DELEIGEVEN HISTORICULTURAM

HISTORY IS ONE OF THE BEST INFORMATION FOR OUR CURRENT & FUTURE

Translate

Saturday, 10 February 2018

HUBUNGAN JEPANG-KOREA DARI MASA KE MASA: RIWAYAT PERANG ANTARA JEPANG DAN KOREA



Hubungan Jepang dan Korea memiliki sejarah yang sangat panjang. Sejarah panjang kedua bangsa ini didominasi oleh berbagai perselisihan yang kerap menghasilkan perang. Perang-perang antara Jepang dan Korea selalu perang berskala besar yang menimbulkan kehancuran yang luar biasa. Pada masa kini, sengketa Pulau Dokdo seakan menegaskan kembali hubungan buruk kedua bangsa ini sejak masa lalu.

Berdasarkan letak geografi, Korea adalah daratan penghubung dan jalur terdekat antara kepulauan Jepang dan wilayah Tiongkok. Selain itu, Korea memiliki infrastruktur yang baik untuk memobilisasi sejumlah besar orang untuk menuju ke Tiongkok dengan menggunakan jalur darat. Inilah yang diincar oleh Jepang. Letak geografis Korea lalu menjadi salah-satu motivasi Jepang menyerbu daratan semenanjung ini dalam hampir semua penyerbuan-penyerbuannya. Namun, bukan berarti hanya Jepang saja yang pernah mengawali serbuannya, sebab balatentara Korea-pun pernah menyerbu Jepang.

Inilah riwayat peran-perang besar Jepang dan Korea sejak masa Tiga Kerajaan Korea hingga era Restorasi Meiji.




PENYERBUAN-PENYERBUAN JEPANG KE SILLA

Diantara semua kerajaan dan dinasti yang pernah berkuasa di Korea, hubungan terburuk Jepang adalah dengan Kerajaan Silla. Silla adalah kerajaan yang paling sering diserbu Jepang tapi Silla juga adalah kerajaan Korea yang mengakhiri serbuan Jepang yang sudah terjadi selama 600 tahun, dan membuat Jepang tidak pernah mampu menyerbu Korea selama hampir 1000 tahun.

Kerajaan Silla sebenarnya tidak pernah menyerbu Jepang, tapi Jepang melakukan banyak sekali penyerbuan ke wilayah selatan Korea ini. Uniknya, diantara Tiga Kerajaan Korea (Goguryeo, Silla, Baekje), Silla adalah kerajaan yang memiliki pertalian paling erat dengan Jepang, sebab salah-satu raja Silla (Raja Talhae) berasal dari Jepang. Menteri kepercayaan Raja Hyeokgeose (raja pertama Silla), yaitu menteri Hogong, juga berasal dari Jepang. Meski demikian, Silla justru merupakan satu-satunya kerajaan Korea yang anggota keluarga kerajaan-nya pernah menjadi tawanan Kekaisaran Jepang sebelum keruntuhan Joseon.

Serbuan pertama Jepang tercatat sudah terjadi sejak periode awal Tiga Kerajaan, yaitu tahun 14 M. Ketika itu, Jepang yang dipimpin oleh Kaisar Suinin berusaha menguasai Semenanjung Korea dengan menyerbu daratan semenanjung yang letaknya terdekat dengan Jepang yaitu wilayah Silla. Mungkin sang kaisar memiliki keinginan untuk menyerbu Tiongkok atau setidaknya menguasai jalur perdagangan ke Tiongkok yang terhalangi oleh wilayah Kerajaan Silla dan juga wilayah Konfederasi Gaya. Silla berhasil menghalau serbuan ini, tapi ini membuat hubungan Jepang dan Silla menjadi sangat buruk.

Hubungan Silla dan Jepang bisa diperbaiki berkat sikap bersahabat yang ditunjukan oleh Kaisarina Himiko. Persahabatan Silla dan Jepang terjalin erat selama masa pemerintahan Raja Adalla dan Kaisarina Himiko.

Tapi, hampir seabad setelah kematian dua penguasa yang bersahabat ini, hubungan Silla dan Jepang kembali memburuk ketika Silla diserbu Jepang pada masa pemerintahan Raja Jobun (raja Silla ke-11) padahal Raja Jobun (dari klan Seok) adalah keturunan Raja Talhae yang berasal dari Jepang.

Jepang kembali menyerbu Silla pada masa pengganti Raja Jobun, Raja Cheomhae. Awalnya, Silla tidak membalas dan juga tampaknya kedua kerajaan berhasil menghasilkan kesepakatan gencatan senjata. Tapi, ketika salah-satu pangeran Silla, yang juga adalah sahabat terdekat Raja Cheomhae, tewas dibunuh oleh mata-mata dari Jepang, Raja Cheomhae-pun murka dan memulai perang dengan Jepang.

Saat Baekje menyerang perbatasan Silla di-era pemerintahan Raja Yurye (raja Silla ke-14), Jepang memanfaatkan hal itu untuk kembali menyerbu Silla, dan perang dengan Jepang ini terus berlanjut hingga masa pemerintahan Raja Beolhyu (raja Silla ke-15, 298-310 M).

Raja Heulhae (raja Silla ke-16, 310-356), yang dikenal cinta damai, berusaha menunjukan ikhtiar baik demi memperbaiki hubungan kedua kerajaan melalui pernikahannya dengan salah satu putri bangsawan Jepang (313 M). Usaha Raja Heulhae membuahkan hasil dan berjalan dengan baik, tapi Jepang lalu membatalkan perjanjian damai dengan Silla (346 M) dan menyerbu Silla pada tahun berikutnya.

Sepeninggal Raja Heulhae (356 M), serbuan-serbuan Jepang ke Korea sempat surut. Silla diserbu Jepang pada tahun 364 M saat Raja Naemul (raja Silla ke-17, 356-402 M) berkuasa. Jepang saat itu dipimpin oleh Kaisar Nintoku. Tapi, hubungan buruk kedua negara juga berhasil diperbaiki pada masa pemerintahan Raja Naemul. Saat itu, Kaisar Jepang mengirim utusan ke Silla (391 M) sebagai tanda persahabatan. Sebagai gantinya, Raja Naemul mengirimkan putranya (Pangeran Misaheun) bersama dengan menteri istana Park Saram ke istana Jepang (391) sebagai utusan dan tanda persahabatan. Tapi, setibanya di Jepang, kaisar Jepang tidak menganggapnya sebagai seorang utusan melainkan sebagai tawanan yang menjadi jaminan bagi Jepang agar Silla tidak menyerang Jepang. Pangeran Misaheun tidak diijinkan untuk kembali ke Silla dan tinggal di Jepang selama 31 tahun. Saat itu, Pangeran Misaheun masih berusia 10 tahun.

Setelah Raja Naemul meninggal, penggantinya, Raja Silseong (raja Silla ke-18, 402-417) kembali mempererat perdamaian dengan Jepang. Hubungan ini terus terjalin baik di era Raja Nulji (raja Silla ke-19, 417-458) meskipun Raja Nulji secara rahasia membawa kembali adiknya, Pangeran Misaheun, ke Silla, sehingga sempat membuat Kaisar Jepang sangat marah.

Perdamaian Silla-Jepang yang diinisiasi oleh Raja Naemul ini terus bertahan walaupun Jepang menjalin aliansi dengan musuh terbesar Silla saat itu, yaitu Kerajaan Baekje. Namun, permusuhan Silla-Baekje juga sempat berakhir dengan menjalin perjanjian damai yang panjang sebab sejak era Raja Jabi (raja Silla ke-20) Silla menjalin aliansi dengan Baekje, yang bertahan lebih dari 200 tahun. Hubungan baik Silla-Baekje selama 200 tahun ini juga memperbaiki hubungan antara Jepang dengan Silla sebab pihak Jepang ditekan oleh Baekje untuk tidak mengganggu Silla.

Berkat Jepang, Silla mendapatkan banyak pasokan produk dari Asia Tenggara. Juga, berkat aliansinya dengan kerajaan Baekje, Jepang juga bisa lebih mudah mengimpor produk-produk dari negeri Tiongkok, dan juga dari India dan Timur Tengah (walaupun sedikit). Sangat lama kemudian barulah Jepang kembali menyerbu Silla pada tahun 663 M melalui pertempuran maritim besar yang dikenal dengan nama Perang Baekgang.




PEMBUNUHAN PANGERAN SEOK URO OLEH MATA-MATA JEPANG

Pangeran Seok Uro (juga dikenal dengan nama Jenderal Seok Uro) adalah putra Raja Naehae dan keponakan Raja Cheomhae. Meskipun statusnya dengan Raja Cheomhae adalah paman dan keponakan, namun besar kemungkinan usia mereka tidak berbeda jauh.

Pangeran Uro kehilangan hak waris-nya sebagai pewaris tahta Silla setelah ayahnya, Raja Naehae, menunjuk pamannya, Raja Jobun, sebagai pewaris tahta. Ayahnya meninggal saat Pangeran Uro masih kecil, sehingga saat itu pihak kerajaan harus menuruti rekomendasi dewan istana yang merekomendasikan Jobun sebagai pewarisnya. Saat itu, peran dewan istana sangat kuat dalam menentukan pewaris tahta, sama seperti saat kakek buyutnya (Raja Beolhyu) meninggal dan kakeknya, Pangeran Imae juga telah meninggal, dan Putra Mahkota Goljeong juga meninggal maka ayahnya lalu ditunjuk sebagai raja. Saat ayahnya meninggal, tahta dikembalikan pada pamannya, Jobun (putra mendiang Putra Mahkota Goljeong, saudara ayahnya) yang sebelumnya tidak tunjuk sebagai raja karena masih kecil. Ketika Raja Jobun meninggal, tahta lalu diberikan pada Raja Cheomhae yang dianggap lebih matang, bukannya pada Pangeran Uro.

Meski demikian, Pangeran Uro menjadi pendukung setia tahta Silla dan tidak pernah mencoba menggulingkan raja yang sah. Dia mengabdi pada Silla sebagai seorang jenderal dan memenangkan banyak pertempuran termasuk pertempuran-pertempuran melawan Jepang.

Silla dan Jepang akhirnya berhasil melakukan gencatan senjata, tapi periode ini adalah masa-masa terjadinya perang mata-mata yang makin lama kian memanas dan akhirnya memuncak ketika Pangeran Uro tewas dibunuh (250 M) oleh mata-mata Jepang. 

Kematian Pangeran Uro ini membuat Raja Cheomhae murka dan kembali berperang dengan Jepang.




RAJA NULJI DAN PARK JESANG

Setelah kekuasaan klan Park, pemerintahan Kerajaan Silla dilanjutkan oleh klan Kim yang berasal dari keluarga Raja Michu.

Raja Naemul (raja Silla ke-17) adalah raja pertama di-era kekuasaan klan Kim ini dan raja pertama Silla yang menggunakan gelar “Maripgan”. Raja Naemul juga adalah raja Silla pertama yang namanya tercatat dalam catatan sejarah Tiongkok dan yang mempelopori era keemasan Silla yang berlangsung selama berabad-abad.

Raja Naemul ini adalah ayah dari Raja Nulji. Nulji sendiri adalah cucu maternal Raja Michu. Kakek paternalnya adalah Jenderal Kim Daeseoji (adik Raja Michu). Ibu Nulji adalah Putri Boban (putri Raja Michu). Saat Raja Heulhae (raja Silla ke-16, putra Pangeran Uro) wafat, Ayahnya, Naemul, adalah kandidat tertua sehingga dinobatkan sebagai raja. Saat itu, keputusan pengangkatan raja melibatkan raja dan dewan istana, yang lebih mendahulukan para kandidat yang paling dewasa diantara seluruh keturunan raja lainnya. Baru pada masa pemerintahan ayahnya, sistem pemerintahan monarki turun-temurun diterapkan dan Silla dipimpin klan Kim sampai kerajaan ini runtuh.

Ayah Nulji (Naemul) adalah raja yang cinta damai. Beliau menjalin persahabatan dengan Goguryeo dan Jepang. Namun, semuanya harus dibayar mahal karena dia harus mengirim putra dan adiknya sebagai tawanan.

Putra ketiga Naemul, Pangeran Misaheun dikirim ke istana Jepang sebagai tanda persahabatan Silla dan Jepang. Saat itu, Pangeran Misaheun masih berusia 10 tahun. Setibanya di Jepang, kaisar Jepang tidak memperlakukan Pangeran Misaheun sebagai utusan tapi sebagai tawanan agar Silla tidak menyerang Jepang. Pangeran Misaheun tidak pernah diijinkan kembali ke Silla dan tinggal di Jepang selama 31 tahun.

Selain Pangeran Misaheun, Raja Naemul juga mengirim adiknya, Pangeran Silseong ke Goguryeo sebagai jaminan. Sebenarnya, putranya yang lain, Nulji, seharusnya yang dikirim ke Goguryeo, bukan Silseong, tapi Naemul sangat menyayangi putra pertamanya itu sebab hanya dia yang tersisa, sehingga Silseong-lah yang dikirim ke Goguryeo. Naemul tidak pernah melihat mereka lagi hingga kematiannya. Setelah Naemul meningga, dia digantikan oleh Silseong yang dipanggil dari Goguryeo. Sebagai gantinya, putra Naemul, Nulji dikirim ke Goguryeo sebagai pengganti Silseong (dan juga sebagai balasan Silseong yang mendendam pada kakaknya karena dikirim ke Goguryeo sejak masih berusia 10 tahun). Konflik istana membuat Raja Silseong tewas akibat ulahnya sendiri yang ingin membunuh Nulji. Nulji lalu diangkat menjadi raja (417-456).

Pada tahun ke-3 pemerintahan Raja Nulji, Goguryeo kembali meminta Silla mengirim anggota keluarga kerajaan sebagai jaminan. Untuk itu, Nulji mengirimkan adiknya, Pangeran Bokho, ke Goguryeo. Sama seperti pihak Jepang, Goguryeo juga memperlakukan Pangeran Bokho sebagai tawanan.

Peristiwa ini membuat Nulji sangat sedih dan teringat pada ayahnya. Saat itu, Nulji merasa bahwa penderitaan ayahnya jauh lebih besar karena tidak pernah melihat putra-putranya hingga hari kematiannya, dan ini membuat hati Nulji menderita bertahun-tahun. Nulji akhirnya bertekad membawa pulang adik-adiknya kembali ke Silla. Akhirnya, pada tahun ke-10 pemerintahannya, Nulji mengundang para pejabat dan para jenderalnya dalam jamuan makan. Pada saat itu, Nulji mengutarakan keinginannya untuk membawa adik-adiknya pulang ke Silla dan meminta saran mereka. Raja juga bertanya andaikan ada salah-satu dari mereka yang mau membawa adik-adiknya pulang. Tapi, para pejabat dan jenderalnya menjawab bahwa keinginan raja itu adalah hal yang mustahil.

Nulji semakin sedih mendengar jawaban para pejabat dan jenderalnya. Tapi, ada satu pejabat senior yang mengajukan diri. Pejabat itu bernama Park Jesang.

Park Jesang adalah seorang menteri istana Silla. Beliau dikenal sebagai seorang loyalis raja. Park Je-sang (lahir tahun 363) adalah keturunan pendiri Silla Park Hyeokgeose dan juga keturunan dari Raja Pasa (raja Silla ke-5). Sejak masih kecil, Park Je-sang sangat pintar. Saat dia telah memenuhi tugasnya sebagai pejabat di salah-satu daerah kekuasaan Silla, beliau ditarik oleh Raja Nulji untuk mengabdi di istana.

Park Jesang meminta Nulji memberikannya perintah kerajaan untuk membawa pulang adik-adik raja itu. Nulji sangat terharu mendengar keberanian Park Jesang dan menganugerahkannya banyak gelar dan hadiah sebelum dia berangkat. Raja mengijinkan Park Jesang minum di cawan yang sama dengan raja dan melepas kepergiannya dengan suasana yang penuh cinta. Nulji menggenggam tangan Park Jesang saat mengantar Park Jesang meninggalkan istana. Itu adalah tanda persahabatan dan penghormatan yang sangat tinggi dari seorang raja. Saat melaksanakan tugas itu, Park Jesang telah berusia 64 tahun.

Tugas pertama Park Jesang adalah menuju Goguryeo dengan menyamar. Berkat kecerdikannya, Park Jesang berhasil masuk ke wilayah istana tempat Pangeran Bokho tinggal. Park Jesang lalu menjelaskan rencananya pada Pangeran Bokho dan mengatur tempat pertemuan mereka untuk melarikan diri. Untuk itu, Pangeran Bokho beralasan sakit sehingga tidak bisa memberikan “penghormatan pagi” di istana pada raja Goguryeo selama beberapa hari. Pangeran Bokho lalu memanfaatkan waktu yang terbatas itu untuk melarikan diri dari Pyeongyang menuju Kaeseong. Dari sana, Park Jesang dan Pangeran Bokho berusaha menuju Silla sesegera mungkin. Tapi, raja Goguryeo yang marah lalu memerintahkan pasukan untuk memburu mereka di Kaeseong. Pelarian Pangeran Bokho ini akhirnya berhasil berkat bantuan dari orang-orang Goguryeo, sebab selama berada di Goguryeo, Pangeran Bokho sangat ramah dan membantu banyak orang Goguryeo sehingga dia dicintai banyak orang Goguryeo dan juga penghuni istana. Bahkan, pasukan yang mengejarnya diperintahkan oleh komandan mereka untuk memanahnya dengan menggunakan panah yang ditumpulkan (Ha Taehung, Samguk Yusa halaman 63, tahun 1972). Mereka akhirnya tiba dengan selamat di istana Silla dan disambut dengan sukacita oleh Raja Nulji dan seluruh Silla.

Tapi, Raja Nulji masih tetap bersedih memikirkan adiknya, Pangeran Misaheun, yang tidak pernah kembali dari Jepang selama 30 tahun. Park Jesang lalu meminta raja memberikan perintah kerajaan padanya agar dia bisa berangkat ke Jepang. Nulji akhirnya kembali memberikan perintah kerajaan pada Park Jesang. Menteri setia ini langsung berangkat ke Jepang setelah mendapat perintah raja, padahal saat itu dia belum sempat mengunjungi rumahnya. Istrinya mengejar Park Jesang ke pelabuhan sambil membawa kuda putih bagi suaminya, tapi kapal Park Jesang telah berangkat. Istrinya menangis dan meminta Park Jesang kembali agar dia dapat mengucapkan salam perpisahan, tapi Park Jesang hanya bisa melambaikan tangannya dari atas kapal.

Park Jesang akhirnya tiba di Jepang (kemungkinan besar di Pulau Kyushu) dan langsung menghadap pada kaisar. Di hadapan kaisar, Park Jesang mengaku sebagai mengaku sebagai seorang bangsawan Silla yang melarikan diri dari kejaran raja Silla.

Raja Gyerim (nama Silla pada masa itu) telah membunuh ayah dan kakak-kakakku tanpa alasan yang jelas, sehingga saya melarikan diri dan tiba di wilayah kerajaanmu untuk mencari suaka.” Kata Park Jesang.
Raja Shiragi (sebutan Silla bagi orang Jepang) bukan raja yang baik,” kata penguasa Jepang itu. “Aku akan memberikan padamu tempat yang nyaman untuk tinggal
(Ha Taehung, Samguk Yusa halaman 63, tahun 1972).

Setelah mendapat kepercayaan kaisar, Park Jesang secepat mungkin menghubungi Pangeran Misaheun dan menjalin komunikasi dengannya, juga mulai merencanakan pelarian mereka. Mereka berdua sering memancing bersama pada pagi hari dan memberikan hasil tangkapan mereka pada kaisar sehingga kaisar sangat senang dan menyayangi mereka tanpa mencurigai apapun.

Akhirnya, kesempatan yang mereka tunggu-tunggu tiba. Saat itu, kembali memancing di laut seperti biasa, tapi kabut tebal menyelimuti pulau tempat mereka berada. Melihat situasi seperti itu, Park Jesang langsung menyarankan pada Pangeran Misaheun agar segera melarikan diri. Tapi, Pangeran Misaheun harus melarikan diri sendirian sebab Park Jesang harus tetap tinggal untuk menghalangi pasukan musuh. Tapi, Pangeran Misaheun menolak usul Park Jesang.

Dengan perasaan yang sedih, Pangeran Misaheun berkata,
Saya sudah menganggapmu seperti ayahku dan kakakku. Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu dan pergi seorang diri?”
Jika saya bisa menyelamatkanmu dan menyenangkan hati raja-ku saya akan sangat bahagia. Saya tidak bisa hanya memikirkan diri sendiri,” jawab Park Jesang lalu menuangkan anggur ke cawan pangeran sebagai tanda perpisahan (Ha Taehung, Samguk Yusa halaman 64, tahun 1972).

Beliau lalu memerintahkan Kang Guryeo, seorang awak kapal dari Silla untuk membawa pangeran pergi.

Park Jesang lalu kembali ke rumah pangeran dan menjalani hari seperti biasanya. Pada penjaga-penjaga, dia memberitahukan bahwa Pangeran Misaheun baru pulang berburu dan sangat lelah sehingga harus istirahat. Para penjaga ini mulai curiga dan memeriksa kamar sang pangeran. Park Jesang lalu memberi-tahukan pada mereka bahwa Pangeran Misaheun telah pulang ke Silla.

Pelarian Pangeran Misaheun membuat kaisar murka dan menangkap Park Jesang. Saat kaisar menanyakan alasan Park Jesang melakukan hal itu, Park Jesang pun menjawab,
Aku adalah rakyat Gyerim (Silla) dan bukan bawahanmu. Aku harus melakukan apa yang diperintahkan rajaku. Saya tidak memiliki hal lain yang bisa dikatakan.”

Jawaban Park Jesang ini membuat kaisar murka, dan memerintahkan agar Park Jesang dihukum dengan menggunaan metode penyiksaan terberat. Tapi, kaisar kagum pada keteguhan hati Park Jesang menawarkan pembebasan dan hak kebangsawanan bagi Park Jesang jika mau mengabdi padanya. Tapi Park Jesang menjawab:
Lebih baik menjadi seekor babi atau anjing di Gyerim ketimbang menjadi seorang bangsawan disini.
Lebih baik dicambuk dengan cemeti panjang di Gyerim ketimbang menerima gelar bangsawan Jepang.
(Ha Taehung, Samguk Yusa halaman 64, tahun 1972).

Kaisar pun memerintahkan penyiksaan yang mengerikan untuk menghukum Park Jesang.

Setelah kulit paha Park Jesang dikuliti, kaisar bertanya pada Park Jesang,
Jadi, pada siapa kau mengabdi?” (Ha Taehung, Samguk Yusa halaman 64, tahun 1972)

Park Jesang pun menjawab bahwa dia adalah abdi Silla. Kaisar pun memerintahkan agar Park Jesang berdiri di besi panas dan kembali menanyakan pertanyaan yang sama, dan Park Jesang tetap menjawab,
Saya adalah abdi Gyerim” (Ha Taehung, Samguk Yusa halaman 64, tahun 1972)
Akhirnya kaisar menyerah, dan memerintahkan dia digantung. Jenasahnya lalu dikremasi oleh orang Jepang. 

Lepas dari semua itu, Pangeran Misaheun berhasil tiba di pantai wilayah Silla. Beliau mengirim Kang Guryeo ke istana di Seorabeol untuk mengumumkan kedatangannya. Raja Nulji sangat terkejut saat mendengar adiknya sudah tiba di Silla. Bersama dengan Pangeran Bokho, beliau langsung berangkat menemui Pangeran Misaheun. Saat mereka melihat Pangeran Misaheun, raja dan Pangeran Bokho yang mengikutinya langsung menangis dan berlari memeluknya. Raja mengadakan jamuan besar untuk menyambut adik bungsunya itu.

Ditengah-tengah kegembiraan itu, ada kesedihan ditengah-tengah mereka. Park Jesang tidak kembali.

Raja sudah menduga apa yang terjadi pada Park Jesang, dan sebagai penghormatannya, raja mengadakan jamuan kerajaan untuk menghormati Park Jesang. Raja menganugerahi istrinya gelar kebangsawanan yang sangat tinggi yang hanya satu tingkat lebih rendah dari ratu (di-era modern setara dengan “Grand Duchess”). Raja juga menikahkan Pangeran Misaheun dengan salah-satu putri Park Jesang. Tapi, isteri tidak mau menikmati semua hadia raja karena kesedihannya. Beliau dan 3 putrinya yang lain pergi ke bukit Chisulryeong dan memandang ke arah Jepang. Istrinya meninggal tidak lama kemudian di bukit itu.

Kesetiaan Park Jesang ini terus diabadikan secara turun-temurun melalui literatur-literatur dan penceritaan lisan orang-orang Silla dan Korea hingga era Joseon, dan terus didengungkan pada era perjuangan kemerdekaan Korea dari Jepang dikalangan pejuang Korea agar mengingatkan bahwa mereka bukanlah abdi Jepang melainkan abdi Korea, seperti kata-kata terakhir Park Jesang.




PERANG BAEKGANG

Silla adalah kerajaan terkecil diantara Tiga Kerajaan, oleh karena itu kerajaan ini adalah kerajaan yang paling sering diserbu oleh dua kerajaan Korea lainnya, dan juga dengan Jepang. Bosan dengan gangguan-gangguan itu, Silla bertekad menaklukan dua kerajaan lainnya dengan membentuk aliansi dengan Kekaisaran Tang. Perang penyatuan Tiga Kerajaan pun dilakukan dengan target pertama mereka adalah kerajaan Goguryeo. Tapi, Goguryeo masih terlalu kuat bagi Silla-Tang sehingga mereka mengubah target pertama mereka ke kerajaan lainnya, Baekje.

Secara dramatis, Kerajaan Baekje berhasil ditaklukan. Baekje yang telah berdiri selama 678 tahun akhirnya runtuh pada 18 Juli 660. Runtuhnya Kerajaan Baekje ini sangat mengejutkan seluruh penjuru Goguryeo, dan terlebih lagi sekutu utama mereka, Jepang.

Tapi, rupanya Baekje belum sepenuhnya runtuh. Saat Raja Uija menyerah, para bangsawan Baekje yang dipimpin oleh Gwisil Boksin melarikan diri ke Jepang meminta bantuan sekutu setia mereka itu. Sisa-sisa pasukan Baekje juga bergerilya melawan pasukan pemerintahan proktetorat Tang yang berpusat di Sabi. Jepang yang sejak dulu dibantu oleh Baekje merespons positif permintaan Baekje. Pada Agustus 661 bala bantuan pertama Jepang yang dikirim oleh Kaisarina Semei tiba di wilayah Baekje. Kaisarina Semei sendiri yang melepas kapal-kapal Jepang itu. Tak lama setelah kapal-kapal pertama itu berangkat, Kaisarina Semei meninggal dunia. Bala bantuan pertama ini terdiri dari 170 kapal dan 5.000 prajurit dibawah pimpinan Jenderal Abe no Hirafu.

Usai menaklukan Baekje (660 M), Silla mempersiapkan penyerbuan ke Goguryeo ditahun berikutnya. Tapi, penyerbuan ke Goguryeo ini gagal total (662 M) dan membuat pasukan Tang kehilangan sejumlah besar pasukan. Ditahun yang sama, Kekaisaran Jepang mengirimkan pasukan gelombang kedua dalam jumlah yang lebih besar (662 M), yang terdiri dari dua pasukan: 27.000 prajurit pimpinan Jenderal Kamitsukeno no Kimi Wakako dan 10.000 prajurit yang dipimpin Jenderal Iohara no Kimi. Pangeran Buyeo Pung (Putra bungsu Raja Uija) yang sudah tingga selama 30 tahun di Jepang ikut dalam rombongan ini sebagai calon raja Baekje.

Situasi pasukan Silla-Tang pada masa ini sangat sulit. Usai ditarik mundur dari Pyeongyang, pasukan Tang langsung menghadapi serbuan dari pasukan Kekaisaran Tibet. Serbuan ini membuat mereka tidak bisa kembali ke wilayah Korea dalam waktu lama. Sedangkan, Silla justru harus menghadapi rangkaian serbuan koalisi Goguryeo-Magal yang terjadi selama lebih dari 5 tahun.

Kekalahan di Goguryeo, penyerbuan tentara Tibet ke wilayah Tang, dan serbuan masif pasukan Goguryeo-Magal dimanfaatkan oleh pasukan restorasi Baekje dan Jepang untuk merebut kembali wilayah-wilayah lama Baekje, dan mulai melancarkan perang dengan Silla.

Sebagai respon, pada Agustus 663 pasukan Silla dan para Hwarang (dipimpin oleh Kim Ohgi) mengepung ibukota restorasi Baekje di Benteng Juryu. Pasukan restorasi Baekje sendiri dipimpin oleh Gwisil Boksin (sepupu Raja Uija). Di Benteng Juryu itu Gwisil Boksin, Pangeran Buyeo Pung (putra bunsu Raja Uija) dan Biksu Dochim, dan sebagian pasukan Jepang berjuang mempertahankan benteng terakhir Baekje itu. Pada 27 Agustus 663 armada utama Jepang di Korea yang berada di wilayah pantai terluar Korea dikirim menyusuri Sungai Geum untuk menghalau pengepungan pasukan Silla di Benteng Juryu. Tapi Tang memblokade pasukan bantuan Jepang itu sehingga meletuslah pertempuran sengit di sungai Geum yang dikenal sebagai Perang Baekgang atau Perang Hakusukinoe oleh orang Jepang.

Armada Jepang diblokade oleh pasukan Tang dengan menggunakan 170 kapal dan 7.000 prajurit. Kapal-kapal Tang merapatkan barisan kapal mereka dan berusaha menghalau serangan Jepang. Keesokan harinya, armada bantuan Jepang juga tiba dengan jumlahnya lebih besar dari armada Tang. Namun, sungai Geum yang sempit membantu armada Tang karena armada Jepang hanya bisa menyerbu pertahanan terdepan Tang sehingga Tang dapat melindungi kapal-kapal di sisi kanan dan kiri dan bagian belakang selama pertempuran. Jepang sangat yakin pada keunggulan jumlah mereka dan menyerang armada Tang setidaknya tiga kali sepanjang hari, tapi Tang masih mampu bertahan walau kewalahan.

Terlepas dari situasi di Perang Baekgang, koalisi pasukan restorasi Baekje dan pasukan Jepang di Benteng Juryu juga menghadapi situasi yang tidak kalah genting. Pasukan infanteri dan kaveleri Silla bersama dengan pasukan Hwarang mengepung Benteng Juryu selama berminggu-minggu sehingga membuat pasukan restorasi Baekje sangat frustasi. 

Situasi di Sungai Geum juga tidak berbeda jauh bagi kubu pasukan restorasi Baekje. Masih pada hari yang sama, 28 Agustus 663 menjelang malam prajurit Jepang frustasi dan kelelahan karena mereka tidak henti-hentinya menyerbu armada Tang tanpa hasil. Armada mereka juga kehilangan kohesi setelah berulang kali mencoba untuk menerobos garis pertahanan Tang. Pasukan Tang melihat peluang ini dan melakukan serangan balasan. Armada Tang bukan menerobos pertahanan terdepan melainkan sisi kiri dan kanan armada Jepang, hingga akhirnya kapal-kapal Tang berhasil menembus hingga bagian belakang armada Jepang dan mengepung armada mereka sehingga mereka tidak bisa bergerak atau mundur. Sejumlah besar pasukan Jepang jatuh ke air dan tenggelam, dan banyak kapal mereka dibakar dan ditenggelamkan oleh pasukan Tang. Perang ini diakhiri oleh kematian admiral utama armada Jepang, Jenderal Echi no Takutsu yang tewas setelah dia membunuh lusinan pasukan Tang yang menerobos ke kapalnya.

Di waktu yang hampir bersamaan, keadaan di Benteng Juryu senada dengan di Sungai Geum, tapi mungkin lebih buruk karena mereka saling menyerang satu sama lain. Di tengah-tengah pertempuran yang kian sengit, entah karena perbedaan pendapat atau karena ketidak-setiaan salah-satu dari mereka, Gwisil Boksin berusaha untuk membunuh Pangeran Pung setelah sebelumnya Biksu Dochil tewas ditangannya. Namun, pada perkelahian itu Pangeran Pung berhasil membunuh Gwisil Boksin. Kematian Gwisil Boksin menjadi pertanda buruk bagi pasukan restorasi Baekje. 

Kekalahan armada Jepang mengakibatkan pasukan Baekje terisolasi di Benteng Juryu. Pertempuran di Benteng Juryu berakhir pada 7 September 663 dengan kemenangan di pihak Silla. Pangeran Buyeo Pung terpaksa melarikan diri dengan menggunakan perahu ke Goguryeo. Dia hidup dalam pengasingan hingga akhir hidupnya karena setelah Goguryeo runtuh, Pangeran Pung ditangkap dan diasingkan ke wilayah Utara.

Perang Baekgang adalah kekalahan terbesar Jepang dalam sejarah kuno dan kekalahan maritim terbesar mereka sebelum Perang Imjin. Berdasarkan semua sumber sejarah dari Jepang, Korea, dan China, kerugian Jepang sangat besar dan jumlah korban Jepang sangat banyak. Menurut catatan Nihon Shoki sekitar 400 kapal Jepang hilang dalam pertempuran, sedangkan catatan sejarah China mengklaim sekitar 10.000 prajurit Jepang tewas dalam perang itu. Sisa-sisa kapal Jepang yang berhasil selamat kembali ke Jepang dipenuhi oleh para pengungsi dari Baekje.

Dampak terbesar dari keruntuhan Baekje bagi Jepang adalah mereka kehilangan sekutu utama di Asia Timur sebab Kerajaan Baekje merupakan sumber perkembangan teknologi, agama Buddha, dan peningkatan budaya bagi Jepang.

Kekalahan ini mengubah Jepang menjadi kerajaan yang lebih defensif padahal dulu mereka sangat agresif menyerbu Silla, bahkan membunuh seorang pangeran Silla (Seok Uro). Jepang lalu melakukan reformasi yang sangat terkenal, Reformasi Taika, yang dicetuskan oleh Pangeran Naka-no-Oe (Kaisar Tenji).

Ini adalah reformasi sistem birokrasi dan sistem militer Jepang yang lama menjadi sistem ala Dinasti Tang. Imbas dari reformasi ini, pada tahun 702, Kaisar Monmoku menerapkan sistem “Bangsawan Militer” yang terinspirasi dari kelompok Hwarang, yaitu dengan mewajibkan 3-4 laki-laki tiap keluarga bangsawan untuk mengabdi kepada kekaisaran sebagai perwira militer. Secara diam-diam, Jepang lalu mempelajari sistem kemiliteran Silla, juga ilmu beladiri dan ilmu berpedang para Hwarang yang berbeda dari ilmu beladiri dan ilmu berpedang Tiongkok. Inilah cikal-bakal Samurai Jepang, dan ilmu pedang kuno di Jepang.




PENYERBUAN KOALISI GORYEO-MONGOL KE JEPANG

Pada abad ke-13, Bangsa Mongol menjadi kekuatan baru di Asia dan Eropa Timur. Setelah sebelumnya mereka menaklukkan Dinasti Song di Tiongkok, mereka mulai menyerang Korea dan juga bertujuan menaklukan Jepang.

Perang dengan Goryeo ini adalah perang terlama yang dihadapi oleh Kaisar Kubilai Khan dan juga Kekaisaran Mongol sejak era Gengis Khan. Akhirnya, di tahun terakhir pemerintahan Raja Gojong (Raja Goryeo ke-23), setelah beperang selama 30 tahun, Goryeo akhirnya menyerah (1259) dan menjadi kerajaan jajahan Kekaisaran Yuan (Mongol). Goryeo cukup beruntung sebab dari semua kerajaan yang takluk setelah berperang dengan Mongol, Goryeo adalah satu-satunya kerajaan solid yang tidak dihancurkan oleh Mongol.

Raja Gojong lalu digantikan oleh putranya yang lemah, Raja Wonjang. Masa pemerintahannya adalah awal masa ketika Goryeo mendapat pengawasan dan intervensi yang sangat ketat dari pemerintah Yuan (Mongol).

Wonjong hanya memerintah selama 3 tahun dan digantikan oleh putranya, Raja Chungyeol (raja Goryeo ke-25). Chungyeol adalah Raja Goryeo pertama yang dikenang hanya memakai gelar “Wang” (Raja), sebab para raja sebelumnya mendapat nama kuil dengan akhiran -jo atau -jong (artinya "leluhur terhormat"). Kaisar Kubilai Khan merasa gelar itu merupakan ancaman baginya dan memerintahkan agar raja-raja Goryeo tidak boleh memakai nama itu lagi. Pada masa pemerintahan Chungyeol inilah untuk pertama kali dalam sejarah Korea menyerbu Jepang sehingga membuatnya menjadi raja Korea pertama dan satu-satunya yang menyerbu Jepang.

Kaisar Kubilai Khan adalah pemimpin yang sangat ambisius. Beliau ingin menguasai seluruh Asia Eropa dan membuat kerajaan-kerajaan di wilayah itu takluk padanya. Penaklukan Kekaisaran Song dan Goryeo hanya permulaan. Kaisar mengirim pasukan Mongol menyerbu wilayah Asia Tenggara, seperti Vietnam dan Indonesia. Pasukan Mongol gagal menaklukan Indonesia dengan cara yang sangat memalukan. Setelah utusan pertama mereka dipermalukan oleh Raja Kertanegara (raja terakhir Kerajaan Singasari), pasukan Mongol yang dikirim untuk menghukum Indonesia dikelabui dan dikalahkan oleh Raden Wijaya (raja pertama Kerajaan Majapahit). Indonesia memang adalah wilayah yang sulit ditaklukan karena merupakan wilayah kepulauan, dan juga pusat-pusat pemerintahan kerajaan-kerajaannya terpisah dari daratan utama Asia.

Kejadian memalukan yang dialami oleh pasukannya di Indonesia tidak mengurungkan niat Kubilai Khan untuk menyerbu kerajaan kepulauan lainnya, Jepang.

Serbuan Mongol ke Jepang diwujudkan oleh Kaisar Kubilai Khan pada tahun 1274 setelah ultimatumnya pada Jepang tidak diindahkan oleh pihak istana Jepang. Untuk mengamankan tahtanya, Chungnyeol dengan sukarela menawarkan bantuan dan mengirim angkatan laut Goryeo sebagai bantuan pada armada Mongol untuk menyerang Jepang.

Serbuan aliansi Mongol-Goryeo ke Jepang ini membuat seluruh Jepang, yang saat itu terpecah-pecah oleh sistem feodal, bersatu. Para daimyo mengirimkan tentara mereka agar bisa bergabung dengan tentara kekaisaran. Aliansi Mongol dan Goryeo ini tentu sangat menakutkan bagi Jepang sebab kedua kerajaan ini sudah terbiasa dengan perang melawan bangsa asing, sedangkan Jepang, sejak kekalahan di Perang Baekgang 600 tahun lalu, tidak pernah lagi menyerang negara lain. Hal lain yang ditakutkan Jepang adalah kekuatan armada Goryeo. Armada Goryeo secara tidak langsung membantu Jepang mengatasi bajak laut yang berkeliaran di antara perairan Korea dan Jepang, dan dibanding Jepang, Goryeo jauh lebih berhasil. Kehebatan armada Goryeo juga membuat wilayah Korea aman dari serbuan asing. Mereka hanya kalah dari Mongol melalui perang darat, yang juga sangat melelahkan pasukan Mongol.

Tapi, upaya armada laut aliansi Yuan dan Goryeo untuk menguasai Jepang berakhir dengan bencana. Armada laut mereka hancur oleh badai besar yang dikenal dengan nama "Kamikaze".

Kegagalan armada pertama membuat Kubilai Khan murka. Tapi itu tidak membuat bangsa Mongol mundur dari Jepang. Bersama Goryeo, Mongol kembali menyerang Jepang tahun 1281. Armada pada invasi kedua ini terdiri dari 4.400 kapal perang. Namun, kali ini Bangsa Jepang telah siap dan pasukan aliansi ini tetap kalah.

Kekalahan ini membuat Korea banyak belajar. Mereka menyadari bahwa kapal perang mereka bukan kapal perang yang cocok untuk menyerang wilayah perairan Jepang yang pantai-pantainya lebih curam. Pengetahuan mengenai kapal-kapal perang Jepang melalui invasi ini sangat penting bagi Korea dan membantu mereka melawan armada Jepang 300 tahun kemudian saat Jepang menyerbu Korea dalam Perang Tujuh Tahun.




BAJAK LAUT WOKOU

Setelah kekalahan Mongol-Korea saat menginvasi Jepang pada abad ke-13 itu, pelaut-pelaut Jepang semakin percaya diri mengarungi lautan dan bahkan berani berlayar diluar perairan Jepang. Lama-kelamaan jumlah mereka semakin banyak.

Pada abad pertengahan ini, laut menjadi tempat pelarian bagi warga Jepang terutama yang memiliki masalah hukum. Bajak laut dari Jepang ini kemungkinan besar terdiri lebih dari satu kelompok. Kelompok-kelompok ini memiliki peraturan dan sistem organisasi yang semuanya serba misterius. Tidak jelas nama apa yang mereka gunakan sebagai sebutan bagi kelompok mereka. Tapi, orang Korea menyebut mereka, Waeku (왜구), atau Wokou.

Akasara kanji Wokou adalah “倭寇”, yang dalam pengucapan Jepang menjadi "wakō". Secara harafiah, Wokou diterjemahkan sebagai "bajak laut Jepang", tapi arti sebenarnya adalah "penjahat kerdil". Bangsa Jepang memang disebut “Bangsa Wa” dalam catatan-catatan Tiongkok. Negara mereka juga disebut “Negeri Wa”. Dalam bahasa China kuno, “Wa” berarti “kurcaci” atau “kerdil”, sehingga sebutan ini diberikan pada orang-orang Jepang yang pada masa itu memiliki tubuh yang jauh lebih pendek daripada bangsa Korea, Han (Tiongkok), Uygur, Turk, Tibet, dan bangsa-bangsa lain yang pernah berinteraksi dengan Tiongkok. Korea juga mengadopsi kata itu untuk menyebut Jepang sebab tubuh orang Korea memang jauh lebih tinggi dari bangsa Jepang pada masa kuno. Istilah “Wokou” adalah kombinasi dari kata “Wa”, yang artinya "kurcaci", dan “Kou”, yang berarti "penjahat".

Sebagai bajak laut Jepang, kehadiran Wokou tentu memperpanjang catatan buruk hubungan Korea-Jepang dimasa lalu. Tapi, kontradiktif dengan status mereka sebagai bajak laut Jepang yang kerap menyerbu Korea, saat itu kehadiran mereka justru memperbaiki hubungan Korea-Jepang yang kaku paska invasi Mongol, yang juga menggandeng pasukan Korea, ke Jepang.

Bajak laut Wokou sudah menjadi organisasi militer yang terorganisasi dengan baik dan fokus merampok pesisir Korea-Jepang, termasuk kapal-kapal Tiongkok yang melintas di sekitar wilayah itu. Ada dua era dalam sejarah pembajakan Wokou. Pertama adalah pada abad ke-13 hingga abad ke-14, dan periode kedua yang lebih pendek adalah pada abad ke-16.

Pada periode pertama eksistensi Wokou, kamp-kamp utama Wokou adalah Pulau Tsushima, Pulau Iki, dan Kepulauan Gotō, tapi mereka memusatkan perhatian di Semenanjung Korea sehingga mereka menjadi teror bagi penduduk kota-kota pesisir timur Goryeo. Pada era pemerintahan Raja Gongmin (raja Goryeo ke-31), raja mengirim Jenderal Choe Yeong dan Jenderal Yi Seong-gye (bakal raja pertama Joseon) untuk memerangi bajak laut ini. Goryeo memang adalah kerajaan yang paling mampu mengalahkan bajak laut Wokou, tapi lama-kelamaan Goryeo kewalahan menghadapi mereka. Raja Woo (pengganti Raja Gongmin) lalu mengirim Na Hong-yu sebagai utusan ke Jepang (1375) untuk meminta pemerintah Jepang membantu melawan bajak laut Wokou. Pemerintah Jepang menyanggupi tapi mereka hanya akan memerangi Wokou disekitar perairan mereka saja. Karena wilayah tradisional mereka diusik, akhirnya Wokou semakin fokus menyerang Korea untuk mendapatkan wilayah baru. Tahun 1376, bajak laut Wokou memasuki wilayah Goryeo dan menaklukan kota Gongju setelah mengalahkan walikota Kim Sa-hyuk. Untuk melawan mereka, Raja Woo memerintahkan membentuk pasukan besar yang dipimpin Jenderal Choi Young. Pasukan Jenderal Choi Young berhasil mengalahkan bajak laut Wokou di Hongsan.

Kekalahan di Hongsan tidak berarti bajak laut Wokou tidak berhasil merampok kota-kota pesisir Korea. Salah-satu hasil rampokannya adalah ratusan warga Korea yang diculik oleh mereka. Orang Korea adalah yang terbanyak yang diculik oleh bajak laut Wokou. Untuk memulangkan kembali orang-orang Korea yang diculik, Raja Woo mengirim Jeong Mong-ju ke Jepang. Selama kunjungannya ke Kyushu, Gubernur Imagawa Sadayo berhasil menekan Wokou, dan mengambil kembali hasil rampasan mereka termasuk orang Korea. Berkat Jeong Mong-ju, orang-orang Korea yang diculik itu berhasil dibawa kembali ke Korea (1377). Ini menjadi kerjasama yang sukses antara Korea dan Jepang usai pengalaman buruk dalam invasi Mongol sebelumnya. 

Usai kekalahan di Hongsan, Wokou mundur sementara dari Korea dan menyebar melintasi Laut Kuning ke Tiongkok. Tapi mereka kembali menghantui Korea pada tahun 1380. Kali ini, Jenderal Yi Seong-gye yang dikirim menghadapi Wokou. Beliau berhasil mengalahkan bajak laut Wokou di Hwangsan berkat bantuan Na Sae dan ilmuwan Choi Mu-seon (penemu bubuk mesiu Korea) yang berhasil membakar lebih dari 500 kapal bajak laut dengan menggunakan mesiu dan meriam. Tiga tahun setelah kekalahan Wokou di Hwangsan, Wokou kembali menyerbu Korea (1383). Kali ini, Jendral Jeong Ji yang dikirim untuk memerangi mereka dan sang jenderal berhasil menghancurkan ratusan kapal bajak laut Wokou.

Sembilan tahun setelah kekalahan Wokou di Hwangsan, Kerajaan Goryeo runtuh dan digantikan oleh Kerajaan Joseon yang didirikan oleh seorang jenderal yang dulunya menjadi salah-satu musuh utama Wokou, Yi Seong-gye.

Belajar dari pengalaman, Yi Seong-gye dan putranya menaruh perhatian khusus dalam memerangi bajak laut ini. Seakan tidak mau kalah dengan gebrakan Korea, Shogun Ashikaga Yoshimitsu mengirim 20 bajak laut Wokou yang berhasil ditangkap ke Tiongkok, di mana mereka direbus dalam kuali di Ningbo (1405). meski mendapat perlawanan, Wokou masih mengganggu Korea pada masa pemerintahan Yi Bang-won sehingga membuat Yi Bang-won mengInvasi Pulau Tsushima (1419). Upaya Yi Bang-won menumpas bajak laut Wokou dilanjutkan oleh putranya, Raja Sejong Yang Agung, dalam Ekspedisi Timur Gimhae ke Pulau Tsushima.

Pada Ekspedisi Timur Gimhae ini, armada Korea dipimpin oleh Jenderal Yi Jong-mu. Armada ini terdiri dari 227 kapal dan 17.285 prajurit, dan berangkat dari Pulau Geoje Pulau Geoje (Mei 1419) dan tiba di Pulau Tsushima (19 Juni 1419). Armada Korea ini dipandu oleh bajak laut Wokou yang berhasil ditangkap. Setelah mendarat, Jenderal Yi Jongmu mengirim bajak laut yang mereka tangkap itu sebagai utusan yang menyampaikan ultimatum Korea pada pemimpin Wokou. Pemimpin Wokou tidak mengirim jawaban sehingga pasukan Jenderal Yi Jongmu mulai menyerang markas Wokou itu dan menghancurkan pemukiman mereka. Pasukan Korea menghancurkan 129 kapal Wokou dan 1.939 rumah mereka. Sebanyak 700 perompak berhasil dibunuh, dan 110 lainnya ditangkap hidup-hidup dan dijadikan budak. Pada ekspedisi itu, 180 tentara Joseon tewas. Pasukan Korea membebaskan para tawanan termasuk 135 warga Korea dan 140 orang China yang diculik oleh bajak laut.

Ekspedisi Timur Gimhae yang digalakkan oleh Raja Sejong berhasil menumpas Wokou sehingga membuat mereka hilang dari perairan Korea selama lebih dari 100 tahun. Dampak lain dari keberhasilan Ekspedisi Timur Gimhae ini adalah Perjanjian Gyehae yang dicapai 24 tahun kemudian (1443) yang memuat pengakuan Daimyo Pulau Tsushima atas kedaulatan Raja Joseon di wilayahnya.

Keberhasilan Ekspedisi Gimhae malah membuat Kekaisaran Ming mengembargo Jepang dengan melarang perdagangan sipil dengan Jepang, meskipun masih mengijinkan perdagangan antar-pemerintah. Embargo ini tidak sepenuhnya berhasil karena para pedagang Tiongkok tetap melindungi kepentingan mereka. Pedagang-pedagang ini terus berdagang dengan Jepang secara ilegal. Kenyataan bahwa perdagangan antar-pemerintah itu tidak mencukupi kebutuhan dalam negeri Tiongkok dan membuat banyak perajin bangkrut justru memicu era kedua perompakan Wokou yang justru menjadi masa keemasan para perompak itu.

Pada periode kedua ini, sepertinya Wokou sudah cukup trauma mengganggu Korea sehingga mereka hampir tidak terlalu mengganggu wilayah perairan Korea, dan menjadikan Tiongkok sebagai basis mereka setelah Jepang. Pada masa keemasannya sekitar 1550-an, Wokou beroperasi di lautan Asia Timur mampu berlayar di sungai-sungai besar termasuk Sungai Yangtze.

Walaupun tidak lagi secara khusus menargetkan Korea sebagai sasaran perompakan mereka tapi Bajak laut Wokou sempat masuk dan menjarah wilayah pesisir selatan Korea pada masa pemerintahan Raja Jungjong (raja Joseon ke-11). Wokou juga masih menyerbu Korea pada masa pemerintahan Raja Myeongjong (raja Joseon ke-13). Raja Myeongjong lalu menghukum seorang bajak laut asal Tiongkok yang berpura-pura menjadi orang Jepang. Kisah pamungkas serbuan Wokou ke Korea adalah para bajak laut yang berkebangsaan Jepang dilibatkan oleh seorang jenderal Jepang saat Jepang menginvasi Korea dalam Peang Tujuh Tahun.




PERANG TUJUH TAHUN

Perang Tujuh Tahun (Imjin) adalah perang maritim terbesar dalam sejarah Korea dan Asia Timur, dan juga menjadi salah-satu perang maritim terbesar dunia. Ini adalah perang yang sangat heroik di abad pertengahan. Terlepas dari dampak buruknya, perang ini menjadi salah-satu kebanggaan orang Korea dan juga kebanggaan sejarah Asia sebab perang ini menunjukan keanggungan orang Korea dan Asia. 

Selama ini, perang maritim yang paling terkenal rata-rata berasal dari pertempuran-pertempuran di kawasan Eropa, yang melibatkan bangsa-bangsa kuno di kawasan Eropa dan Asia Barat. Diwaktu yang sama dengan waktu terjadinya perang ini, tidak ada yang menyangka jika ada perang maritim besar yang berkecamuk antara sebuah kerajaan pertapa kecil dengan sebuah kekaisaran yang besar. Perang ini melibatkan banyak sekali jenderal dan admiral, dan juga membuahkan berbagai penemuan penting bagi dunia maritim.

Saat itu, Korea dipimpin oleh Raja Seonjo (raja Joseon ke-14). situasi Korea saat itu kurang baik. Berbagai konflik internal istana, persaingan antar menteri, hingga kudeta berdarah mewarnai pemerintahan saat itu yang dipimpin oleh Wangsa Yi (wangsa Kerajaan Joseon). Selain itu, pergerakan bangsa Manchu di utara membuat Seonjo mengirimkan banyak komandan militer yang berpengalaman ke perbatasan Utara, bersamaan dengan itu Seonjo juga harus menghadapi para pemimpin Jepang yaitu Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu di bagian selatan.

Awal mula perang ini adalah saat mantan abdi shogun pemersatu Jepang, Oda Nobunaga, yang bernama Toyotomi Hideyoshi berhasil muncul menjadi penguasa baru di Jepang. Berbeda dengan Oda Nobunaga yang ingin bekerja sama dengan negeri asing dan mengutamakan diplomasi, Hideyoshi memilih untuk menjadi seorang agresor.

Shogun baru ini memiliki ambisi yang dulu diutarakan pada Oda Nobunaga, menaklukan dunia. Bagi seorang Hideyoshi, dunia itu diawali oleh Tiongkok. Untuk itu, beliau mengirim delegasinya ke Raja Seonjo untuk meminta izin melewati Semenanjung Korea menuju Tiongkok. Permintaan juga bermakna mereka akan berperang melawan Joseon yang menjalin aliansi dengan Kekaisaran Ming. Seonjo, yang terperanjat, menolak permintaan itu dan secepat mungkin mengirim surat ke istana Ming untuk memperingatkan bahwa Jepang sedang mempersiapkan perang berskala penuh melawan aliansi Korea-Ming.

Orang-orang Korea mulai khawatir jika Jepang menyerang negeri mereka. Para pejabat mendesak raja untuk mengirim para delegasi ke Hideyoshi untuk mencari tahu apakah Hideyoshi sedang mempersiapkan untuk invasi atau tidak. Namun dua faksi pemerintahan yang kerap berseteru tidak mencapai kata sepakat mengenai kepentingan nasional ini sehingga sebuah persetujuan dibuat dan satu delegasi dari setiap faksi dikirim ke Hideyoshi. Ketika para utusan itu kembali ke Korea, laporan mereka justru menambahkan kebingungan. Hwang Yun-gil, dari Faksi Barat, melaporkan bahwa Hideyoshi sedang meningkatkan jumlah pasukan dalam jumlah yang sangat besar, tapi Kim Seong-il dari Faksi Timur melaporkan kalau pasukan besar digunakan untuk mempercepat reformasi, mencegah pelanggaran hukum, melawan para bandit. Karena Faksi Timur memiliki lebih banyak suara, laporan dari Hwang Yun-gil diabaikan dan Seonjo memutuskan untuk tidak bersiap-siap perang, padahal saat itu Daimyo dari Tsukushima (pulau yang menjalin hubungan dagang dengan Joseon) sudah memperingatkan akan ambisi Hideyoshi dan hasratnya untuk menaklukkan Asia termasuk Joseon.

Secara tiba-tiba, pada 13 April 1592, armada pertama Jepang (sekitar 700 kapal) di bawah pimpinan Konishi Yukinaga menyerang Korea. Konishi dengan mudah membakar Benteng Busan dan Benteng Donglae, membunuh komandan Jeong Bal dan Song Sang-hyeon, dan menuju ke arah utara. Raja Seonjo panik dan mengirim Jenderal Sin-rip (Wakil Menteri Perang) dan Jenderal Yi Il ke Chungju bersama 8.000 tentara kavaleri, tapi semuanya sudah terlambat..

Pada hari berikutnya datang pasukan lebih banyak di bawah pimpinan Kato Kiyomasa dan Kuroda Nagamasa, dan menuju ke arah Hanyang. Shin-rip bergabung dengan Kim Su (Gubernur Gyeongsang), yang telah mengumpulkan pasukan besar di Daegu, lalu menuju Benteng Choryeong untuk memblokir jalan pintas yang akan digunakan pasukan Jepang ke ibukota. Armada Jepang yang besar dibawah pimpinan Todo Takatora dan Kuki Yoshitaka membantu mereka dari laut. Jenderal Yi Il menghadapi Kato Kiyomasa di dalam Perang Sangju, yang dimenangkan oleh Jepang. Namun, pasukan Jendral Yi Il dikalahkan oleh pasukan Jenderal Konishi Yukinaga. Kemudian Yi Il bertemu Sin-rip, namun gabungan pasukan mereka juga dikalahkan di dalam Perang Ch'ungju oleh Kato Kiyomasa. Shin-rip mengabaikan saran Pangeran Gwanghae (raja Joseon ke-15) yang menganjurkan menggunakan pasukan infanteri karena medan yang penuh lumpur dan mengerahkan pasukan kavaleri melawan pasukan infanteri Jepang yang dilengkapi berbagai jenis senapan. Pasukan Korea panik dan melarikan diri, tapi mereka tewas dibunuh prajurit Jepang dan tenggelam di sungai. Jendral Shin-rip dan beberapa komandan yang setia yang tidak mau melarikan diri memilih bunuh diri (1592). Ini adalah kekalahan pertama Korea dalam Perang Imjin

Seonjo lalu menunjuk Jenderal Kim Myeong-won sebagai Panglima Tertinggi dan memerintahkannya mempertahankan ibukota bersama dengan Putra Mahkota Gwanghae (penguasa de facto/in action Joseon saat itu). Raja terpaksa melarikan diri ke Pyongyang karena Jepang merebut ibukota. Raja akhirnya pindah lebih jauh lagi ke utara di kota Uiju karena Pyongyang juga direbut. Banyak orang yang telah kehilangan kepercayaan pada raja lalu merampok istana dan mengakibatkan lebih banyak kerusakan dari yang ditimbulkan pasukan Jepang.

Meskipun kalah dalam banyak pertempuran, angkatan laut Korea berhasil memotong bantuan logistik Jepang. Laksamana Yi Sun-sin beberapa kali mengalahkan armada Jepang dan kapal-kapal penyalur logistik, sehingga pasukan bantuan dari Ming pimpinan Jenderal Li Rusong bisa tiba di pantai-pantai Korea dan mulai memukul mundur Jepang ke arah selatan dan akhirnya merebut kembali Pyongyang. Pasukan Jenderal Gwon Yul juga yang jauh lebih kecil juga berhasil mengalahkan pasukan Jepang dalam Perang Hangju. Akhirnya, pada invasi pertama ini Jepang terpaksa menegosiasikan gencatan senjata dengan pihak Ming. Selama negosiasi ini, pasukan Korea berhasil merebut Hanyang. Invasi Jepang pertama ini merenggut nyawa salah-satu putra Seonjo, Pangeran Silseong, yang meninggal di pengungsian.

Masa gencatan senjata ini dimanfaatkan oleh Jenderal Yi Sun-shin untuk pergi ke wilayah Jeolla dan mengumpulkan kapal, awak-awak kapal dan prajurit, dan senjata. Beliau akhirnya berhasil merampungkan kapal perang yang dikenal dengan nama “Kapal Kura-kura”, yang merupakan kapal besi pertama di dunia.

Negosiasi damai antara Jepang dan Ming berakhir (1598) tanpa hasil positif. Jepang langsung berusaha merebut Hanyang baik dari rute darat dan laut. Mulanya rencana itu kelihatannya berjalan lancar ketika Jepang menang di Pertempuran Chilchonryang, namun saat armada Jepang berusaha melewati Sungai Myeongnang, mereka mendapat perlawanan sengit dari armada Korea pimpinan Laksamana Yi Sun-shin.

Raja Seonjo yang mengetahui bahwa Yi Sun-shin hanya mendapatkan 13 buah kapal menyarankan agar Yi Sun-shin bergabung dengan angkatan darat. Namun, Yi Sun-shin meyakinkan bahwa perairan di Jeolla dan Chungcheong harus dilindungi untuk mencegah pasukan Jepang menuju ibukota dari jalur laut.

Armada Yi Sun-shin bergerak ke Selat Myeongnyang. Myeongnyang adalah selat yang harus dilewati musuh untuk mencapai ibukota. Selat ini memiliki arus paling deras di Korea yang selalu berganti arah setiap 4 jam sekali. Di selat ini, Yi Sun-shin memasang kawat besi dibawah air yang dapat diputar menggunakan agar menggoyahkan kapal musuh dan membuat mereka saling bertabrakkan pada saat arus deras terjadi. Kapal Joseon mempunyai dasar berbentuk datar dan dangkal, sementara kapal Jepang yang memiliki dasar yang lancip dan dalam akan mudah tersangkut jebakan itu.

Pada 16 September 1597, armada Jepang tiba dengan 330 kapal, tapi berkat sempitnya selat Myeongnyang, hanya 130 kapal Jepang yang dapat masuk. Dalam waktu singkat, mereka sudah mengelilingi armada Yi Sun-shin. Kapal-kapal Korea menyerang dengan menembakkan panah dan meriam. Entah bagaimana, di dekat kapal Yi Sun-shin mengapung sesosok mayat musuh, yang ternyata adalah Jenderal Matashi Kurushima. Mayat itu ditarik dan diperlihatkan ke arah musuh dari haluan kapal sehingga menimbulkan kehebohan ditengah pasukan Jepang. Pada saat arus mulai deras, kekuatan arus mulai menggoyahkan kapal-kapal Jepang dan merusak posisi mereka. Pasukan Yi Sun-shin mulai mengencangkan kawat besi di bawah air. Kapal mereka mulai tersangkut dan mulai bertabrakkan satu sama lain. Laksamana Yi Sun-sin berhasil mengalahkan armada Jepang pimpinan Todo Takatora dalam Pertempuran Myeongnyang. Dari 130 kapal Jepang yang masuk ke Selat Myeongnyang, 31 kapal tenggelam dan 90 kapal rusak parah, tapi tak satupun kapal Yi Sun-shin yang kalah. 

Setahun setelah Pertempuran Myeongnyang, pada Agustus 1598, Hideyoshi akhirnya menarik semua pasukan Jepang dari Korea karena merasa kematiannya sudah dekat. Tapi, kapal-kapal Jepang yang hendak pulang ini dihadang oleh armada Yi Sun-shi dengan bantuan armada Kekaisaran Ming pimpinan Laksamana Chen Lien (en.wikipedia/yisunshin).

Dalam pertempuran tahap awal, armada Jepang dipukul mundur dengan 50 buah kapal dihancurkan sehingga mereka melarikan diri, namun mereka telah terjebak. Karena tak ada pilihan lain, mereka berbalik dan melawan. Kapal-kapal Jepang lalu mengincar kapal yang membawa Yi Sun-shin. Yi Sun-shin berkali-kali dalam bahaya karena hampir terkurung tapi beliau berhasil menghindar. Saat sedang meneriakkan perintah maju, Yi Sun-shin tertembus peluru yang ditembakan dari kapal musuh sehingga beliau terluka parah. Ia lalu meminta anak-buahnya menutupi tubuhnya dengan perisai dan merahasiakan kondisinya dari prajurit lain. Beliau menghembuskan napas terakhir didepan putra sulungnya dan keponakannya, yang berdua meneruskan pertempuran. Pertempuran ini dimenangkan armada Korea. Kekalahan Jepang di Pertempuran Noryang mengakibatkan hancurnya 450 buah kapal Jepang. Hasil dari pertempuran itu mengakhiri perang selama 7 tahun. Perang ini merupakan perang terbesar sepanjang sejarah Joseon dan menjadi salah-satu perang maritim terbesar dalam sejarah dunia.

Perang-perang laut ini adalah kebanggaan bagi Korea sebab mereka mampu menumbangkan pasukan musuh hanya dengan kekuatan yang sangat kecil. Tapi, perang ini membawa dampak negatif bagi semua yang terlibat, yakni Korea (Joseon), Ming, dan Jepang.

Kemenangan Korea dalam perang ini dibayar mahal. Infrastruktur hancur, termasuk istana-istana dan dan gedung-gedung pemerintahan. Para budak memberontak akibat musnahnya sebagian besar catatan budak. Keputusan raja yang melarikan diri dari ibukota membuat raja kehilangan kewibawaannya dimata rakyat dan para bangsawan, termasuk para cendekiawan Sungkyunkwan, dan mereka lebih menghormati Pangeran Gwanghae yang berjuang di medang perang demi merebut dan mempertahankan ibukota. Ketidakstabilan politik Joseon ini melemahkan pertahanan Joseon sehingga 30 tahun kemudian pasukan Manchu berhasil menaklukan Korea dengan pasukan yang lebih kecil daripada yang sebelumnya dikerahkan oleh Jepang.

Kemenangan pasukan mereka juga dibayar mahal oleh Kekaisaran Ming. Sikap kaisar Ming yang tidak bijaksana diperparah oleh kerugian besar akibat Perang Tujuh Tahun ini yang sangat mengganggu kas negara. Walaupun menang melawan Jepang tapi kekuatan pasukan Ming melemah drastis sehingga mengakibatkan mereka kewalahan menghadang kemajuan bangsa Manchu dibagian timur laut. Kurang dari 30 tahun setelah Perang 7 Tahun, Kekaisaran Ming diruntuhkan oleh bangsa Machu yang lalu mendirikan kekaisaran baru, Kekaisaran Qing.

Kekalahan dalam Perang 7 Tahun ini memberikan pelajaran yang sangat besar bagi Jepang. Perang ini menimbulkan kerugian yang besar bagi Jepang, baik itu kerugian finansial dan juga korban jiwa. Kepercayaan para daimyo pada klan Toyotomi juga menurun drastis, terlebih lagi pengganti Hideyoshi tidak secakap ayahnya. Tapi, ambisi Jepang untuk menaklukan Tiongkok tidak pernah surut. Jalur utama mencapai Tiongkok adalah daratan Semenanjung Korea sehingga Korea tetap menjadi bagian dari rencana jangka panjang mereka untuk menaklukan seluruh Asia. Setelah Tokugawa Ieyasu berhasil mengalahkan Toyotomi Hideyori (penerus Hideyoshi), klan Toyotomi pun berakhir dan digantikan oleh klan Tokugawa yang menandai dimulainya era Edo. Keshogunan Tokugawa meniru politik isolasi Joseon yang bertahan selama 200 tahun. Selama era ini, Tokugawa berusaha mempersatukan seluruh Jepang dan menstabilkan politik, hingga akhirnya Kaisar Meiji naik tahta dan menghapus keshogunan dan melakukan restorasi. 

Restorasi Meiji yang berhasil memodernisasi seluruh Jepang dalam waktu yang sangat singkat menjadi indikator utama keruntuhan Kerajaan Korea (Kekaisaran Han Raya, penerus Kerajaan Joseon).



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Daftar Pustaka:
-Byeon-won Lee; History
-Maurizio Riotto; the Place Of Hwarang Among The Special Military Corps Of Antiquity; The Journal of Northeast Asian History; Northeast Asian History Foundation; 2012
-Richard McBride; Silla Budhist & The Manuscript of Hwarang Segi
-Tae-hoong Ha; Samguk Yusa, Legends and History of the Three Kingdoms of Ancient Karea; Yonsei University Press; 1972; Seoul
-Wontak Hong; Baekche An Offshoot of the Buyeo-Koguryeo in Mahan Land; East Asian History, A Korean Perspective; 2005; Seoul
-Young-kwan Kim, Sook-ja Ahn; Homosexuality In Ancient Korea; Pyongtaek University, Hanyoung Theological University; 2006; Seoul
-Korean History For International Citizen; Northeast Asian History Foundation
-Koreana (Korean Culture & Art) Vol.25.No.1; 2011; National Museum Of Korea
-Korea's Flowering Manhood
-The History of Hwarang-do
-The Three Kingdoms of Ancient Korea in the History of Taekwon-Do


______________________________________________________________________________

ARTIKEL INI DISUSUN DAN DITERBITKAN PERTAMA KALI
OLEH DELEIGEVEN MEDIA

SETIAP ARTIKEL YANG MEMILIKI ISI, SUSUNAN, DAN GAYA PENULISAN
YANG MIRIP DENGAN ARTIKEL INI MAKA ARTIKEL-ARTIKEL TERSEBUT
MENYADUR ARTIKEL INI.

DILARANG KERAS MEMPLAGIAT ARTIKEL INI!

CANTUMKAN LINK LENGKAP ARTIKEL INI DISETIAP KALIMAT YANG ANDA DISADUR DARI ARTIKEL INI. SESUAI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA, JIKA MENYADUR/MENG-COPY MINIMAL SEPULUH KATA TANPA MENCANTUMKAN SUMBER DARI KALIMAT ITU (BERBEDA DARI PENCANTUMAN SUMBER DI CATATAN KAKI (FOOTNOTE) MAKA ITU ADALAH TINDAKAN PLAGIARISME.

JIKA ANDA MENYADUR SEBAGIAN BESAR ARTIKEL INI MAKA ANDA HARUS MENCANTUMKAN KALIMAT:
"ARTIKEL INI DISADUR DARI....(LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA",
ATAU:"SUMBER UTAMA DARI SEBAGIAN BESAR INFORMASI ARTIKEL INI DIAMBIL DARI (LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA"  
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Notes (Catatan):

*We strongly recommend all readers to read all the comments below for the other details which not mentioned by this article
(Sangat disarankan bagi para pembaca untnk melihat komentar-komentar artikel ini sebab beberapa komentar membahas rincian informasi yang tidak ditulis dalam artikel ini)

*Please open: Kingdom of Silla for short story about "Kingdom Of Silla" in ENGLISH
(Silahkan membuka link: Kingdom of Silla untuk membaca sejarah singkat Kerajaan Silla dalam bahasa Inggris).

*Get various information about history in ENGLISH by open or follow our Instagram account: @deleigevenhistory
(Dapatkan berbagai informasi sejarah dalam bahasa Inggris di akun instagram kami @deleigevenhistory)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saturday, 20 January 2018

LEGENDA PUTRI RAJA BATUBARA DAN EMPAT PEMUDA





Alkisah pada jaman dahulu, disuatu pulau besar yang dahulu dikenal dengan nama Suwarna Dwipa berdirilah sebuah kerajaan kecil yang bernama Kerajaan Batubara. Raja sekaligus pendiri kerajaan dahulunya adalah seorang pangeran dari sebuah kerajaan besar penerus Kemaharajaan Sriwijaya, yaitu Kerajaan Pagaruyung, yang bernama Pangeran Belambangan.

Pangeran Belambangan mendirikan Kerajaan Batubara setelah sebelumnya beliau tinggal di wilayah Kerajaan Simalungun, negeri yang berhasil dicapainya setelah melalui hutan belantara akibat kehilangan arah ketika hendak berburu rusa. Oleh kebaikan hati Raja Simalungun, Pangeran Belambangan tinggal diistana raja layaknya anak sendiri. Setelah tinggal di istana Raja Simalungun, jatuh-hatilah Pangeran Belambangan pada sang putri raja. Rupanya, sang putri-pun telah jatuh cinta pada Pangeran Belambangan sejak pandangan pertama. Sang pangeran lalu melamar pujaan hatinya yang lalu disambut dengan restu dari Raja Simalungun. Akhirnya, kedua insan ini menikah dan menjadi pasangan yang serasi dan sepenanggungan.

Tidak lama kemudian, pihak istana Simalungun mengumumkan kepada rakyatnya bahwa sang putri telah hamil. Seluruh kerajaan-pun bersukacita mendengar berita itu. Sang putri mengutarakan kepada suaminya perihal keinginannya untuk melihat laut. Atas restu Raja Simalungun, Pangeran Belambangan dan istrinya bersama serombongan besar pengiring, mereka pun berangkat menuju pantai yang agak jauh letaknya. Setelah menempuh perjalanan berhari-hari lamanya, tibalah mereka didaerah pesisir pantai yang memiliki pemandangan yang indah. Sang putri dan sang pangeran lalu berkeliling daerah itu untuk melihat-lihat, maka jatuh hatilah mereka pada tempat itu. Mereka lalu bermaksud untuk membuat pemukiman ditempat itu sebagai tempat tinggal tetapnya dan juga ingin membangun daerah itu menjadi sebuah negeri yang beradab. Raja Simalungun merestui keinginan mereka dan negeri baru pun didirikan di pantai nan indah itu yang kemudian diberi-nama “Negeri Batubara”, dan Pangeran Belambangan diangkat menjadi raja pertama sehingga beliau dikenal dengan nama “Datuk Batubara”.

Tidak begitu lama setelah negeri baru itu dinamakan Negeri Batubara, tibalah waktunya bagi Permaisuri Negeri Batubara untuk bersalin. Berkat rahmat Tuhan, Sang permaisuri-pun berhasil melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik dengan selamat. 

Kini, lengkaplah sudah kebahagiaan dari Datuk Batubara. Beliau menjadi raja dinegeri yang kaya dan juga makmur. Beliau juga memperistri seorang permaisuri yang cantik, dan juga telah memiliki keturunan yaitu seorang putri yang cantik jelita yang menjadi bayi pertama yang lahir di kerajaannya.

Putrinya tumbuh besar dan dididik dengan berbagai macam ilmu pengetahuan dan ilmu agama agar dia dapat tumbuh menjadi putri yang cantik, anggun, cerdas, bertaqwa.

Sang putri yang telah menjadi seorang gadis yang cantik ini selalu tertarik jika diceritakan mengenai kisah tentang petualang ayahnya dan kisah permulaan negerinya, dan dia meminta untuk diceritakan berulang-ulang sehingga dia hafal betul mengenai kisah ayahnya dan negerinya. Namun, semakin hari dia semakin bertanya-tanya, dimanakah kakek dan neneknya yang menjadi ayah dan ibu dari ayahnya?

Datuk Batubara tidak langsung menjawab pertanyaan putrinya. Beliau hanya terdiam dan bersedih. Beliau benar-benar rindu pada kedua orang-tuanya. Pertanyaan putrinya itu mengingatkan beliau bahwa sudah lama benar dia terpisah dari kedua orang-tuanya.

Tiba-tiba, salah-seorang hulubalangnya datang menghadap dan mendesak raja untuk segera keluar karena ada perihal yang begitu penting. Datuk Batubara begitu khawatir mengenai perihal yang dimaksudkan oleh hulubalangnya.

Ada apakah gerangan?

Datuk Batubara segera berjalan menuju halaman istananya dan alangkah terkejutnya beliau ketika melihat serombongan orang yang sebagian besar wajah mereka dikenali oleh beliau, yaitu orang-orang dari Negeri Pagaruyung. Rupanya mereka diutus oleh ayahanda Datuk Batubara, Baginda Raja Pagaruyung. Raja Batu Bara begitu gembira dan langsung menghampiri tetua-tetua rombongan itu dan memeluk mereka.

Sang raja mengajak rombongan yang dikirimkan oleh ayahandanya kedalam istananya, lalu memperkenalkan permaisurinya dan juga putrinya. Datuk Batubara segera menanyakan kabar dari kedua orang-tuanya. Pemimpin rombongan dari Pagaruyung itu memberi-tahukan bahwa kedua orang-tuanya sehat, demikian juga dengan saudara-saudaranya, bahwa kedua orang-tuanya begitu merindukan dan mengkhawatirkan dirinya sehingga Baginda Raja Pagaruyung mengirim rombongan itu khusus untuk mencari dan membawa pulang Datuk Batubara yang telah dianggap hilang ketika pergi berburu. Datuk Batubara lalu menyampaikan bahwa dirinya baik-baik saja. Beliau juga memberikan alasan mengapa dia memutuskan tidak kembali, yaitu karena beliau sedang membangun negeri barunya.

Setelah rombongan dari Pagaruyung itu tinggal untuk beberapa waktu lamanya di istana Negeri Batubara, menghadaplah pemimpin rombongan kepada Datuk Batubara untuk pamit untuk kembali ke Pagaruyung dan memohon restu dari Datuk Batubara. Datuk Batubara memberi restunya pada rombongan itu tapi beliau meminta agar beberapa dari mereka bisa tinggal untuk ikut membangun Negeri Batubara. Sang pemimpin rombongan lalu menyanggupi dengan meninggalkan beberapa orang termasuk ada empat orang pemuda yang masih merupakan keponakan Datuk Batubara untuk tinggal di Negeri Batubara. Sang Datuk Batubara senang mendengarnya. Setelah semua persiapan telah siap berangkatlah rombongan itu untuk kembali ke Negeri Pagaruyung.

Keempat pemuda dari Pagaruyung yang tinggal di Negeri Batubara mulai melakukan tugas-tugas mereka sebagai abdi raja. Karena mereka adalah orang-orang kepercayaan raja dan juga kerabat dekat Datuk Batubara, maka mereka seringkali mengunjungi istana. Hampir pada tiap kunjungan mereka ke istana, mereka bertemu dengan putri raja dan berbagi cerita dengan putri raja itu. Mereka berempat sangat kagum akan kecantikan dan juga kecerdasan sang putri. 

Diam-diam, keempat pemuda ini menaruh hati pada putri raja, tetapi mereka saling tidak memberitahukan perasaan mereka satu sama lain.

Setelah sekian lama menyukai putri raja, maka menghadaplah keempat pemuda ini secara terpisah kepada ayahanda sang putri, yaitu Datuk Batubara. Mereka mengutarakan perasaan mereka secara terpisah. Datuk Batubara sangat terkejut mendengar pengakuan mereka berempat. Sebenarnya, beliau sangat menyukai keempat pemuda ini karena selain elok parasnya mereka juga memiliki pengetahuan yang baik tentang ilmu dunia dan ilmu agama. Sang raja memang berharap sekiranya salah seorang dari mereka kelak dapat menjadi menantunya yang juga sebagai penerus takhtanya, namun dia tidak pernah menyangka bahwa keempat pemuda itu menyukai putrinya. 

Setelah menimbang-nimbang dan bermusyawarah dengan permaisurinya dan para penasehatnya, akhirnya sang raja memanggil keempat pemuda itu secara terpisah. Raja pun memberitahukan pada masing-masing pemuda itu bahwa beliau akan memberi jawaban asalkan mereka menunggu selama empat puluh hari. 

Datuk Batubara-pun mulai mencari-cari jalan keluar mengenai permasalahan ini. Beliau tidak ingin jika masalah putrinya ini akan menciptakan pertengkaran diantara keempat pemuda itu yang mungkin akan menimbulkan perang diantara saudara. Raja juga tidak mau merusak tali silaturahmi dengan orang-tua para pemuda yang juga masih merupakan kerabat dekatnya sehingga kelak akan menyusahkan ayahandanya di Pagaruyung. Setelah tidak ada lagi jalan keluar yang bisa ditemukan olehnya, maka rajapun memasrahkan masalah itu kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Masa empat puluh hari yang dijanjikan oleh raja semakin dekat. Raja, permaisuri, dan para penasehatnya semakin gugup menyongsong hari yang telah ditentukan. Pada saat itu, datanglah salah seorang pegawai istana yang melapor pada sang raja bahwa entah bagaimana petir menyambar kandang-kandang ternak peliharaan raja, termasuk kandang kuda istana dan membuat pintu-pintu kandang terbuka sehingga hewan-hewan telah berlarian keluar. Raja menanggapi laporan itu dengan dingin karena beliau tidak begitu menganggap hal itu adalah masalah yang penting. Raja lalu memerintahkan seorang hulubalang untuk memimpin prajuritnya mencari ternak-ternak itu. Tak beberapa lama kemudian, hulubalang yang ditugaskan oleh raja kembali menghadap baginda raja. Mereka melaporkan bahwa hampir semua ternak berhasil dikembalikan kekandang karena rupanya ternak-ternak itu tidak hilang melainkan hanya berkumpul disatu tempat dihutan. Hanya tiga hewan saja tidak bisa ditemukan, yaitu anjing penjaga, kuda kesayangan putri raja, dan seekor monyet peliharaan permaisuri. Hulubalangnya juga melaporkan bahwa dia melihat ada banyak kunang-kunang yang begitu cantik dan membentuk tiga kelompok besar, dan terbang menuju keistana. Raja tidak begitu terkesan mengenai laporan itu. Beliau lebih khawatir memikirkan permasalahan putrinya dan empat pemuda itu. 

Hari telah malam dan sang rajapun telah sangat letih. Beliau lalu membubarkan pertemuannya dengan para penasehatnya dan bermaksud untuk pergi tidur. Namun, sang raja begitu terkejut ketika mendengar teriakan permaisurinya. Rajapun berlari menghampiri permaisurinya yang sedang berdiri didepan kamar putri mereka. Ketika sang raja bertanya penyebab permaisurinya berteriak, sang permaisuri menjawab dengan menunjuk kedalam kamar putrinya. Sang rajapun melangkah masuk kedalam kamar putrinya dan terkejutlah sang raja karena beliau melihat ada empat orang gadis yang memiliki wajah, tubuh, suara, dan pembawaan yang sama persis dengan putrinya. Ketika sang raja dan permaisuri bertanya, siapakah mereka, keempat gadis itu menjawab bahwa mereka adalah putri raja. Sang rajapun segera kembali mengumpulkan penasehat-penasehatnya dan juga rohaniawan dinegerinya dan menceritakan kejadian yang baru saja dialami olehnya. 

Setelah mendengar penuturan raja, maka para rohaniawan berkata bahwa Tuhan telah menjawab doa sang raja, yaitu agar pernikahan putrinya tidak menimbulkan pertengkaran diantara keempat pemuda itu, sehingga Tuhan mengirimkan tiga orang gadis yang sama persis dengan sang putri agar jumlah putri raja menjadi empat orang. Rajapun teringat tentang petir yang menyambar kandang-kandang ternak dan kuda peliharaannya sehingga beliau kehilangan tiga hewan yang disukai olehnya dan putrinya. Beliau juga teringat pada cerita hulubalangnya yang melihat ada sekelompok besar kunang-kunang yang cantik yang membentuk tiga kelompok dan terbang kearah istana. Mungkinkah itu adalah kunang-kunang yang sama yang telah menuntunnya dulu ke Negeri Simalungun? Raja tidak mampu menebak hal itu. Beliau hanya berpendapat bahwa ketiga hewan peliharaannya telah diubah oleh Yang Maha Kuasa menjadi kunang-kunang dan terbang menuju kekamar putrinya diistana agar dapat menjelma menjadi serupa dengan putrinya. Sang raja dan juga permaisuri menjadi sangat terharu akan kebesaran dan rahmat Tuhan, dan mereka lalu menemui keempat gadis itu, yang adalah juga putri-putri mereka lalu bertanya apakah mereka bersedia untuk dipersunting oleh keempat pemuda itu, dan keempat putri ini menjawab bahwa mereka bersedia menjadi istri dari pemuda-pemuda itu. 

Raja begitu bahagia mendengar keputusan putri-putrinya. Ketika masa penantian empat puluh hari telah genap, sang raja lalu memanggil keempat pemuda itu untuk menghadapnya secara bersamaan. Raja Batu Bara menyatakan bahwa beliau menerima pinangan putrinya oleh keempat pemuda itu. Keempat pemuda itu begitu terkejut mengetahuinya karena mereka saling tidak mengetahui bahwa tiga pemuda lainnya juga menyukai sang putri dan telah meminangnya. Keempat pemuda ini juga terlihat bingung dan heran karena raja menyatakan menerima pinangan mereka berempat, sedangkan yang mereka berempat ketahui adalah Baginda Raja Batu Bara hanya memiliki seorang putri. Namun, sang raja meminta agar mereka tenang. Beliau mensyaratkan pada keempat pemuda itu agar mereka memperlakukan putrinya dengan baik, dan tidak mempermasalahkan kenyataan yang mereka lihat mengenai putri raja, dan juga agar tidak penasaran mengenai apa yang telah terjadi pada putri raja. Keempat pemuda yang masih heran ini menyanggupi persyaratan dari sang raja. Sang rajapun mempersilahkan keempat putrinya itu memasuki Balairung Istana tempat raja berada. Terkejutlah keempat pemuda itu bersama dengan para penghulu dan pegawai kerajaan yang memang tidak mengetahui tentang keberadaan keempat gadis yang sama rupa, sama suara, dan sama lagaknya dengan sang putri raja. Namun, keempat pemuda ini lalu bergembira melihat kenyataan itu. Raja bersama permaisuri dan juga keempat pemuda itu serta segenap penghulu kerajaan dan para alim ulama segera bermusyawarah menentukan waktu pernikahan. Maka, waktu pernikahan-pun disepakati yaitu tujuh setelah hari itu. Waktu pernikahan segera diumumkan kepada segenap rakyat yang menyambutnya dengan penuh sukacita. 

Setelah waktu penantian pernikahan telah genap, maka dilangsungkanlah pernikahan empat putri Baginda Raja Batubara dengan keempat pemuda dari Pagaruyung itu. Pesta pernikahan berlangsung dengan sangat meriah. Baginda Raja Batubara dan permaisurinya menjadi orang-orang yang paling berbahagia atas pernikahan itu. Bagi mereka, lengkaplah sudah rahmat yang Tuhan berikan pada mereka. Tuhan telah menganugerahkan pada mereka negeri yang makmur dan beradab, putri-putri yang cantik, dan menantu-menantu yang berparas elok, berhikmat, dan bertaqwa.

Baginda Raja Batu Bara terkenang tentang petualangannya berburu rusa yang begitu berat namun justru membuatnya tiba di Negeri Simalungun dan bertemu dengan istrinya serta bersama-sama menemukan dan membangun Negeri Batubara. Beliau mengucap syukur pada Tuhan karena mengijinkannya melalui begitu banyak petualangan dan mendapatkan banyak pengalaman dalam hidupnya.


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Legenda ini merupakan cerita rakyat Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, yang diceritakan secara turun-temurun.

Kerajaan Batubara adalah pendahulu dari kedatuan-kedatuan yang lalu muncul di wilayah Batubara. Batubara adalah sebuah kabupaten di provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kerajaan Batubara berdiri sekitar tahun 1676-1680 setelah jaman Hindu-Buddha sudah berakhir dan pada masa Islam sudah menjadi agama utama di Sumatera. Wilayah Batubara mulanya adalah salah-satu wilayah kekuasaan Kerajaan Simalungun yang menjadi bagian dari Kesultanan Asahan dan dibawahi oleh Kesultanan Aceh.

Inti cerita dalam kisah ini juga tokoh-tokoh utamanya adalah nyata.

Datuk Batubara adalah benar-benar putra raja Kerajaan Alam Minangkabau. Kerajaan Alam Minangkabau yang kemudian mendirikan kedatuan di wilayah Batubara setelah menikahi seorang putri raja dari Simalungun. Ayah Datuk Batubara adalah Raja Bujang. Raja Bujang adalah putra Yang Dipertuan Pagaruyung (penguasa utama Kerajaan Alam Minangkabau) saat itu, yaitu Raja Gamuyang. Raja Bujang dan ayahnya, Raja Gamuyang, adalah salah satu dari Tiga Raja Minangkabau (Rajo Tiga Selo) saat itu. Kisah perburuan Datuk Batubara yang gagal juga nyata namun memiliki selipan-selipan mitos.

_________________________________________________________________________________

Copyrights (Hak Cipta):
Legenda ini ditulis kembali berdasarkan cerita-cerita rakyat Batubara dan juga kisah yang dimuat dari buku “Sejarah Kabupaten Batubara Dari Masa ke Masa” yang ditulis oleh M.Yusuf Morna dan diterbitkan pertama-kali oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Batubara (2010). Kisah ini disusun kembali oleh Deleigeven Media.


TIM PENYUSUN:
Penulis : Deleigeven
Editor : Juliet
Penerbit : Deleigeven Media


Wednesday, 10 January 2018

HUBUNGAN JEPANG-KOREA DARI MASA KE MASA: SEJARAH HUBUNGAN JEPANG DAN KOREA PADA MASA MODERN





Hubungan Jepang dan Korea memiliki sejarah yang sangat panjang. Sejarah panjang kedua bangsa ini didominasi oleh berbagai perselisihan yang kerap menghasilkan perang. Perang-perang antara Jepang dan Korea selalu perang berskala besar yang menimbulkan kehancuran yang luar biasa. Pada masa kini, sengketa Pulau Dokdo seakan menegaskan kembali hubungan buruk kedua bangsa ini sejak masa lalu.

Pada masa kolonial Jepang di Korea, warga Korea dikategorikan sebagai warga kelas dua (bagi para bangsawan kaya) dan bahkan kelas tiga yang posisinya dibawah warga Jepang tentunya, dan juga lebih rendah dari warga Tiongkok dan Manchu. Sama seperti nasib penduduk di wilayah jajahannya, orang Korea juga dikerahkan untuk menjadi romusha (pekerja paksa) dan wanita-wanita mereka juga harus menghadapi teror perekrutan Jugun Ianfu. Sedangkan, kaum intelektualnya harus mengabdi pada Jepang sebagai pejabat pemerintah atau prajurit Dai Nippon yang kedua profesi ini akan memperhadapkan mereka dengan bangsa mereka sendiri.

Pendudukan Jepang ini sangat traumatis bagi orang Korea hingga saat ini sebab Korea kehilangan banyak hal akibat penjajahan Jepang. Runtuhnya Kerajaan Korea (Kekaisaran Han Raya), raibnya harta negara dalam jumlah besar, dan banyak sekali peninggalan-peninggalan leluhur mereka yang dibawa ke Jepang. Jepang juga merekayasa babad Raja Gojong dan Raja Sunjong dan berusaha memusnahkan catatan-catatan sejarah kuno Korea, termasuk Sillok.

Pendudukan ini mengakibatkan hilangnya martabat orang Korea selama lebih dari empat dekade, dan juga menjadi indikator perpecahan di Korea sebab era revolusi itu menghasilkan berbagai ideologi dikalangan masyarakat Korea yang mengerucut menjadi dua kubu, liberalis dan komunis. Ini membuat masyarakat Korea kembali menyalahkan pendudukan Jepang ketika meletusnya Perang Korea (1950-1953) yang meluluh-lantakan seluruh Semenanjung Korea. Pada saat itu, selama bertahun-tahun Indonesia di era Soekarno menjadi negara yang jauh lebih maju dan makmur daripada Korea, baik Korea Selatan maupun Korea Utara.

Tapi, tidak selamanya hubungan kedua bangsa dan negara ini berjalan buruk.

Walau tercoreng oleh masa-masa pendudukan Jepang di Korea, tapi pergantian masa ke masa dan usaha berkat berbagai pihak akhirnya ubungan kedua negara ini bisa dipererat.

Menurut catatan sejarah, ada banyak sekali faktor dan berbagai upaya yang mendukung perbaikan hubungan kedua bangsa, salah-satunya adalah upaya pihak Jepang mengembalikan beberapa barang pusaka Korea di-tahun-tahun terakhir ini yang membuat hubungan kedua bangsa ini menjadi lebih baik, walaupun tensi politik Korea Selatan dan Jepang tetap naik-turun.



PENGARUH PERKEMBANGAN KEKRISTENAN DALAM HUBUNGAN BILATERAL
JEPANG DAN KOREA

Perkembangan agama Kristen di kedua negara juga cukup membantu mempererat hubungan mereka sejak sebelum perang dunia kedua. Saat itu, para misionaris yang berada di Korea dan di Jepang menjadi jembatan yang mempertemukan sekian banyak perbedaan dari kedua bangsa, sebab para misionaris, apakah misionaris barat atau juga misionaris Jepang adalah salah satu ujung tombak bagi perlindungan warga Korea dari tindakan Jepang, sebab Jepang tidak bisa mengintervensi gereja-gereja Protestan sebelum peristiwa penyerbuan di Pearl Harbour karena dimasa itu gereja-gereja Protestan mendapat perlindungan dari perwakilan diplomatik Amerika Serikat, yang sebelum peristiwa Pearl Harbour, masih memiliki hubungan diplomatik dengan Jepang. Selain dengan Amerika Serikat, beberapa Gereja Protestan juga dilindungi langsung oleh pemerintah Jerman yang adalah sekutu Jepang semasa Perang Dunia I dan II. Jepang juga tentunya tidak bisa mengintervensi Gereja Katolik sebab gereja-gereja Katolik diseluruh dunia, menurut hukum gereja, adalah perwakilan langsung negara Vatikan, yang mana Vatikan dan Jepang juga memiliki hubungan diplomatik. Hal ini sangat berbeda dari jaman Edo ketika Kekristenan menjadi hal yang tabu dan bahkan dibasmi di Jepang, jauh sebelum persekusi umat Kristen pertama di Korea yang terjadi pada masa pemerintahan Raja Yeongjo.

Aktifitas gereja-gereja di Korea memang mendapatkan pengawasan ketat pihak Jepang, tapi otoritas gereja mampu menyelamatkan banyak orang. Hubungan antara gereja-gereja Korea dan gereja-gereja Jepang juga menjadi faktor yang sedikit mampu memperbaiki citra Jepang dimata orang Korea sebab umat Kristen di Jepang cukup gencar menyorot pelanggaran HAM yang dilakukan oleh tentara Jepang diberbagai wilayah yang diduduki Jepang, teruatama Korea dan Tiongkok. Pihak gereja-gereja Jepang juga sangat mengkritisi pendudukan Jepang di Korea.

Peristiwa Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki secara ironi juga menjadi faktor yang mengikat hubungan antara Korea dan Jepang. Ketika peristiwa Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki (Agustus 1945) itu terjadi, hanya ada dua bangsa yang menangisi peristiwa itu, tentunya yang pertama adalah Jepang, dan yang kedua adalah Korea.

Peristiwa Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki ini memang menjadi momentum bangsa-bangsa jajahan Jepang untuk memerdekakan diri termasuk Korea, Tiongkok, dan juga Indonesia. Tapi, bagi orang-orang Kristen Korea dimasa itu, peristiwa Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki adalah juga salah-satu tragedi bagi mereka sebab Hiroshima dan Nagasaki adalah kota di Jepang yang paling banyak dihuni oleh orang-orang Korea di Jepang. Selain itu, kota Nagasaki adalah pusat kekristenan di Jepang sehingga bagi orang Kristen Korea, peristiwa Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki ini membuat mereka kehilangan saudara-saudara seiman mereka yang sebelumnya juga mendukung perjuangan mereka. Bom di Nagasaki juga menewaskan salah-satu pewaris tahta Korea, Pangeran Gon, yang merupakan pewaris yang paling diharapkan oleh klan Yi untuk menduduki tahta warisan Yi Seong-gye.




PENGARUH BUDAYA POPULER DALAM HUBUNGAN BILATERAL
JEPANG DAN KOREA

Saat ini, sebagian besar kalangan tua Korea masih antipati pada apapun yang berbau Jepang, tapi berbagai event yang melibatkan kedua-negara ini membuat sikap itu tidak bertahan lama dan mulai memudar dikalangan muda yang mulai selektif dan objektif.

Momen Piala Dunia Korea Selatan-Jepang (2002) merupakan peristiwa di masa modern yang membuahkan hubungan baik kedua negara ini dititik tertinggi. Berbagai upaya positif kedua negara berhasil mencairkan suasana yang kaku, termasuk pembuatan mini-seri drama “Friends” yang hasil kerja-sama kedua negara. Drama ini dibintangi oleh bintang-bintang Korea dan Jepang paling terkenal pada masa itu, aktor Wonbin dan aktris Kyoko Fukada.

Budaya populer merupakan alat perekat utama bagi naik-turunnya hubungan kedua bangsa ini. Industri perfilman Korea Selatan memang menjadikan Hongkong dan Hollywood sebagai acuan pendidikan perfilman dan serial televisi mereka tapi industri musik Korea dan juga sistem pelatihan (kurikulum) talent agent mereka mengacu pada sistematisasi pelatihan yang diterapkan oleh Jepang.

Pada tahun 70an, pihak Korea Selatan mulai mengirim seniman-seniman mereka ke Jepang untuk belajar. Korea Selatan tidak langsung mengirim artis-artis mereka ke Jepang melainkan mengirim pelatih-pelatih artis dan juga mahasiswa/i seni. Mereka mengirim pelatih mereka ke tempat terbaik saat itu. Saat para pelatih itu pulang, mereka mendidik bibit-bibit baru di Korea. Demikian juga saat mahasiswa-mahasiswi itu pulang, sebagian dari mereka menjadi pelatih, dan juga menjadi artis. Selain mengirim mahasiswa/i dan pelatih seni, Korea juga mengadopsi kurikulum pelatihan artis milik Jepang dan memodifikasinya agar bisa diterapkan di Korea sesuai dengan situasi dan kondisi di Korea. Proses ini berlangsung terus-menerus hingga kemudian Korea sudah memiliki tenaga-tenaga pengajar yang handal. Korea pun akhirnya mampu mengembangkan industri kreatifnya tahun demi tahun. Melalui proses yang sistemik ini lahir-lah K-pop sebagai bagian dari Korean Wave. Korean Wave sendiri diawali oleh popularitas drama “Winter Sonata” dan “Endless Love”. Setelah era kedua drama ini selesai, solois Rain menjadi sangat terkenal setelah drama sukses “Full House”. Era Rain inilah yang mengawali popularitas K-pop secara global termasuk juga di Jepang. Di masa yang sama, boyband DBSK muncul dan menjadi boyband abadi bagi penggemar musik Korea. Inilah momentum kedua yang menjadi pencair hubungan Korea-Jepang setelah event Piala Dunia Korea Selatan-Jepang (2002).

Walaupun tingginya nasionalisme antar kedua bangsa dan negara, tentu saja budaya populer bisa menjadi salah-satu penyebab naiknya sentimen negatif masing-masing negara. Tapi, selain perkembangan agama Kristen dikedua negara, bidang ini tetap menjadi salah-satu titik temu terbaik antara orang-orang Korea dan Jepang ditengah-tengah tingginya persaingan produk-produk elektronik dan teknologi kedua negara yang juga melibatkan unsur pendukung utama dalam budaya populer tersebut, yaitu para selebritas mereka.

Kini, upaya-upaya rekonsiliasi hubungan kedua bangsa yang dilakukan oleh banyak pihak semakin membuahkan hasil yang baik. Kedua bangsa memang tidak mau melupakan sejarah sebagai bagian dari masa lalu mereka, tapi kesadaran akan ketergantungan masing-masing sebagai negara-negara yang berada di satu kawasan membuat kedua bangsa ini mulai berdamai dengan masa lalu masing-masing.



PENGARUH KOREA TERHADAP JEPANG TEMPO DULU

Pada masa kini, banyak sekali yang beranggapan bahwa budaya Korea dipengaruhi oleh budaya Jepang, atau teknologi klasik Korea dipengaruhi oleh Jepang. Hanya segelintir orang yang mengetahui bahwa anggapan ini salah besar.

Korea justru adalah sumber dari perkembangan budaya dan teknologi Jepang di-masa-lalu. Pada periode Tiga Kerajaan, budaya dan teknologi Korea menjadi acuan bagi bangsa Jepang. Saat itu, Jepang mengadopsi banyak hal dari Korea, baik itu kesenian, ilmu pedang, astronomi, pakaian, dan bahkan sistem bangsawan militer (samurai).

Secara luas, bangsa Korea diakui sebagai bangsa yang serumpun dengan bangsa Jepang. Bangsa Jepang adalah bangsa yang datang ke kepulauan Jepang melalui daratan bagian selatan Semenanjung Korea. Letak mereka di kepulauan yang jauh dari daratan Tiongkok membuat Jepang menjadi sangat bergantung pada Korea sebagai penyalur budaya dan teknologi mereka.

Pengaruh Korea dapat dilihat dari tembikar-tembikar Jepang. Tembikar Jepang sangat dipengaruhi oleh pengrajin Korea. Pengaruh pengrajin-pengrajin tembikar Korea di Jepang sudah dimulai sekitar abad ke-6 hingga abad ke-7 oleh para pengrajin tembikar Baekje yang pergi ke Jepang, terutama setelah Perang Baekgang. Pakaian khas para pengrajin keramik Jepang beserta ikat kepala mereka yang khas juga adalah pakaian para pengrajin tembikar dari Baekje. Inilah mengapa pakaian khas yang kerap dipakai para pengrajin keramik oleh Jepang itu juga dipakai oleh pengrajin-pengrajin keramik di wilayah Jeolla (wilayah asal Baekje).

Pengaruh pengrajin Korea pada seni tembikar Jepang ini terus berlanjut hingga era Joseon, terutama ketika “Perang Tujuh Tahun” meletus. Saat itu, Jepang ingin merampas teknologi pembuatan keramik terunggul yang hanya dimiliki oleh Kerajaan Joseon dan Kekaisaran Ming, sehingga saat menginvasi Joseon, mereka menangkap dan menculik banyak pengrajin keramik Joseon termasuk Yi Sam-pyeong. Yi Sam-pyeong adalah pengrajin keramik Joseon yang diculik oleh Nabeshima Naoshige, utusan yang dikirim ke Joseon (1598). Gubernur Nabeshima sangat terpesona pada hasil karya Yi Sam-pyeong sehingga beliau mendukung penuh Yi Sam-pyeong. Gaya keramik Yi Sam-pyeong menjadi role model pengrajin keramik di Arita. Inilah yang membuat Yi Sam-pyeong dihormati sebagai ‘dewa keramik’ bagi masyarakat Jepang. Keramik yang berasal dari Arita yang didasari pada gaya Yi Sam-pyeong dijadikan sebagai gaya keramik yang mewakili Jepang ke seluruh dunia dan menjadi ciri utama keramik Jepang sejak tahun 1660. Keramik Arita yang memiliki pola halus, warna mewah dan bentuk indah semakin terkenal di Eropa, dan menjadikan keramik Jepang mendapat gengsi yang tinggi.

Selain budaya dan teknologi, Korea jugalah yang membawa masuk agama Buddha ke Jepang. Buddhisme Korea lalu menjadi sumber utama bagi ajaran-ajaran Buddha di Jepang sebab Buddhisme Korea mampu mendapatkan sumber langsung dari Tiongkok dan India, sedangkan biksu-biksu Jepang tidak bisa mencapai Tiongkok sesering biksu-biksu Korea, dan juga dalam catatan sejarah tidak ada biksu Jepang yang mampu mencapai India.

Korea juga menginspirasi pembentukan bangsawan militer Jepang, atau yang kita kenal dengan sebutan “Samurai”.

Awal mula sistem bangsawan militer ini berawal pada tahun 663 M, ketika pasukan gabungan Jepang dan Baekje kalah melawan pasukan gabungan Silla dan Dinasti Tang yang menandai keruntuhan Kerajaan Baekje, Jepang yang sadar akan kekurangan militernya lalu melakukan reformasi yang sangat terkenal di Jepang yaitu Reformasi Taika yang dicetuskan oleh Pangeran Naka-no-Oe (kelak menjadi Kaisar Tenji). Reformasi ini mereformasi sistem birokrasi dan sistem militer Jepang yang lama menjadi sistem ala dinasti Tang. Imbas dari reformasi ini, pada tahun 702, penerus Kaisar Tenji, yaitu Kaisar Monmoku menerapkan sistem militer yang berlaku di Silla yaitu sistem “Bangsawan Militer” yang mewajibkan 3-4 anggota keluarga laki-laki tiap bangsawan untuk mengabdi kepada kekaisaran sebagai perwira militer. Sistem ini mengacu pada perekrutan para Hwarang dan pasukan Hwarang yang mengabdi di Silla. Sistem bangsawan militer inilah yang menjadi cikal-bakal Samurai Jepang.

Selain kelompok Samurai, konon teknik berpedang para Hwarang menjadi asal mula teknik berpedang para Samurai Jepang. Teori ini diterima oleh sejarawan Korea dan sebagian sejarawan Jepang, tapi ditolak oleh banyak sejarawan Jepang. Teori bahwa teknik berpedang para Samurai berasal dari teknik berpedang para Hwarang dianggap masuk akal karena sistem bangsawan militer yang menjadi cikal-bakal Samurai mulai diterapkan di Jepang pada tahun 702 M, setelah kekalahan mereka dari pasukan Silla-Tang dalam Perang Baekgang. Setelah Perang Baekgang, Jepang kembali membangun hubungan diplomatik dengan Silla. Secara diam-diam, para utusan Jepang mempelajari sistem militer Silla dan juga ilmu beladiri dan ilmu berpedang para Hwarang yang berbeda dari ilmu beladiri dan ilmu pedang Tiongkok. Periode inilah yang diklaim awal mula para samurai Jepang mendalami ilmu berpedang yang mencontoh teknik berpedang para Korea, sehingga para sejarawan ini beranggapan bahwa ilmu pedang para Samurai asalnya adalah dari Korea, tepatnya dari teknik pedang para Hwarang.

Jauh sebelum para Hwarang lahir, seorang pangeran Silla dikirim ke Jepang dan mengabdi pada istana Jepang. Cerita legenda tentang kisah kehidupan pangeran Silla ini tetap dilestarikan hingga sekarang.





PENGARUH JEPANG TERHADAP KOREA TEMPO DULU

Sejak Kekaisaran Jepang pertama kali berdiri, mereka banyak mengadopsi banyak hal dari Korea, tapi itu tidak berarti Korea tidak mengadopsi apa-apa dari Jepang. Jepang adalah distributor utama berbagai komoditi dari bangsa-bangsa Eropa dan produk-produk dari Asia Tenggara ke Korea.

Pada masa Tiga Kerajaan, Kerajaan Silla Bersatu, dan Kerajaan Goryeo, Korea menerapkan sistem perdagangan terbuka. Tetapi, setelah Kekaisaran Yuan menaklukan Goryeo, Korea mulai diisolasi oleh Yuan. Untunglah Raja Gongmin berhasil mengusir Yuan. Tapi, tidak lama setelah kematian Raja Gongmin, Kerajaan Goryeo runtuh dan digantikan oleh dinasti baru yang sangat tertutup, Joseon.

Mula-mula Kerajaan Joseon masih membuka diri, tapi serbuan-serbuan asing termasuk dari Jepang dan diperparah invasi Bangsa Manchu (Kekaisaran Qing) membuat Raja Injo (raja ke-16 Joseon) menerapkan politik isolasi. Politik isolasi ini membuat Korea dijuluki sebagai “Kerajaan Pertapa”.

Pada periode isolasi ini, pemasok berbagai komoditi di Joseon hanyalah Tiongkok dan Jepang. Saat itu, Jepang sudah membuka hubungan dagang dengan Belanda melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (VOC) yang basis utamanya adalah di Pulau Jawa, Indonesia. Melalui perusahaan dagang Belanda ini Jepang berdagang berbagai komoditi dari Asia Tenggara khususnya Indonesia seperti buah-buahan, rempah-rempah, berbagai produk atsiri, dan sebagainya. Jepang lalu memperkenalkan komoditi-komoditi tersebut ke Korea melalui pusat perdagangan Korea-Jepang di Pulau Tsukushima. Contoh terbaik adalah buah pisang yang masuk ke Jepang (abad ke-17). Buah yang tercatat didatangkan dari Jakarta oleh kapal-kapal VOC ini lalu dibawa ke Korea oleh pedagang-pedagang Jepang. Tanpa Jepang, mustahil berbagai komoditi dari Indonesia bisa masuk ke Korea dalam kurun waktu itu karena Belanda memonopoli perdagangan beberapa komoditi penting di Indonesia, dan satu-satunya bangsa Eropa yang menjalin kerja-sama perdagangan dengan Jepang hanyalah Belanda.

Jauh sebelum itu, pengaruh Jepang sudah dirasakan di-era awal Tiga Kerajaan ketika raja pertama Silla, Raja Hyeokgeose berkuasa. Saat itu Silla memeliki seorang menteri yang berasal dari Jepang yang bernama Hogong. Hogong merupakan orang yang menemukan Kim Alji (pada 65 M), luluhur klan Kim yang nanti menjadi penguasa Silla. Hogong hidup hingga masa pemerintahan Raja Talhae (raja ke-4 Silla). Raja Talhae juga adalah orang Jepang. Beliau adalah menantu dari Raja Namhae dan ipar Raja Yuri (raja ke-3 Silla). Raja Talhae adalah seorang pangeran yang berasal dari sebuah kerajaan kecil di Timur Laut Jepang yang bernama Kerajaan Dapana. Menurut legenda, ayah Talhae yang bernama Raja Hamdalpa menganggap kelahiran Talhae akan menjadi malapetaka bagi kerajaannya. Bayi Talhae lalu dimasukkan kedalam kotak dan dibuang ke laut hingga sampai ke Silla dan ditemukan oleh seorang nelayan. Talhae lalu diasuh oleh keluarga Seok yang saat itu adalah seorang pejabat tinggi di Silla. Talhae dinikahkan dengan putri Raja Namhae. Setelah Raja Yuri meninggal, Talhae lalu diangkat menjadi raja Silla. Ini artinya, dalam diri para anggota keluarga kerajaan Silla juga mengalir darah Jepang.

Pada era awal ini juga, Korea melalui Silla sering mendapat serbuan dari Jepang, terutama saat Kaisar Suinin berkuasa. Tapi, saat Kaisarina Himiko berkuasa, situasi mulai membaik. Saat itu, Kaisarina Himiko mengirimkan rombongan utusan (158 M) pada Raja Adalla (raja ke-8 Silla) dan memberikan banyak hadiah pada Raja Adalla sebagai tanda persahabatan. Kaisarina Himiko kembali mengirimkan rombongan utusan pada Raja Adalla (173 M) beserta banyak hadiah sebagai tanda persahabatan. Sebagai hasilnya, ada transfer budaya dari Korea ke Jepang dengan lebih mudah saat itu sebab Silla adalah wilayah daratan Korea yang paling dekat dengan Kepulauan Jepang.

Hubungan baik kerajaan-kerajaan di Korea (terutama Baekje) dengan Jepang mulai terjalin erat berkat sikap Kaisarina Himiko yang sangat bersahabat.

Hubungan Jepang naik turun setelah kematian Kaisarina Himiko. Berbagai peristiwa mewarnai periode itu. Tapi, kehadiran bajak laut Wokou dari Jepang pada abad ke-13 yang seharusnya memperburuk keadaan justru membantu memperbaiki hubungan kedua negara. Walau bajak laut ini berasal dari Jepang tapi Semenanjung Korea adalah wilayah yang paling sering diserang oleh para bajak laut. Meskipun pasukan Korea sangat tangguh memerangi mereka tapi bantuan yang diberikan oleh Jepang sangat berarti. Tanpa bantuan Jepang, Korea hanya memenangkan perang tapi tidak akan mampu mengembalikan rampasan-rampasan yang dibawa oleh para perompak, termasuk warga Korea yang diculik. Kerjasama Korea dan Jepang mengatasi bajak laut cukup memperbaiki hubungan kedua negara yang sempat tercoreng oleh invasi pasukan Mongol ke Jepang yang justru diangkut oleh armada perang Korea.




PERSAHABATAN JEPANG DAN BAEKJE

Kerajaan Baekje merupakan sumber perkembangan teknologi, agama Buddha, dan peningkatan budaya bagi Jepang. Jepang mengadopsi budaya dan teknologi dari Korea sejak dulu, dan sumber paling awal mereka adalah Baekje. Mereka mengadopsi banyak teknologi dan budaya dari Baekje, bahkan agama Buddha dibawa ke Jepang oleh biksu dari Baekje.

Tapi, Baekje yang telah berdiri selama 678 tahun runtuh pada 18 Juli 660 akibat serbuan Kerajaan Silla. Runtuhnya Kerajaan Baekje ini sangat mengejutkan seluruh penjuru Jepang.

Rupanya Baekje belum sepenuhnya menyerah. Pasukan Baekje bergerilya melawan pasukan Tang yang membuat pemerintahan proktetorat di Sabi. Mereka berhasil menguasai sejumlah kecil wilayah yang tidak terjangkau oleh pasukan Tang. Begitu Raja Uija menyerah, para bangsawan Baekje yang dipimpin oleh Gwisil Boksin melarikan diri ke Jepang meminta bantuan sekutu abadi mereka itu. Jepang yang sejak dulu dibantu oleh Baekje merespons positif permintaan Baekje. Agustus 661 bala bantuan pertama dari Jepang yang dikirim oleh Kaisarina Semei untuk Baekje tiba di wilayah Baekje dibawah pimpinan Jenderal Abe no Hirafu. Pasukan gelombang kedua yang lebih besar tiba juga di Baekje (662) yang dipimpin Jenderal Kamitsukeno no Kimi Wakako dan Jenderal Iohara no Kimi. Putra Raja Uija, Pangeran Buyeo Pung yang sudah tingga selama 30 tahun di Jepang ikut dalam rombongan ini sebagai calon raja Baekje. Tapi, pasukan Jepang ini tidak mampu mengalahkan koalisi Silla-Tang dan harus menyerah dalam Perang Baekgang.

Setelah kekalahan Jepang dalam Perang Baekgang, kapal-kapal Jepang yang berhasil selamat kembali ke Jepang dan dipenuhi oleh pengungsi-pengungsi dari Baekje.

Para pengungsi dari Baekje yang tiba di Jepang membaur dengan masyarakat Jepang walau awalnya mereka mendapatkan diskriminasi. Para bangsawan Baekje lalu dijadikan sebagai bangsawan Jepang dan mampu bertahan dalam berbagai perang sipil yang kerap berkecamuk di Jepang. Pernikahan para bangsawan Baekje dengan bangsawan-bangsawan Jepang juga akhirnya menyentuh bangsawan-bangsawan istana dan keluarga raja. Percampuran darah Baekje dalam keluarga kerajaan juga diakui oleh Kaisar Akhihito, yang mengakui bahwa dalam dirinya juga mengalir darah Korea. Pengakuan Kaisar Akhihito ini menjadi salah-satu poin dan momentum penting dalam memperbaiki hubungan antar kedua bangsa. 


Kini, hubungan kedua bangsa ini masih seperti air laut yang pasang surut. Namun, semakin bertambahnya waktu semakin banyak juga pencapaian-pencapaian positif antar kedua bangsa demi memperbaiki hubungan kedua negara dan juga mengurangi trauma yang masa-lalu.



Daftar Pustaka:
-Byeon-won Lee; History
-Maurizio Riotto; The Place Of Hwarang Among The Special Military Corps Of Antiquity; The Journal of Northeast Asian History; Northeast Asian History Foundation; 2012
-Richard McBride; Silla Budhist & The Manuscript of Hwarang Segi
-Tae-hoong Ha; Samguk Yusa, Legends and History of the Three Kingdoms of Ancient Karea; Yonsei University Press; 1972; Seoul
-Wontak Hong; Baekche An Offshoot of the Buyeo-Koguryeo in Mahan Land; East Asian History, A Korean Perspective; 2005; Seoul
-Young-kwan Kim, Sook-ja Ahn; Homosexuality In Ancient Korea; Pyongtaek University, Hanyoung Theological University; 2006; Seoul
-Korean History For International Citizen; Northeast Asian History Foundation
-Koreana (Korean Culture & Art) Vol.25.No.1; 2011; National Museum Of Korea
-Korea's Flowering Manhood
-The History of Hwarang-do
-The Three Kingdoms of Ancient Korea in the History of Taekwon-Do


Daftar Website:
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ARTIKEL INI DISUSUN DAN DITERBITKAN PERTAMA KALI
OLEH DELEIGEVEN MEDIA

SETIAP ARTIKEL YANG MEMILIKI ISI, SUSUNAN, DAN GAYA PENULISAN
YANG MIRIP DENGAN ARTIKEL INI MAKA ARTIKEL-ARTIKEL TERSEBUT
MENYADUR ARTIKEL INI.

DILARANG KERAS MEMPLAGIAT ARTIKEL INI!

CANTUMKAN LINK LENGKAP ARTIKEL INI DISETIAP KALIMAT YANG ANDA DISADUR DARI ARTIKEL INI. SESUAI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA, JIKA MENYADUR/MENG-COPY MINIMAL SEPULUH KATA TANPA MENCANTUMKAN SUMBER DARI KALIMAT ITU (BERBEDA DARI PENCANTUMAN SUMBER DI CATATAN KAKI (FOOTNOTE) MAKA ITU ADALAH TINDAKAN PLAGIARISME.

JIKA ANDA MENYADUR SEBAGIAN BESAR ARTIKEL INI MAKA ANDA HARUS MENCANTUMKAN KALIMAT:
"ARTIKEL INI DISADUR DARI....(LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA",
ATAU:"SUMBER UTAMA DARI SEBAGIAN BESAR INFORMASI ARTIKEL INI DIAMBIL DARI (LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA"  
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Notes (Catatan):

*We strongly recommend all readers to read all the comments below for the other details which not mentioned by this article
(Sangat disarankan bagi para pembaca untnk melihat komentar-komentar artikel ini sebab beberapa komentar membahas rincian informasi yang tidak ditulis dalam artikel ini)

*Please open: Kingdom of Silla for short story about "Kingdom Of Silla" in ENGLISH
(Silahkan membuka link: Kingdom of Silla untuk membaca sejarah singkat Kerajaan Silla dalam bahasa Inggris).

*Get various information about history in ENGLISH by open or follow our Instagram account: @deleigevenhistory
(Dapatkan berbagai informasi sejarah dalam bahasa Inggris di akun instagram kami @deleigevenhistory)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Copyrights Story: Deleigeven Media

Penyusun:
Penulis : Deleigeven
Editor : Juliet
Desain : Deleigeven
Penerbit: Deleigeven Media


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------