DELEIGEVEN HISTORICULTURAM

HISTORY IS ONE OF THE BEST INFORMATION FOR OUR CURRENT & FUTURE

Translate

Showing posts with label Greece History (Sejarah Yunani). Show all posts
Showing posts with label Greece History (Sejarah Yunani). Show all posts

Wednesday, 1 August 2018

SOLON YANG BIJAK DAN KEBAHAGIAAN RAJA CROESUS YANG SEMU




Alkisah pada jaman dahulu kala, pada masa yang sudah lama sekali, ada sebuah kerajaan yang sangat kaya yang bernama Kerajaan Lydia yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raja Croesus. Rakyatnya memuji dan menyanjung-nyanjung sang raja sebagai 'Pria Paling Berbahagia Di Bumi' sebab sang raja sangat kaya dan memiliki segalanya yang penting dalam hidup yaitu teman, wanita, dan tahta.

Ditempat yang lain, di kerajaan lain pula, yang letaknya jauh dari negerinya Raja Croesus tepatnya di kota Athena, hiduplah seorang yang bijaksana yang bernama Solon. Dia tidak kaya dan juga tidak banyak memiliki banyak hal penting dalam hidup, baik itu teman, wanita, dan tahta. Tapi, rakyat dinegerinya memperlakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh rakyat Lydia pada Raja Croesus, yaitu menyanjung dan memuji-mujinya.

Raja Croesus dan Solon memiliki satu persamaan, yaitu bahwa mereka adalah pembuat hukum dinegeri mereka, namun ada banyak hal yang berbeda dari mereka. Raja Croesus mengumpulkan banyak sekali harta benda diperbendaharaan sedangkan Solon justru kehilangan banyak hartanya. Raja Croesus memiliki banyak sekali abdi yang bersumpah-setia padanya dan juga memiliki banyak teman dan sekutu dalam kerajaannya dan juga dari luar negerinya tetapi Solon justru ditinggalkan oleh teman-temannya. Raja Croesus memiliki banyak wanita yang mendampinginya sedangkan Solon tidak. Raja Croesus juga duduk diatas tahta salah-satu kerajaan paling makmur pada masa itu, sedangkan Solon justru kehilangan jabatannya sebagai Archon kota Athena. Tetapi, baik Raja Croesus dan juga Solon sama-sama disanjung-sanjung oleh rakyat mereka. Raja Croesus disanjung sebagai pemimpin agung Kerajaan Lydia, sedangkan Solon disanjung sebagai reformator besar kota Athena.

Ketika Solon menuntaskan reformasi-nya, ia meninggalkan Athena untuk berlayar keliling dunia hingga kemudian dia tiba di negeri Lydia.

Ketika Solon berjalan-jalan dinegeri itu, dia mendengar percakapan-percakapan rakyat Lydia yang menyanjung-nyanjung raja mereka dengan sebutan “Pria Paling Berbahagia Di Bumi”. Karena penasaran tentang hal itu, bertanyalah Solon pada sekelompok rakyat Lydia,
Wahai rakyat kota Lydia yang berbahagia, mengapakah kalian mengatakan bahwa raja kalian sebagai Pria Paling Berbahagia Di Bumi’?”

Sekelompok rakyat Lydia yang ditanyai Solon itu lalu menjawab,
Ooh kau orang asing rupanya. Selamat datang dinegeri kami yang bahagia ini, yang dipimpin oleh raja kami, Yang Mulia Baginda Raja Croesus. Tetapi dibandingkan dengan kami, beliau adalah yang paling berbahagia dimuka bumi ini sebab beliau memiliki segala hal yang penting dalam hidup ini. Kekayaan, sahabat, wanita, dan tahta.”

Namun Solon menjawab,
Wahai orang Lydia yang berbahagia, sesungguhnya tidak ada kebahagiaan yang mutlak sama seperti tidak ada orang yang benar-benar bahagia sebelum dia meninggal.”

Setelah Solon berkata demikian, pergilah dia meninggalkan sekelompok orang itu. Maksud Solon adalah bahwa keberuntungan dapat berubah dengan tiba-tiba sebab setiap hal mungkin berubah dari satu hari ke hari lain. Namun, kata-kata Solon itu terlanjur tersebar hingga sampai ke istana Kerajaan Lydia dan terdengar pula oleh Raja Croesus. Kata-kata Solon sangat mengusik hati raja sehingga beliau mengundang Solon untuk datang dan mengunjunginya di istana. Solon-pun menghormati undangan raja dan mengunjungi istana sang raja yang sangat besar.

Setelah memasuki istana, Solon melihat seorang pria berpakaian mewah dan disertai oleh rombongan budak dan tentara, sehingga Solon berpikir bahwa orang itu pastilah Raja Croesus. Tapi ternyata dia hanya seorang pejabat kecil di pengadilan kerajaan. Solon kemudian melanjutkan langkahnya memasuki istana, ia melihat beberapa pejabat lain yang berpakaian sangat mewah dan juga disertai oleh serombongan budak dan pengawal. Semakin tinggi jabatannya, semakin besar rombongan yang menyertainya. Akhirnya Solon dipersilahkan masuk ke ruangan raja.

Raja Croesus telah menunggu Solon diruangannya. Beliau mengenakan pakaian yang sangat indah dan perhiasan yang sangat mewah, dan dengan bangganya beliau membuka tangannya menyambut kedatangan Solon. Namun, sang raja heran sebab raut wajah Solon tampak tidak silau dengan kemewahan itu. Raja Croesus tersinggung dengan sikap yang ditunjukan oleh Solon, sehingga beliau kemudian memerintahkan agar rumah-rumah tempat penyimpanan hartanya dibuka agar Solon bisa melihat banyaknya pakaian yang indah yang Raja Croesus miliki miliki, juga banyaknya emas, perak, dan permata milik sang raja. 

Solon tetap tenang dan berlaku sopan saat memandang semua itu. Sang raja-pun datang kembali menemui Solon dan berkata,
"Wahai Solon yang bijak dari Athena," kata Croesus, "pernahkah kamu melihat orang yang lebih beruntung dari aku, Raja Croesus ini?" Tanya sang Raja dengan bangganya.

Solon menjawab, "Ya, aku pernah.”

Raja Croesus terkejut mendengar jawaban Solon.

Siapa??? Siapa dia yang lebih berbahagia daripada aku??!” Tanya Raja Croesus dengan sangat penasaran.

Dia adalah Tellus, warga Athena.” Jawab Solon. “Dia adalah pria jujur yang mendidik anak-anaknya dengan baik dan mempersiapkan anak-anaknya dengan baik untuk mengabdi pada Athena. Dia terus hidup hingga memperoleh cucu, lalu ia meninggal dengan mulia, yaitu saat berjuang untuk negaranya." Kata Solon.

Jawaban Solon itu mengejutkan seisi istana yang mendengarnya, dan tentunya membuat Raja Croesus marah.

Berani sekali kau menganggap seorang rakyat jelata dinegerimu itu lebih bahagia dariku, raja yang agung dari Lydia ini??!” Teriak Raja Croesus.

Namun Solon kembali menjawab,
Oh baginda Raja Croesus, Tellus itu bukanlah satu-satunya yang aku kenal sebagai orang paling paling berbahagia. Masih ada lagi, yaitu Kleobis dan Biton dari kota Argive. Mereka meninggal dengan damai dalam tidur mereka setelah ibunda mereka mendoakan kebahagian mereka pada Dewi Hera sebab mereka telah menunjukan pengabdian dan penghormatan mereka pada orang-tua dengan membawa ibundanya itu ke pesta besar bagi Dewi Hera dengan menggunakan sebuah gerobak dan menarik sendiri gerobak itu sejauh 6 mil jauhnya. Dewi Hera memberikan mereka kematian yang indah dalam damainya tidur mereka. Merekalah orang-orang yang paling berbahagia di bumi ini.”

Sang raja yang semakin marah lalu memerintahkan para pengawalnya untuk menahan Solon dan memberikan hukuman yang berat. Namun Solon yang bijaksana dan cerdik lalu menenangkan sang raja dengan berkata,
"Oh raja perkasa dari Lidya, para dewa telah memberi kita, orang-orang Yunani, hanya hal-hal kecil, dan kebijaksanaan kita hanya hal-hal kecil, bukan suatu hal penting yang setara pentingnya dengan yang anda miliki, wahai Yang Mulia Baginda Raja Croesus. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mempertimbangkan bagaimana kehidupan seseorang begitu banyak tergantung pada kesempatan, dan bagaimana bencana bisa datang kepada kita yang membuat kita benar-benar terkejut, jadi aku tidak menganggap siapa-pun untuk menjadi benar-benar bahagia sampai ia meninggal dengan baik, dan nasib baiknya utuh sampai akhir. Jika kita mengatakan bahwa seorang pria itu benar-benar bahagia, namun ada begitu banyak yang masih bisa terjadi padanya, kita akan seperti tentara merayakan kemenangan sebelum pertempuran berakhir." Demikian penjelasan Solon, yang mengandung siratan bahwa Solon mengharapkan kebahagian sang raja terus berlangsung hingga sang raja tutup usia.

Kata-kata Solon itu akhirnya dapat diterima oleh raja sehingga Raja Croesus mengijinkan Solon pergi dengan selamat.

Saat berjalan keluar dari istana, secara kebetulan Solon bertemu dengan Aesop, penulis dongeng terkenal, yang juga telah diundang ke istana oleh Raja Croesus. Aesop, yang juga melihat Solon, lalu bertanya,
"Apakah seharusnya kita tidak datang ke orang-orang yang perkasa, atau haruskah kita mencoba untuk menyenangkan mereka?"

Dan Solon-pun menjawab,
"Apakah seharusnya kita tidak datang ke orang-orang yang perkasa, atau haruskah kita memberitahu mereka kebenaran?", sambil berjalan pergi dari istana meninggalkan Aesop dan kemudian meninggalkan negeri Lydia.

Tidak berapa lama setelah kepergian dari negeri Lydia, datanglah balatentara Kekaisaran Persia yang dipimpin oleh Maharaja Cyrus Yang Agung dan mengepung kerajaan Lydia. Dalam peperangan, Raja Croesus pada akhirnya harus takluk pada Maharaja Cyrus Yang Agung. Raja Croesus-pun kehilangan hartanya, wanita-wanitanya, sekutu-sekutunya, dan juga tahtanya. Dia lalu ditawan dan diikat ditiang, dan hendak dibakar hidup-hidup sebagai hiburan bagi Maharaja Cyrus Yang Agung.

Raja Croesus begitu pilu meratapi nasibnya. Dia menangis meratapi kematian keluarganya, pembesar-pembesarnya, dan juga rakyatnya ditangan orang-orang Persia. Ditengah-tengah keputus-asaannya itu, Raja Croesus-pun berteriak,
Solon...... Solon.... Oh Solon” sambil menangis sedih.

Maharaja Cyrus Yang Agung mendengar teriakan Raja Croesus itu dan penasaran dengan maksudnya sehingga beliau memerintahkan untuk menghentikan proses hukuman mati pada Raja Croesus dan semua orang Lydia yang akan dihukum-mati saat itu. Maharaja Cyrus Yang Agung memerintahkan agar Raja Croesus dibawa dihadapannya. Setelah Raja Croesus berada dihadapan sang maharaja maka bertanya Maharaja Cyrus Yang Agung padanya,
Siapakah atau apakah Solon yang kau panggil-panggil itu?”

Raja Croesus-pun menjawab,
wahai Maharaja Cyrus Yang Agung, yang kupanggil namanya adalah Solon yang bijak dari Athena....”

Hmmm apakah Solon ini adalah seorang manusia saja atau salah-satu dari dewa-dewa orang Athena?” Tanya Maharaja Cyrus Yang Agung.

Raja Croesus lalu menjawab, "Dia bukanlah dewa tetapi adalah salah-satu dari orang-orang bijak dari Yunani. Dahulu aku mengundangnya ke istana-ku untuk mendengar kata-kata bijak darinya. Bukannya belajar darinya, aku malahan begitu marah padanya saat ia sedang menganjurkan hal-hal yang bijak dan baik adanya padaku saat itu.”

Maharaja Cyrus Yang Agung menjadi sangat penasaran pada penjelasan Raja Croesus dan kembali bertanya, “Hal bijak apakah yang dikatakan padamu saat itu?”

Mendengar pertanyaan Maharaja Cyrus Yang Agung itu, hati Raja Croesus menjadi sangat sedih dan diapun berkata,
Wahai Maharaja Cyrus Yang Agung, dahulu baginda pasti tahu dan mendengar tentang kekayaanku dan kemakmuran negeriku. Ditengah-tengah semua kelimpahan yang diberikan oleh dewa padaku, rakyatku menyanjung-nyanjung aku dan menyebutku sebagai ‘Pria Paling Bahagia di Dunia’. Namun, saat Solon Yang Bijak mendengar hal itu dari rakyatku, justru berkata pada mereka bahwa ‘sesungguhnya tidak ada kebahagiaan yang mutlak sama seperti tidak ada orang yang benar-benar bahagia sebelum dia meninggal’. Setelah kata-katanya sampai ke telingaku yang pongah ini, akupun memanggilnya ke istanaku dan menunjukan semua kekayaanku dan kemegahanku untuk menegaskan padanya bahwa akulah orang yang paling berbahagia di bumi. Tapi, Solon justru berkata bahwa ‘kehidupan seseorang begitu banyak tergantung pada kesempatan, dan bagaimana bencana bisa datang kepada kita yang membuat kita benar-benar terkejut, sehingga siapa-pun tidak menjadi benar-benar bahagia sampai ia meninggal dengan baik, dan nasib baiknya utuh sampai akhir.’ Demikianlah kata-kata Solon Yang Bijak itu wahai Maharaja Cyrus Yang Agung.” Ujar Raja Croesus.

Maharaja Cyrus Yang Agung begitu tersentuh mendengar nasehat Solon yang diceritakan kembali oleh Raja Croesus dan beliau-pun bertanya lagi,
Adakah lagi kata-kata yang diucapkannya padamu?”

Solon Yang Bijak itu juga menasehatiku agar aku jangan hanya menilai kebahagiaan yang sekarang ini saja sebab jika seseorang menganggap dirinya benar-benar bahagia namun ada begitu banyak yang masih bisa terjadi padanya maka orang itu hanya akan menjadi seperti tentara yang merayakan kemenangan sebelum pertempuran berakhir,” ujar Raja Croesus.

Maharaja Cyrus Yang Agung termenung saat mendengar nasehat Solon yang diceritakan kembali oleh Raja Croesus. Saat melihat sang maharaja duduk termenung setelah mendengar kata-katanya maka Raja Croesus-pun berkata,
Wahai Maharaja Cyrus Yang Agung, sungguh alangkah baiknya jika baginda bisa bertemu langsung dengan Solon Yang Bijak itu dan mendengar langsung kata-katanya yang bijak. Oh Maharaja Cyrus Yang Agung, sesungguhnya kehilangan segalanya sekarang ini lebih menyakitkan daripada kehilangan kenikmatan dunia yang menyenangkan. Kini, kekayaanku yang sesungguhnya hanyalah berupa kata-kata dan pendapatku semata, dan sekarang aku akan dibawa untuk dibakar di tiang. Solon Yang Bijak melihatku dalam sebuah kemewahan yang bodoh dan dia telah meramalkan penderitaanku yang terjadi sekarang ini. Dia memperingatkanku bahwa aku harus mempertimbangkan akhir hidupku, dan tidak membanggakan sebuah tanah yang menjerumuskan, karena tidak ada manusia yang bahagia sampai ia meninggal dengan baik" ujar Raja Croesus sambil meratapi nasibnya kini.

Maharaja Cyrus Yang Agung begitu tersenutuh mendengarkan nasehat-nasehat Solon yang diceritakan kembali oleh Raja Croesus. Maharaja Cyrus Yang Agung menilai ajaran Solon adalah suatu hal yang baik adanya dan sangat penting bagi kehidupan. Sang maharaja beranggapan bahwa jika dia tidak bijaksana dalam menjalani hidupnya maka mungkin dia akan mengalami apa yang terjadi pada Raja Croesus yang sedang berlutut dihadapannya sekarang ini. Sang maharaja-pun membebaskan dan mengangkat Raja Croesus sebagai salah satu penasihat yang paling dihormati di istananya.



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kisah ini adalah kisah populer dari Yunani yang diceritakan secara turun-temurun dan ditulis kembali dalam berbagai kitab sejarah dan kitab-kitab hikayat dari masa penyebaran budaya Helenis.

Solon adalah tokoh sejarah nyata yang merupakan seorang reformator klasik terbesar dan terpenting dalam sejarah Athena dan Yunani. Beliau pernah menjabat sebagai archon (penguasa tahunan) kota Athena.

Raja Croesus adalah tokoh sejarah nyata. Beliau adalah putra dari Raja Alyates II yang lahir sekitar tahun 595 SM, dan memerintah Kerajaan Lydia selama sekitar 14 tahun (560 SM - 546 SM). Pada masa itu, beliau adalah raja terkaya di dunia barat. Raja Croesus adalah raja kerajaan kuno yang bernama Kerajaan Lydia. Kerajaan Lydia adalah kerajaan makmur yang wilayahnya cukup luas pada masa itu, dan kini terletak di negara Turki modern. Kerajaan ini telah berdiri sejak 1200 SM.

Maharaja Cyrus Yang Agung adalah tokoh sejarah nyata yang merupakan maharaja dan raja terbesar dalam sejarah Kekaisaran Persia. Beliau-lah yang mengakhiri pemerintahan orang-orang Media (Medes) dan juga menaklukan kerajaan terbesar didunia pada masa itu yaitu Kekaisaran Babilonia. Beliau berhasil merebut wilayah-wilayah taklukan Babilonia. Dalam ekspedisi militernya untuk menaklukan wilayah-wilayah Asia Minor itulah Kerajaan Lydia berhasil ditaklukan (546 SM) dan Raja Croesus ditawan.

Kerajaan Lydia menjadi salah-satu sasaran utama penaklukan Cyrus Yang Agung sebab Raja Croesus merupakan salah-satu sekutu utama Maharaja Astyges dari Kekaisaran Media yang berhasil ditaklukan oleh Cyrus Yang Agung sebab saudari Raja Croesus merupakan ratu dari Maharaja Astyges. Croesus juga merupakan salah-satu raja yang mengerahkan pasukan untuk melawan Cyrus Yang Agung.

Tellus dari Athena yang dikatakan oleh Solon sebagai orang yang paling berbahagia di bumi kemungkinan adalah memang tokoh nyata, namun kisahnya hanya ditemukan melalui cerita Solon ini yang ditulis oleh Herodotus. Menurut catatan Herodotus, Tellus adalah seorang pria dari Athena yang memiliki dua orang putri yang cantik dan baik hati. Dia meninggal sebagai seorang patriot dalam peperangan antara Athena melawan Eleusis. Kematian Tellus dianggap indah sebab sebagai prajurit dia meninggal dalam perang, dan kehidupannya dianggap bahagia sebab dia hidup bahagia dengan keluarganya dan sempat melihat kelahiran dan pertumbuhan semua cucu-cucunya.

Kleobis dan Biton yang dikatakan oleh Solon sebagai yang termasuk orang-orang paling berbahagia di bumi kemungkinan adalah memang tokoh-tokoh nyata, namun kisah mereka hanya ditemukan melalui cerita Solon ini yang ditulis oleh Herodotus. Menurut catatan Herodotus, Kleobis dan Biton adalah dua pemuda dari Argive (kota utama dari sebuah polis di Yunani yang bernama Argos). Dikisahkan bahwa mereka membawa ibu mereka yang bernama Cydippe yang ingin sekali menghadiri festival untuk memuja Dewi Hera dengan gerobak sapi dengan menarik sendiri gerobak itu sejauh 6 mil. Setibanya dikuil, sang ibu lalu mendoakan agar Dewi Hera memberikan mereka hadiah atas kekuatan hati dan kesetian mereka. Dikisahkan bahwa Dewi Hera yang mendengar doa Cydippe ini lalu berkenan mengabulkan permintaan sang ibu itu dengan membiarkan Kleobis dan Biton, yang saat itu tertidur di kuil, meninggal dengan damai dalam tidur mereka. Kematian mereka dianggap indah sebab mereka meninggal dalam damai di kuil tanpa merasakan kesakitan, dan kehidupan mereka dianggap bahagia sebab mereka berhasil memberikan pengabdian pada orang-tua mereka dan meninggal dengan bahagia setelah melihat kebahagiaan ibu mereka yang berhasil menghadiri festival tahunan itu. Sebagai penghormatan pada Kleobis dan Biton, rakyat kota Delphi (polis lainnya di Yunani) mendirikan patung mereka berdua di kuil Dewa Apollo.

Tujuh Orang Bijak (Seven Sages of Greece atau Seven Wise Men) adalah gelar yang diberikan pada tujuh orang yang dianggap paling bijaksana pada masa Yunani Kuno. Nama-nama ketujuh orang bijak ini memiliki perbedaan antara sumber yang satu dengan lainnya. Umumnya, daftar Tujuh Orang Bijak itu adalah Thales dari Miletus, Chilon dari Sparta, Cleobulus dari Lindos, Solon dari Athena, Bias dari Priene, Pittacus dari Mytilene, dan Periander dari Korintus. Tetapi, Plato memiliki daftar yang berbeda, yaitu Thales dari Miletus, Chilon dari Sparta, Cleobulus dari Lindos, Solon dari Athena, Bias dari Priene, Pittacus dari Mytilene, dan Myson dari Chenae. Namun, menurut Diogenes Laertius (sejarawan abad 3 Masehi yang fokus pada ahli filsafat Yunani kuno), Tujuh Orang Bijak itu adalah Thales dari Miletus, Chilon dari Sparta, Cleobulus dari Lindos, Solon dari Athena, Bias dari Priene, Pittacus dari Mytilene, dan memasukan Periander dari Korintus dan juga Anacharsis dari Skit sebagai orag bijak yang ketujuh. Pendapat yang sama juga dikeluarkan oleh para sejarawan seperti Ausonius (penyair Romawi abad ke-2 Masehi), Ephorus, dan Plutarch.

_________________________________________________________________________________

Kisah ini adalah kisah klasik populer dari Yunani yang dimuat dalam berbagai buku sejarah yang untuk pertama kalinya dimuat dalam buku “Historia” yang ditulis oleh sejarawan besar Yunani, Herodotus. Kisah ini disusun kembali oleh Deleigeven Media dengan beberapa perubahan yaitu perubahan gaya tulisan dan susunan dialog tanpa mengubah inti cerita dan unsur sejarah dalam kisah ini.


TIM PENYUSUN:
Penulis : Deleigeven
Editor : Juliet
Penerbit : Deleigeven Media


DAFTAR PUSTAKA:
A History of Ancient Greece; George Grote
History; Herodotus
Solon, The Lawmaker of Athens; Plutarch
The Heritage Of Persia; Richard N.Frye


SUMBER WEBSITE:
Ensiclopedia Britanica (Solon)
Greeka.com (Solon)
Livius.org/lydia
wikipedia.com/solon
wikipedia.com/croesus


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sunday, 1 July 2018

SOLON DAN ANACHARSIS YANG BIJAKSANA





Pada jaman dahulu, di kota Athena hiduplah seorang yang sangat bijaksana. Orang itu bernama Solon. Beliau adalah salah-satu dari Tujuh Orang Bijaksana pada masa itu. Karena begitu bijaksananya Solon, rakyat Athena mempercayakan Solon untuk menyusun dan menerapkan hukum kota Athena yang baru menggantikan hukum yang lama. Rakyat Athena begitu menyanjung kebijaksanaan Solon sebab hukum yang dibuatnya dianggap yang paling adil dan bijaksana dari semua hukum yang pernah mereka kenal. Karena kebijaksanaannya, beliaupun dipanggil “Solon Yang Bijak” oleh rakyat Athena. Sedangkan bagi rakyat kota lain, beliau dikenal sebagai “Solon Yang Bijak dari Athena”.

Alkisah pada suatu hari, ada seorang pria yang baru tiba di Athena. Rupanya, pria itu hendak mengunjungi Solon. Pria ini bernama Anacharsis.

Begitu tiba di rumah Solon, Anacharsis berkata, “Aku telah berkelana dari tempat yang jauh agar bisa bersahabat denganmu.”

Solon, yang tidak tahu menahu tentang siapa Anacharsis, menjadi bingung melihat orang asing itu, dan beliau-pun berkata,
Alangkah baiknya jika engkau berteman saja dengan orang-orang ditempat asalmu.”

Namun, Anacharsis menjawab,
Justru itulah pentingnya bagimu, yang sekarang sedang berada ditempat asalmu, untuk berteman denganku.”

Solon tertawa mendengar jawaban Anacharsis. Solon lalu menyambut Anacharsis sebagai tamunya untuk waktu yang lama. Solon sangat senang karena dikunjungi oleh Anacharsis dan sangat mengaguminya. Selama Anacharsis berada di Athena, Solon mengajaknya berkeliling dan menghadiri berbagai pertemuan dewan kota. Solon menjelaskan pada Anacharsis undang-undang yang ia susun untuk Athena, dan juga menunjukan perkembangan demokrasi di Athena.

Usai melihat semua itu, Anacharsis hanya berkata pada Solon, “Semuanya ini adalah hal yang aneh. Orang Athena melakukan hal-hal yang aneh.”

Solon heran dengan kata-kata Anacharsis dan bertanya, “Mengapa ini terlihat aneh bagimu wahai Anacharsis yang bijaksana?”

Karena di Athena orang bijak hanya berbicara dan memutuskan hal-hal bodoh” jawab Anacharsis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Anacharsis memang suka mengutarakan pendapatnya sekenanya saja, berbeda dengan gaya berbicara orang Athena seperti Solon yang menyukai puisi.

Solon tidak memahami maksud dari kata-kata Anacharsis itu, dan tampaknya Solon menjadi tersinggung. Beliau lalu memaparkan semua kode-kode hukum yang disusunnya dan menjelaskan perjalanan penerapan hukum di Athena dan betapa kejamnya hukum terdahulu yang disusun dan diterapkan oleh Draco dan usaha-usaha Solon ketika dia membebaskan hutang-hutang rakyat jelata dan berusaha menghapus perbudakan antar warga Athena. Solon juga menjelaskan tentang bagaimana dia berusaha mengubah hukum di Athena tanpa melalui sebuah revolusi melainkan reformasi dan bahwa dia mereformasi hukum kota Athena agar tercipta keadilan di kota Athena.

Setelah mendengarkan penjelasan Solon, Anacharsis justru menertawakannya sehingga membuat Solon heran dan bertanya,
Mengapa engkau menertawakan semua ini?”

Lalu Anacharsis menjawab, “karena aku tidak bisa membayangkan bahwa ketidakjujuran dan keserakahan orang Athena mampu dikendalikan oleh hukum tertulis!”

Anacharsis-pun menerangkan alasan mengapa dia berpendapat demikian. 
Undang-undang yang kau susun dan kau terapkan ini seperti sarang laba-laba yang menangkap orang yang lemah dan miskin tetapi orang kaya dapat merobek dan melaluinya.” Demikian kata-kata Anacharsis.

Setelah beberapa waktu kemudian Anacharsis-pun meninggalkan Athena dan kembali ke negeri asalnya. Solon-pun kembali menjalani kehidupannya seperti biasa. Saat itu, dia menjabat sebagai archon (penguasa tahunan) kota Athena.

Pada masa sebelum Solon diangkat sebagai archon Athena, kekejaman dan arogansi orang kaya dan para bangsawan menyebabkan orang-orang miskin di Athena membentuk kelompok-kelompok untuk bertahan dan menyelamatkan diri. Untuk mengatasi hal itu, Solon diangkat sebagai archon dan diberi kekuasaan penuh sebagai refomator dan legislator Athena. Solon memulai reformasinya dengan membebaskan semua warga Athena yang diperbudak dan menerapkan hukum yang membebaskan semua jaminan dan utang. Namun, Solon menolak tuntutan masyarakat miskin tentang pendistribusian tanah bagi mereka karena menganggap hal itu tidak adil bagi pemilik tanah yang asli. Solon mengganti permintaan mereka dengan menciptakan pekerjaan-pekerjaan yang lebih baik bagi masyarakat miskin.

Untuk membantu tugas-tugasnya, Solon sering berbagi cerita dan meminta pendapat pada sahabat-sahabatnya yang paling terpercaya termasuk pada saat beliau akan memberlakukan hukum yang membebaskan semua jaminan dan utang. Namun, sahabat-sahabatnya itu justru memanfaatkan berita dan rencana-rencana yang diceritakan oleh Solon demi keuntungan mereka. Mereka lalu meminjam uang untuk membeli tanah lalu kembali berhutang sejumlah besar uang dengan memberikan tanah itu sebagai jaminan, dan ketika hukum pemutihan jaminan dan utang diterbitkan oleh Solon, utang mereka-pun diputihkan dan jaminan tanah mereka dikembalikan sehingga orang-orang serakah ini memiliki kembali tanah mereka secara cuma-cuma. Perilaku sahabat-sahabatnya mencoreng nama baik Solon.

Waktu demi waktu berlalu, kemudian timbulah perselisihan diantara orang-orang kaya dan masyarakat miskin di Athena akibat pandangan mereka yang berbeda-beda tentang penerapan hukum yang dibuat oleh Solon. Mereka menyalahkan Solon karena tidak mengikuti keinginan mereka padahal hukum Solon sudah memberikan mereka banyak sekali manfaat.

Orang-orang yang sebelumnya ramah kepadanya mulai menatapnya sebagai musuh. Orang-orang miskin menjadi kesal karena Solon tidak mau menggunakan kekuasaannya untuk merebut milik orang kaya sedangkan orang-orang kaya dan para bangsawan juga marah karena uang mereka hilang akibat utang-utang yang telah diputihkan berdasarkan hukum yang diterapkan Solon. Untuk meredakan perselisihan itu Solon-pun berseru,

"Keadilan tidak melahirkan perselisihan!!!"

Namun, rupanya Solon tidak memahami dasar perselisihan itu sebab bagi orang miskin "keadilan" berarti kekayaan yang sama-rata, sedangkan orang kaya menganggap "keadilan" adalah menjaga apa yang mereka dimiliki. Kedua pendirian itu sulit untuk dipertemukan meskipun oleh hukum yang adil yang dibuat oleh Solon.

Melihat semua usahanya berujung pada kesia-siaan akibat keserakahan dan pengkhianatan, Solon-pun teringat kembali kata-kata Anachasis,

ketidakjujuran dan keserakahan orang tidak mampu dikendalikan oleh hukum tertulis!”



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kisah ini adalah kisah populer dari Yunani yang ditulis kembali dalam berbagai kitab sejarah dan kitab-kitab hikayat dari masa penyebaran budaya Helenis.

Solon adalah tokoh sejarah nyata yang merupakan seorang reformator klasik terbesar dan terpenting dalam sejarah Athena dan Yunani. Beliau pernah menjabat sebagai archon (penguasa tahunan) kota Athena. Beliau dilahirkan pada tahun 630 SM dan wafat pada tahun 560 SM. Solon adalah seorang negarawan Athena yang paling dihormati sepanjang sejarah Yunani kuno bahkan hingga sekarang. Karena kebijaksanaannya beliau dikenal sebagai ‘Solon Yang Bijak dari Athena’, dan dimasukan sebagai salah-satu dari ‘Tujuh Orang Bijak’ dalam sejarah Yunani. Setelah kematiannya, Solon tetap dikenang sebagai orang bijak dengan ide-ide inovatif. Beberapa dekade kemudian, seorang negarawan Athena yang bernama Pericles mendirikan demokrasi Athena yang sangat terkenal namun demokrasi yang dibangunnya mengacu pada kode hukum dan reformasi yang dilakukan oleh Solon. Hingga saat ini Solon dianggap sebagai pencetus dasar-dasar hukum sekaligus pendiri sistem pemerintahan demokrasi yang kita kenal sekarang. Dasar-dasar hukum yang dibuat oleh Solon dan juga kode-kode hukumnya menjadi dasar hukum Athena selama berabad-abad, dan kemudian diadopsi oleh hukum Romawi yang kemudian menjadi cetak biru hukum modern sekarang ini.

Anacharsis adalah tokoh nyata. Beliau adalah seorang ahli filsafat dari bangsa Skit sehingga beliau sering disebut ‘Anacharsis orang Skit’. Bangsa Skit adalah salah-satu suku bangsa kuno dari Iran, tempat yang diyakini merupakan asalnya para Majus sehingga beliau diyakini berasal dari golongan orang Majus (golongan yang sama yang disebutkan dalam Alkitab tentang “Tiga Orang Majus”).  Beliau merupakan orang non-Yunani pertama yang paling diberikan kewarganegaraan istimewa oleh pemerintah Athena. Oleh beberapa sejarawan, beliau dimasukan dalam ‘Tujuh Orang Bijak’. Beliau mengunjungi Yunani dan bertemu dengan Solon pertama kalinya pada sekitar 589 BC. Anacharsis meninggal tidak lama setelah beliau kembali ke negerinya karena dibunuh oleh saudaranya sendiri.

Pada masa Solon, Yunani belum disatukan dalam satu kepemimpinan dan masih terdiri dari beberapa negara kota (polis) yang memiliki pemerintahan dan pemimpin yang berbeda-beda. Athena adalah salah-satu polis terbesar Yunani selain Sparta.

Hukum Draco yang diganti oleh Solon dengan kode hukumnya melalui reformasi hukum Athena adalah hukum yang ditulis dan diterapkan oleh seorang archon Athena yang tiran, yaitu Draco. Sebelum era Darco, pemerintahan Athena dijalankan dengan sistem oligarki. Pada saat Draco yang tiran berkuasa sebagai Archon (621 SM) barulah Athena memiliki kode hukum tertulis untuk pertama-kalinya. Draco membuat undang-undang yang mengacu pada hukuman yang sangat ekstrim dan sewenang-wenang bagi sebagian besar warga Athena. Undang-undang Draconian tetap berlaku di Athena sampai direformasi oleh Solon, yang datang dengan menawarkan perubahan melalui reformasi bukan revolusi.

Tujuh Orang Bijak (Seven Sages of Greece atau Seven Wise Men) adalah gelar yang diberikan pada tujuh orang yang dianggap paling bijaksana pada masa Yunani Kuno. Nama-nama ketujuh orang bijak ini memiliki perbedaan antara sumber yang satu dengan lainnya. Umumnya, daftar Tujuh Orang Bijak itu adalah Thales dari Miletus, Chilon dari Sparta, Cleobulus dari Lindos, Solon dari Athena, Bias dari Priene, Pittacus dari Mytilene, dan Periander dari Korintus. Tetapi, Plato memiliki daftar yang berbeda, yaitu Thales dari Miletus, Chilon dari Sparta, Cleobulus dari Lindos, Solon dari Athena, Bias dari Priene, Pittacus dari Mytilene, dan Myson dari Chenae. Namun, menurut Diogenes Laertius (sejarawan abad 3 Masehi yang fokus pada ahli filsafat Yunani kuno), Tujuh Orang Bijak itu adalah Thales dari Miletus, Chilon dari Sparta, Cleobulus dari Lindos, Solon dari Athena, Bias dari Priene, Pittacus dari Mytilene, dan memasukan Periander dari Korintus dan juga Anacharsis dari Skit sebagai orag bijak yang ketujuh. Tampaknya, Diogenes tidak ingin mengeluarkan Anacharsis dari daftar orang bijak, sebab walaupun awalnya dia memasukan nama Periander, namun dia kemudian menyebut nama Anacharsis sebagai orang bijak ketujuh. Pendapat yang sama juga dikeluarkan oleh para sejarawan seperti Ausonius (penyair Romawi abad ke-2 Masehi), Ephorus, dan Plutarch.


_________________________________________________________________________________

Kisah ini adalah kisah klasik populer dari Yunani yang dimuat dalam berbagai buku sejarah yang untuk pertama kalinya dimuat dalam buku “Historia” yang ditulis oleh sejarawan besar Yunani, Herodotus. Kisah ini disusun kembali oleh Deleigeven Media dengan beberapa perubahan yaitu perubahan gaya tulisan dan susunan dialog tanpa mengubah inti cerita dan unsur sejarah dalam kisah ini.


TIM PENYUSUN:
Penulis : Deleigeven
Editor : Juliet
Penerbit : Deleigeven Media


DAFTAR PUSTAKA:
A History of Ancient Greece; George Grote
History; Herodotus
Solon, The Lawmaker of Athens; Plutarch


SUMBER WEBSITE:
Ensiclopedia Britanica (Solon)
Greeka.com (Solon)
wikipedia.com/solon



--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tuesday, 10 April 2018

SOLON DAN KEBIJAKSANAAN THALES




Pada jaman dahulu, hiduplah seorang yang sangat bijaksana. Orang itu bernama Solon. Karena sangat bijaksana, beliau digolongkan sebagai salah-satu dari ‘Tujuh Orang Bijaksana’. Rakyat kotanya, kota Athena, begitu menyanjung kebijaksanaan dan keadilan Solon sebab hukum yang dibuatnya dianggap yang paling adil dan bijaksana dari semua hukum yang pernah mereka kenal. Karena kebijaksanaannya, beliaupun dipanggil “Solon Yang Bijak” oleh rakyat Athena. Sedangkan bagi rakyat kota lain, beliau dikenal sebagai “Solon Yang Bijak dari Athena”.

Pada suatu waktu, Solon pergi mengunjungi salah satu dari ‘Tujuh Orang Bijak’ yang bernama Thales di kota lain yaitu kota Miletus. Saat bercengkerama dengan Thales, Solon-pun menyadari sesuatu yang seyogyanya ada tetapi tidak dimiliki oleh Thales, dan beliau dengan hati-hati memberanikan diri bertanya,

Wahai Thales yang bijak, mengapakah engkau tidak menikah ataupun memiliki anak?”

Mendengar pertanyaan Solon, Thales hanya tertawa.
Itu sudah menjadi keputusanku”, jawab Thales.
Dan mengapakah engkau memutuskan demikian?” Tanya Solon lagi.
Akan kuberitahukan alasan dari keputusanku itu padamu.” Jawab Thales.

Solon-pun menyudahi obrolannya dengan Thales sembari bertanya-tanya dalam hati mengenai alasan Thales atas keputusannya yang tidak menikah dan memiliki anak.

Solon masih tinggal bersama Thales di kota Miletus untuk beberapa saat lamanya. Solon memanfaatkan kunjungannya dengan berkeliling kota tempat Thales tinggal. Saat dia sedang berjalan-jalan di kota, terlihatlah olehnya seorang pemuda. Dari ceritanya sepertinya pemuda itu baru saja tiba dari Athena. Solon mengamati pemuda itu dan menyimpulkan bahwa memang pemuda itu baru tiba dari Athena. Solon yang selalu penasaran tentang berbagai berita dari kampung halamannya lalu menanyakan kabar-kabar terbaru pada pemuda itu perihal kota Athena. Pemuda itu mengatakan bahwa tidak ada yang penting yang terjadi di Athena kecuali,
"ada pemakaman seorang pria muda yang meninggal saat ayahnya sedang pergi", demikian kata pemuda itu. 

"Oh Kasihan," kata Solon dengan wajah yang sedih.
"Tapi siapa namanya? Siapa tahu aku mengenalnya atau mengenal ayahnya sebab aku juga berasal dari Athena." Tanya Solon dengan khawatir.

Wajah pemuda itu menunjukan bahwa dia berusaha mengingat-ingat tapi dia tidak mampu menyebut nama seorang-pun di Athena dengan tepat dan berkata,
Aku sulit mengingat namanya...”

Solon-pun berusaha memancing ingatan pemuda itu dengan menyebutkan nama-nama orang Athena yang diketahuinya. Tapi, pemuda selalu itu menjawab,
Bukan, bukan nama itu...."
"Aku tidak ingat tepatnya, tapi bukan nama-nama itu yang kudengar...” Lanjut pemuda itu.

Solon menjadi semakin khawatir.

Kudengar, ayah pemuda itu adalah seorang yang penting di Athena. Dia adalah archon Athena atau seorang yang pernah menjadi archon. Saat ini, ayahnya itu sedang berkunjung ke kota lain.” Kata sang pemuda lagi.

Solon terkejut mendengarnya, sebab dia sudah menjadi archon Athena selama 20 tahun. Dengan was-was, Solon-pun berkata:
Solon? Apakah ayah anak itu bernama Solon?” Tanya Solon dengan penuh harap bahwa pemuda itu akan menjawab dengan ‘tidak!’

"Ya!!! Benar nama itu! Orang itulah yang aku maksud!" kata sang pemuda.

Mendengar jawaban pemuda itu, wajah Solon-pun sedih sebab hati sangat hancur. Dia tidak bisa membayangkan bahwa anaknya sudah meninggal.

Tak jauh dari tempat Solon dan pemuda itu berada, duduklah Thales yang sejak tadi mengawasi Solon tanpa menunjukan ekspresi apapun. Setelah beberapa saat, Thales-pun datang menghampiri Solon dan berkata:
"Solon oh Solon.... Mengapa kau bersedih?” Tanya Thales.

Solon tampak terkejut melihat sahabatnya, namun dia menyambut kedatangan Thales itu dengan menceritakan perihal kematian putranya yang tadi disampaikan oleh pemuda yang baru datang dari Athena itu. Tetapi, Thales hanya tertawa dan berkata bahwa pemuda itu tidak datang dari Athena.

Dia adalah rakyat Miletus. Seorang aktor dikota ini yang aku sewa untuk bercerita padamu.” Ujar Thales.

Solon sangat terkejut mendengar kata-kata Thales,

Wahai Thales, mengapakah engkau melakukan hal ini???” Tanya Solon.
Untuk menjawab pertanyaanmu, sahabatku. Engkau bertanya mengapa aku tidak menikah dan punya anak... Nah, sekarang kau mengetahui alasan keputusanku perihal mengapa aku tidak menikah atau memiliki anak.” Ujar Thales.

Kehilangan kedua hal itu terlalu sulit untuk ditanggung, bukan? Bahkan oleh-mu yang memiliki semangat dan keberanian.” Jelas Thales.
Tapi jangan khawatir sahabatku itu semua cerita itu bukan apa-apa kecuali kebohongan." Kata Thales lagi perihal berita kematian anaknya yang dibawa oleh aktor sewaan Thales tadi.

Solon tidak marah pada Thales karena telah menipunya dengan kabar bohong perihal kematian anaknya. Dia justru lega karena kabar itu adalah bohong.

Solon memahami maksud Thales dengan jelas. Thales ingin menunjukkan pada Solon bahwa orang-orang akan sulit membuat pertimbangan dan kehilangan keberanian dalam membuat keputusan-keputusan yang baik karena takut kehilangan orang-orang terdekat, terutama keluarga mereka.

Bahkan kebajikan, yaitu milik manusia yang paling berharga, dapat hilang karena sakit penyakit. Jiwa manusia memiliki kecenderungan bawaan yaitu kasih sayang, dan ketika kasih sayang itu tidak bisa memperbaiki sang anak yang juga berusaha melakukan hal-hal lainnya, maka kesedihan yang datang selalu sama,” kata Thales pada Solon sebelum mereka berpisah.


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kisah ini adalah kisah dari Yunani yang ditulis kembali dalam berbagai kitab sejarah dan kitab-kitab hikayat dari masa penyebaran budaya Helenis.

Solon adalah tokoh sejarah nyata. Beliau adalah reformator klasik terbesar dan terpenting dalam sejarah Athena dan Yunani. Solon menjabat sebagai archon (penguasa tahunan) kota Athena selama 20 tahun. Beliau dilahirkan pada tahun 630 SM dan wafat pada tahun 560 SM. Solon adalah seorang negarawan Athena yang paling dihormati sepanjang sejarah Yunani kuno bahkan hingga sekarang. Karena kebijaksanaannya beliau dikenal sebagai ‘Solon Yang Bijak dari Athena’ dan dimasukan sebagai salah-satu dari ‘Tujuh Orang Bijak’ dalam sejarah Yunani. Setelah kematiannya, Solon tetap dikenang sebagai orang bijak dengan ide-ide inovatif pada zamannya. Beberapa dekade kemudian, seorang negarawan Athena yang bernama Pericles mendirikan demokrasi Athena yang sangat terkenal, namun demokrasi yang dibangunnya mengacu pada kode hukum dan reformasi yang dilakukan oleh Solon. Hingga saat ini Solon dianggap sebagai pencetus dasar-dasar hukum sekaligus pendiri sistem pemerintahan demokrasi kuno yang menurunkan demokrasi yang kita kenal sekarang. Dasar-dasar hukum yang dibuat oleh Solon dan juga kode-kode hukumnya menjadi dasar hukum Athena selama berabad-abad, dan kemudian diadopsi oleh hukum Romawi yang kemudian menjadi cetak biru hukum modern sekarang ini.

Thales adalah tokoh nyata. Beliau adalah matematikawan, ahli filsafat, dan astronom terawal dalam sejarah Yunani. Thales lahir pada 624 SM dan meninggal pada 546 SM. Sama seperti Solon, beliau juga termasuk dalam ‘Tujuh Orang Bijak’ dan merupakan orang yang namanya diurutan pertama dalam daftar "Tujuh Orang Bijak" tersebut. Thales berasal dari kota Miletus sehingga beliau dikenal dengan nama ‘Thales dari Miletus'. Miletus sendiri merupakan salah-satu kota kuno di kawasan Asia Minor (negara Turki modern). Thales dikenang dan dihormati sebagai ahli filsafat pertama dalam tradisi Yunani. Buah pikir dan gagasan-gagasannya mempengaruhi Sokrates, dan banyak ahli filsafat Yunani kuno termasuk Solon, Aristoteles, dan Plato. Meskipun beliau adalah seorang filsuf tapi Thales lebih dikenal sebagai ahli matematika pertama dalam sejarah Yunani. Thales adalah bapak geometri Yunani dan memberikan pengaruh yang sangat besar bagi ahli matematika Yunani kuno yang paling terkenal, Pythagoras.

Tujuh Orang Bijak (Seven Sages of Greece atau Seven Wise Men) adalah gelar yang diberikan pada tujuh orang yang dianggap paling bijaksana pada masa Yunani Kuno. Nama-nama ketujuh orang bijak ini memiliki perbedaan antara sumber yang satu dengan lainnya. Umumnya, daftar Tujuh Orang Bijak itu adalah Thales dari Miletus, Chilon dari Sparta, Cleobulus dari Lindos, Solon dari Athena, Bias dari Priene, Pittacus dari Mytilene, dan Periander dari Korintus. Tetapi, Plato memiliki daftar yang berbeda, yaitu Thales dari Miletus, Chilon dari Sparta, Cleobulus dari Lindos, Solon dari Athena, Bias dari Priene, Pittacus dari Mytilene, dan Myson dari Chenae. Namun, menurut Diogenes Laertius (sejarawan abad 3 Masehi yang fokus pada ahli filsafat Yunani kuno), Tujuh Orang Bijak itu adalah Thales dari Miletus, Chilon dari Sparta, Cleobulus dari Lindos, Solon dari Athena, Bias dari Priene, Pittacus dari Mytilene, dan memasukan Periander dari Korintus dan juga Anacharsis dari Skit sebagai orag bijak yang ketujuh. Pendapat yang sama juga dikeluarkan oleh para sejarawan seperti Ausonius (penyair Romawi abad ke-2 Masehi), Ephorus, dan Plutarch.

_________________________________________________________________________________

Kisah ini adalah kisah klasik populer dari Yunani yang dimuat dalam berbagai buku sejarah yang untuk pertama kalinya dimuat dalam buku “Historia” yang ditulis oleh sejarawan besar Yunani, Herodotus. Kisah ini disusun kembali oleh Deleigeven Media dengan beberapa perubahan, yaitu perubahan gaya tulisan dan susunan dialog tanpa mengubah inti cerita dan unsur sejarah dalam kisah ini.


TIM PENYUSUN:
Penulis : Deleigeven
Editor : Juliet
Penerbit : Deleigeven Media


DAFTAR PUSTAKA:
A History of Ancient Greece; George Grote
History; Herodotus
Solon, The Lawmaker of Athens; Plutarch


SUMBER WEBSITE:
Ensiclopedia Britanica (Solon)
Greeka.com (Solon)
wikipedia.com/solon


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Wednesday, 23 April 2014

PERPUSTAKAAN ALEXANDRIA, KEMEGAHAN ILMU PENGETAHUAN DI MASA LAMPAU

Sudah lama saya membaca tentang sejarah Perpustakaan Alexandria, walaupun hanya sepotong-sepotong. Namun saat saya membaca novel fiksi sejarah yang berjudul "The Alexandria Link" karya Steve Berry, saya benar-benar tertarik untuk lebih mengetahui lebih lanjut tentang Perpustakaan Alexandria.

(The Alexandria Link, karya Steve Berry)

The Alexandria Link adalah novel yang bercerita tentang Cotton Malone, seorang mantan agen lapangan elit Departemen Luar Negeri Amerika Serikat yang beralih profesi sebagai pemilik toko buku langka di Kopenhagen, Denmark. Ketentramannya terusik saat dia diberitahu bahwa putranya yang tinggal bersama mantan istrinya diculik. Para penculik meledakkan toko bukunya sebagai peringatan bahwa mereka tidak akan berhenti mengganggunya sehingga mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan: Perpustakaan Alexandria yang hilang.

Berbagai pendapat sejarah, filsafat, literatur, sains, dan agama memberikan data yang sama bahwa Perpustakaan Alexandria pernah ada didunia ini namun musnah berabad-abad yang lalu dan menjadi kabut misteri yang melegenda.

Alur novel ini sebenarnya lebih menonjolkan aksi petualangan dari Malone dan intrik politik yang menyelubungi pencarian perpustakaan tersebut ketimbang pengkajian logika dan fakta sejarah seperti yang biasa kita temui dalam novel-novel karya Dan Brown. Meskipun demikian, novel ini mampu menggambarkan tentang betapa berharganya Perpustakaan Alexandria yang digali dari beberapa sudut pandang.

(Perpustakaan Alexandria Modern di Iskadariah, tampak dari atas)


AWAL PENDIRIAN PERPUSTAKAAN

Kejayaan sebuah bangsa pada masa kuno tidak hanya diukur dari kemegahan bangunannya, namun juga dari seberapa lengkap dan megahnya perpustakaan kerajaan yang mereka miliki, karena perpustakaan negara itulah yang menyimpan semua kemegahan bangsa tersebut jikalau bangunan-bangunan megah mereka runtuh suatu saat kelak. Perpustakaan seperti itu jugalah yang merupakan ajang unjuk gengsi, karena membuktikan ilmu pengetahuan bangsa mereka berada diatas bangsa-bangsa lain. Perpustakaan juga merupakan rujukan penting bagi raja dan para pejabat negara untuk mengambil keputusan dan kebijakan, serta tempat berkumpulnya para cendekiawan kerajaan maupun dari luar kerajaan untuk bertukar pengetahuan. Alasan-alasan itupun mendasari pendirian Perpustakan Alexandria. Perpustakaan ini dibangun untuk menarik orang-orang bijak dari berbagai belahan dunia agar datang ke Mesir.

Keberadaan Perpustakaan Alexandria diketahui dan mulai dicatat pertama kali dalam sejarah modern justru melalui penemuan inkripsi kuno yang ditulis Tiberius Claudius Balbius dari Roma, Italia pada tahun 56 SM. Dia menyebutkan sebuah perpustakaan yang sangat besar telah dibangun di Alexandria, Mesir. Alexandria dibawah pemerintahan Dinasti Ptolemy, menurut Atlas Of The Greek World, merupakan pusat perdagangan dan budaya dunia. Keluarga Ptolemy adalah kalangan intelektual. Ptolemy I Soter adalah ahli sejarah, Ptolemy II Philadelphus  adalah ahli hewan, Ptolemy III Eurgetes adalah ahli literatur, sedangkan Ptolemy IV adalah penulis naskah drama. Masing-masing memilih ilmuwan terkemuka sebagai pembimbing anak-anaknya dan memberi dorongan kepada para cendekiawan untuk tinggal di Alexandria.

Ptolemy I Soter mendirikan kuil untuk para musai, dan mendirikan tempat belajar didalam kuil tersebut yang disebut musaeum (cikal bakal kata museum), dimana itu adalah tempat orang-orang terpelajar melakukan pertemuan kelompok dan berbagi pengetahuan mereka, sehingga banyak yang menganggap Perpustakaan Alexandria dibangun oleh Ptolemy I Soter. Pendapat ini tidak salah karena Musaeum menjadi Perpustakaan Utama Kerajaan.

Perpustakaan-perpustakaan kerajaan diperkirakan dibangun sempurna pada awal abad ke-3 SM oleh Ptolemy II Philadelphus, yang dikabarkan membeli seluruh perpustakaan Aristoteles, namun di masa Ptolemy III Eurgetes-lah perpustakaan berkembang pesat. Ptolemy III Eurgetes merupakan putra dari Ptolemy II Philadelphus yang naik takhta setelah ayahnya meninggal pada tahun 246 SM. Dibawah kendali Ptolemy III Eurgetes, koleksi Perpustakaan Alexandria meningkat pesat. Seluruh warga pendatang Alexandria diwajibkan memberikan beberapa buku pada perpustakaan. Ptolemy III Eurgetes juga memerintahkan mencari perangkat untuk untuk mendukung aktivitas perpustakaan. Agar mendapat kualitas terbaik, Ptolemy III Eurgetes mencarinya keseluruh wilayah Mediterania, Rhodes, hingga Athena. Pada masa Ptolemy III Eurgetes di tahun 246 SM, terdapat beberapa lokasi perpustakaan. Perpustakaan utama yaitu Musaeum yang dibangun oleh Ptolemy I yang berada di dekat istana kerajaan dan yang satu lagi, perpustakaan yang lebih kecil berada di tempat pemujaan Dewa Serapis, yang dikenal dengan nama Serapeum yang dibangun oleh Ptolemy II Philadelphus. Perpustakaan Serapeum inilah yang bertahan berabad-abad lamanya hingga peristiwa yang dinamakan Penghancuran Perpustakaan Alexandria itu benar-benar terjadi. Selain itu ada juga perpustakaan lain yang bernama perpustakaan Cesarion.



PROSES PENGUMPULAN BUKU

Pada puncak kejayaannya Alexandria berpenduduk sekitar 600.000 jiwa. Pada masa itu, pelabuhan Alexandria sangat ramai dikunjungi berbagai kapal. Ptolemy III memerintahkan agar semua kapal di pelabuhan Alexandria harus diperiksa, jika ditemukan buku-buku, maka buku-buku itu akan disalin, dan salinan-salinan itu dikembalikan kepada pemiliknya sedangkan buku yang asli disimpan dalam perpustakaan. Umumnya awak-awak kapal itu selalu membawa buku untuk menemani perjalanan. Ketika kapal berlabuh, para pemuka kota mengunjungi awak kapal, mengambil buku mereka dan menyalin isinya. Salinan ini ditulis diatas gulungan kertas papirus, lalu diletakkan di perpustakaan. Jenisnya bermacam-macam dari mulai puisi dan sejarah hingga retorika, filsafat, agama, pengobatan, ilmu pengetahuan alam, dan ilmu hukum. Sang raja konon sangat ingin membawa Mesir menuju peradaban yang tinggi. Alasan ia memerintahkan agar menyalin seluruh buku di dunia untuk menjadi koleksi perpustakaan ini agar seluruh masyarakat bisa belajar berbagai pengetahuan dan hikmah.



KOLEKSI BUKU

Sebanyak 43.000 manuskrip gulung yang berada di Serapeum dapat diakses oleh khalayak umum, sedangkan 500.000 manuskrip lainnya yang di simpan di musaeum terbatas hanya untuk kalangan pengajar, cendekiawan, dan keluarga raja. Manuskrip-manuskrip ini kian bertambah jumlahnya sehingga menembus angka 700.000 manuskrip. Sebagai  perbandingan, Perpustakaan Sorbonne pada abad 14 yang merupakan perpustakaan terbesar pada masanya hanya memiliki koleksi 1700 buku. Semua buku di perpustakaan disusun menurut temanya. Beberapa catatan sejarah menyebutkan beberapa koleksi Perpustakaan Alexandria yang berharga antara lain koleksi syair-syair terkenal seperti Homer, Hesiod, Sappho, Appolonius, Theocritus, dan Aratos. Koleksi drama terkenal antara lain berasal dari Sophocles, Euripedes, dan Aristophanes. Khusus koleksi filsafat terdapat buku-buku karangan Plato, Aristoteles, dan Philon. Sedangkan untuk kategori sejarah, perpustakaan ini memiliki koleksi Hecataeus dari Abdera dan Herodotus. Juga ada buku-buku fisika seperti buku karya Archimedes, Hipparchus, dan Hypatia. Perpustakaan ini juga memiliki koleksi buku-buku kedokteran diantaranya Medicine Corpus karya Hippocrates, dan Anatomi karya Herophilus. Satu-satunya salinan Undang-undang Roma Purba yang ditulis 700 tahun sebelum kelahiran Yesus Kristus juga dikoleksi disini. Di perpustakaan inilah, pada masa pemerintahan Ptolemy II Philadelphus, 72 cendekiawan Yahudi menerjemahkan kitab-kitab bahasa Ibrani kedalam bahasa Yunani dan menghasilkan karya Septuaginta yang termasyur itu. Septuaginta adalah terjemahan Perjanjian Lama kedalam bahasa Yunani, yang lalu disalin dan disebarkan ke berbagai negara. Hingga kini salinan-salinannya tetap menjadi rujukan.

Selain mengoleksi buku-buku, perpustakaan ini juga bekerja keras untuk membuat sejarah Mesir lengkap. Bahkan, upaya ini melibatkan banyak sejarawan dari berbagai negara. Diodorus, sejarawan terkenal pada masa tersebut merekam usaha tersebut dalam laporannya yang berbunyi, “Bukan hanya pemuka Mesir saja yang bekerja keras menyusun sejarah Mesir, tapi juga orang-orang Yunani yang berasal dari tempat-tempat yang jauh seperti Thebes. Dibawa pengarahan Ptolemy dari Lagos, mereka bekerja sangat cermat.” Diketahui beberapa di antara sejarawan Yunani yang dimaksud adalah Manethon dan Hecateaus dari Abdera.



TOKOH-TOKOH YANG PERNAH BELAJAR DAN MENGABDI

Perpustakaan Alexandria sangat berpengaruh pada munculnya tokoh-tokoh penting di bidang sejarah, sastra, astronomi, dan kedokteran pada masa itu yang tulisan-tulisan mereka sangat berpengaruh hingga di era modern. 

Archimedes, ilmuwan ternama dunia itu adalah salah-satu dari begitu banyak ilmuwan dimasanya yang belajar di Perpustakaan Aleandria. Selain Archimedes, ada Aristarchus dari Samos (Astronom abad ketiga SM. Orang pertama yang berspekulasi bahwa planet-planet mengitari matahari. Menggunakan trigonometri untuk menghitung jarak dan ukuran matahari dan bulan), Claudius Ptolemaeus (Astronom abad kedua yang tulisannya tentang geografi dan astronomi diakui sebagai naskah standar), Euklides (matematikawan abad keempat SM dan juga bapak Geometri serta pelopor ilmu optik. Karyanya yang berjudul "Elements", menjadi standar ilmu geometri sampai abad ke-19), dan Galen (dokter abad ke-2 Masehi yang ke-15 jilid bukunya menjadi naskah standar selama 12 abad).

Selain menghasilkan begitu banyak ilmuwan terkemuka, kedigdayaan Perpustakaan Alexandria sebagai perpustakaan terbaik pada masa itu juga dapat dilihat dari para pustakawan dan editor-nya. Editor alias Kepala Perpustakaan Alexandria merupakan jabatan bergengsi dimasa itu. Tidak sembarang orang yang bisa menduduki jabatan tersebut. Meski lokasi perpustakaan berada di Mesir, tapi kepala kepala perpustakaan tidak mesti orang Mesir. Editor pertama perpustakaan ini adalah Demetrius Phalareus

Seorang editor terkenal yang berasal dari Yunani bernama Erasthostenes yang lahir di Syrene (275 SM). Erasthostenes adalah seorang murid cerdas yang menempuh pendidikan di Alexandria dan Athena. Ia adalah filsuf, ahli matematika, dan astronom pada masa Raja Ptolomy III. Selama menjabat sebagai kepala perpustakaan, ia berhasil mengembangkan metode bilangan prima dan metode pengukuran keliling bumi. Ia banyak mengamati berbagai kejadian sederhana di bumi, misalnya setiap tanggal 21 Juni, semua dasar sumur di Shina (Aswan) pinggiran sungai Nil terkena cahaya matahari, artinya matahari benar-benar tegak lurus. Ditanggal yang sama di Alexandria, Erathostenes melihat tugu-tugu membentuk bayangan karena sinar matahari, sehingga membuat dia percaya bahwa bumi berbentuk bulat.  Erosthotenes mengalami kebutaan pada tahun 195 SM, namun ia tetap semangat mempelajari ilmu dan menyebarkannya ke khalayak hingga dia wafat setahun kemudian (194 SM). Hingga kini, Erosthotenes diakui sebagai orang yang pertama kali menghitung keliling bumi dengan cukup akurat. 

Selain Erosthotenes, Perpustakaan Alexandria juga pernah dipimpin oleh editor sekelas Kalimakhus, seorang pujangga yang menjadi kepala perpustakaan abad ke-3 SM. Ia adalah orang yang pertama kali menyusun Indeks untuk Perpustakaan Aleksandria. Karyanya ini menjadi sebuah mahakarya yang membentuk kanon kesusastraan Yunani klasik.

Beberapa editor terkenal lainnya adalah Zenodotus dari Ephesus (3 SM), Aristophanes dari Byzantium (2 SM), Didymus Chalcentrerus (seorang ahli tata bahasa pada abad ke-1 SM), dan yang juga paling terkenal adalah 72 cendekiawan Yahudi yang menyusun Septuaginta.

Jika dilihat dari asal para editor ini maka dapat disimpulkan bahwa Perpustakaan Alexandria memiliki reputasi yang sangat tinggi karena mampu menarik banyak orang pandai dari berbagai belahan dunia. Terbukti banyak orang non-Mesir yang bersedia yang bersedia menjadi editor alias kepala perpustakaan. Hal ini dimungkinkan karena penguasa memang memposisikan Alexandria sebagai kota intelektual. Di kota ini banyak diselenggarakan berbagai pertemuan intelektual, tempat orang-orang bertukar pikiran mengenai sejarah, filsafat, sastra, ilmu eksakta, dll. Perpustakaan ini juga menjalin hubungan dengan perpustakaan lain. Salah satunya dengan Perpustakaan Pergamun (Yunani) yang dibangun oleh Raja Eumenes II. Ilmuwan kedua perpustakaan ini saling bertukar ilmu dan pemikiran.



KEHANCURAN PERPUSTAKAAN ALEXANDRIA

Berdasarkan catatan sejarah, para sejarawan berpendapat bahwa perpustakaan utama Musaeum terbakar sehingga perpustakaan Serapeum menjadi perpustakaan utama. Penulis Kristen, Tertullian (155-230 M) menulis dalam bukunya The Apology bahwa buku-buku dalam perpustakaan para raja Ptolemy itu disimpan dalam perpustakaan Serapeaum, termasuk juga salinan dari Septuaginta. Surat-surat dari Aristeas (seorang Yahudi Alexandria) pada abad 1 M juga mendukung pendapat ini, dia menulis bahwa manuskrip-manuskrip dari Perpustakaan Utama Kerajaan telah dipindahkan ke perpustakaan Musaeum. St. Yohanes Chrysostom juga diketahui merujuk pada koleksi perpustakaan Serapeaum dalam pidatonya pada penduduk Antiokhia karena perpustakaan itu memiliki versi asli dari Septuaginta.

Sungguh sangat disayangkan, kemegahan perpustakaan besar ini berkali-kali dihantam nasib buruk. Para sejarawan berpendapat ada beberapa peristiwa-peristiwa yang diduga merusak bahkan menghancurkan perpustakaan ini.

Pertama adalah pembakaran kota Alexandria oleh Julius Caesar saat dia berperang dengan Ptolemy XIII pada tahun 48 SM (berdasarkan Kronik Perang Alexandria karya Titus Livius). Caesar memerintahkan pembakaran terhadap kendaraan-kendaraan kerajaan namun apinya menjalar ke seluruh bagian kota dan juga melalap perpustakaan. Caesar sendiri menulis dalam bukunya Alexadrian Wars bahwa, “Api yang dibakar pasukan Roma untuk membakar angkatan laut Mesir di pelabuhan Alexandria juga melahap sebuah gudang penuh dengan papirus yang berlokasi di pelabuhan.” Namun sejarawan modern membantah hal ini karena lokasi Perpustakaan Alexandria bukan terletak di dekat pelabuhan. Hal yang membatalkan tuduhan pada Caesar adalah buku Geography karya Strabo, yang mengunjungi Alexandria pada tahun 25 SM dimana bukunya menggunakan referensi yang berada didalam Perpustakaan Alexandria yang artinya Perpustakaan itu masih ada pada saat itu. Para penuduh Caesar menggunakan dasar tulisan dari beberapa penulis klasik yaitu Life Of Caesar oleh Plutarch yang ditulis pada abad 1 M, Attic Nights oleh Aulus Gellius  (Abad 2 M), dan beberapa sejarawan lain yang menyebutkan bahwa pasukan Caesar tidak sengaja membakar perpustakaan tersebut, namun kemungkinan besar para sejarawan ini keliru atas arti kata Yunani dari Bibliothekas yang berarti kumpulan buku dan Bibliotheka yang artinya Perpustakaan, sehingga mereka berpikir pembakaran buku-buku yang disimpan didekat pelabuhan Alexandria adalah pembakaran Perpustakaan Alexandria.

Kedua adalah penyerangan yang dilakukan bangsa Aurelian pada abad 3 SM.

Selain kejadian-kejadian diatas, beberapa pendapat yang masih merupakan dugaan menyebutkan bahwa kaum Kristen juga turut bertanggung-jawab kehancuran perpustakaan ini. Pendapat ini muncul karena ada kejadian pada tahun 272 M dan 391 M dimana terjadi huru-hara di kota Alexandria saat terjadi bentrok antara penganut pagan dan penganut Kristen dimana orang Kristen berusaha menghapus paganisme dari Alexandria yang menyebabkan terjadinya penghancuran Perpustakaan Serapeum itu. Dugaan ini didasari oleh catatan sejarah dimana Paus Theophilus dari Alexandria memerintahkan dihancurkannya kuil-kuil pagan termasuk Serapeaum karena perpustakaan itu merupakan perpustakaan kuil. Namun perlu diketahui, Serapeaum disebut perpustakaan kuil karena dibangun berdekatan dengan kuil namun bukan dibangunan yang sama, sehingga para sejarawan modern menolak pendapat ini karena berkeyakinan pembakaran kuil tidak mempengaruhi perpustakaan disebelahnya, karena perpustakaan Serapeaum selain menyimpan berbagai buku pagan, perpustakaan ini juga menyimpan berbagai buku sains, filsafat Yahudi dan Kristen, dan juga sejarah yang menguatkan kisah-kisah sejarah yang tercatat di Alkitab. Hingga abad ke 6 M, masih ditemukan catatan-catatan sejarah sebagai referensi yang menguatkan bahwa perpustakaan serapeaum masih ada, termasuk juga catatan dari filsuf Alexandria abad ke 5 M, Ammonius, dalam buku-bukunya, yang mengambil beberapa rujukan dari beberapa buku di Perpustakaan Serapeaum termasuk dari dua salinan The Categories yang dikarang oleh Aristoteles.

Pendapat lainnya yang juga masih merupakan dugaan adalah tindakan Khalifah Umar Bin Khattab, saat invasi ke Alexandria dibawah komando Amr Ibn Al Aas yang merebut Alexandria pada tahun 640 M, sehingga diduga menyebabkan musnahnya Perpustakaan Alexandria. Amr Ibn Al Aas  melaporkan pada Umar Bin Khattab tentang Perpustakaan Alexandria tersebut, dan menunggu perintah selanjutnya. Sembari menunggu perintah Umar Bin Khattab, Amr Ibn Al Aas mengijinkan beberapa cendekiawan untuk mengunjungi perpustakaan tersebut. Adapun termasuk dalam para cendekiawan itu adalah Philoponus murid Ammonius dan Philaretes murid Philoponus (penulis buku medis tentang detak jantung). Saat surat dari Umar Bin Khattab tiba maka, seperti dikutip, demikianlah jawabannya, “Jika apa yang ditulis sesuai dengan Kitab Tuhan, buku-buku itu tidak diperlukan. Jika tidak sesuai, buku-buku tersebut tidak diinginkan. Hancurkan.” Pendapat ini didukung oleh buku-buku karangan para penulis muslim sendiri. Al Qifti dalam bukunya, History Of Wise menuliskan bahwa pembakaran buku-buku itu berlangsung dalam enam bulan, sedangkan buku-buku yang terselamatkan hanyalah buku-buku Aristoteles, Euclid (pakar matematika), dan Ptolemy. Para sejarawan muslim lainnya pun setuju dengan pendapat ini. Mereka adalah Al Makrizi dalam bukunya Sermons adan Lessons in the Mention of Plans and Lessons in the Mention of Plans and Monument, Ibn Al Nadim dalam bukunya The Index, dan juga dalam buku History Of Islamic Urbanization karya Georgy Zeidan.

Namun, dua tindakan tersebut (oleh pengikut Kristen dan oleh Umar Bin Khattab) merupakan dugaan yang terus diperdebatkan, meskipun latar belakang sejarahnya berasal dari sejarah yang sebenarnya.




PERPUSTAKAAN ALEXANDRIA MODERN

(Perpustakaan Alexandria Modern, tampak dari samping)

Karena reputasinya yang luar biasa dimasa lalu, pemerintah Mesir lalu membangun kembali Perpustakaan Alexandria. Pembangunan memakan biaya USD. 230 juta. Dananya diperoleh secara patungan dari beberapa negara Arab dan Eropa.

(Ruang baca di Perpustakaan Alexandria Modern)

Perpustakaan Alexandria yang baru, dibangun didekat lokasi perpustakaan lama di kota Alexandria. Perpustakaan besar ini mampu menampung 8 juta buku. Bangunannya menyerupai silinder, dengan banyak jendela. Salah satu dindingnya dihiasi potongan batu granit bertuliskan simbol huruf seluruh dunia sehingga jika malam tiba menimbulkan efek dramatis dari permukaan air yang memantulkan cahaya lampu jalan berwarna keemasan. Konon, bangunan yang dirancang oleh biro arsitek asal Norwegia Snohetta tersebut menyerupai aslinya.


(Perpustakaan Alexandria Modern, ruangan bagian dalam)

Perpustakaan Alexandria modern memiliki banyak koleksi berharga, diantaranya 5.000 koleksi penting berupa manuskrip klasik tentang aneka pengetahuan dari abad 10 M- 18 M, juga ada catatan penting Napoleon yang berjudul Description de’Egypt, yang menceritakan peristiwa penyerbuan Prancis ke kota Alexandria. Koleksi penting lainnya adalah manuskrip keagamaan termasuk salinan langka Al-Quran.




------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ARTIKEL INI DISUSUN DAN DITERBITKAN PERTAMA KALI
OLEH DELEIGEVEN MEDIA

SETIAP ARTIKEL YANG MEMILIKI ISI, SUSUNAN, DAN GAYA PENULISAN
YANG MIRIP DENGAN ARTIKEL INI MAKA ARTIKEL-ARTIKEL TERSEBUT
MENYADUR ARTIKEL INI.

DILARANG KERAS MEMPLAGIAT ARTIKEL INI!

CANTUMKAN LINK LENGKAP ARTIKEL INI DISETIAP KALIMAT YANG ANDA DISADUR DARI ARTIKEL INI. SESUAI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA, JIKA MENYADUR/MENG-COPY MINIMAL SEPULUH KATA TANPA MENCANTUMKAN SUMBER DARI KALIMAT ITU (BERBEDA DARI PENCANTUMAN SUMBER DI CATATAN KAKI (FOOTNOTE) MAKA ITU ADALAH TINDAKAN PLAGIARISME.

JIKA ANDA MENYADUR SEBAGIAN BESAR ARTIKEL INI MAKA ANDA HARUS MENCANTUMKAN KALIMAT:
"ARTIKEL INI DISADUR DARI....(LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA",
ATAU:"SUMBER UTAMA DARI SEBAGIAN BESAR INFORMASI ARTIKEL INI DIAMBIL DARI (LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA"  
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Notes (Catatan):

*We strongly recommend all readers to read all the comments below for the other details which not mentioned by this article
(Sangat disarankan bagi para pembaca untnk melihat komentar-komentar artikel ini sebab beberapa komentar membahas rincian informasi yang tidak ditulis dalam artikel ini)

*Get various information about history in ENGLISH by open or follow our Instagram account: @deleigevenhistory(Dapatkan berbagai informasi sejarah dalam bahasa Inggris di akun instagram kami @deleigevenhistory)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Copyrights Story: Deleigeven Media
Copyrights Picture: Gramedia Pustaka, godreads.com, trabalibros.com, artikelpustakawan.wordpress.com, hivietnam.net

Penyusun:
Penulis : Deleigeven
Editor : Juliet
Desain : Deleigeven
Penerbit: Deleigeven Media

Daftar Pustaka:
Dunia Perpustakaan
Warta, Volume XVIII No. 4, 2013, Perpustakaan Nasional RI
The Alexandria Link, Steve Berry, 2011

Sumber website:
www.wikipedia.com/perpustakaanalexandria
www.artikelpustakawan.wordpress.com

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------