kelompok musik dari klan Kehat, klannya nabi Samuel, keturunan para pemberontak jaman Musa yang memilih untuk insaf dan melayani sebagai pemusik), Asaf ben Berekhya (salah-satu penyanyi utama Bait Suci dari klan Merari), Salomo (putra pewaris Daud), Etan ben Kisi (salah-satu penyanyi utama Bait Suci dari klan Merari), Musa (nabi terbesar bangsa Yahudi), dan satu orang atau lebih pemazmur yang namanya tidak diketahui yang menulis empat puluh sembilan mazmur. Waktu penulisan Mazmur Daud adalah sekitar abad 11 SM, sedangkan waktu penulisan mazmur-mazmur lainnya dimulai setelah kematian Daud kecuali Mazmur yang ditulis oleh Musa (sekitar abad 15 SM). Ini membuat kitab Mazmur menjadi salah-satu kitab nyanyian tertua di dunia yang syair-syairnya masih bertahan hingga sekarang. Tempat penulisan Mazmur Daud adalah di kota Yerusalem, demikian juga dengan tempat penulisan sebagian besar mazmur lainnya.

Perjanjian Lama adalah salah-satu dari dua bagian utama Kitab Suci Kristen. Kitab Suci Kristen terdiri dari dua bagian (tiga untuk kitab suci Katolik) yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bagian kitab tambahan dari gereja Katolik adalah Kitab Deuteronika yang urutannya berada diantara kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kitab Perjanjian Lama terdiri dari 39 Kitab yang terdiri dari Lima Kitab Pentateukh atau Kitab Taurat (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan), kitab para Hakim dan kisah-kisah sebelum Daud (Yosua, Hakim-hakim, dan Ruth), kumpulan kitab sejarah (1 dan 2 Samuel, 1 dan 2 Raja-raja, 1 dan 2 Tawarikh), kumpulan kitab dari masa 70 tahun pembuangan di Babilonia (Ezra, Nehemia, Ester), kitab Ayub (ditulis pada masa Abraham), kitab-kitab Syair (Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, dan Ratapan), kitab nabi-nabi besar (Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel), kitab nubuatan atau ramalan Daniel, dan kitab nabi-nabi kecil (Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi). Kitab Perjanjian Lama juga adalah bagian dari Kitab Suci Yahudi. Oleh gereja Kristen, kitab ini disebut “Perjanjian Lama” sebab ditulis dimasa sebelum kehidupan Yesus, sedangkan Perjanjian Baru dinamakan demikian untuk membedakan kitab-kitab yang ditulis setelah masa kedatangan Yesus. Teologia Kristen meyakini bahwa kedatangan Yesus kedunia untuk menggenapi “Perjanjian” antara pihak Surga (Tuhan) dan pihak Dunia (Manusia), sehingga penyebutan “Perjanjian” pada kedua kitab ini merujuk pada Yesus, dimana era “lama” adalah sebelum “Perjanjian” itu datang dan era “baru” adalah setelah “Perjanjian” itu datang.
_________________________________________________________________________________

Tafsiran dan catatan pada artikel ini ditulis berdasarkan sudut pandang sastra dan sejarah bukan berdasarkan pemahaman agama atau teologia manapun. Penggunaan definisi dari teologia tertentu hanya sebagai tambahan penjelasan konten terkait agar penyampaian arti syair dan latar-belakang penulisan syair tidak bias.

Artikel ini pertama kali ditulis dan disusun oleh Tim Deleigeven dan diterbitkan pertama-kali oleh Deleigeven Media.


TIM PENYUSUN:
Penulis Artikel: Devy R
Editor : Deleigeven & Juliet
Penerbit : Deleigeven Media


DAFTAR PUSTAKA:
-Alkitab Perjanjian Lama (dengan catatan versi Pemulihan); di distribusikan oleh Lembaga Alkitab Indonesia; diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (Anggota IKAPI); 2007; Jakarta
-Perjanjian Baru, Mazmur, Amsal; di distribusikan oleh The Gideons International; diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (Anggota IKAPI); 2007; Jakarta

Sumber Web:

-en.wikipedia/king_david

Wednesday, 1 August 2018

SOLON YANG BIJAK DAN KEBAHAGIAAN RAJA CROESUS YANG SEMU




Alkisah pada jaman dahulu kala, pada masa yang sudah lama sekali, ada sebuah kerajaan yang sangat kaya yang bernama Kerajaan Lydia yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raja Croesus. Rakyatnya memuji dan menyanjung-nyanjung sang raja sebagai 'Pria Paling Berbahagia Di Bumi' sebab sang raja sangat kaya dan memiliki segalanya yang penting dalam hidup yaitu teman, wanita, dan tahta.

Ditempat yang lain, di kerajaan lain pula, yang letaknya jauh dari negerinya Raja Croesus tepatnya di kota Athena, hiduplah seorang yang bijaksana yang bernama Solon. Dia tidak kaya dan juga tidak banyak memiliki banyak hal penting dalam hidup, baik itu teman, wanita, dan tahta. Tapi, rakyat dinegerinya memperlakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh rakyat Lydia pada Raja Croesus, yaitu menyanjung dan memuji-mujinya.

Raja Croesus dan Solon memiliki satu persamaan, yaitu bahwa mereka adalah pembuat hukum dinegeri mereka, namun ada banyak hal yang berbeda dari mereka. Raja Croesus mengumpulkan banyak sekali harta benda diperbendaharaan sedangkan Solon justru kehilangan banyak hartanya. Raja Croesus memiliki banyak sekali abdi yang bersumpah-setia padanya dan juga memiliki banyak teman dan sekutu dalam kerajaannya dan juga dari luar negerinya tetapi Solon justru ditinggalkan oleh teman-temannya. Raja Croesus memiliki banyak wanita yang mendampinginya sedangkan Solon tidak. Raja Croesus juga duduk diatas tahta salah-satu kerajaan paling makmur pada masa itu, sedangkan Solon justru kehilangan jabatannya sebagai Archon kota Athena. Tetapi, baik Raja Croesus dan juga Solon sama-sama disanjung-sanjung oleh rakyat mereka. Raja Croesus disanjung sebagai pemimpin agung Kerajaan Lydia, sedangkan Solon disanjung sebagai reformator besar kota Athena.

Ketika Solon menuntaskan reformasi-nya, ia meninggalkan Athena untuk berlayar keliling dunia hingga kemudian dia tiba di negeri Lydia.

Ketika Solon berjalan-jalan dinegeri itu, dia mendengar percakapan-percakapan rakyat Lydia yang menyanjung-nyanjung raja mereka dengan sebutan “Pria Paling Berbahagia Di Bumi”. Karena penasaran tentang hal itu, bertanyalah Solon pada sekelompok rakyat Lydia,
Wahai rakyat kota Lydia yang berbahagia, mengapakah kalian mengatakan bahwa raja kalian sebagai Pria Paling Berbahagia Di Bumi’?”

Sekelompok rakyat Lydia yang ditanyai Solon itu lalu menjawab,
Ooh kau orang asing rupanya. Selamat datang dinegeri kami yang bahagia ini, yang dipimpin oleh raja kami, Yang Mulia Baginda Raja Croesus. Tetapi dibandingkan dengan kami, beliau adalah yang paling berbahagia dimuka bumi ini sebab beliau memiliki segala hal yang penting dalam hidup ini. Kekayaan, sahabat, wanita, dan tahta.”

Namun Solon menjawab,
Wahai orang Lydia yang berbahagia, sesungguhnya tidak ada kebahagiaan yang mutlak sama seperti tidak ada orang yang benar-benar bahagia sebelum dia meninggal.”

Setelah Solon berkata demikian, pergilah dia meninggalkan sekelompok orang itu. Maksud Solon adalah bahwa keberuntungan dapat berubah dengan tiba-tiba sebab setiap hal mungkin berubah dari satu hari ke hari lain. Namun, kata-kata Solon itu terlanjur tersebar hingga sampai ke istana Kerajaan Lydia dan terdengar pula oleh Raja Croesus. Kata-kata Solon sangat mengusik hati raja sehingga beliau mengundang Solon untuk datang dan mengunjunginya di istana. Solon-pun menghormati undangan raja dan mengunjungi istana sang raja yang sangat besar.

Setelah memasuki istana, Solon melihat seorang pria berpakaian mewah dan disertai oleh rombongan budak dan tentara, sehingga Solon berpikir bahwa orang itu pastilah Raja Croesus. Tapi ternyata dia hanya seorang pejabat kecil di pengadilan kerajaan. Solon kemudian melanjutkan langkahnya memasuki istana, ia melihat beberapa pejabat lain yang berpakaian sangat mewah dan juga disertai oleh serombongan budak dan pengawal. Semakin tinggi jabatannya, semakin besar rombongan yang menyertainya. Akhirnya Solon dipersilahkan masuk ke ruangan raja.

Raja Croesus telah menunggu Solon diruangannya. Beliau mengenakan pakaian yang sangat indah dan perhiasan yang sangat mewah, dan dengan bangganya beliau membuka tangannya menyambut kedatangan Solon. Namun, sang raja heran sebab raut wajah Solon tampak tidak silau dengan kemewahan itu. Raja Croesus tersinggung dengan sikap yang ditunjukan oleh Solon, sehingga beliau kemudian memerintahkan agar rumah-rumah tempat penyimpanan hartanya dibuka agar Solon bisa melihat banyaknya pakaian yang indah yang Raja Croesus miliki miliki, juga banyaknya emas, perak, dan permata milik sang raja. 

Solon tetap tenang dan berlaku sopan saat memandang semua itu. Sang raja-pun datang kembali menemui Solon dan berkata,
"Wahai Solon yang bijak dari Athena," kata Croesus, "pernahkah kamu melihat orang yang lebih beruntung dari aku, Raja Croesus ini?" Tanya sang Raja dengan bangganya.

Solon menjawab, "Ya, aku pernah.”

Raja Croesus terkejut mendengar jawaban Solon.

Siapa??? Siapa dia yang lebih berbahagia daripada aku??!” Tanya Raja Croesus dengan sangat penasaran.

Dia adalah Tellus, warga Athena.” Jawab Solon. “Dia adalah pria jujur yang mendidik anak-anaknya dengan baik dan mempersiapkan anak-anaknya dengan baik untuk mengabdi pada Athena. Dia terus hidup hingga memperoleh cucu, lalu ia meninggal dengan mulia, yaitu saat berjuang untuk negaranya." Kata Solon.

Jawaban Solon itu mengejutkan seisi istana yang mendengarnya, dan tentunya membuat Raja Croesus marah.

Berani sekali kau menganggap seorang rakyat jelata dinegerimu itu lebih bahagia dariku, raja yang agung dari Lydia ini??!” Teriak Raja Croesus.

Namun Solon kembali menjawab,
Oh baginda Raja Croesus, Tellus itu bukanlah satu-satunya yang aku kenal sebagai orang paling paling berbahagia. Masih ada lagi, yaitu Kleobis dan Biton dari kota Argive. Mereka meninggal dengan damai dalam tidur mereka setelah ibunda mereka mendoakan kebahagian mereka pada Dewi Hera sebab mereka telah menunjukan pengabdian dan penghormatan mereka pada orang-tua dengan membawa ibundanya itu ke pesta besar bagi Dewi Hera dengan menggunakan sebuah gerobak dan menarik sendiri gerobak itu sejauh 6 mil jauhnya. Dewi Hera memberikan mereka kematian yang indah dalam damainya tidur mereka. Merekalah orang-orang yang paling berbahagia di bumi ini.”

Sang raja yang semakin marah lalu memerintahkan para pengawalnya untuk menahan Solon dan memberikan hukuman yang berat. Namun Solon yang bijaksana dan cerdik lalu menenangkan sang raja dengan berkata,
"Oh raja perkasa dari Lidya, para dewa telah memberi kita, orang-orang Yunani, hanya hal-hal kecil, dan kebijaksanaan kita hanya hal-hal kecil, bukan suatu hal penting yang setara pentingnya dengan yang anda miliki, wahai Yang Mulia Baginda Raja Croesus. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mempertimbangkan bagaimana kehidupan seseorang begitu banyak tergantung pada kesempatan, dan bagaimana bencana bisa datang kepada kita yang membuat kita benar-benar terkejut, jadi aku tidak menganggap siapa-pun untuk menjadi benar-benar bahagia sampai ia meninggal dengan baik, dan nasib baiknya utuh sampai akhir. Jika kita mengatakan bahwa seorang pria itu benar-benar bahagia, namun ada begitu banyak yang masih bisa terjadi padanya, kita akan seperti tentara merayakan kemenangan sebelum pertempuran berakhir." Demikian penjelasan Solon, yang mengandung siratan bahwa Solon mengharapkan kebahagian sang raja terus berlangsung hingga sang raja tutup usia.

Kata-kata Solon itu akhirnya dapat diterima oleh raja sehingga Raja Croesus mengijinkan Solon pergi dengan selamat.

Saat berjalan keluar dari istana, secara kebetulan Solon bertemu dengan Aesop, penulis dongeng terkenal, yang juga telah diundang ke istana oleh Raja Croesus. Aesop, yang juga melihat Solon, lalu bertanya,
"Apakah seharusnya kita tidak datang ke orang-orang yang perkasa, atau haruskah kita mencoba untuk menyenangkan mereka?"

Dan Solon-pun menjawab,
"Apakah seharusnya kita tidak datang ke orang-orang yang perkasa, atau haruskah kita memberitahu mereka kebenaran?", sambil berjalan pergi dari istana meninggalkan Aesop dan kemudian meninggalkan negeri Lydia.

Tidak berapa lama setelah kepergian dari negeri Lydia, datanglah balatentara Kekaisaran Persia yang dipimpin oleh Maharaja Cyrus Yang Agung dan mengepung kerajaan Lydia. Dalam peperangan, Raja Croesus pada akhirnya harus takluk pada Maharaja Cyrus Yang Agung. Raja Croesus-pun kehilangan hartanya, wanita-wanitanya, sekutu-sekutunya, dan juga tahtanya. Dia lalu ditawan dan diikat ditiang, dan hendak dibakar hidup-hidup sebagai hiburan bagi Maharaja Cyrus Yang Agung.

Raja Croesus begitu pilu meratapi nasibnya. Dia menangis meratapi kematian keluarganya, pembesar-pembesarnya, dan juga rakyatnya ditangan orang-orang Persia. Ditengah-tengah keputus-asaannya itu, Raja Croesus-pun berteriak,
Solon...... Solon.... Oh Solon” sambil menangis sedih.

Maharaja Cyrus Yang Agung mendengar teriakan Raja Croesus itu dan penasaran dengan maksudnya sehingga beliau memerintahkan untuk menghentikan proses hukuman mati pada Raja Croesus dan semua orang Lydia yang akan dihukum-mati saat itu. Maharaja Cyrus Yang Agung memerintahkan agar Raja Croesus dibawa dihadapannya. Setelah Raja Croesus berada dihadapan sang maharaja maka bertanya Maharaja Cyrus Yang Agung padanya,
Siapakah atau apakah Solon yang kau panggil-panggil itu?”

Raja Croesus-pun menjawab,
wahai Maharaja Cyrus Yang Agung, yang kupanggil namanya adalah Solon yang bijak dari Athena....”

Hmmm apakah Solon ini adalah seorang manusia saja atau salah-satu dari dewa-dewa orang Athena?” Tanya Maharaja Cyrus Yang Agung.

Raja Croesus lalu menjawab, "Dia bukanlah dewa tetapi adalah salah-satu dari orang-orang bijak dari Yunani. Dahulu aku mengundangnya ke istana-ku untuk mendengar kata-kata bijak darinya. Bukannya belajar darinya, aku malahan begitu marah padanya saat ia sedang menganjurkan hal-hal yang bijak dan baik adanya padaku saat itu.”

Maharaja Cyrus Yang Agung menjadi sangat penasaran pada penjelasan Raja Croesus dan kembali bertanya, “Hal bijak apakah yang dikatakan padamu saat itu?”

Mendengar pertanyaan Maharaja Cyrus Yang Agung itu, hati Raja Croesus menjadi sangat sedih dan diapun berkata,
Wahai Maharaja Cyrus Yang Agung, dahulu baginda pasti tahu dan mendengar tentang kekayaanku dan kemakmuran negeriku. Ditengah-tengah semua kelimpahan yang diberikan oleh dewa padaku, rakyatku menyanjung-nyanjung aku dan menyebutku sebagai ‘Pria Paling Bahagia di Dunia’. Namun, saat Solon Yang Bijak mendengar hal itu dari rakyatku, justru berkata pada mereka bahwa ‘sesungguhnya tidak ada kebahagiaan yang mutlak sama seperti tidak ada orang yang benar-benar bahagia sebelum dia meninggal’. Setelah kata-katanya sampai ke telingaku yang pongah ini, akupun memanggilnya ke istanaku dan menunjukan semua kekayaanku dan kemegahanku untuk menegaskan padanya bahwa akulah orang yang paling berbahagia di bumi. Tapi, Solon justru berkata bahwa ‘kehidupan seseorang begitu banyak tergantung pada kesempatan, dan bagaimana bencana bisa datang kepada kita yang membuat kita benar-benar terkejut, sehingga siapa-pun tidak menjadi benar-benar bahagia sampai ia meninggal dengan baik, dan nasib baiknya utuh sampai akhir.’ Demikianlah kata-kata Solon Yang Bijak itu wahai Maharaja Cyrus Yang Agung.” Ujar Raja Croesus.

Maharaja Cyrus Yang Agung begitu tersentuh mendengar nasehat Solon yang diceritakan kembali oleh Raja Croesus dan beliau-pun bertanya lagi,
Adakah lagi kata-kata yang diucapkannya padamu?”

Solon Yang Bijak itu juga menasehatiku agar aku jangan hanya menilai kebahagiaan yang sekarang ini saja sebab jika seseorang menganggap dirinya benar-benar bahagia namun ada begitu banyak yang masih bisa terjadi padanya maka orang itu hanya akan menjadi seperti tentara yang merayakan kemenangan sebelum pertempuran berakhir,” ujar Raja Croesus.

Maharaja Cyrus Yang Agung termenung saat mendengar nasehat Solon yang diceritakan kembali oleh Raja Croesus. Saat melihat sang maharaja duduk termenung setelah mendengar kata-katanya maka Raja Croesus-pun berkata,
Wahai Maharaja Cyrus Yang Agung, sungguh alangkah baiknya jika baginda bisa bertemu langsung dengan Solon Yang Bijak itu dan mendengar langsung kata-katanya yang bijak. Oh Maharaja Cyrus Yang Agung, sesungguhnya kehilangan segalanya sekarang ini lebih menyakitkan daripada kehilangan kenikmatan dunia yang menyenangkan. Kini, kekayaanku yang sesungguhnya hanyalah berupa kata-kata dan pendapatku semata, dan sekarang aku akan dibawa untuk dibakar di tiang. Solon Yang Bijak melihatku dalam sebuah kemewahan yang bodoh dan dia telah meramalkan penderitaanku yang terjadi sekarang ini. Dia memperingatkanku bahwa aku harus mempertimbangkan akhir hidupku, dan tidak membanggakan sebuah tanah yang menjerumuskan, karena tidak ada manusia yang bahagia sampai ia meninggal dengan baik" ujar Raja Croesus sambil meratapi nasibnya kini.

Maharaja Cyrus Yang Agung begitu tersenutuh mendengarkan nasehat-nasehat Solon yang diceritakan kembali oleh Raja Croesus. Maharaja Cyrus Yang Agung menilai ajaran Solon adalah suatu hal yang baik adanya dan sangat penting bagi kehidupan. Sang maharaja beranggapan bahwa jika dia tidak bijaksana dalam menjalani hidupnya maka mungkin dia akan mengalami apa yang terjadi pada Raja Croesus yang sedang berlutut dihadapannya sekarang ini. Sang maharaja-pun membebaskan dan mengangkat Raja Croesus sebagai salah satu penasihat yang paling dihormati di istananya.



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kisah ini adalah kisah populer dari Yunani yang diceritakan secara turun-temurun dan ditulis kembali dalam berbagai kitab sejarah dan kitab-kitab hikayat dari masa penyebaran budaya Helenis.

Solon adalah tokoh sejarah nyata yang merupakan seorang reformator klasik terbesar dan terpenting dalam sejarah Athena dan Yunani. Beliau pernah menjabat sebagai archon (penguasa tahunan) kota Athena.

Raja Croesus adalah tokoh sejarah nyata. Beliau adalah putra dari Raja Alyates II yang lahir sekitar tahun 595 SM, dan memerintah Kerajaan Lydia selama sekitar 14 tahun (560 SM - 546 SM). Pada masa itu, beliau adalah raja terkaya di dunia barat. Raja Croesus adalah raja kerajaan kuno yang bernama Kerajaan Lydia. Kerajaan Lydia adalah kerajaan makmur yang wilayahnya cukup luas pada masa itu, dan kini terletak di negara Turki modern. Kerajaan ini telah berdiri sejak 1200 SM.

Maharaja Cyrus Yang Agung adalah tokoh sejarah nyata yang merupakan maharaja dan raja terbesar dalam sejarah Kekaisaran Persia. Beliau-lah yang mengakhiri pemerintahan orang-orang Media (Medes) dan juga menaklukan kerajaan terbesar didunia pada masa itu yaitu Kekaisaran Babilonia. Beliau berhasil merebut wilayah-wilayah taklukan Babilonia. Dalam ekspedisi militernya untuk menaklukan wilayah-wilayah Asia Minor itulah Kerajaan Lydia berhasil ditaklukan (546 SM) dan Raja Croesus ditawan.

Kerajaan Lydia menjadi salah-satu sasaran utama penaklukan Cyrus Yang Agung sebab Raja Croesus merupakan salah-satu sekutu utama Maharaja Astyges dari Kekaisaran Media yang berhasil ditaklukan oleh Cyrus Yang Agung sebab saudari Raja Croesus merupakan ratu dari Maharaja Astyges. Croesus juga merupakan salah-satu raja yang mengerahkan pasukan untuk melawan Cyrus Yang Agung.

Tellus dari Athena yang dikatakan oleh Solon sebagai orang yang paling berbahagia di bumi kemungkinan adalah memang tokoh nyata, namun kisahnya hanya ditemukan melalui cerita Solon ini yang ditulis oleh Herodotus. Menurut catatan Herodotus, Tellus adalah seorang pria dari Athena yang memiliki dua orang putri yang cantik dan baik hati. Dia meninggal sebagai seorang patriot dalam peperangan antara Athena melawan Eleusis. Kematian Tellus dianggap indah sebab sebagai prajurit dia meninggal dalam perang, dan kehidupannya dianggap bahagia sebab dia hidup bahagia dengan keluarganya dan sempat melihat kelahiran dan pertumbuhan semua cucu-cucunya.

Kleobis dan Biton yang dikatakan oleh Solon sebagai yang termasuk orang-orang paling berbahagia di bumi kemungkinan adalah memang tokoh-tokoh nyata, namun kisah mereka hanya ditemukan melalui cerita Solon ini yang ditulis oleh Herodotus. Menurut catatan Herodotus, Kleobis dan Biton adalah dua pemuda dari Argive (kota utama dari sebuah polis di Yunani yang bernama Argos). Dikisahkan bahwa mereka membawa ibu mereka yang bernama Cydippe yang ingin sekali menghadiri festival untuk memuja Dewi Hera dengan gerobak sapi dengan menarik sendiri gerobak itu sejauh 6 mil. Setibanya dikuil, sang ibu lalu mendoakan agar Dewi Hera memberikan mereka hadiah atas kekuatan hati dan kesetian mereka. Dikisahkan bahwa Dewi Hera yang mendengar doa Cydippe ini lalu berkenan mengabulkan permintaan sang ibu itu dengan membiarkan Kleobis dan Biton, yang saat itu tertidur di kuil, meninggal dengan damai dalam tidur mereka. Kematian mereka dianggap indah sebab mereka meninggal dalam damai di kuil tanpa merasakan kesakitan, dan kehidupan mereka dianggap bahagia sebab mereka berhasil memberikan pengabdian pada orang-tua mereka dan meninggal dengan bahagia setelah melihat kebahagiaan ibu mereka yang berhasil menghadiri festival tahunan itu. Sebagai penghormatan pada Kleobis dan Biton, rakyat kota Delphi (polis lainnya di Yunani) mendirikan patung mereka berdua di kuil Dewa Apollo.

Tujuh Orang Bijak (Seven Sages of Greece atau Seven Wise Men) adalah gelar yang diberikan pada tujuh orang yang dianggap paling bijaksana pada masa Yunani Kuno. Nama-nama ketujuh orang bijak ini memiliki perbedaan antara sumber yang satu dengan lainnya. Umumnya, daftar Tujuh Orang Bijak itu adalah Thales dari Miletus, Chilon dari Sparta, Cleobulus dari Lindos, Solon dari Athena, Bias dari Priene, Pittacus dari Mytilene, dan Periander dari Korintus. Tetapi, Plato memiliki daftar yang berbeda, yaitu Thales dari Miletus, Chilon dari Sparta, Cleobulus dari Lindos, Solon dari Athena, Bias dari Priene, Pittacus dari Mytilene, dan Myson dari Chenae. Namun, menurut Diogenes Laertius (sejarawan abad 3 Masehi yang fokus pada ahli filsafat Yunani kuno), Tujuh Orang Bijak itu adalah Thales dari Miletus, Chilon dari Sparta, Cleobulus dari Lindos, Solon dari Athena, Bias dari Priene, Pittacus dari Mytilene, dan memasukan Periander dari Korintus dan juga Anacharsis dari Skit sebagai orag bijak yang ketujuh. Pendapat yang sama juga dikeluarkan oleh para sejarawan seperti Ausonius (penyair Romawi abad ke-2 Masehi), Ephorus, dan Plutarch.

_________________________________________________________________________________

Kisah ini adalah kisah klasik populer dari Yunani yang dimuat dalam berbagai buku sejarah yang untuk pertama kalinya dimuat dalam buku “Historia” yang ditulis oleh sejarawan besar Yunani, Herodotus. Kisah ini disusun kembali oleh Deleigeven Media dengan beberapa perubahan yaitu perubahan gaya tulisan dan susunan dialog tanpa mengubah inti cerita dan unsur sejarah dalam kisah ini.


TIM PENYUSUN:
Penulis : Deleigeven
Editor : Juliet
Penerbit : Deleigeven Media


DAFTAR PUSTAKA:
A History of Ancient Greece; George Grote
History; Herodotus
Solon, The Lawmaker of Athens; Plutarch
The Heritage Of Persia; Richard N.Frye


SUMBER WEBSITE:
Ensiclopedia Britanica (Solon)
Greeka.com (Solon)
Livius.org/lydia
wikipedia.com/solon
wikipedia.com/croesus


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sunday, 1 July 2018

SOLON DAN ANACHARSIS YANG BIJAKSANA





Pada jaman dahulu, di kota Athena hiduplah seorang yang sangat bijaksana. Orang itu bernama Solon. Beliau adalah salah-satu dari Tujuh Orang Bijaksana pada masa itu. Karena begitu bijaksananya Solon, rakyat Athena mempercayakan Solon untuk menyusun dan menerapkan hukum kota Athena yang baru menggantikan hukum yang lama. Rakyat Athena begitu menyanjung kebijaksanaan Solon sebab hukum yang dibuatnya dianggap yang paling adil dan bijaksana dari semua hukum yang pernah mereka kenal. Karena kebijaksanaannya, beliaupun dipanggil “Solon Yang Bijak” oleh rakyat Athena. Sedangkan bagi rakyat kota lain, beliau dikenal sebagai “Solon Yang Bijak dari Athena”.

Alkisah pada suatu hari, ada seorang pria yang baru tiba di Athena. Rupanya, pria itu hendak mengunjungi Solon. Pria ini bernama Anacharsis.

Begitu tiba di rumah Solon, Anacharsis berkata, “Aku telah berkelana dari tempat yang jauh agar bisa bersahabat denganmu.”

Solon, yang tidak tahu menahu tentang siapa Anacharsis, menjadi bingung melihat orang asing itu, dan beliau-pun berkata,
Alangkah baiknya jika engkau berteman saja dengan orang-orang ditempat asalmu.”

Namun, Anacharsis menjawab,
Justru itulah pentingnya bagimu, yang sekarang sedang berada ditempat asalmu, untuk berteman denganku.”

Solon tertawa mendengar jawaban Anacharsis. Solon lalu menyambut Anacharsis sebagai tamunya untuk waktu yang lama. Solon sangat senang karena dikunjungi oleh Anacharsis dan sangat mengaguminya. Selama Anacharsis berada di Athena, Solon mengajaknya berkeliling dan menghadiri berbagai pertemuan dewan kota. Solon menjelaskan pada Anacharsis undang-undang yang ia susun untuk Athena, dan juga menunjukan perkembangan demokrasi di Athena.

Usai melihat semua itu, Anacharsis hanya berkata pada Solon, “Semuanya ini adalah hal yang aneh. Orang Athena melakukan hal-hal yang aneh.”

Solon heran dengan kata-kata Anacharsis dan bertanya, “Mengapa ini terlihat aneh bagimu wahai Anacharsis yang bijaksana?”

Karena di Athena orang bijak hanya berbicara dan memutuskan hal-hal bodoh” jawab Anacharsis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Anacharsis memang suka mengutarakan pendapatnya sekenanya saja, berbeda dengan gaya berbicara orang Athena seperti Solon yang menyukai puisi.

Solon tidak memahami maksud dari kata-kata Anacharsis itu, dan tampaknya Solon menjadi tersinggung. Beliau lalu memaparkan semua kode-kode hukum yang disusunnya dan menjelaskan perjalanan penerapan hukum di Athena dan betapa kejamnya hukum terdahulu yang disusun dan diterapkan oleh Draco dan usaha-usaha Solon ketika dia membebaskan hutang-hutang rakyat jelata dan berusaha menghapus perbudakan antar warga Athena. Solon juga menjelaskan tentang bagaimana dia berusaha mengubah hukum di Athena tanpa melalui sebuah revolusi melainkan reformasi dan bahwa dia mereformasi hukum kota Athena agar tercipta keadilan di kota Athena.

Setelah mendengarkan penjelasan Solon, Anacharsis justru menertawakannya sehingga membuat Solon heran dan bertanya,
Mengapa engkau menertawakan semua ini?”

Lalu Anacharsis menjawab, “karena aku tidak bisa membayangkan bahwa ketidakjujuran dan keserakahan orang Athena mampu dikendalikan oleh hukum tertulis!”

Anacharsis-pun menerangkan alasan mengapa dia berpendapat demikian. 
Undang-undang yang kau susun dan kau terapkan ini seperti sarang laba-laba yang menangkap orang yang lemah dan miskin tetapi orang kaya dapat merobek dan melaluinya.” Demikian kata-kata Anacharsis.

Setelah beberapa waktu kemudian Anacharsis-pun meninggalkan Athena dan kembali ke negeri asalnya. Solon-pun kembali menjalani kehidupannya seperti biasa. Saat itu, dia menjabat sebagai archon (penguasa tahunan) kota Athena.

Pada masa sebelum Solon diangkat sebagai archon Athena, kekejaman dan arogansi orang kaya dan para bangsawan menyebabkan orang-orang miskin di Athena membentuk kelompok-kelompok untuk bertahan dan menyelamatkan diri. Untuk mengatasi hal itu, Solon diangkat sebagai archon dan diberi kekuasaan penuh sebagai refomator dan legislator Athena. Solon memulai reformasinya dengan membebaskan semua warga Athena yang diperbudak dan menerapkan hukum yang membebaskan semua jaminan dan utang. Namun, Solon menolak tuntutan masyarakat miskin tentang pendistribusian tanah bagi mereka karena menganggap hal itu tidak adil bagi pemilik tanah yang asli. Solon mengganti permintaan mereka dengan menciptakan pekerjaan-pekerjaan yang lebih baik bagi masyarakat miskin.

Untuk membantu tugas-tugasnya, Solon sering berbagi cerita dan meminta pendapat pada sahabat-sahabatnya yang paling terpercaya termasuk pada saat beliau akan memberlakukan hukum yang membebaskan semua jaminan dan utang. Namun, sahabat-sahabatnya itu justru memanfaatkan berita dan rencana-rencana yang diceritakan oleh Solon demi keuntungan mereka. Mereka lalu meminjam uang untuk membeli tanah lalu kembali berhutang sejumlah besar uang dengan memberikan tanah itu sebagai jaminan, dan ketika hukum pemutihan jaminan dan utang diterbitkan oleh Solon, utang mereka-pun diputihkan dan jaminan tanah mereka dikembalikan sehingga orang-orang serakah ini memiliki kembali tanah mereka secara cuma-cuma. Perilaku sahabat-sahabatnya mencoreng nama baik Solon.

Waktu demi waktu berlalu, kemudian timbulah perselisihan diantara orang-orang kaya dan masyarakat miskin di Athena akibat pandangan mereka yang berbeda-beda tentang penerapan hukum yang dibuat oleh Solon. Mereka menyalahkan Solon karena tidak mengikuti keinginan mereka padahal hukum Solon sudah memberikan mereka banyak sekali manfaat.

Orang-orang yang sebelumnya ramah kepadanya mulai menatapnya sebagai musuh. Orang-orang miskin menjadi kesal karena Solon tidak mau menggunakan kekuasaannya untuk merebut milik orang kaya sedangkan orang-orang kaya dan para bangsawan juga marah karena uang mereka hilang akibat utang-utang yang telah diputihkan berdasarkan hukum yang diterapkan Solon. Untuk meredakan perselisihan itu Solon-pun berseru,

"Keadilan tidak melahirkan perselisihan!!!"

Namun, rupanya Solon tidak memahami dasar perselisihan itu sebab bagi orang miskin "keadilan" berarti kekayaan yang sama-rata, sedangkan orang kaya menganggap "keadilan" adalah menjaga apa yang mereka dimiliki. Kedua pendirian itu sulit untuk dipertemukan meskipun oleh hukum yang adil yang dibuat oleh Solon.

Melihat semua usahanya berujung pada kesia-siaan akibat keserakahan dan pengkhianatan, Solon-pun teringat kembali kata-kata Anachasis,

ketidakjujuran dan keserakahan orang tidak mampu dikendalikan oleh hukum tertulis!”



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kisah ini adalah kisah populer dari Yunani yang ditulis kembali dalam berbagai kitab sejarah dan kitab-kitab hikayat dari masa penyebaran budaya Helenis.

Solon adalah tokoh sejarah nyata yang merupakan seorang reformator klasik terbesar dan terpenting dalam sejarah Athena dan Yunani. Beliau pernah menjabat sebagai archon (penguasa tahunan) kota Athena. Beliau dilahirkan pada tahun 630 SM dan wafat pada tahun 560 SM. Solon adalah seorang negarawan Athena yang paling dihormati sepanjang sejarah Yunani kuno bahkan hingga sekarang. Karena kebijaksanaannya beliau dikenal sebagai ‘Solon Yang Bijak dari Athena’, dan dimasukan sebagai salah-satu dari ‘Tujuh Orang Bijak’ dalam sejarah Yunani. Setelah kematiannya, Solon tetap dikenang sebagai orang bijak dengan ide-ide inovatif. Beberapa dekade kemudian, seorang negarawan Athena yang bernama Pericles mendirikan demokrasi Athena yang sangat terkenal namun demokrasi yang dibangunnya mengacu pada kode hukum dan reformasi yang dilakukan oleh Solon. Hingga saat ini Solon dianggap sebagai pencetus dasar-dasar hukum sekaligus pendiri sistem pemerintahan demokrasi yang kita kenal sekarang. Dasar-dasar hukum yang dibuat oleh Solon dan juga kode-kode hukumnya menjadi dasar hukum Athena selama berabad-abad, dan kemudian diadopsi oleh hukum Romawi yang kemudian menjadi cetak biru hukum modern sekarang ini.

Anacharsis adalah tokoh nyata. Beliau adalah seorang ahli filsafat dari bangsa Skit sehingga beliau sering disebut ‘Anacharsis orang Skit’. Bangsa Skit adalah salah-satu suku bangsa kuno dari Iran, tempat yang diyakini merupakan asalnya para Majus sehingga beliau diyakini berasal dari golongan orang Majus (golongan yang sama yang disebutkan dalam Alkitab tentang “Tiga Orang Majus”).  Beliau merupakan orang non-Yunani pertama yang paling diberikan kewarganegaraan istimewa oleh pemerintah Athena. Oleh beberapa sejarawan, beliau dimasukan dalam ‘Tujuh Orang Bijak’. Beliau mengunjungi Yunani dan bertemu dengan Solon pertama kalinya pada sekitar 589 BC. Anacharsis meninggal tidak lama setelah beliau kembali ke negerinya karena dibunuh oleh saudaranya sendiri.

Pada masa Solon, Yunani belum disatukan dalam satu kepemimpinan dan masih terdiri dari beberapa negara kota (polis) yang memiliki pemerintahan dan pemimpin yang berbeda-beda. Athena adalah salah-satu polis terbesar Yunani selain Sparta.

Hukum Draco yang diganti oleh Solon dengan kode hukumnya melalui reformasi hukum Athena adalah hukum yang ditulis dan diterapkan oleh seorang archon Athena yang tiran, yaitu Draco. Sebelum era Darco, pemerintahan Athena dijalankan dengan sistem oligarki. Pada saat Draco yang tiran berkuasa sebagai Archon (621 SM) barulah Athena memiliki kode hukum tertulis untuk pertama-kalinya. Draco membuat undang-undang yang mengacu pada hukuman yang sangat ekstrim dan sewenang-wenang bagi sebagian besar warga Athena. Undang-undang Draconian tetap berlaku di Athena sampai direformasi oleh Solon, yang datang dengan menawarkan perubahan melalui reformasi bukan revolusi.

Tujuh Orang Bijak (Seven Sages of Greece atau Seven Wise Men) adalah gelar yang diberikan pada tujuh orang yang dianggap paling bijaksana pada masa Yunani Kuno. Nama-nama ketujuh orang bijak ini memiliki perbedaan antara sumber yang satu dengan lainnya. Umumnya, daftar Tujuh Orang Bijak itu adalah Thales dari Miletus, Chilon dari Sparta, Cleobulus dari Lindos, Solon dari Athena, Bias dari Priene, Pittacus dari Mytilene, dan Periander dari Korintus. Tetapi, Plato memiliki daftar yang berbeda, yaitu Thales dari Miletus, Chilon dari Sparta, Cleobulus dari Lindos, Solon dari Athena, Bias dari Priene, Pittacus dari Mytilene, dan Myson dari Chenae. Namun, menurut Diogenes Laertius (sejarawan abad 3 Masehi yang fokus pada ahli filsafat Yunani kuno), Tujuh Orang Bijak itu adalah Thales dari Miletus, Chilon dari Sparta, Cleobulus dari Lindos, Solon dari Athena, Bias dari Priene, Pittacus dari Mytilene, dan memasukan Periander dari Korintus dan juga Anacharsis dari Skit sebagai orag bijak yang ketujuh. Tampaknya, Diogenes tidak ingin mengeluarkan Anacharsis dari daftar orang bijak, sebab walaupun awalnya dia memasukan nama Periander, namun dia kemudian menyebut nama Anacharsis sebagai orang bijak ketujuh. Pendapat yang sama juga dikeluarkan oleh para sejarawan seperti Ausonius (penyair Romawi abad ke-2 Masehi), Ephorus, dan Plutarch.


_________________________________________________________________________________

Kisah ini adalah kisah klasik populer dari Yunani yang dimuat dalam berbagai buku sejarah yang untuk pertama kalinya dimuat dalam buku “Historia” yang ditulis oleh sejarawan besar Yunani, Herodotus. Kisah ini disusun kembali oleh Deleigeven Media dengan beberapa perubahan yaitu perubahan gaya tulisan dan susunan dialog tanpa mengubah inti cerita dan unsur sejarah dalam kisah ini.


TIM PENYUSUN:
Penulis : Deleigeven
Editor : Juliet
Penerbit : Deleigeven Media


DAFTAR PUSTAKA:
A History of Ancient Greece; George Grote
History; Herodotus
Solon, The Lawmaker of Athens; Plutarch


SUMBER WEBSITE:
Ensiclopedia Britanica (Solon)
Greeka.com (Solon)
wikipedia.com/solon



--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saturday, 30 June 2018

TIGA NASEHAT




Pada suatu hari ada seseorang menangkap burung. Burung itu lalu berkata kepadanya,
"Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan. Lepaskan saja aku, nanti kuberi kau tiga nasehat."

Si Burung berjanji akan memberikan nasehat pertama ketika masih berada dalam genggaman orang itu, yang kedua akan diberikannya kalau ia sudah berada di cabang pohon, dan yang ketiga jika ia sudah mencapai puncak bukit.

Orang itu setuju, dan meminta nasehat pertama.

Kata burung itu,
"Kalau kau kehilangan sesuatu, meskipun kau menghargainya seperti hidupmu sendiri, jangan menyesal."

Orang itupun melepaskannya, dan burung itu segera melompat ke dahan.
Di sampaikannya nasehat yang kedua,

"Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti."

Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung.
Dari sana ia berkata,
"O manusia malang! Didiriku terdapat dua permata besar, kalau saja tadi kau membunuhku, kau akan memperolehnya!"

Orang itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya, namun katanya, "Setidaknya, katakan padaku nasehat yang ketiga itu!"

Si Burung menjawab,
"Alangkah tololnya kau, meminta nasehat ketiga sedangkan yang kedua pun belum kau renungkan sama sekali! Sudah kukatakan padamu agar jangan kecewa kalau kehilangan, dan jangan mempercayai hal yang bertentangan dengan akal. Kini kau malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang tak masuk akal dan menyesali kehilanganmu. Aku toh tidak cukup besar untuk bisa menyimpan dua permata besar itu! Kau tolol. Oleh karenanya kau harus tetap berada dalam keterbatasan yang disediakan bagi manusia."



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Catatan:
Dalam lingkungan darwis, kisah ini dianggap sangat penting untuk "mengakalkan" pikiran siswa Sufi, menyiapkannya menghadapi pengalaman yang tidak bisa dicapai dengan cara-cara biasa.

Di samping penggunaannya sehari-hari di kalangan Sufi, kisah ini kedapatan juga dalam klasik Rumi, Mathnawi. Kisah ini ditonjolkan dalam “Kitab Ketuhanan” karya Attar, salah seorang guru Rumi.

Kedua pujangga tersebut hidup pada abad ke-13.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Copyrights (Hak Cipta):
Dituliskan kembali dari buku kumpulan “Kisah-kisah Sufi”, berupa kumpulan kisah nasehat para guru sufi selama seribu tahun yang lampau.


Writer: Idries Shah
Translator : Sapardi Djoko Damono
Publisher : Pustaka Firdaus, 1984
Re-published by : Deleigeven Media

Sunday, 10 December 2017

SULTAN YANG MENJADI ORANG BUANGAN




Seorang Sultan Mesir konon mengumpulkan orang-orang terpelajar, dan seperti biasanya timbullah pertengkaran. Pokok masalahnya adalah Mikraj Nabi Muhammad. Dikatakan, pada kesempatan tersebut Nabi diambil dari tempat tidurnya, dibawa ke langit. Selama waktu itu ia menyaksikan sorga neraka, berbicara dengan Tuhan sembilan puluh ribu kali, mengalami pelbagai kejadian lain dan dikembalikan ke kamarnya sementara tempat tidurnya masih hangat. Kendi air yang terguling karena tersentuh Nabi waktu berangkat, airnya masih belum habis ketika Nabi turun kembali.

Beberapa orang berpendapat bahwa hal itu benar, sebab ukuran waktu disini dan di sana berbeda. Namun Sultan menganggapnya tidak masuk akal. Para ulama cendekia itu semuanya mengatakan bahwa segala hal bisa saja terjadi karena kehendak Tuhan. Hal itu tidak memuaskan raja.

Berita perbedaan pendapat itu akhirnya didengar oleh Sufi Syeh Shahabuddin, yang segera saja menghadap raja. Sultan menunjukkan kerendahan hati terhadap sang guru yang berkata, 

"Saya bermaksud segera saja mengadakan pembuktian. Ketahuilah bahwa kedua tafsiran itu keliru, dan bahwa ada faktor-faktor yang bisa ditunjukkan, yang menjelaskan cerita itu tanpa harus mendasarkan pada perkiraan ngawur atau akal, yang dangkal dan terbatas."

Di ruang pertemuan itu terdapat empat jendela. Sang Syeh memerintahkan agar yang sebuah dibuka. Sultan melihat keluar melalui jendela itu. Di pegunungan nunjauh disana terlihat olehnya sejumlah besar perajurit menyerang, bagaikan semut banyaknya, menuju ke istana. Sang Sultan sangat ketakutan.

"Lupakan saja, tak ada apa-apa," kata Syeh itu.

Ia menutup jendela itu lalu membukanya kembali. Kali ini tak ada seorang perajurit pun yang tampak.

Ketika ia membuka jendela yang lain, kota yang di luar tampak terbakar. Sultan berteriak ketakutan.

"Jangan bingung, Sultan; tak ada apa-apa," kata Syeh itu.

Ketika pintu itu ditutup lalu dibuka kembali, tak ada api sama sekali.

Ketika jendela ketiga dibuka, terlihat banjir besar mendekati istana. Kemudian ternyata lagi bahwa banjir itu tak ada.

Jendela keempat dibuka, dan yang tampak bukan padang pasir seperti biasanya, tetapi sebuah taman firdaus. Dan setelah jendela tertutup lagi, lalu dibuka, pemandangan itu tak ada.

Kemudian Syeh meminta seember air, dan meminta Sultan memasukkan kepalanya dalam air sesaat saja Segera setelah Sultan melakukan itu, ia merasa berada di sebuah pantai yang sepi, di tempat yang sama sekali tak dikenalnya, karena kekuatan gaib Syeh itu. Sultan marah sekali dan ingin membalas dendam.

Segera saja Sultan bertemu dengan beberapa orang penebang kayu yang menanyakan siapa dirinya. Karena sulit menjelaskan siapa dia sebenarnya, Sultan mengatakan bahwa ia terdampar di pantai itu karena kapalnya pecah. Mereka memberinya pakaian, dan iapun berjalan ke sebuah kota. Di kota itu ada seorang tukang besi yang melihatnya sebagai gelandangan, dan bertanya siapa dia sebenarnya. Sultan menjawab bahwa ia seorang pedagang yang terdampar, hidupnya tergantung pada kebaikan hati penebang kayu, dan tanpa mata pencarian.

Orang itu kemudian menjelaskan tentang kebiasaan kota tersebut. Semua pendatang baru boleh meminang wanita yang pertama ditemuinya, meninggalkan tempat mandi, dan dengan syarat si wanita itu harus menerimanya. Sultan itupun lalu pergi ke tempat mandi umum, dan di lihatnya seorang gadis cantik keluar dari tempat itu. Ia bertanya apa gadis itu sudah kawin: ternyata sudah. Jadi ia harus menanyakan yang berikutnya, yang wajahnya sangat buruk. Dan yang berikutnya lagi. Yang ke-empat sungguh-sungguh molek. Katanya ia belum kawin, tetapi ditolaknya Sultan karena tubuh dan bajunya yang tak karuan.

Tiba-tiba ada seorang lelaki berdiri didepan Sultan katanya, 

"Aku disuruh kemari menjemput seorang yang kusut di sini. Ayo, ikut aku."

Sultan-pun mengikuti pelayan itu, dan dibawa kesebuah rumah yang sangat indah. Ia pun duduk di salah-satu ruangannya yang megah berjam-jam lamanya. Akhirnya empat wanita cantik dan berpakaian indah-indah masuk, mengantarkan wanita kelima yang lebih cantik lagi. Sultan mengenal wanita itu sebagai wanita terakhir yang ditemuinya di rumah mandi umum tadi.

Wanita itu memberinya selamat datang dan mengatakan bahwa ia telah bergegas pulang untuk menyiapkan kedatangannya, dan bahwa penolakannya tadi itu sebenarnya sekedar merupakan basa-basi saja, yang dilakukan oleh setiap wanita apabila berada di jalan.

Kemudian menyusul makanan yang lezat. Jubah yang sangat indah disiapkan untuk Sultan, dan musik yang merdu-pun diperdengarkan.

Sultan tinggal selama tujuh tahun bersama istrinya itu: sampai ia menghambur-hamburkan habis warisan istrinya. Kemudian wanita itu mengatakan bahwa kini Sultan-lah yang harus menanggung hidup mereka berdua bersama ketujuh anaknya.

Ingat pada sahabatnya yang pertama di kota itu, Sultan-pun kembali menemui tukang besi untuk meminta nasehat. Karena Sultan tidak memiliki kemampuan apapun untuk bekerja, ia disarankan pergi ke pasar menjadi kuli.

Dalam sehari, meskipun ia telah mengangkat beban yang sangat berat, ia hanya bisa mendapatkan sepersepuluh dari uang yang dibutuhkannya untuk menghidupi keluarganya.

Hari berikutnya Sultan pergi ke pantai, dan ia sampai di tempat pertama kali dulu ia muncul di sini, tujuh tahun yang lalu. Ia pun memutuskan untuk sembahyang, dan mengambil air wudhu: dan pada saat itu pula mendadak ia berada kembali di istananya, bersama-sama dengan Syeh itu dan segenap pegawai keratonnya.

"Tujuh tahun dalam pengasingan, hai orang jahat" teriak Sultan. "Tujuh tahun, menghidupi keluarga, dan harus menjadi kuli: Apakah kau tidak takut kepada Tuhan, Sang Maha Kuasa, hingga berani melakukan hal itu terhadapku?"

"Tetapi kejadian itu hanya sesaat," kata guru Sufi tersebut, "yakni waktu Baginda mencelupkan wajah ke air itu."

Para pegawai istana membenarkan hal itu.

Sultan sama sekali tidak bisa mempercayai sepatah katapun. Ia segera saja memerintahkan memenggal kepala Syeh itu. Karena merasa bahwa hal itu akan terjadi, Syeh pun menunjukkan kemampuannya dalam Ilmu Gaib (Ilm el-Ghaibat). Iapun segera lenyap dari istana tiba-tiba berada di Damaskus, yang jaraknya berhari-hari dari istana itu.

Dari kota itu ia menulis surat kepada Sultan:
"Tujuh tahun berlalu bagi tuan, seperti yang telah tuan rasakan sendiri; padahal hanya sesaat saja wajah tuan tercelup di air. Hal tersebut terjadi karena adanya kekuatan-kekuatan tertentu, yang hanya dimaksudkan untuk membuktikan apa yang bisa terjadi. Bukankah menurut kisah itu, tempat tidur Nabi masih hangat dan kendi air itu belum habis isinya?
Yang penting bukanlah terjadi atau tidaknya peristiwa itu. Segalanya mungkin terjadi. Namun, yang penting adalah makna kenyataan itu. Dalam hal tuan, tak ada makna sama sekali.
Dalam hal Nabi, peristiwa itu mengandung makna."



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Copyrights :
Kisah ini disadur dan dituliskan kembali dari buku kumpulan “Kisah-kisah Sufi”, berupa kumpulan kisah nasehat para guru sufi selama seribu tahun yang lampau.
Versi ini berasal dari naskah bernama “Hu-Nama” (Buku Hu) dalam kumpulan Nawab Sardhana bertarikh 1596 M.


Writer: Idries Shah
Translator : Sapardi Djoko Damono
Indonesian Publisher : Pustaka Firdaus, 1984
Republished by : Deleigeven Media