DELEIGEVEN HISTORICULTURAM

HISTORY IS ONE OF THE BEST INFORMATION FOR OUR CURRENT & FUTURE

Translate

Showing posts with label Information. Show all posts
Showing posts with label Information. Show all posts

Sunday, 22 June 2014

Serba-serbi orang Indonesia


Salam para blogger....

Pada tulisan saya kali ini, saya ingin membagikan informasi mengenai serba-serbi orang Indonesia yang saya kumpulkan dari pengamatan saya dan pengalaman yang pernah saya alami, juga beberapa informasi lisan dari beberapa sahabat. Mungkin beberapa dari tulisan ini sudah banyak diketahui umum, namun jika ada yang belum diketahui maka saya sangat senang karena menjadi orang pertama yang meng-infokannya pada anda.

Inilah beberapa kebiasaan orang Indonesia:


1. Indonesia adalah negara heterogen sebab Indonesia memiliki banyak suku dan etnis. Sama seperti orang-orang di negara lain, orang-orang Indonesia suka membanggakan suku-nya.

2. Orang Indonesia paling suka tersenyum. Rata-rata orang Indonesia mengawali percakapan dengan senyuman.

3. Nuansa patrilineal di Indonesia masih sangat kental, oleh karena itu rata-rata orang Indonesia sangat bangga jika memiliki anak laki-laki.

4. Tidak semua orang Indonesia mampu berbicara dengan bahasa Indonesia yang baku, oleh karena itu ada baiknya jika kita sedikit mengetahui tentang bahasa daerah atau dialek daerah di tempat yang ingin dituju.

5. Dialek Jakarta (diambil dari dialek betawi) merupakan bahasa gaul (keren) di Indonesia, banyak anak muda di luar Jakarta yang bangga jika bisa fasih berbicara dengan dialek Jakarta, namun orang-orang dewasa diluar Jakarta tidak suka dengan dialek Jakarta. Alasannya, dialek Jakarta terlalu dominan di televisi dan dianggap tidak mendidik karena tidak menghormati dialek daerah lain. Oleh karena itu, orang-orang dewasa di luar Jakarta lebih suka mendengar bahasa Indonesia yang baku di televisi.

6. Saat hendak permisi, orang Indonesia harus membungkukkan badan, dan jika terpaksa harus melewati orang lain, maka orang Indonesia biasanya berkata: “Permisi”, sambil membungkukkan badan dan menjulurkan tangan kanan lebih kebawah (arahnya sejajar dengan kaki kanan).

7. Sangat tabu bagi orang Indonesia untuk menerima atau memberikan sesuatu kepada orang lain dengan menggunakan tangan kiri, dan ini berlaku juga untuk orang yang kidal. Jika terpaksa memberi atau menerima barang dengan menggunakan tangan kiri, maka orang Indonesia pasti akan mengatakan maaf karena jika tidak maka mereka akan dianggap sangat tidak sopan.

8. Masyarakat Indonesia sangat terbuka dengan budaya asing. Sisi positifnya, transfer budaya positif dan modernisasi menjadi lebih cepat. Namun sisi negatifnya adalah orang Indonesia suka mentransfer budaya asing tanpa menggunakan filter sehingga kaum muda Indonesia lebih mudah terpangaruh budaya asing.

9. Karena sangat terbuka pada budaya asing, maka orang-orang Indonesia sangat terobsesi pada perkembangan teknologi. Sebagian besar orang Indonesia yang memiliki handphone pasti selalu berusaha membeli handphone model terbaru, atau mengganti handphone ke tipe yang lebih baru.

10. Walaupun Indonesia adalah negara Republik, namun pengaruh feodal masih sangat kuat. Banyak orang Indonesia yang tetap membanggakan garis keturunan bangsawan-nya.

11. Jika di Korea Selatan dan China, perasaan anti Jepang (mantan penjajah mereka) masih sangat kuat, maka di Indonesia situasinya sangat berbeda. Masyarakat Indonesia jauh lebih anti Amerika (khususnya pemeluk Islam) atau anti Arab (khususnya masyarakat non-Muslim) ketimbang anti-Belanda (mantan penjajah terlama di Indonesia). Bahkan banyak masyarakat yang bangga jika memiliki hubungan dengan Belanda khususnya hubungan genetik. 

12. Asal suku orang Indonesia dapat dengan mudah diketahui berdasarkan nama mereka, lebih mudah lagi jika mereka memiliki marga. Hal ini dikarenakan setiap marga mencerminkan asal mereka, bahkan marga juga dapat mencerminkan dari kota mana mereka berasal. Selain marga, nama-nama yang digunakan juga dapat menginformasikan darimana mereka berasal. Jika mereka menggunakan nama-nama dari bahasa sansekerta dengan rata-rata huruf vokal ‘O’ untuk lak-laki dan huruf vokal ‘i’ untuk perempuan maka biasanya mereka berasal dari suku Jawa (contoh, Sutrisno untuk laki-laki, dan Kartini untuk perempuan), sedangkan jika mereka memakai nama-nama sansekerta namun tidak mengganti huruf vokal ‘a’ dengan ‘o’ maka biasanya mereka berasal dari suku Sunda (contoh: Cakra, Karna, Anang, dll). Jika mereka memakai nama-nama Arab namun bernuansa Persia maka biasanya mereka adalah orang-orang Melayu Sumatra. Jika mereka memakai nama-nama Kristen dengan pengaruh Belanda maka biasanya mereka dari suku Manado atau Ambon Kristen. Jika mereka memakai nama-nama Latin dengan pengaruh Portugis maka biasanya mereka berasal dari pulau Nusa Tenggara.

13. Sex Education masih tergolong tabu bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.

14. Masyarakat Indonesia masih banyak yang percaya pada takhyul, bahkan hal ini juga belaku pada sebagian besar kaum rohaniwan dari semua unsur agama walaupun beberapa agama menganggap tabu untuk percaya pada takhyul. 

15. Untuk beberapa dekade, komunis merupakan paham yang tabu. Lebih tabu dari paham Atheis. Namun sekarang, sudah banyak orang yang mulai berani membicarakan nilai-nilai positif dari paham komunis yang mungkin bisa diterima.

16. Sekolah-sekolah berdasarkan agama sangat populer di Indonesia, dan yang paling populer adalah sekolah berdasarkan paham agama Kristen Katholik, yang kedua adalah berdasarkan paham agama Kristen Protestan, dan yang ketiga adalah berdasarkan paham agama Islam.

17. Lebih mudah menemukan penganut agama Islam di sekolah Kristen dibandingkan penganut agama Kristen di sekolah Islam, hal ini dikarenakan selama bertahun-tahun bahkan sejak era kolonial, sekolah-sekolah Kristen memiliki reputasi yang lebih baik.

18. Bagi beberapa suku di Indonesia, menikah diusia muda (dibawah 20 tahun) merupakan suatu kebanggaan, namun orang-orang didaerah perkotaan masih menganggap pernikahan adalah hal yang sensitif sehingga mereka akan sangat berhati-hati saat memutuskan ingin menikah.

19. Beberapa suku di Indonesia memiliki tradisi mewajibkan sukunya untuk mengambil pasangan dari satu suku dan tidak mengambil pasangan dari suku lain (seperti suku Batak di Sumatra Utara), beberapa etnis juga memiliki tradisi yang sama, yaitu etnis China dan etnis Arab. Namun tidak semua orang mengikuti tradisi ini, semakin banyak orang yang memiliki pandangan yang modern tentang pernikahan sehingga sudah mulai banyak orang yang menikah tanpa mengikuti tradisi yang ada.

20. Pernikahan beda agama masih merupakan hal yang jarang ditemui di Indonesia.

21. Memberikan mas kawin dan hantaran dalam prosesi pernikahan masih berlaku dan merupakan hal yang wajib.

22. Sebagian besar orang Indonesia memiliki kebiasaan mencium pipi kiri dan kanan saat bertemu. Orang yang lebih tua dapat mencium kepala orang yang lebih muda, tapi hal ini tidak boleh dilakukan oleh orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua. Beberapa suku mewajibkan orang yang lebih muda mencium tangan orang yang lebih tua, dan hal ini sudah mulai dilakukan oleh sebagian besar suku-suku di Indonesia.

23. Orang-orang dari suku Jawa dan suku Sunda, biasanya menyukai makanan yang manis-manis. Sedangkan suku Manado dan Padang biasanya menyukai makanan yang pedas.

24. Bahasa Indonesia menyerap banyak sekali bahasa asing terutama dari Arab, Belanda, Portugis, dan Inggris, oleh karena itu jika mendengar orang Indonesia berbicara maka akan terdengar seperti menggunakan banyak bahasa, padahal sebenarnya karena penggunaan kata-kata serapan. Contohnya, Bahasa Inggris: communication = komunikasi, distribution = distribusi; Bahasa Belanda: Passer = Pasar, Spoor=Sepur (kereta api); Bahasa Portugis: Dominggo = Minggu (hari minggu), Igreja = Gereja; Bahasa Arab: Haram, Halal, Silahturahim; Bahasa Sansekerta dari India: Mardika = Merdeka, Raj = Raja, Deva = Dewa, Devi = Dewi. 

25. Sebagian besar masyarakat Indonesia merasa bangga jika memiliki kulit yang putih dan berambut lurus.

26. Tidak banyak orang Indonesia yang mengetahui asal-mula nama negara Indonesia.

27. Sebagian besar orang Indonesia harus makan nasi setiap harinya. Orang Indonesia beranggapan bahwa ‘jika belum makan nasi berarti belum makan’.

28. Orang Indonesia sangat mudah terpancing pada sentimen yang berbau agama.

29. Kebanyakan orang Indonesia, terutama orang di Indonesia Timur, tetap menggunakan tata cara makan gaya Belanda sebagai tata cara makan modern.

30. Walaupun banyak negara seperti Korea, Cina, Jepang, dan negara-negara barat menganggap makan dengan tangan adalah tidak sopan namun orang Indonesia tetap mengakui bahwa makan dengan tangan termasuk dalam tata cara makan tradisional. Tapi jangan pernah berpikir bahwa makan dengan tangan di Indonesia lepas dari tata krama, karena makan dengan tangan memiliki tata krama sendiri. Jika kita makan sambil duduk di lantai, kita tidak boleh makan sambil mengangkat sebelah kaki karena kita wajib duduk menyilangkan kaki (bagi laki-laki) atau melipat kaki ke-belakang (bagi wanita, walaupun sekarang wanita diijinkan menyilangkan kaki dengan sopan). 

31. Bagi sebagian orang Indonesia, sangat tidak sopan jika makan dengan mengeluarkan suara (saat mengunyah). Kita pun tidak boleh mengeluarkan suara saat menyeruput makanan berkuah dan mi. Bagi suku Jawa dan orang-orang Indonesia Timur khususnya masyarakat Ambon dan Papua, makan dengan membunyikan piring dianggap sangat tidak sopan, dan hal ini juga berlaku bagi suku-suku lain.

32. Masih banyak anak-anak muda di daerah Indonesia timur yang sangat menggemari lagu-lagu lama era 50-an bahkan era sebelumnya.

33. Walaupun warna mata sebagian besar orang Indonesia adalah hitam, ada beberapa suku yang sebagian besar orang-orangnya memiliki mata berwarna cokelat yaitu suku Manado di Sulawesi, suku Minang di Sumatra, dan beberapa sub-suku Dayak di Kalimantan. Orang Indonesia yang bermata biru atau hijau menandakan dia adalah keturunan orang asing. 

34. Berdasarkan catatan sejarah kuno dari China, pada masa sebelum masehi orang asia tenggara termasuk Indonesia memiliki kulit cokelat gelap kemerahan (hampir sama dengan orang India). Hal ini diketahui berdasarkan lukisan gambar para utusan kerajaan-kerajaan yang menghadap kaisar China. Kulit penduduk asia tenggara menjadi kuning langsat seperti sekarang ini dikarenakan oleh perkawinan campuran dengan pendatang dari kawasan Asia Timur terutama dari China.

35.Jangan coba-coba menggunakan dialek Jakarta di Papua. Orang-orang Papua sangat kesal mendengarkan orang-orang berbicara dengan dialek Jakarta, namun hal yang sebaliknya berlaku di Sulawesi Utara. Orang-orang Sulawesi Utara sangat segan pada orang yang bisa berbicara dengan logat Jakarta.

36. Orang-orang Indonesia tidak menyukai orang Malaysia dan produk-produk Malaysia karena pertikaian di masa lalu.

37. Suku Sunda dan Suku Jawa tidak begitu saling cocok terutama tentang pasangan hidup. Hal ini karena pengaruh sejarah, yaitu akibat pertikaian Kerajaan Majapahit (Jawa) dan Kerajaan Pajajaran (Sunda) yang menyebabkan tewasnya raja Sunda oleh tentara Majapahit.

38. Entah kenapa, suku Minahasa, Batak, Toraja, dan Ambon tidak begitu saling cocok terutama tentang pernikahan.

39. Akibat dari kebijakan pemerintahan orde baru yang otoriter yang dipimpin oleh orang jawa, juga ketidaksukaan masyarakat dari luar pulau Jawa terhadap transmigran asal Jawa, sempat terjadi perasaan anti-jawa di masyarakat luar pulau jawa. Sayangnya perasaan itu masih ada pada beberapa orang di luar pulau jawa.

40. Orang Jepang, orang Korea Selatan, dan orang Filipina lebih memiliki kesan yang baik dimata orang Indonesia ketimbang orang Malaysia, Hongkong, Taiwan, India, Arab, dan China. Orang Eropa Barat dan Australia lebih memiliki kesan yang baik dimata orang Indonesia dibandingkan dengan orang Amerika dan orang Rusia.

41. Jika anda pergi ke pedalaman Papua, maka anda harus membayar jika ingin berfoto dengan penduduk asli disana.

42. Jangan mengituk pintu rumah orang Indonesia (terutama di daerah Jawa, Ambon, Papua, dan Sulewesi Utara & Tengah) dengan keras, karena bagi orang Indonesia hal itu sangat tidak sopan.

42. Bagi orang Jawa dan Sunda, berjabat tangan dengan lembut (tanpa menggenggam tangan orang lain terlalu kuat) adalah bentuk kesopanan, namun bagi orang Papua, Ambon, Jakarta, dan Sulawesi, itu seakan-akan menandakan bahwa anda tidak menghormati/memandang rendah mereka.

43. Kebiasaan dan tata krama makan dengan tangan merupakan kebiasaan yang diadopsi dari India pada jaman dahulu kala (termasuk penggunaan air pencuci tangan di mangkok).


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ARTIKEL INI DISUSUN DAN DITERBITKAN PERTAMA KALI
OLEH DELEIGEVEN MEDIA

SETIAP ARTIKEL YANG MEMILIKI ISI, SUSUNAN, DAN GAYA PENULISAN
YANG MIRIP DENGAN ARTIKEL INI MAKA ARTIKEL-ARTIKEL TERSEBUT
MENYADUR ARTIKEL INI.

DILARANG KERAS MEMPLAGIAT ARTIKEL INI!

CANTUMKAN LINK LENGKAP ARTIKEL INI DISETIAP KALIMAT YANG ANDA DISADUR DARI ARTIKEL INI. SESUAI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA, JIKA MENYADUR/MENG-COPY MINIMAL SEPULUH KATA TANPA MENCANTUMKAN SUMBER DARI KALIMAT ITU (BERBEDA DARI PENCANTUMAN SUMBER DI CATATAN KAKI (FOOTNOTE) MAKA ITU ADALAH TINDAKAN PLAGIARISME.

JIKA ANDA MENYADUR SEBAGIAN BESAR ARTIKEL INI MAKA ANDA HARUS MENCANTUMKAN KALIMAT:
"ARTIKEL INI DISADUR DARI....(LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA",
ATAU:"SUMBER UTAMA DARI SEBAGIAN BESAR INFORMASI ARTIKEL INI DIAMBIL DARI (LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA"  
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Notes (Catatan):

*We strongly recommend all readers to read all the comments below for the other details which not mentioned by this article
(Sangat disarankan bagi para pembaca untnk melihat komentar-komentar artikel ini sebab beberapa komentar membahas rincian informasi yang tidak ditulis dalam artikel ini)

*Get various information about history in ENGLISH by open or follow our Instagram account: @deleigevenhistory(Dapatkan berbagai informasi sejarah dalam bahasa Inggris di akun instagram kami @deleigevenhistory)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Copyrights Story: Deleigeven Media
Copyrights Picture: wikipedia.org, www.executedtoday.com, Journal Art of Joseon SBS, MBC, KBS

Penyusun:
Penulis : Deleigeven
Editor : Juliet
Desain : Deleigeven
Penerbit: Deleigeven Media


Wednesday, 23 April 2014

MANFAAT SEHAT MEMBACA BUKU



Kita semua tahu bahwa membaca buku dapat membuat pembacanya memiliki wawasan yang luas, namun tidak semua dari kita yang mengetahui bahwa membaca buku juga bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental kita. Apa sajakah itu?

1.    Membuat Rileks
Jika anda sedang stres, cobalah untuk mengambil sebuah buku novel, atau bacaan ringan lainnya seperti bacaan bergambar (komik). Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2009 di Mindlab International, University of Sussex, menunjukkan bahwa membaca adalah cara yang paling efektif untuk mengatasi stres, bahkan mengalahkan akfitas seperti mendengarkan musik, menikmati secangkir teh atau kopi, dan berjalan-jalan. “Tidak peduli buku apa yang anda baca, jika anda asyik membaca maka anda akan dapat menghilangkan kekhawatiran dan tekanan dari luar.”

2.    Membantu Tidur Lebih Baik
Banyak ahli merekomendasikan untuk melakukan beberapa aktifitas sebelum tidur agar membantu menenangkan pikiran dan memberi isyarat tubuh anda untuk menutup mata. Nah, membaca dapat menjadi salah satu cara yang baik. Inilah sebabnya lebih dianjurkan untuk menyediakan sebuah buku di sebelah tempat tidur daripada meletakkan laptop atau gadget.

3.    Mencegah Penyakit Alzheimer
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Proceeding of National Academy of Sciences pada tahun 2001, orang dewasa yang hobi melakukan aktifitas terkait otak seperti membaca atau bermain teka-teki, cenderung jarang terkena penyakit Alzheimer

4.    Meringankan Depresi
Sebuah studi yang diterbitkan awal tahun ini dalam jurnal PloS ONE menunjukkan bahwa membaca buku yang dikombinasikan dengan sesi dukungan tentang bagaimana menggunakannya yang dilakukan selama satu tahun sangat berhubungan dengan penurunan tingkat depresi jika dibandingkan dengan pasien yang hanya menerima perawatan biasa.

“Kami menemukan bahwa membca buku memiliki dampak klinis yang signifikan dan temuan ini sangat menggembirakan.” Kata penulis studi, Christopher Williams, dari Uiversity of Glasgow.

5.    Menjaga Agar Otak Tetap Tajam
Penelitian yang diterbitkan di jurnal Neurology menunjukkan bahwa rajin membaca buku dapat membantu menjaga otak Anda tetap tajam bahkan meskipun usia anda telah menua. Penelitian tersebut menemukan bahwa mereka yang terlibat dalam kegiatan perangsang mental seperti membaca di kemudian hari dalam hidupnya mengalami penurunan daya ingat lebih lambat dibanding dengan mereka yang tidak.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa melatih otak sangat penting bagi kesehatan otak di usia tua. Berdasarkan hal ini kita tidak boleh meremehkan efek dari kegiatan sehari-hari, seperti membaca dan menulis.” Kata penulis studi, Robert S.Wilson. Phd, dari Rush University Medical Center, Chicago.

6.    Membantu Dalam Pembentukan Karakter
Pembentukan karakter sejak usia dini dapat diperoleh dengan pembelajaran-pembelajaran, salah satunya adalah dengan kebiasaan membaca. Melalui bacaan yang baik tentu membuat karakter anak-anak dapat tumbuh dengan baik karena buku membuat mereka memiliki cukup ruang untuk mengekspresikan diri dengan leluasa.

7.    Membuat Lebih Berempati
Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PloS ONE, ‘tenggelam’ dalam karya fiksi dapat meningkat empati Anda.  Para peneliti di Belanda mengungkapkan bahwa orang-orang yang secara emosional terbawa oleh karya fiksi, tanpa ia sadari, akan mengalami peningkatan dalam rasa empati dalam dirinya.

8.    Mempermudah Membaca Pikiran Dan Perasaan Orang Lain
Sebuah studi yang dirilis pada bulan oktober 2013 menunjukkan bahwa menikmati bacaan sastra dapat membantu memperkuat kemampuan anda untuk membaca pikiran orang lain, karena dapat memupuk keterampilan yang dikenal dengan teori pikiran, yaitu kemampuan untuk membaca pikiran dan perasaan orang lain. Hal ini disebabkan buku mampu memaparkan beragam karakter, dan melalui buku kita dapat memperoleh informasi tentang karakter-karakter orang lain bahkan karakter-karakter orang yang belum pernah kita jumpai. Hal ini membuat kita lebih siap saat berhadapan dengan karakter-karakter tersebut meskipun untuk pertama kalinya, karena kita mampu menganalisa apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan oleh orang tersebut, sehingga kita bahkan dapat membuat suatu perkiraan tentang apa saja yang mungkin telah dan akan dilakukannya.

Selain itu manfaat-manfaat tersebut, buku berperan penting dalam dalam proses penyaluran budaya dan peradaban dari generasi di masa lampau ke generasi saat ini dan kepada generasi di masa mendatang.

Di beberapa negara, aktifitas membaca dan mendalami berbagai disiplin ilmu menjadi bagian dari pengembangan budaya nasional (kearifan  lokal). Negara-negara Eropa khususnya Eropa Barat menerapkan hal ini untuk mempertahankan budaya lokal mereka yang rentan akan modernisasi dan invasi budaya dari negara lain. Rutinitas membaca menjadi salah satu cara mengenalkan generasi muda dengan budaya mereka sendiri. Menggalakkan budaya membaca merupakan prioritas suatu bangsa untuk mencapai kemajuan. Negara-negara kawasan Asia yang sukses menerapkan hal ini adalah Jepang, Cina, dan Korea Selatan. Karya sastra klasik Cina dan Jepang tetap digemari oleh masyarakatnya dan menjadi ciri khas bangsa mereka yang juga sangat digemari masyarakat mancanegara. Jepang juga sukses menginvasi negara lain melalui buku-buku bergambar mereka, dimana sebagian besar buku-buku menggambarkan kebudayaan Jepang, baik kebudayaan kuno mereka atau kebiasaan sehari-hari masyarakat Jepang dimasa sekarang. Mereka percaya bahwa setiap pembangunan di tengah masyarakat harus didasari oleh unsur-unsur budaya nasional.  Korea Selatan bahkan sukses menginvasi negara lain melalui budaya mereka, yang diarsipkan dengan rapi oleh mereka melalui catatan-catatan sejarah kuno dan modern, dan juga buku-buku yang menggambarkan tentang kesuksesan ekonomi, teknologi, dan industri kreatif negara mereka yang selalu laris dipasaran. Cara ini terbilang manjur untuk mendongkrak antusias masyarakat untuk membaca. Melalui ragam jenis buku yang digalakkan oleh pemerintah Korea Selatan, masyarakat negara itu tidak meninggalkan budaya membaca mereka, bahkan mereka berhasil mengajak orang-orang dari negara lain untuk memahami budaya modern dan klasik dari negara mereka melalui buku.

Keadaan di Indonesia sangat berbeda negara-negara tersebut. Pada tahun 2012, UNESCO mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya setiap 1.000 orang hanya ada satu orang yang mempunyai minat membaca. Hal ini menjadi sebab sekaligus akibat dari tingkat melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen (berdasarkan data rilis dari UNDP), sementara Malaysia sudah mencapai 86,4 persen. Menurut Woro Titi Haryati (Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas), masih kecilnya minat baca anak-anak Indonesia dibandingkan negara lain di ASEAN bukan pada keinginan membaca, melainkan pada kondisi perpustakaan yang belum memadai.

Selain itu tingginya harga buku berbanding rata-rata penghasilan masyarakat membuat daya beli masyarakat terhadap buku juga masih sangat rendah.

Berdasarkan fakta tersebut, sudah seharusnya diadakan upaya bersama untuk meningkatkan minat membaca agar masyarakat dapat meyerap nilai-nilai positif dari buku. Jika nilai-nilai positi dibiarkan memudar di tengah tatanan masyarakat maka tidak diragukan lagi warisan pemikiran dan budaya mereka tidak akan terwariskan ke generasi yang akan datang.



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ARTIKEL INI DISADUR DARI:
"MANFAAT SEHAT MEMBACA BUKU, WARTA VOLUME XVIII NO.4, PERPUSTAKAAN NASIONAL RI, 2013"
YANG DITERBITKAN KEMBALI
OLEH DELEIGEVEN MEDIA

SETIAP ARTIKEL YANG MEMILIKI ISI, SUSUNAN, DAN GAYA PENULISAN
YANG MIRIP DENGAN ARTIKEL INI MAKA ARTIKEL-ARTIKEL TERSEBUT
MENYADUR ARTIKEL INI.

DILARANG KERAS MEMPLAGIAT ARTIKEL INI!

CANTUMKAN LINK LENGKAP ARTIKEL INI DISETIAP KALIMAT YANG ANDA DISADUR DARI ARTIKEL INI. SESUAI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA, JIKA MENYADUR/MENG-COPY MINIMAL SEPULUH KATA TANPA MENCANTUMKAN SUMBER DARI KALIMAT ITU (BERBEDA DARI PENCANTUMAN SUMBER DI CATATAN KAKI (FOOTNOTE) MAKA ITU ADALAH TINDAKAN PLAGIARISME.

JIKA ANDA MENYADUR SEBAGIAN BESAR ARTIKEL INI MAKA ANDA HARUS MENCANTUMKAN KALIMAT:
"ARTIKEL INI DISADUR DARI: "MANFAAT SEHAT MEMBACA BUKU, WARTA VOLUME XVIII NO.4, PERPUSTAKAAN NASIONAL RI, 2013"
YANG DITERBITKAN KEMBALI OLEH DELEIGEVEN MEDIA,
ATAU:"SUMBER UTAMA DARI SEBAGIAN BESAR INFORMASI ARTIKEL INI DIAMBIL DARI: "MANFAAT SEHAT MEMBACA BUKU, WARTA VOLUME XVIII NO.4, PERPUSTAKAAN NASIONAL RI, 2013"
YANG DITERBITKAN KEMBALI OLEH DELEIGEVEN MEDIA"  
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Notes (Catatan):

*We strongly recommend all readers to read all the comments below for the other details which not mentioned by this article
(Sangat disarankan bagi para pembaca untnk melihat komentar-komentar artikel ini sebab beberapa komentar membahas rincian informasi yang tidak ditulis dalam artikel ini)

*Get various information about history in ENGLISH by open or follow our Instagram account: @deleigevenhistory(Dapatkan berbagai informasi sejarah dalam bahasa Inggris di akun instagram kami @deleigevenhistory)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Copyrights Story: Deleigeven Media
Copyrights Picture: Gramedia Pustaka, godreads.com, trabalibros.com, artikelpustakawan.wordpress.com, hivietnam.net


Penyusun:
Penulis : Deleigeven
Editor : Juliet
Desain : Deleigeven
Penerbit: Deleigeven Media

Thursday, 3 October 2013

Problematika Sosial Papua

Pantai di daerah Samabusa, Nabire, Papua
(sumber foto: koleksi pribadi penulis)


Saya adalah seorang pendatang dari Sulawesi Utara yang lama menetap di Papua. Orang tua saya sudah berada di Papua jauh-jauh hari sebelum mereka menikah.

Saya sangat mencintai tanah ini, dengan semua kelebihan dan kekurangannya. Dibalik rasa syukur saya karena dibesarkan di Papua, saya harus akui masih banyak hal yang harus dibenahi di Papua, terutama SDM-nya dan pemanfaatan peluang usaha, hal lainnya adalah meningkatnya gelombang pendatang yang tidak memiliki skill yang datang ke Papua.

Walaupun saya sendiri adalah pendatang disana namun saya juga kurang setuju dengan cara para pendatang yang baru, yang kini membludak, dan dengan sengaja membuat masyarakat pribumi Papua semakin terpinggirkan. Berdasarkan pengamatan saya, ada perbedaan yang sangat besar antara pendatang lama dan pendatang baru. Para pendatang baru kurang memiliki tanggung jawab moral untuk membangun Papua karena sebagian besar dari mereka datang hanya karena alasan ekonomi. Hal ini membuat terjadinya semakin lebarnya jarak antara pendatang dan masyarakat asli Papua, juga terciptanya sentimen negatif terhadap para pendatang oleh masyarakat Papua. Padahal sumbangsih para pendatang di Papua sangat tinggi berkat digalakannya program transmigrasi pada masa lalu. Masyarakat Papua akhirnya mengenal budaya bercocok-tanam dan menetap, dan mulai meninggalkan kebiasaan nomaden dan berburu.

Masyarakat Papua sebenarnya terbuka dan sangat toleran. Mereka hanya menuntut para pendatang, yang datang untuk mencari hidup di Papua, harusnya berpikir, bersedia, dan serius untuk membangun Papua, serta mau ikut merasakan kekurangan-kekurangan masyarakat Papua dengan berbelas-kasih, membagi keuntungan bisnis mereka dengan masyarakat Papua yang kekurangan, serta memberi pengetahuan dan pendidikan yang benar, terutama pendidikan moral.

Bagi saya, tuntutan-tuntutan itu adalah tuntutan yang sederhana dan manusiawi, namun  kurang ditanggapi oleh banyak pihak. Ironisnya pada saat masyarakat Papua bereaksi negatif terhadap para pendatang maka pihak-pihak ini justru mengatakan bahwa masyarakat Papua-lah tidak manusiawi.

Terlepas dari hal-hal negatif dari membludaknya pendatang baru, masyarakat Papua-pun harus berbenah dengan memperbaiki SDM dan menciptakan keadaan yang aman dan nyaman untuk orang-orang yang ingin berinvestasi di Papua, karena hal ini membantu mengembangkan perekonomian Papua dan mencegah masyarakat pribumi Papua menjadi terpinggirkan jika memiliki SDM yang melebihi masyarakat pendatang. Masyarakat Papua juga harus menjauhi budaya pungutan liar dengan beralasan 'adat', padahal seharusnya peraturan adat asli Papua tidak demikian.

Banyak unsur yang harus ikut berperan dan bertanggung-jawab terhadap keadaan sosial di Papua, terutama unsur pemerintah (daerah dan pusat), komunitas-komunitas pendatang, dan unsur-unsur rohaniawan.

Semoga masalah ini dapat segera diatasi dengan bijak dan dimasa depan semua sentimen negatif serta kesenjangan antara masyarakat pendatang dan orang asli Papua dapat berkurang sehingga lama-kelamaan sentimen-sentimen negatif itu menghilang.


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

ARTIKEL INI DISUSUN DAN DITERBITKAN PERTAMA KALI
OLEH DELEIGEVEN MEDIA

SETIAP ARTIKEL YANG MEMILIKI ISI, SUSUNAN, DAN GAYA PENULISAN
YANG MIRIP DENGAN ARTIKEL INI MAKA ARTIKEL-ARTIKEL TERSEBUT
MENYADUR ARTIKEL INI.

DILARANG KERAS MEMPLAGIAT ARTIKEL INI!

CANTUMKAN LINK LENGKAP ARTIKEL INI DISETIAP KALIMAT YANG ANDA DISADUR DARI ARTIKEL INI. SESUAI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA, JIKA MENYADUR/MENG-COPY MINIMAL SEPULUH KATA TANPA MENCANTUMKAN SUMBER DARI KALIMAT ITU (BERBEDA DARI PENCANTUMAN SUMBER DI CATATAN KAKI (FOOTNOTE) MAKA ITU ADALAH TINDAKAN PLAGIARISME.

JIKA ANDA MENYADUR SEBAGIAN BESAR ARTIKEL INI MAKA ANDA HARUS MENCANTUMKAN KALIMAT:
"ARTIKEL INI DISADUR DARI....(LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA",
ATAU:"SUMBER UTAMA DARI SEBAGIAN BESAR INFORMASI ARTIKEL INI DIAMBIL DARI (LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA"  
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Notes (Catatan):

*We strongly recommend all readers to read all the comments below for the other details which not mentioned by this article
(Sangat disarankan bagi para pembaca untnk melihat komentar-komentar artikel ini sebab beberapa komentar membahas rincian informasi yang tidak ditulis dalam artikel ini)

*Get various information about history in ENGLISH by open or follow our Instagram account: @deleigevenhistory(Dapatkan berbagai informasi sejarah dalam bahasa Inggris di akun instagram kami @deleigevenhistory)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Copyrights Story: Deleigeven Media
Copyrights PictureDeleigeven Media

Penyusun:
Penulis : Deleigeven
Editor : Juliet
Desain : Deleigeven
Penerbit: Deleigeven Media

Sumber Penyusunan Artikel:
Observasi Langsung
Wawancara