DELEIGEVEN HISTORICULTURAM

HISTORY IS ONE OF THE BEST INFORMATION FOR OUR CURRENT & FUTURE

Translate

Wednesday, 5 August 2015

Sejarah dan Pencapaian BNI 46, Bank Pertama di Republik Indonesia





Saya dibesarkan disebuah pulau kecil dibagian utara Provinsi Papua. Pulau itu bernama pulau Biak dan dulunya merupakan pulau yang cukup ramai. Namun, lama-kelamaan pulau Biak menjadi pulau yang sangat sepi. Meskipun pulau ini memiliki potensi wisata yang besar, namun pulau ini hanya memiliki sedikit sumber daya alam. Karena pulau ini tidak begitu ramai, bank-bank yang beroperasi dipulau ini sangat sedikit, tidak sampai lima bank.

Saya masih ingat saat saya masih SMP ketika untuk pertama kalinya sejak krisis perbankan melanda Indonesia, ada sebuah bank yang baru dibuka, dan bank itu bernama BNI. Saat itu saya dan teman-teman sekelas saya memperbincangkan 'bank baru’ tersebut. Mungkin bagi orang-orang yang tinggal didaerah lain yang lebih ramai, kehadiran sebuah bank bukanlah hal yang luar biasa, namun bagi kami yang tinggal dipulau kecil yang saat itu tidak memiliki lebih dari lima bank, kehadiran sebuah 'bank baru' merupakan suatu hal yang sangat menarik.

Saya masih ingat betul mengenai krisis moneter 1997-1998 terutama tentang peristiwa-peristiwa di Jakarta yang menjadi tontonan kami hampir tiap hari. Saya dan hampir seluruh teman-teman karib saya juga teman-teman sekelas saya merupakan anak-anak yang orang-tuanya terkena langsung dampak dari krisis itu, rata-rata orang tua kami adalah pegawai swasta yang bekerja di perusahaan di luar pulau Biak. Kami tinggal di pulau Biak karena pulau Biak memiliki akses transportasi yang paling lengkap saat itu dan juga akses pesawat langsung ke Jakarta. Pulau Biak juga adalah tempat yang minim konflik di Papua.

Ayah saya bekerja di perusahaan kehutanan (perusahaan kayu) sebagai salah satu manajer, sedangkan rata-rata teman-teman saya dari keluarga pendatang adalah anak-anak dari para manajer atau pemilik perusahaan kontraktor, dan teman-teman saya yang berasal dari etnis Tionghoa adalah anak-anak dari para pemilik toko, lalu teman-teman saya yang merupakan orang pribumi Papua biasanya anak-anak dari para pekerja perusahaan. Hanya sedikit yang merupakan anak-anak dari pegawai negeri atau TNI/POLRI. Oleh karena itu, kami cukup heran ketika melihat ada 'bank baru' yang muncul. Ketika krisis terjadi, kami masih SD kelas 6 dan kami yang masih kecil sudah mengerti bahwa krisis moneter saat itu yang membuat orang-tua kami kesulitan karena perusahaan-perusahaan tempat orang tua kami bekerja terpaksa berhenti beroperasi. Rata-rata pemilik perusahaan tempat orang tua kami bekerja selain perusahaan dari Indonesia adalah perusahaan-perusahaan dari Korea Selatan, Filipina, atau Malaysia. Sungguh tidak disangka bahwa justru negara-negara itulah yang terkena krisis moneter paling parah.

Bagi kami, dampak krisis itu sangat berat dan sangat lama. Saat itu, yang juga kami tahu adalah ada banyak bank yang tutup, dan juga ada bank sudah tidak ada lagi di kota kami. Tragisnya, salah satu dari bank-bank yang ditutup itu adalah bank tempat orang-tua dari dua orang teman saya bekerja sebagai kepala dan wakil kepala cabang. Kedua teman saya itu terpaksa pulang ke Jawa dan Manado. Perpisahan kami cukup menyedihkan, dan hingga kini kami belum pernah bertemu kembali. Oleh karena itu, ketika kami melihat ada 'bank baru' yang baru dibuka secara spontan kami berpikir bahwa situasi telah membaik, sehingga kehadiran 'bank baru' itu menjadi topik utama obrolan kami di kelas.

Saat kami sedang ramai mengobrol tentang 'bank baru’ dan semakin ribut karena perbincangan kami diselipi oleh lelucon-lelucon konyol khas Papua (yang disebut MOP), pak guru PPKN kami memasuki kelas. Kami tidak sadar bahwa guru kami sudah didalam kelas, karena ketua kelas kami yang seharusnya memimpin kami untuk memberi salam pada guru justru yang paling sibuk mengobrol. Untunglah guru PPKN kami itu bukanlah guru yang killer. Pak guru kami itu sampai harus pura-pura batuk, dan hal itu berkali-kali barulah seluruh murid-murid di kelas menyadari kehadirannya.

“Ada apa kalian ini? Ramai sekali.” Ujar guru kami itu setelah kami semua memberikan salam padanya. “Kalian bicara-bicara apa saja kah?” Tanya guru kami dengan logat Papua, yang artinya, ’kalian tadi membicarakan hal apa saja?’ Beberapa teman saya serempak menjawab, “Ada bank baru pak guru.” Pak guru saya lalu tertawa. “Oooh Bank BNI itu kah?” Tanya guru kami, dan kami pun mengangguk sambil menjawab, “Iyo,” yang artinya ‘iya’. “Bank itu bukan bank baru, justru dia yang paling pertama di Indonesia.” Kata guru kami, dan kami-pun bereaksi dengan membuat mulut kami membentuk huruf ‘Oooo..’ yang panjang. Kami pun melupakan tentang 'bank baru' itu untuk sesaat. Namun, saya yang gemar sejarah langsung mencari tahu mengenai sejarah BNI, untuk membuktikan benar-tidaknya ucapan guru saya. Usaha saya untuk mencari tahu tentang sejarah BNI cukup sulit karena pulau kami belum memiliki internet yang memadai dan juga koleksi perpustakaan daerah sangat terbatas, serta tidak ada buku tentang sejarah perbankan dalam koleksi perpustakaan daerah maupun perpustakaan di sekolah kami. Disisi lain, teman-teman saya (yang sekelas maupun dari kelas lain) terus meneror saya mengenai asal-muasal 'bank baru’ itu karena saya adalah murid yang memperoleh nilai sejarah tertinggi disekolah kami. Lebih gawat lagi, ketika seorang teman saya menanyakan mengenai 'bank baru' itu pada guru sejarah kami, dan guru sejarah kami justru memberikan tugas untuk mencari sejarah tentang 'bank baru' itu sebagai PR kami. Untunglah paman saya yang baru kembali dari Jakarta membawakan banyak buku pesanan saya dan ayah saya, termasuk buku-buku pengetahuan sejarah umum. Berkat buku-buku itu, saya bisa menjawab beberapa pertanyaan teman-teman saya dan menyelesaikan PR saya dan semua teman sekelas saya ^_^. 

Memang benar, BNI 46 adalah bank nasional pertama di Indonesia sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. BNI46 didirikan oleh Margono Djojohadikusumo dan diresmikan pada tanggal 5 Juli 1946. BNI 46 juga merupakan bank pertama yang dipercaya oleh pemerintah Indonesia untuk mengedarkan Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) yang merupakan mata uang pertama Indonesia. ORI pertama kali diedarkan pada tanggal 30 Oktober 1946, yang artinya hanya sekitar 3 bulan sejak BNI 46 pertama kali berdiri. Pada masa-masa itu, ORI yang dicetak di percetakan Canisius hanya memiliki dua warna dengan pengaman berupa serat halus dan juga memiliki desain dan bentuk yang sangat sederhana, dan merupakan mata uang yang memiliki nilai rendah. ORI pertama kali dicetak dalam bentuk uang kertas nominal satu sen dengan gambar dibagian depan berupa keris terhunus dan bagian belakangnya adalah teks UUD 1945. Pada Mei 1946, ketika suasana di Jakarta genting, maka Pemerintah RI memutuskan untuk melanjutkan pencetakan ORI di Yogyakarta. Seri ORI kedua diterbitkan oleh BNI 46 di Yogyakarta pada tanggal 1 Januari 1947. Yogyakarta juga menjadi tempat diterbitkannya seri ketiga dan seri keempat ORI yang masing-masing diterbitkan pada tanggal 26 Juli 1947 dan 17 Agustus 1949. Sedangkan seri ORI RIS (Republik Indonesia Serikat) diterbitkan di Jakarta pada tanggal 1 Januari 1950. Semua seri ORI itu diterbitkan oleh BNI 46.

Meskipun diterbitkan dengan penuh keterbatasan dan kesederhanaan akibat situasi politik pada masa-masa awal kemerdekaan, namun BNI46 melalui ORI berhasil memenuhi harapan dan tujuan pemerintah RI dan Bangsa Indonesia untuk mengeluarkan uang sendiri yang tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah tapi juga sebagai salah satu lambang negara merdeka. Meski masa peredaran ORI sangat singkat, namun ORI telah diterima di seluruh wilayah Republik Indonesia dan ikut menggelorakan semangat perlawanan terhadap penjajah. Kini, tanggal 30 Oktober diperingati sebagai Hari Keuangan Nasional, sedangkan hari lahir BNI 46 diperingati sebagai Hari Bank Nasional. Dua hari nasional itu merupakan satu dari banyak hal yang sangat dibanggakan oleh BNI 46, dan juga merupakan bukti dari peran besar dan pencapaian BNI 46 di Indonesia. 

Peran BNI 46 sebagai bank pencetak mata uang RI pun diganti oleh De Javasche Bank (kini bernama Bank Indonesia) yang ditunjuk sebagai Bank Sentral pada tahun 1949. Peranan BNI 46 dibatasi dan lalu ditetapkan sebagai bank pembangunan. BNI 46 kemudian diberikan hak untuk bertindak sebagai bank devisa, dengan memiliki akses langsung dalam transaksi luar negeri. Pada tahun 1955, status Bank Negara Indonesia diubah menjadi bank komersial milik pemerintah. Perubahan ini diharapkan untuk menmbah pelayanan yang lebih baik bagi sektor usaha nasional. Pemerintah lalu menguluarkan keputusan penggunaan tahun pendirian sebagai bagian dari identitas perusahaan, sehingga nama Bank Negara Indonesia 1946 resmi digunakan pada akhir tahun 1968. Perubahan ini menjadikan BNI lebih dikenal sebagai 'BNI 46'. Lalu pada tahun 1988, penggunaan nama ‘Bank BNI' ditetapkan bersamaan dengan perubahaan identitas perusahaan. BNI 46 mengalami perubahan status hukum pada Tahun 1992 yang juga mengubah namanya menjadi PT.Bank Negara Indonesia (Persero). BNI lalu menjadi perusahaan publik yang dimulai ketika BNI 46 melakukan penawaran saham perdana di pasar modal pada tahun 1996. Hal ini membuat BNI 46 merupakan bank negara pertama yang go-public dalam sejarah perbankan Indonesia.

Pada tahun 1997, krisis keuangan melanda Asia. Krisis yang bermula pada bulan Juli 1997 di Thailand menghantam bursa saham, mata uang, dan harga aset negara-negara di Asia Tenggara dan menyebar ke beberapa negara lain di kawasan Asia terutama Asia Timur. Krisis tersebut sepertinya datang secara tiba-tiba, karena sebelumnya Bank Dunia menilai perekonomian Asia khususnya (Asia Tenggara) memiliki kinerja yang baik bahkan tergolong ajaib. Indonesia merupakan negara yang terkena dampak paling parah dari krisis finansial tersebut. Indonesia bahkan tidak mampu mendapatkan keuntungan ekonomi dari fluktuasi apapun karena Indonesia telah berada di status yang digolongkan sebagai krisis. Krisis ini mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap dunia perbankan. Minimnya likuiditas dan hilangnya kepercayaan masyarakat pada sektor perbankan yang membuat masyarakat menarik uang secara besar-besaran dari bank hingga terjadilah rush menghasilkan saldo negatif (negative balance) pada clearing account bank-bank tersebut dengan Bank Indonesia. Akibatnya banyak bank yang ditutup atau di-merger. Krisis ini juga menurunkan kepercayaan terhadap pemerintah dan juga mengganggu tatanan sosial saat itu sehingga Indonesia menghadapi salah satu dampak terburuk krisis finansial, yaitu kerusuhan dan huru-hara, yang menyebabkan lengsernya Presiden Soeharto sekaligus pertanda dari berakhirnya rezim orde baru.

Dampak dari krisis moneter dan perbankan ini tentu juga mengguncang BNI 46, namun BNI 46 menjadi salah satu bank yang tidak dilikuidasi oleh BI, dan juga tidak melakukan dan atau di-merger dengan bank lain. BNI 46 lalu berbenah dan memanfaatkan peluang dari terbitnya UU Perbankan yang baru yaitu UU Perbankan Tahun 1998 yang menggantikan UU Perbankan Tahun 1992. BNI 46 juga melakukan program restrukturisasi termasuk diantaranya melakukan rebranding. Brand baru perusahaan lalu diperbaharui dengan menggunakan nama "BNI" dan mencantumkan tahun lahirnya yaitu "46" dalam logo perusahaan pada tahun 2004. Kata ‘BNI’ yang berwarna tosca melambangkan kekuatan, keunikan, dan kekokohan. Sementara angka ‘46’ merupakan wujud dari kebanggan BNI dalam yang lahir dan terlibat dalam tahun-tahun awal berdirinya Republik Indonesia, dan letak angka ‘46’ dalam kotak orange secara diagonal merupakan gambaran dari BNI baru yang modern. 

Kinerja BNI 46 terus mengalami peningkatan tahun demi tahun pasca krisis perbankan tahun 1998. BNI 46 lalu menerbitkan saham baru pada tahun 2007 dan 2010 melalui Penawaran Umum Terbatas (right issue) dengan memperluas komposisi kepemilikan saham publik menjadi 40%. Pada tahun 2012, Pemerintah Indonesia telah memegang saham BNI 46 sebesar 60% dan sisanya 40% dimiliki oleh pemegang saham publik yang datang dari individu, instansi, domestik maupun asing. 

Era globalisasi menuntut industri perbankan termasuk BNI 46 untuk selalu meningkatkan kemampuan dalam memberikan solusi perbankan kepada seluruh nasabah. Secara historis BNI 46 fokus pada corporate banking yang didukung dengan infrastruktur retail banking yang kuat. BNI 46 terus berupaya meningkatkan kapitalisasi keduanya menjadi keunggulan BNI 46. 



Kini BNI 46 merupakan bank terbesar keempat di Indonesia dengan banyak prestasi. Pada akhir tahun 2012, BNI 46 telah memiliki total aset sebesar Rp333,3 triliun. BNI 46 bahkan mampu memiliki gedung tertinggi di Indonesia, yaitu Wisma BNI 46, dengan tinggi 262 meter (terhitung hingga ujung antena). Saat ini BNI 46 sudah mempunyai 914 kantor cabang di Indonesia dan 5 di luar negeri, dan akan terus meningkat. BNI 46 juga meluncurkan banyak produk perbankan sebagai bentuk pelayanannya pada nasabah. Pelayanan yang diberikan BNI 46 tergolong unik, seperti diluncurkannya Bank Terapung untuk melayani masyarakat yang tinggal di Kepulauan Riau maupun daerah yang sulit dijangkau dengan transportasi darat seperti Kalimantan, juga pelayanan perbankan di mobil keliling, dan yang tak unik adalah Bank Sarinah dikhususkan untuk nasabah perempuan. BNI 46 melakukan total service dengan menghadirkan semua petugas perempuan di Bank Sarinah. BNI 46 juga menghadirkan pelayanan khusus untuk anak-anak yang dikenal sebagai Bank Bocah. Sedangkan disektor pendidikan, BNI 46 membuka Kantor Kas Pembantu di hampir seluruh perguruan tinggi negeri dan swasta terkemuka di Indonesia. Pelayanan ini saya nikmati dan syukuri saat saya mengurus pembayaran kuliah adik saya. Selain itu, pelayanan BNI 46 yang terkenal dan patut dibanggakan adalah BNI Berbagi. 

Sejalan dengan pelayanannya, BNI 46 mendapat pengakuan secara nasional maupun internasional melalui penghargaan-penghargaan yang diberikan oleh berbagai pihak. BNI 46 mendapat pengakuan sebagai salah bank yang memiliki layanan pelanggan terbaik melalui penghargaan Best Analyst Contact Center (juara pertama), Best Contact Center Support (juara pertama), Best Customer Service in Mid-size Inhouse (juara kedua), dan Best Help Desk (juara ketiga) di-ajang bergengsi yang diselenggarakan pada tanggal 10-15 November 2014 di Las Vegas, Amerika Serikat. Layanan pelanggan milik BNI 46 kembali mendapat pengakuan internasional melalui penghargaan yang diterima oleh BNI 46 di kompetisi Contact Center World se-Asia-Pasifik yang diadakan di Singapura pada tanggal 2-6 Juni 2014. Pada kompetisi itu, BNI 46 memenangkan juara pertama (gold medal) untuk kategori Best Analyst, Best Contact Center Support Professional HR, Best Help Desk, dan Best in Costumer Service. Selain mendapat pengakuan atas pelayanan konsumen, BNI 46 juga memperoleh pengakuan internasional dibanyak kategori lain. BNI 46 mendapat pengakuan dari Asia-Pacific Country Transaction Bank Awards di Singapura pada tanggal 2 April 2014 sebagai Best Cash Management Bank for Indonesia, dan ditahun yang sama yaitu tanggal 21 Mei 2014, The Asian Banker Transaction Banking Awards, menobatkan BNI 46 sebagai The Best Trade Finance Bank in Indonesia dan The Leading Counterparty Bank in Indonesia. Penghargaan ini merupakan penghargaan yang juga diterima oleh BNI 46 pada tahun sebelumnya. 

Di Indonesia, BNI 46 tentunya memiliki tempat yang khusus sebagai bank nasional pertama. Sejalan dengan prestasi dalam sejarah pendiriannya, BNI pun menoreh prestasi sebagai bank yang konsisten terlibat dalam pembangunan di Indonesia, melalui penghargaan sebagai Bank Persepsi dengan Layanan Penerimaan Negara Terbaik tahun 2014 dari Kementrian Keuangan Republik Indonesia. Pengakuan lainnya diterima oleh BNI 46 dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tanggal 20 Desember 2014 berupa penghargaan Terbaik Pertama Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) untuk Produk Inovatif BNI Debit Online. BNI 46 juga mendapat penghormatan dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang memberikan Sertifikat Akreditasi A atau ISTIMEWA kepada BNI yang membuat BNI menjadi bank pertama yang menerima akreditasi tersebut. Kerja keras dan pembenahan yang dilakukan oleh BNI 46 membuahkan penghargaan dari Annual Report Award (ARA) pada tanggal 16 Oktober 2014 yang menempatkan BNI 46 di peringkat teratas sebagai BUMN Keuangan Listed. BNI 46 juga berhasil menjadi bank yang menduduki peringkat atas ini dikategori Dana Pensiun untuk Dana Pensiun Lembaga Keuangan BNI 46. Sehari setelahnya, Indonesia Banking School menganugrahkan BNI 46 sebagai The Most Reliable Bank dikategori bank konvensional dengan aset di atas Rp 100 triliun.

Pengakuan dan penghargaan yang diterima oleh BNI 46 juga berasal dari berbagai majalah ternama, seperti Forbes yang menganugerahkan The World’s Largest Public Companies pada BNI 46 pada tahun 2014. Majalah Asiamoney juga turut menganugrahkan beberapa penghargaan kepada BNI 46, antara lain The Best Local Cash Management Bank in Indonesia, The Best Overall Domestic Cash Management Service dan The Best Cross Border Management Service pada tanggal 25 September 2015. Pada tanggal 29 Januari 2015, Alpha Southeast Asia Magazine Kuala Lumpur, menobatkan BNI 46 sebagai Best Remittance Provider in ASEAN, Best Payable Solution of The Year in ASEAN, Best Trade Solution of The Year in ASEAN, Best Loan Deal of The Year in ASEAN, serta Best Cross Border M&A Deal of The Year in ASEAN. BNI 46 mendapatkan penghargaan The Best Remittances Provider of the Year in Southeast Asia untuk yang kelima kalinya dari Alpha Southeast Asia Magazine. Majalah yang berkantor di Kuala Lumpur ini juga mengukuhkan BNI 46 sebagai Best Cash Management Solution of the Year in Southeast Asia untuk yang ketiga kalinya. Di Indonesia, Majalah Investor Jakarta menobatkan BNI46 sebagai The Best Emiten Sektor Perbankan, dan pada tanggal 17 Oktober 2014 Tempo Group menganugrahkan BNI 46 sebagai The Most Reliable Bank

Selain penghargaan-penghargaan tersebut, masih banyak pencapaian-pencapaian yang berhasil diraih oleh BNI 46. Pencapaian-pencapaian BNI 46 juga merupakan salah satu pokok pembahasan dalam skripsi saya yang saya susun beberapa tahun lalu ketika saya masih kuliah tahap akhir. Saya masih bertemu dan menjalin hubungan akrab dengan beberapa teman lama saya ketika saya tinggal di pulau Biak. Saya juga sempat berdiskusi dan menanyakan pendapat mereka mengenai isi skripsi saya berdasarkan sudut pandang dan disiplin ilmu mereka mengenai materi yang saya tulis. Disela-sela diskusi, kami kembali bergurau dan menceritakan kembali ketika ‘bank baru’ BNI46 dibuka untuk pertama kali dipulau kecil itu. Tentunya kami menertawakan keluguan kami saat itu.

Kini, sudah banyak bank yang berdiri di pulau tempat saya besarkan, sudah lebih dari lima bank. Lokasi kantor cabang BNI46 di Biak juga telah pindah. Ketika terakhir kali saya pulang ke Biak dan melewati lokasi lama kantor cabang BNI46 yang berada dipusat kota, rupanya bentuk bangunannya tidak banyak berubah dan hampir terlihat sama seperti sejak ‘bank baru’ itu dibuka beberapa waktu lampau. Pemandangan itu selalu mampu membangkitkan kembali kenangan saat saya masih duduk dibangku SMP, ketika kami ramai memperbincangkan berdirinya 'bank baru' dikota kecil kami.


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ARTIKEL INI DISUSUN DAN DITERBITKAN PERTAMA KALI
OLEH DELEIGEVEN MEDIA

SETIAP ARTIKEL YANG MEMILIKI ISI, SUSUNAN, DAN GAYA PENULISAN
YANG MIRIP DENGAN ARTIKEL INI MAKA ARTIKEL-ARTIKEL TERSEBUT
MENYADUR ARTIKEL INI.

DILARANG KERAS MEMPLAGIAT ARTIKEL INI!

CANTUMKAN LINK LENGKAP ARTIKEL INI DISETIAP KALIMAT YANG ANDA DISADUR DARI ARTIKEL INI. SESUAI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA, JIKA MENYADUR/MENG-COPY MINIMAL SEPULUH KATA TANPA MENCANTUMKAN SUMBER DARI KALIMAT ITU (BERBEDA DARI PENCANTUMAN SUMBER DI CATATAN KAKI (FOOTNOTE) MAKA ITU ADALAH TINDAKAN PLAGIARISME.

JIKA ANDA MENYADUR SEBAGIAN BESAR ARTIKEL INI MAKA ANDA HARUS MENCANTUMKAN KALIMAT:
"ARTIKEL INI DISADUR DARI....(LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA",
ATAU:"SUMBER UTAMA DARI SEBAGIAN BESAR INFORMASI ARTIKEL INI DIAMBIL DARI (LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA"  
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Notes (Catatan):

*We strongly recommend all readers to read all the comments below for the other details which not mentioned by this article
(Sangat disarankan bagi para pembaca untnk melihat komentar-komentar artikel ini sebab beberapa komentar membahas rincian informasi yang tidak ditulis dalam artikel ini)

*Get various information about history in ENGLISH by open or follow our Instagram account: @deleigevenhistory(Dapatkan berbagai informasi sejarah dalam bahasa Inggris di akun instagram kami @deleigevenhistory)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Copyrights Story: Deleigeven Media
Copyrights Picture: www.bni.co.id

Penyusun:
Penulis : Deleigeven
Editor : Juliet
Desain : Deleigeven
Penerbit: Deleigeven Media


Daftar Pustaka:
-Era Baru Transformasi Bank Sentral; Tim Buku Media Indonesia, Tim Buku Bank Indonesia, Tim Penulis Universitas Islam Indonesia; 2010; Gramedia Pustaka Utama; Jakarta.
-Menata Strategi, Memacu Kinerja; Aulia Pohan; 2010; Bhuana Ilmu Populer; Jakarta.
-Bencana Finansial, Stabilitas Sebagai Barang Publik; A. Prasetyantoko; 2008; Kompas Media Nusantara; Jakarta.
-Prinsip-prinsip Kemajuan Ekonomi; J.Panglaykim; 2011; Kompas Media Nusantara; Jakarta.


Daftar Website:
www.bni.co.id
wikipedia.org/Bank Negara Indonesia
wikipedia.org/Oeang Republik Indonesia
wikipedia.org/Krisis finansial Asia 1997


Tuesday, 9 June 2015

PARA MARTIR DALAM PEMBANTAIAN CORDOBA




Peristiwa pembantaian di Cordoba terjadi pada era pendudukan kaum Muslim di Andalusia, di selatan Spanyol. Pada tahun 711 M, pasukan Muslim dari Afrika Utara menaklukkan Bangsa Visigoth Kristen Iberia. Dibawah pemimpin mereka Tariq ibn Ziyad, mereka mendarat di Gibraltar dan sebagian besar Semenanjung Iberia. Semenanjung Iberia disebut Al-Andalus oleh penguasa Muslim, dan ketika Kekhalifahan Umayyah runtuh di Damaskus pada tahun 750, pemerintahan kaum Muslim-pun pindah ke Córdoba. Sebelumnya, orang Kristen bisa beribadah dengan bebas, dan mempertahankan gereja dan harta benda mereka dengan syarat membayar derma bagi setiap paroki, katedral, dan biara. Namun setelah kaum Muslim menaklukkan Iberia, mereka memerintah sesuai dengan hukum Islam dan mulai membatasi kewenangan gereja dan pergerakan kaum Kristen dan Yahudi. Banyak orang Kristen melarikan diri ke utara Spanyol, sedangkan yang lainnya berlindung di biara-biara Sierra, sehingga jumlah orang Kristen mulai menyusut dan akhirnya menjadi minoritas di Cordoba. 

Pada tahun 786 khalifah Muslim, Abd-er Rahman II, memulai pembangunan masjid besar Cordova (sekarang katedral), dan memaksa banyak orang Kristen untuk mengambil bagian dalam pembangunan itu. Hal ini menimbulkan ketegangan antara Muslim dan Kristen, bahkan juga dalam komunitas Kristen. Abd ar-Rahman II lahir di Toledo, putra Emir Al-Hakam I. Dia menggantikan ayahnya sebagai Emir dari Córdoba di 822. Pada 837, ia mulai mendapat perlawanan dari umat Kristen dan Yahudi di Toledo. Ketegangan saat itu mulai meningkat menjadi sebuah perselisihan besar dan lama-lama menjadi pemberontakan. Umat Kristen pun secara terang-terangan memprotes pemerintahan saat itu yang intoleran, pemerintah-pun mulai bertindak untuk memberantas pemberontakan itu sehingga pembantaian-pun dimulai. Saat itu Cordoba dipimpin oleh Abd ar-Rahman II, namun pembantaian juga dilanjutkan oleh Muhammad I. 

Awalnya Abd ar-Rahmán II memerintahkan penangkapan dan penahanan terhadap para pimpinan ulama dari komunitas Kristen setempat. Setelah protes umat Kristen tampaknya mereda, mereka dibebaskan empat bulan kemudian pada bulan November 851. Namun beberapa bulan kemudian muncul gelombang protes dan gelombang masyarakat yang menyerahkan dirinya untuk menjadi martir. Sang Emir pun mencari para pemimpin Kristen yang paling fanatik. Ia tidak memenjarakan mereka, namun ia memerintahkan mereka agar membuat sebuah dewan di Córdoba untuk meninjau masalah ini dan mengembangkan beberapa strategi untuk menghadapi para pembangkang. Dia memberi para uskup pilihan agar menghentikan gelombang martir (yang menolak berpindah keyakinan) atau orang-orang Kristen akan menghadapi pelecehan, kehilangan pekerjaan, dan kesulitan ekonomi. Namun sebagian besar orang Kristen memilih pilihan kedua, dan pembantaian pun dimulai.

Pembantaian ini berlangsung antara tahun 851 hingga 859. Banyak yang ditangkap dengan tuduhan menghujat nabi besar kaum Muslim, dan juga banyak yang ditangkap atau diserahkan oleh orang lain dengan tuduhan murtad. Namun banyak juga yang secara sukarela menyerahkan diri mereka untuk dipenggal karena tidak bersedia menukar iman Kristen mereka sehingga Abd ar-Rahman II mengeluarkan dekrit yang melarang orang-orang Kristen mencari kesyahidan, dan melarang mendoakan para martir. 

Setelah Abd-er Rahman II meninggal pada 852, putra dan penggantinya, Muhammad I, melanjutkan tekanan terhadap umat Kristen dan Yahudi. Ia juga memecat semua pejabat Kristen di istana. 

Seorang biarawan yang bernama Eulogius mendorong para martir untuk memperkuat iman Kristen mereka dan persatuan komunitas Kristen yang tersisa. Ia mengarang tiga buku yang berupa memorial para martir, dan Liberia Apologeticus Martyrum (yang disimpan di Oviedo, di kerajaan Kristen Asturias di pantai jauh barat laut Hispania). Juga ada peninggalan St.Eulogius yang diterjemahkan pada tahun 884. Karya-karya Eulogius merupakan satu-satunya sumber tentang para martir Cordoba. Eulogius dihormati sebagai seorang santo dari abad ke-9. Karya-karyanya menjelaskan secara rinci tentang eksekusi para martir yang dituduh melakukan pelanggaran secara hukum Islam di Al-Andalus. Dia mencatat nama 47 martir yang dibunuh sebelum kematiannya. Di saat-saat terakhir dalam hidupnya, dia masih sempat menuliskan nama gadis yang akan dieksekusi bersama dengannya dan juga namanya sendiri dalam daftar martir yang dibuku yang ditulisnya. Total para martir yang meninggal jika ditambahkan dengan Eulogius dan gadis yang bernama Lucretia menjadi 49 martir. Namun, masih banyak orang yang menjadi martir setelah kematian Eulogius, Para martir ini menunjukkan tekad untuk menegaskan identitas Kristen dan menolak semua bentuk asimilasi dengan agama dan kebudayaan Islam. 

"Kemartiran sebenarnya solusi sempurna ... Tidak hanya itu melambangkan pengorbanan diri dan pemisahan dari dunia, tapi dijamin bahwa tidak akan ada kesempatan untuk berbuat dosa lagi." (Eulogius)

Inilah nama para martir yang wafat dalam peristiwa pembantaian di Cordoba, seperti yang dicatat oleh Eulogius, dan termasuk Eulogius:

1. Aurelius, dihukum mati pada tanggal 27 Juli 852 pada masa pemerintahan Abd ar-Rahman II dengan tuduhan murtad. Aurelius adalah anak dari seorang ayah Muslim dan ibu Kristen. Di bawah hukum Syariah, ia diminta untuk memeluk agama Islam. Ia dan istrinya juga sepupu dan iparnya diberi empat hari untuk mengakui kesalahan, tetapi mereka menolak, dan dipenggal. 

2. Natalia, istri dari Aurelius yang juga dihukum mati pada tanggal 27 Juli 852 di era pemerintahan Abd ar-Rahman II. 

3. Felix, sepupu dari Aurelius yang juga dihukum mati tanggal 27 Juli 852 dengan tuduhan murtad dari Islam.

4. Liliosa, istri dari Felix yang juga dihukum mati tanggal 27 Juli 852. Aurelius, Natalia, Felix, dan Liliosa ditangkap dengan tuduhan murtad dan diberi waktu empat hari untuk kembali kepada Islam namun mereka berempat menolak dan dipenggal kepalanya. Mereka dianggap orang-orang kudus di Gereja Katolik Roma, dengan hari raya 27 Juli.

5. George, biarawan asal Palestina yang dipenggal bersama-sama dengan Aurelius, Natalia, Felix, dan Liliosa. Meskipun ia telah ditawarkan pengampunan karena merupakan orang asing, namun ia memilih untuk mati syahid.

6. Perfectus, dipenggal dengan tuduhan penghujatan terhada Nabi dan Al-quran, pada tanggal 18 April tahun 850. Kemartirannya adalah salah satu yang pertama dalam masa penganiayaan Muslim Kristen di Al-Andalus, yang dimulai pada 850 di bawah Abd ar-Rahman II, terus di bawah penggantinya Muhammad I, dan melanjutkan sebentar-sebentar sampai 960. Hari raya-nya adalah tiap tanggal 18 April.

7. Isaac, dieksekusi pada tanggal 3 Juni 851 dengan tuduhan penghujatan. 

8. Sancho (Sanctius), seorang penjaga istana Emir yang dieksekusi ditiang penyulaan pada tanggal 5 Juni 851 karena penolakannya untuk memeluk Islam.

9. Peter, seorang pastor yang dipenggal pada tanggal 7 Juni 851 pada masa pemerintahan Abd ar-Rahman II dengan tuduhan penghujatan terhadap nabi.

10. Walabonsus, seorang diakon yang dipenggal pada tanggal 7 Juni 851 pada tanggal 7 Juni 851 pada masa pemerintahan Abd ar-Rahman II dengan tuduhan penghujatan terhadap nabi.

11. Sabinian, seorang biarawan dari biara St.Zoilus, Cordoba, yang dipenggal pada tanggal 7 Juni 851 dengan tuduhan penghujatan terhadap nabi, pada masa pemerintahan Abd ar-Rahman II..

12. Wistremundus, seorang biarawan dari biara St.Zoilus, Cordoba, yang dipenggal pada tanggal 7 Juni 851 dengan tuduhan penghujatan terhadap nabi, pada masa pemerintahan Abd ar-Rahman II..

13. Habentius, seorang biarawan dari biara St.Christopher, Cordoba, yang dipenggal pada tanggal 7 Juni 851, pada masa pemerintahan Abd ar-Rahman II, dengan tuduhan penghujatan terhadap nabi.

14. Jeremiah, seorang biarawan tua pendiri biara Tabanos, didekat Cordoba, yang dieksekusi dengan cara dicambuk sampai mati pada tanggal 7 Juni 851 dimasa pemerintahan Abd ar-Rahman II, karena tuduhan penghujatan terhadap nabi.

15. Sisenandus, seorang diaken di gereja St.Acisclus di Córdoba yang dipenggal 16 Juli 851 pada masa pemerintahan Abd ar-Rahman II.

16. Paul, seorang diakon dari biara St.Zoilus, Cordoba. Ia sangat bersemangat dalam melayani orang-orang Kristen yang dipenjara oleh kaum Muslim. Ia lalu dipenggal pada tanggal 20 Juli 851.

17. Theodemir, seorang biarawan yang dieksekusi pada tanggal 25 Juli 851, dibawah pemerintahan Abd ar-Rahman II.

18. Flora, dieksekusi pada tanggal 24 November 851, dibawah pemerintahan Abd ar-Rahman II, dengan tuduhan penghujatan secara terang-terangan di pengadilan.

19. Maria (adik dari Walabonsus), yang dieksekusi pada tanggal 24 November 851, bersama dengan Flora, dengan tuduhan murtad. 

20. Gusemindus, seorang pastor yang dieksekusi dibawah pemerintahan Abd ar-Rahman II pada tanggal 13 Januari 852.

21. Servusdei, seorang biarawan yang dieksekusi bersama-sama dengan Gusemindus pada 13 Januari 852. 

22. Leovigild, seorang pastor dan biarawan di Cordoba yang dieksekusi pada tanggal 20 Agustus 852 dibawah pemerintahan Abd ar-Rahman II.

23. Christopher, seorang biarawan dari biara St.Martin de La Rojana didekat Córdoba, yang dieksekusi bersama dengan Leovigild pada tanggal 20 Agustus 852.

24. Emilas, seorang mantan diakon muda yang dipenggal di Cordoba pada tanggal 15 September 852.

25. Jeremiah, seorang mantan diakon muda yang dipenggal di Cordoba pada tanggal 15 September 852, bersama dengan Emilas.

26. Rogelus, seorang biarawan yang dipenggal pada tanggal 16 September 852 dibawah pemerintahan Muhamad I karena mencela Islam di dalam masjid.

27. Servus-Dei, murid dari Rogelus yang dipenggal bersama-sama dengang Rogelus pada tanggal 16 September 852 dibawah pemerintahan Muhamad I. Rogelus dan Servus-Dei adalah para martir Kristen pertama yang dieksekusi pada masa pemerintahan Muhammad I.

28. Fandilas, seorang imam dari Peñamelaria dekat Córdoba yang dipenggal di Córdoba pada tanggal 13 Juni 853 atas perintah Muhammad I.

29. Anastasius, seorang diaken dari gereja St.Acisclus di Cordoba yang dieksekusi pada tanggal 14 Juni 853.

30. Felix, seorang biarawan di Asturius yang masuk dalam biara Tabanos. Ia selalu berharap dapat mati syahid. Ia dieksekusi bersama-sama dengan Anastasius pada tanggal 14 Juni 853.

31. Digna, seorang gadis yang tinggal di biara yang sama dengan Felix dan Anastasius. Dia juga dieksekusi pada tanggal 14 Juni 853. 

32. Benildis, seorang gadis yang terinspirasi oleh Anastasius dan memilih untuk mati syahid sehari setelah Anastasius dieksekusi, yaitu pada tanggal 15 Juni 853. Abunya ditaburkan di Guadalquivir.

33. Columba, seorang biarawati di Tabanos yang ditahan bersama sisa biarawati lainnya untuk mencegah mereka datang ke pengadilan secara sukarela untuk mati syahid, ketika Emirat menutup biara di Tabanos pada tahun 852, dia melarikan diri dan kemudia secara terbuka mencela Nabi. Ia dipenggal pada tanggal 17 September 853. 

34. Pomposa, biarawati dari biara San Salvador di Peñamelaria. Dia melarikan diri dari penjara para biarawati dan pergi ke pengadilan dan meminta untuk dihukum mati, meskipun diprotes oleh sesama sahabat biarawati-nya. Pomposa dieksekusi pada tanggal 19 September 853. 

35. Abundius, seorang imam paroki di Ananelos, sebuah desa dekat Córdoba. Abundius dikhianati oleh orang lain dan diserahkan kepada pengadilan Emir. Ia dipenggal pada tanggal 11 Juli 854 dan tubuhnya dilemparkan ke anjing. Hari raya-nya dirayakan setiap tanggal 11 Juli.

36. Amator, seorang imam yang lahir di Martos yang dieksekusi pada tanggal 30 April 855.

37. Peter, seorang biarawan yang dieksekusi bersama-sama dengan Amator pada tanggal 30 April 855.

38. Louis (Ludovicus), seorang pemuda dari kalangan rakyat biasa yang dieksekusi bersama-sama dengan Amator dan Peter pada tanggal 30 April 855.

39. Witesindus (Witesind), seorang Kristen dari Cabra yang dieksekusi pada tahun 855 karena murtad (sebelumnya dia sempat masuk Islam).

40. Sandila (juga dikenal sebagai Sandalus, Sandolus, Sandulf), martir yang dieksekusi pada tanggal 3 September 855 di Córdoba.

41. Elias, seorang imam di Cordoba yang berusia sangat lanjut. Ia dieksekusi pada tanggal 17 April 856.

42. Paul, murid Elias yang dieksekusi bersama-sama dengan Elias dan murid lainnya pada tanggal 17 April 856.

43. Isidore, murid Elias yang dieksekusi bersama-sama dengan Elias dan Paul pada tanggal 17 April 856.

44. Argymirus (Argimirus atau Argimir), seorang bangsawan dari Cabra. Dia kehilangan kantornya karena iman Kristennya dan memilih menjadi seorang biarawan. Ia dituduh telah menghina Nabi Muhammad dan secara terbuka menyatakan keilahian Yesus. Argimir ditawari pengampunan jika dia meninggalkan Kristen dan memeluk Islam, namun ia menolak dan dieksekusi pada tanggal 28 Juni 856.

45. Aurea, dieksekusi pada tanggal 19 Juli 856. Lahir di Córdoba di Al-Andalus dan putri orang tua Muslim. Dia menjadi saksi dari eksekusi mati terhadap saudara laki-lakinya, Adolphus dan John, (27 September 822, hari raya mereka). Adolphus adalah santo Katedral Kingsbridge fiksi dalam novel sejarah epik The Pillars of the Earth dan Dunia Tanpa Akhir oleh Ken Follet. Setelah menjadi janda, dia diam-diam menjadi seorang Kristen dan seorang biarawati di Cuteclara, di mana ia tetap selama lebih dari dua puluh tahun. Namun, dia ditemukan oleh kerabatnya yang beragama Muslim dan dibawa ke hakim, dan meninggalkan Kristen-nya di bawah tekanan. Namun, dia menjadi sangat menyesal dan malu. Ia lalu tetap kembali menjadi Kristen secara diam-diam. Ketika keluarga Muslim-nya mengetahui hal ini, dia kembali dibawa ke pengadilan, namun ia menolak untuk menyangkal iman Kristen-nya untuk kedua kalinya, dan akhirnya dieksekusi.

46. Rudericus (Roderick), seorang imam di Cabra yang dikhianati oleh saudara Muslimnya, yang membuat tuduhan palsu padanya, yaitu masuk Islam dan kemudian kembali ke Kristen (murtad). Dia dieksekusi di Cordoba pada tanggal 13 Maret 857. 

47. Salomon, Seorang martir yang dieksekusi bersama dengan Roderick. Dia bertemu dengan Roderick di penjara. Mereka berdua dieksekusi di Córdoba pada tanggal 13 Maret 857.

48. Leocritia (juga dikenal sebagai Lucretia), adalah seorang gadis muda di Córdoba. Orangtuanya adalah Muslim, tapi dia menjadi Kristen karena diinjili oleh seorang kerabatnya. Berkat bantuan dari Eulogius, Leocritia berhasil melarikan diri dari rumahnya dan bersembunyi. Namun akhirnya Leocritia berhasil ditemukan. Ia dan Eulogius ditangkap. Mereka berdua tidak mau meninggalkan iman Kristennya dan dieksekusi karena dianggap murtad dan melakukan pemurtadan.

49. Eulogius, seorang imam terkemuka di Córdoba pada masa itu. Ia sangat berani dan sangat cerdas. Ia mendorong beberapa orang untuk menjadi martir secara sukarela. Ia juga menulis The Memorial of the Saints untuk mengenang para martir Cordoba. Eulogius sendiri akhirnya dieksekusi karena membantu orang-orang yang dianggap murtad, dan juga menyembunyikan dan melindungi seorang gadis muda yaitu St. Leocritia yang murtad dari Islam. Eulogius dieksekusi bersama dengan Leocritia pada tanggal 15 Maret 859.


Beberapa abad kemudian, umat Kristen memenangkan pertempuran melawan kaum Muslim, dan kali ini pembantaian pun terjadi namun saat itu cerita telah berubah. Jika sebelumnya kaum Muslim yang membantai umat Kristen, kali ini umat Kristen-lah yang mengusir kaum Muslim dari Andalusia. 

Meskipun berabad-abad telah berlalu, dan pembantaian di Andalusia yang lebih terkenal adalah ketika pengusiran terhadap kaum Muslim oleh umat Kristen, namun sejarah tetap mencatatkan nama-nama para martir Kristen yang mati syahid di Cordoba pada abad ke-9. Para martir ini tetap dikenang oleh gereja dan orang Andalusia hingga kini.


*Beberapa paragraf dan kalimat dalam artikel ini disadur dari wikipedia.org

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ARTIKEL INI DISUSUN DAN DITERBITKAN PERTAMA KALI
OLEH DELEIGEVEN MEDIA

SETIAP ARTIKEL YANG MEMILIKI ISI, SUSUNAN, DAN GAYA PENULISAN
YANG MIRIP DENGAN ARTIKEL INI MAKA ARTIKEL-ARTIKEL TERSEBUT
MENYADUR ARTIKEL INI.

DILARANG KERAS MEMPLAGIAT ARTIKEL INI!

CANTUMKAN LINK LENGKAP ARTIKEL INI DISETIAP KALIMAT YANG ANDA DISADUR DARI ARTIKEL INI. SESUAI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA, JIKA MENYADUR/MENG-COPY MINIMAL SEPULUH KATA TANPA MENCANTUMKAN SUMBER DARI KALIMAT ITU (BERBEDA DARI PENCANTUMAN SUMBER DI CATATAN KAKI (FOOTNOTE) MAKA ITU ADALAH TINDAKAN PLAGIARISME.

JIKA ANDA MENYADUR SEBAGIAN BESAR ARTIKEL INI MAKA ANDA HARUS MENCANTUMKAN KALIMAT:
"ARTIKEL INI DISADUR DARI....(LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA",
ATAU:"SUMBER UTAMA DARI SEBAGIAN BESAR INFORMASI ARTIKEL INI DIAMBIL DARI (LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA"  
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Notes (Catatan):

*We strongly recommend all readers to read all the comments below for the other details which not mentioned by this article
(Sangat disarankan bagi para pembaca untnk melihat komentar-komentar artikel ini sebab beberapa komentar membahas rincian informasi yang tidak ditulis dalam artikel ini)

*Get various information about history in ENGLISH by open or follow our Instagram account: @deleigevenhistory(Dapatkan berbagai informasi sejarah dalam bahasa Inggris di akun instagram kami @deleigevenhistory)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Copyrights Story: Deleigeven Media

Penyusun:
Penulis : Deleigeven
Editor : Juliet
Desain : Deleigeven
Penerbit: Deleigeven Media

Daftar Pustaka:
- Sejarah Raja-raja Eropa; Gramedia Pustaka
- Sejarah Dunia; Gramedia Pustaka
- History of Andalusia


Sumber Website:
Wikipedia


Beberapa paragraf disadur dari:
www.wikipedia.com
(dengan beberapa perubahan)

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Thursday, 19 March 2015

Pejuang Tionghoa dalam Sejarah Perjuangan Indonesia


Beberapa waktu lalu, sebagian dari saudara-saudara kita se-bangsa dan se-tanah air merayakan hari raya Imlek (Tahun baru Lunar). Walaupun saya bukan berasal dari etnis Tionghoa, namun saya pun larut dalam perayaan itu. Hal ini dikarenakan oleh kebiasaan kami saat masih tinggal di Papua. Di Papua, perayaan Imlek sangat samai, bahkan jauh lebih ramai dari pada perayaan Imlek di Jakarta. Mengapa? Karena di kota-kota di Papua yang ukurannya jauh lebih kecil dari pada Jakarta, Imlek dirayakan diseluruh penjuru kota oleh warga etnis Tionghoa yang juga ikut diramaikan oleh warga non-Tionghoa, bahkan masyarakat pribumi Papua sehingga kesannya jauh lebih ramai dari pada kota-kota besar di Jawa. 

Saya selalu tertarik mempelajari sejarah Tiongkok kuno, sehingga lama-kelamaan saya pun menjadi tertarik untuk mengetahui bagaimana orang-orang Tionghoa bisa sampai ke Indonesia. Banyak sekali versi mengenai hal itu yang selalu menarik untuk disimak. Banyak sekali cerita mereka yang membuat saya terkagum-kagum, dan kekaguman saya semakin bertambah setelah mengetahui bahwa rupanya banyak sekali masyarakat Tionghoa yang turut berjuang bagi Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan bangsa asing dan juga perjuangan mereka dalam mengisi kemerdekaan Indonesia diawal-awal republik ini berdiri sebagai negara yang berdaulat.

Inilah beberapa tokoh Tionghoa dan perjuangan mereka.



1. JOHN LIE 


Laksamana Muda TNI (Purn) John Lie Tjeng Tjoan, atau yang lebih dikenal sebagai Jahja Daniel Dharma dilahirkan di Manado, Sulawesi Utara, 9 Maret 1911. Ia lahir dari pasangan suami isteri Lie Kae Tae dan Oei Tjeng Nie Nio. John Lie adalah salah seorang perwira tinggi di TNI Angkatan Laut dari etnis Tionghoa dan merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Ia dikenal dengan julukan "A Soldier with Bible", karena dia selalu membawa Alkitab dan sangat relijius. Istri John Lie adalah Pdt. Margaretha Dharma Angkuw. 

Ayahnya (Lie Kae Tae) pemilik perusahaan pengangkutan Vetol (Veem en transport onderneming Lie Kay Thai). John Lie kabur ke Batavia karena ingin menjadi pelaut. Di kota ini, sembari menjadi buruh pelabuhan, ia mengikuti kursus navigasi. Setelah itu John Lie menjadi klerk mualim III pada kapal Koninklijk Paketvaart Maatschappij, perusahaan pelayaran Belanda. Pada 1942, John Lie bertugas di Khorramshahr, Iran, dan mendapatkan pendidikan militer. Ketika Perang Dunia II berakhir dan Indonesia merdeka, dia memutuskan bergabung dengan Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) sebelum akhirnya diterima di Angkatan Laut RI. Semula ia bertugas di Cilacap, Jawa Tengah, dengan pangkat Kapten. Di pelabuhan ini selama beberapa bulan ia berhasil membersihkan ranjau yang ditanam Jepang untuk menghadapi pasukan Sekutu. Atas jasanya, pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor. Kemudian dia memimpin misi menembus blokade Belanda guna menyelundupkan senjata, bahan pangan, dan lainnya. Daerah operasinya meliputi Singapura, Penang, Bangkok, Rangoon, Manila, dan New Delhi. Ia lalu ditugaskan mengamankan pelayaran kapal yang mengangkut komoditas ekspor Indonesia untuk diperdagangkan di luar negeri dalam rangka mengisi kas negara yang saat itu masih tipis. Pada masa awal (tahun 1947), ia pernah mengawal kapal yang membawa karet 800 ton untuk diserahkan kepada Kepala Perwakilan RI di Singapura, Utoyo Ramelan. Sejak itu, ia secara rutin melakukan operasi menembus blokade Belanda. Karet atau hasil bumi lain dibawa ke Singapura untuk dibarter dengan senjata. Senjata yang mereka peroleh lalu diserahkan kepada pejabat Republik yang ada di Sumatera seperti Bupati Riau sebagai sarana perjuangan melawan Belanda. Perjuangan mereka tidak ringan karena selain menghindari patroli Belanda, juga harus menghadang gelombang samudera yang relatif besar untuk ukuran kapal yang mereka gunakan. 

Untuk keperluan operasi ini, John Lie memiliki kapal kecil cepat, dinamakan the Outlaw. Seperti dituturkan dalam buku yang disunting Kustiniyati Mochtar (1992), paling sedikit sebanyak 15 kali ia melakukan operasi "penyelundupan". Pernah saat membawa 18 drum minyak kelapa sawit, ia ditangkap perwira Inggris. Di pengadilan di Singapura ia dibebaskan karena tidak terbukti melanggar hukum. Ia juga mengalami peristiwa menegangkan saat membawa senjata semi-otomatis dari Johor ke Sumatera, dihadang pesawat terbang patroli Belanda. John Lie mengatakan, kapalnya sedang kandas. Dua penembak, seorang berkulit putih dan seorang lagi berkulit gelap yang tampaknya berasal dari Maluku, mengarahkan senjata ke kapal mereka. Entah mengapa, komandan tidak mengeluarkan perintah tembak. Pesawat itu lalu meninggalkan the Outlaw tanpa insiden, mungkin persediaan bahan bakar menipis sehingga mereka buru-buru pergi. 

Setelah menyerahkan senjata kepada Bupati Usman Effendi dan komandan batalyon Abusamah, mereka lalu mendapat surat resmi dari syahbandar bahwa kapal The Outlaw adalah milik Republik Indonesia dan diberi nama resmi PPB 58 LB. Seminggu kemudian John Lie kembali ke Port Swettenham di Malaya untuk mendirikan pangkalan AL yang menyuplai bahan bakar, bensin, makanan, senjata, dan keperluan lain bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

Pada awal 1950 ketika ada di Bangkok, ia dipanggil pulang ke Surabaya oleh KSAL Subiyakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang Rajawali. Pada masa berikut ia aktif dalam penumpasan RMS (Republik Maluku Selatan) di Maluku lalu PRRI/Permesta. Ia mengakhiri pengabdiannya di TNI Angkatan Laut pada Desember 1966 dengan pangkat terakhir Laksamana Muda. 

Menurut kesaksian Jenderal Besar AH Nasution pada 1988, prestasi John Lie tiada taranya di Angkatan Laut "karena dia adalah panglima armada (TNI AL) pada puncak-puncak krisis eksistensi Republik”, yakni dalam operasi-operasi menumpas kelompok separatis Republik Maluku Selatan, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, dan Perjuangan Rakyat Semesta. 

Kesibukannya dalam perjuangan membuat ia baru menikah pada usia 45 tahun, dengan Pdt. Margaretha Dharma Angkuw. Pada 30 Agustus 1966 John Lie mengganti namanya dengan Jahja Daniel Dharma. 

Patung John Lie di Taman Mini Indonesia Indah
(Anjungan Tionghoa)

Ia meninggal dunia karena stroke diusia 77 tahun pada tanggal 27 Agustus 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. John Lie mendapat tempat yang istimewa dihati masyarakat Tionghoa Indonesia, dan juga menerima penghormatan yang tinggi dari masyarakat Tionghoa dan pemerintah Indonesia. Atas segala jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 Nopember 1995, Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2009. 

Terdapat beberapa buku dan liputan mengenai John Lie, sebagai berikut: 
1. “Guns And Bibles Are Smuggled to Indonesia”, yang terbit pada 26 Oktober 1949, oleh Roy Rowan, wartawan majalah Life. 
2. "John Lie Penembus Blokade Kapal-kapal Kerajaan Belanda" yang terbit pada 1988, oleh Solichin Salam. 
3. "Dari Pelayaran Niaga ke Operasi Menembus Blokade Musuh Sebagaimana Pernah Diceritakannya Kepada Wartawan" yang dimuat dalam buku "Memoar Pejuang Republik Indonesia Seputar 'Zaman Singapura' 1945-1950" karya Kustiniyati Mochtar terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2002.
4. "Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie" (2008), yang diterbitkan Penerbit Ombak, Yogyakarta dan Yayasan Nabil, oleh M Nursam.




2. SOE HOK GIE


Soe Hok Gie dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 17 Desember 1942. Ia adalah seorang aktivis yang menentang kediktatoran Presiden Soekarno dan Soeharto. Gie adalah warga Tionghoa yang beragama Katolik Roma. Leluhur Soe Hok Gie berasal dari provinsi Hainan, Republik Rakyat Tiongkok. Ayahnya bernama Soe Lie Piet (Salam Sutrawan). Soe Hok Gie anak keempat dari lima bersaudara di keluarganya. Kakaknya Arief Budiman seorang sosiolog dan dosen di Universitas Kristen Satya Wacana, dan juga cukup kritis dan vokal dalam politik Indonesia. Setelah tamat dari SMA Kolese Kanisius, Soe Hok Gie kuliah di Universitas Indonesia (1962-1969). Setelah menyelesaikan tamat, ia menjadi dosen di almamaternya hingga kematiannya. 

Soe Hok Gie merupakan pejuang melalui kata-kata, pemikiran, dan tulisannya. Selama menjadi mahasiswa ia aktif memprotes Presiden Sukarno dan PKI. Ia juga seorang penulis yang produktif, dengan berbagai artikel yang dipublikasikan di koran-koran seperti Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul "Zaman Peralihan" (Bentang, 1995). Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, diterbitkan Yayasan Bentang tahun 1999 dengan judul "Di Bawah Lentera Merah". Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul "Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan". Buku hariannya diterbitkan pada tahun 1983, dengan judul "Catatan Seorang Demonstran" yang berisi opini dan pengalamannya terhadap aksi demokrasi. Soe Hok Gie juga merupakan subyek dari sebuah buku 1997, yang ditulis oleh Dr John Maxwell yang berjudul "Soe Hok Gie : Diary of a Young Indonesian Intellectual". Buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2001, dan berjudul "Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani". 

Pada tahun 1965, Soe Hok Gie membantu mendirikan Mapala UI, organisasi lingkungan di kalangan mahasiswa. Dia menikmati kegiatan hiking. Hobinya ini justru menghantarkannya pada kematiannya karena menghirup gas beracun saat mendaki gunung Semeru. Soe Hok Gie meninggal di Gunung Semeru pada tanggal 16 Desember 1969, satu hari sebelum ulang tahun ke 27. Gie meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis, dan dimakamkan di Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat. 

Gie pernah menulis dalam buku hariannya: 
"Seorang filsuf Yunani pernah menulis ... nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."


Aktor yang memerankan Soe Hok Gie

Buku harian Soe Hok Gie menjadi inspirasi untuk film yang berjudul Gie (2005), yang disutradarai oleh Riri Riza. Soe Hok Gie diperankan dengan sangat baik oleh aktor fenomenal, Nicholas Saputra. Film ini menjadi salah satu film box office di Indonesia pada tahun 2005 dan menghantarkan Nicholas Saputra meraih Piala Citra sebagai aktor terbaik. Film ini juga meraih piala Citra untuk kategori Film Bioskop Terbaik dan Pengarah Sinematografi Terbaik, dan dinominasikan 8 kategori lainnya, juga dinominasikan dan meraih beberapa penghargaan di luar negeri. Film Gie juga termasuk dalam salah satu film Indonesia terbaik sepanjang masa. Film ini juga masuk dalam 50 besar Best Foreign Language Film yang dinominasikan di 78th Academy Award (Oscar).




3.SIAUW GIOK TJAHN 



Siauw Giok Tjhan dilahirkan di Kapasan, Simokerto, Surabaya, Jawa Timur, pada tanggal 23 Maret 1914. Ia adalah seorang politikus, pejuang, dan tokoh gerakan kemerdekaan Indonesia. Ayahnya bernama Siauw Gwan Swie, seorang peranakan Tionghoa, dan ibunya Kwan Tjian Nio. Siauw Giok Tjhan memiliki adik bernama Siauw Giok Bie. 

"Lahir di Indonesia, Besar di Indonesia menjadi Putra-Putri Indonesia" adalah semboyan yang pertama-kali dikumandangkan oleh Kwee Hing Tjiat melalui Harian MATAHARI di Semarang sejak tahun 1933-1934. Semboyan ini benar-benar menjadi keyakinan hidup Siauw Giok Tjhan sejak masa muda, berjuang menjadi putra terbaik Indonesia yang tidak ada bedanya dengan putra-putra Indonesia bersuku lainnya dalam usaha dan memperjuangkan kemerdekaan dan kebahagiaan hidup bersama. 

Siauw Giok Tjhan memasuki kancah politik nasional Indonesia melalui proses pembentukan Partai Tionghoa Indonesia (PTI) yang dipelopori oleh Liem Koen Hian pada tahun 1932. Berusia 18 tahun, Siauw menjadi salah seorang pendiri PTI termuda. PTI berkembang sebagai aliran terbaru di dalam komunitas Tionghoa di zaman Hindia Belanda. Ia mendorong semua Tionghoa di kawasan Hindia Belanda, terutama yang lahir di sana, untuk menerima Indonesia sebagai tanah airnya. Argumentasinya, menurut perspektif masa kini, sangat masuk di akal. Orang Tionghoa pada umumnya lahir, hidup, dan meninggal di Indonesia. Setelah hidup bergenerasi, kaitan dengan Tiongkok semakin berkurang. PTI mendukung berdirinya GERINDO (Gerakan Rakyat Indonesia) pada tanggal 18 Mei 1937, yang berdasarkan keputusan Kongres di Palembang. 

Keteguhan dan kekerasan jiwa dalam memperjuangkan keadilan tumbuh dalam lingkungan hidup yang harus dihadapi. Terutama setelah kedua orang tuanya meninggal dalam usia muda, ia terpaksa melepaskan sekolah begitu selesai HBS, untuk mencari nafkah meneruskan hidupnya bersama adik satu-satunya, Siauw Giok Bie yang masih harus meneruskan sekolah. Siauw Giok Tjhan sejak kecil sudah mempunyai watak perlawanan atas penghinaan dan ketidakadilan yang menimpa diri dan kelompok etnisnya. Kemahiran kung-fu yang dipelajari dari kakeknya memungkinkan Siauw Giok Tjhan untuk berkelahi melawan anak-anak Belanda, Indo, dan Ambon yang mengejek dirinya. Istilah "Cina loleng" adalah salah satu penghinaan yang biasa dilontarkan untuk etnis Tionghoa.

Siauw sangat disiplin dan tidak menggunakan milik umum untuk kepentingan diri sendiri dan keluarganya. Ketika istrinya, Tan Gien Hwa, berada di Malang pada September 1947 dan hendak melahirkan anak ke-4. Adik satu-satunya, Siauw Giok Bie hendak menggunakan mobil Palang Biru. Ia melarang Siauw Giok Bie untuk mengantar istrinya ke rumah sakit dengan menggunakan fasilitas umum. Palang Biru adalah organisasi Angkatan Muda Tionghoa untuk memberikan pertolongan pertama kepada prajurit-prajurit yang terluka di garis depan melawan agresi militer Belanda. Beruntung, sekalipun harus diantar dengan naik becak, istri bisa melahirkan Siauw Tiong Hian dalam keadaan selamat.

Siauw Giok Tjhan juga pernah menjadi ketua umum Baperki, Menteri Negara, anggota BP KNIP, anggota parlemen RIS, parlemen RI sementara, anggota DPR hasil pemilu 1955/anggota Majelis Konstituante, anggota DPRGR/MPR-S, dan anggota DPA. Pada saat ia dilantik menjadi Menteri Negara Urusan Minoritas oleh Kabinet Amir Syarifudin, Siauw Giok Tjhan yang belum mendapatkan mobil menteri, hanya bisa naik andong (kereta kuda) untuk ke Istana. Tapi malang, ternyata andong dilarang memasuki halaman Istana, terpaksa ia turun dari andong dan dengan jalan kaki masuk Keraton Yogyakarta. Pada saat itu ia juga terbentur dengan masalah tempat tinggal. Ternyata tidak ada perumahan pemerintah yang bisa diberikan kepadanya sebagai menteri negara. Pada saat itu, menteri yang datang dari luar Yogyakarta, boleh tinggal di Hotel Merdeka. Tapi untuk menghemat pengeluaran uang negara, Siauw memilih tinggal di gedung kementerian negara, di Jalan Jetis, Yogya, dan harus tidur di atas meja tulis. Kesederhanaan hidup sehari-hari, sebagaimana biasa kemana-mana hanya mengenakan baju kemeja-tangan pendek, yang lebih sering terlihat hanya berwarna putih, celana-drill pantalon dan bersepatu sandalet saja itu, ia harus berkali-kali dianggap sebagai orang kere yang tidak perlu dilayani oleh noni-noni pejabat administrasi kenegaraan Indonesian pada saat ia harus menemui Menteri-Menteri atau Presiden-Direktur Bank. 

Dalam menghadapi persoalan Tionghoa di Indonesia, Siauw Giok Tjhan menganut konsep Integrasi yaitu konsep menjadi Warga Negara dan menjadi bagian dari masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku dan budaya tanpa menghilangkan identitas budaya dan suku dari masing masing komponen masyarakat termasuk masyarakat Tionghoa. Konsep Integrasi yang diperjuangkan oleh Siauw Giok Tjhan ini sangat identik dengan teori "pluralisme" atau "multikulturalisme". Menurut Siauw Giok Tjhan, "Indonesian Race" (Ras Indonesia) tidak ada, yang ada adalah "Nasion Indonesia", yang terdiri dari banyak suku bangsa. Berpijak di atas prinsip ini, Siauw mengemukakan bahwa setiap suku berhak tetap mempertahankan nama, bahasa dan kebudayaannya, dan juga bekerja sama dengan suku-suku lainnya dalam membangun Indonesia. Konsep ini kemudian diterima oleh Bung Karno pada tahun 1963, yang secara tegas menyatakan bahwa golongan Tionghoa adalah suku Tionghoa dan orang Tionghoa tidak perlu mengganti namanya, ataupun agamanya, atau menjalankan kawin campuran dengan suku non-Tionghoa untuk berbakti kepada Indonesia. Siauw Giok Tjhan menentang konsep asimilasi yang dikembangkan oleh Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa (LPKB), dibawah kepemimpinan Kristoforus Sindhunata pada awal 1960-an yang bermaksud golongan Tionghoa menghilangkan ke-Tionghoa-annya dengan menanggalkan semua kebudayaan Tionghoa, mengganti nama-nama Tionghoa menjadi nama-nama Indonesia dan kawin campur antar ras. Siauw tidak menentang proses asimilasi yang berjalan secara suka-rela dan wajar, yang ia tentang adalah proses pemaksaan untuk menghilangkan identitas sebuah golongan, karena menurutnya usaha ini bisa meluncur ke genosida, seperti yang dialami oleh golongan Yahudi pada masa Perang Dunia ke II. Sejarah membuktikan bahwa akibat dari itu semua akhirnya meledak pada Kerusuhan Mei 1998, dimana terjadi pembunuhan, penjarahan dan pemerkosaan terhadap kelompok minoritas Tionghoa. 

Siauw Giok Tjhan adalah ketua umum Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (BAPERKI). Pada tahun 1958 Jajasan Pendidikan dan Kebudajaan Baperki mulai berpikir untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi. Rektor pertama Universitas Baperki ini adalah Ferdinand Lumban Tobing, seorang dokter yang pernah menjadi menteri dalam beberapa kabinet di masa demokrasi parlementer. Pada tahun itu dibuka Akademi Fisika dan Matematika, Kedokteran Gigi, dan Teknik. Pada 1962 dibuka Fakultas Kedokteran dan Sastra. Pada 1962, nama Universitas Baperki diubah menjadi Universitas Res Publica yang biasa disingkat sebagai URECA. Setelah peristiwa G30S, Universitas Res Publica ditutup, dan gedungnya diambil alih oleh pemerintah. URECA di Jakarta kemudian dibuka kembali dengan kepengurusan yang baru, dengan nama Universitas Trisakti. Setelah tragedi Gerakan 30 September 1965, Baperki dibubarkan oleh pemerintah Orde Baru karena dituduh sebagai onderbouw Partai Komunis Indonesia. Siauw Giok Tjhan dan Oei Tjoe Tat dijebloskan ke penjara tanpa pernah diadili, namun ia lalu bebas beberapa tahun kemudian. Siauw Giok Tjhan wafat di Belanda pada tanggal 20 November 1981 pada umur 67 tahun, beberapa menit sebelum memberikan ceramah di Universitas Leiden.




4. SIE KIEN LIEN (FERRY SIE)

Nama Ferry Sie King Lien memang tidak begitu dikenal, kisah hidupnya juga hampir tidak pernah dibahas. Namun saya ingin agar bangsa Indonesia tidak pernah melupakan seorang pemuda Tionghoa berusia 16 tahun yang mengorbankan dirinya hingga tewas diterjang rentetan peluru Belanda. 

Sie King Lien berasal dari keluarga yang mapan, dia merupakan kemenakan pemilik pabrik gelas di Kartodipuran. Meski hidup serba berkecukupan, namun Sie King Lien bersedia turut serta membela Indonesia dari penjajahan. Ia adalah Tentara Pelajar yang ditugasi menjalani misi perang urat saraf. 

Perang urat saraf ini sangat penting bagi perjuangan Indonesia, yakni menurunkan moril dan menangkis propaganda yang dilancarkan Belanda. Tak hanya itu, tindakan ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa pemerintah RI masih eksis di Kota Solo. Sie Kien Lien ditugasi bersama keempat rekannya, yakni Soehandi, Tjiptardjie, Salamoen, dan Semedi. Mereka memiliki misi khusus, yakni mencoret-coret tembok dan menyebarkan selebaran yang berisi perlawanan terhadap Belanda. Salah satu coretan yang paling mengena saat itu adalah "eens kompt de dag dat Republik Indonesia zal herrijzen" yang berarti 'pada suatu hari Republik Indonesia akan muncul kembali'. 

Nasib anggota Tentara Pelajar Subwehrkreise 106 Arjuna ini berakhir ketika dia dan keempat temannya disergap Belanda. Meski membawa sebuah senapan mesin, namun mereka kalah jumlah. Saat terjadi kontak senjata, sejumlah peluru mengenai tubuh Sie King Lien dan rekannya, Soehandi. Keduanya tewas di tempat, namun ketiga rekan lainnya berhasil lolos. 

Perjuangannya dihormati oleh pemerintah Indonesia dengan memutuskan memindahkan makamnya dari pemakaman umum ke Taman Makam Pahlawan Taman Bahagia, Solo, dan menjadi satu-satunya orang Tionghoa yang dimakamkan disana.

Kisah Ferry Sie King Lien ditulis dalam buku "Tionghoa Dalam Sejarah Kemiliteran: Sejak Nusantara Sampai Indonesia" yang ditulis Iwan Sentosa dan diterbitkan Yayasan Nabil dan Kompas Gramedia terbitan 2014.




5. DJIAW KIE SIONG 


Nama Djiaw Kie Siong tidak begitu dikenal, sehingga tidak banyak orang yang tidak tahu bahwa dia adalah pemilik rumah di Dusun Bojong, Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, tempat Bung Karno dan Bung Hatta disembunyikan oleh para pemuda (Adam Malik, Chaerul Saleh, Sukarni) yang menculik mereka dan menuntut agar kemerdekaan Indonesia diproklamasikan segera. Di rumah Djiaw Kie Siong pula naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia dipersiapkan dan ditulis. 

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia bahkan rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Kamis, 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Kie Siong itu. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada Rabu tanggal 15 Agustus, karena mereka tahu esok harinya Indonesia akan merdeka. Ketika naskah proklamasi akan dibacakan, tiba-tiba pada Kamis sore datanglah Ahmad Subardjo. Ia mengundang Bung Karno dkk. berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. 

Selain kedua "Bapak Bangsa" itu, saat itu rumah itu ditinggali pula oleh Sukarni Yusuf Kunto, dr. Sutjipto, Ibu Fatmawati, Guntur Soekarnoputra, dan lainnya selama tiga hari, pada 14-16 Agustus 1945. 

Djiaw Kie Siong adalah seorang petani biasa dari keturunan Tionghoa. Ia merelakan rumahnya ditempati oleh para tokoh pergerakan yang kelak menjadi "Bapak Bangsa". Hingga kini rumahnya masih dihuni oleh keturunannya. Djiaw Kie Siong pernah berwasiat, keluarga yang menempati rumah bersejarah itu harus bersabar. Tak dibolehkan merengek minta-minta sesuatu kepada pihak mana pun. Bahkan, harus rela setiap hari menunggui rumah mereka demi memberi pelayanan terbaik kepada para tamu yang ingin mengetahui sejarah perjuangan bangsa. 

Djiaw Kie Siong meninggal dunia pada 1964. Namanya praktis hampir tidak dikenal ataupun tercatat dalam sejarah. Namun, Mayjen Ibrahim Adjie pada saat masih menjabat sebagai Pangdam Siliwangi, pernah memberikan penghargaan kepada Djiaw dalam bentuk selembar piagam nomor 08/TP/DS/tahun 1961.




6. LIE ENG HOK 

Lie Eng Hok dilahirkan di Balaraja, Tangerang, Banten, pada tanggal 7 Februari 1893. Ia adalah seorang Perintis Kemerdekaan Indonesia. Beliau adalah sahabat karib Wage Rudolf Supratman, yang menjadi temannya saat beliau masih bekerja di surat kabar berbahasa Melayu-Tionghoa. Dari W.R.Supratman, ia belajar banyak tentang cita-cita kebangsaan. Semasa muda Lie aktif sebagai wartawan Surat Kabar Sin Po. 

Lie Eng Hok merupakan salah seorang tokoh di balik pemberontakan 1926 di Banten. Pada peristiwa itu, massa pribumi bergerak melakukan perusakan jalan, jembatan, rel kereta api, instalasi listrik, air minum, rumah-rumah, dan kantor milik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pemberontakan ini dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintahan yang menindas. Lie Eng Hok yang berperan sebagai kurir kaum pergerakan, ditahan Pemerintah Kolonial Belanda dan dibuang ke Boven Digoel (Tanah Merah), Papua, selama lima tahun (1927-1932). Selama di Boven Digoel, Lie Eng Hok menolak bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda dan lebih memilih membuka kios tambal sepatu untuk memenuhi biaya hidupnya. 

Lie Eng Hok meninggal pada 27 Desember 1961 di Semarang pada usia 68 tahun. Ia dimakamkan di pemakaman umum di Semarang. Dua puluh lima tahun kemudian, kerangka Lie Eng Hok dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang, melalui Surat Pangdam IV Diponegoro No.B/678/X/1986. 

Atas jasa-jasanya pada bangsa dan negara Indonesia, Lie Eng Hok diangkat sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan RI berdasarkan SK Menteri Sosial RI No. Pol. 111 PK tertanggal 22 Januari 1959.




7. LETNAN KOLONEL (Purn) ONG TJONG BING

Ong Tjong Bing atau Daya Sabdo Kasworo adalah seorang pejuang Tionghoa yang bertugas dibidang medis. Dia merupakan salah satu dokter yang merawat korban pertempuran 10 November 1945 yang dibawa ke Malang. Ong Tjong Bing lahir di Desa Kerebet. Beliau mengikuti pendidikan tekniker gigi dan dokter gigi, ia kemudian bergabung dengan militer pada 1953 sebagai pegawai sipil. Dia mulai menyandang pangkat militer sebagai kapten pada 1955 di bawah Resimen Infanteri RI-18 Jawa Timur. 

Dalam operasi anti PRII-Permesta, DI-TII hingga Operasi Mandala-Trikora, dia sempat dikepung gerombolan DI-TII di Jawa Barat. Ia juga diminta untuk menggalang masyarakat Tionghoa Pekanbaru saat operasi PRII-Permesta hingga akhirnya diminta mendirikan RS militer di Soekarnopura (Jayapura) dan RS sipil di kota tersebut. Dia adalah kepala Kesehatan Kodam (Kesdam) Cendrawasih pertama. Menpangad Jenderal Ahmad Yani beserta sejumlah asisten mengenalnya secara pribadi dan selalu mengabulkan permintaan Tjong Bing alias Kasworo. Dia pun turut dalam sejumlah patroli garis depan dan memegang senjata langsung termasuk menghadapi kelompok “Merah” (Komunis) seperti dalam tanggap bencana letusan Gunung Agung di Bali. Dia berharap generasi muda Tionghoa tidak trauma dengan peristiwa 1965 dan berperan di masyarakat dalam beragam sendi kehidupan dan tidak hanya terlibat di dunia perdagangan belaka. Dia pensiun di tahun 1976 dengan pangkat Letnan Kolonel. 




8. LIE YAK HENG

Lie Yak Heng atau Henry Wijaya adalah seorang Tionghoa yang diakui secara resmi sebagai Pahlawan Kemerdekaan oleh negara. Lie Yak Heng lahir pada tanggal 20 Oktober 1930 di Kisaran. Beliau adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Tidak banyak yang tahu kisah hidup Bung Lie. Namun, kisahnya dapat diteruskan kepada publik oleh anaknya, dr. Julijamnasi, yang meneruskan usaha ayahnya, Poliklinik Kebaktian Veteran RI.

Masa kanak-kanak Lie Yak Heng dilalui dengan penuh kemiskinan dan bahkan sulit mendapatkan makanan. Lie Yak Heng dan kebanyakan anak seusianya dilingkungannya tak mengenal bangku sekolah sehingga membuat Lie menjadi buta huruf selama bertahun-tahun. Lie juga sudah harus menghidupi diri sendiri setelah ayahnya meninggal saat ia masih berusia 11 tahun. Lie Yak Heng yang saat itu masih remaja menjadi tulang-punggung keluarga dengan berjualan tebu di stasiun kereta api bersama teman-temannya yang juga hidup miskin. Mereka bekerja di sekitar gerbong hingga seharian.

Percekcokannya dengan penjajah dimulai pada tahun 1942, saat usianya baru 12 tahun. Ketika sekelompok pemuda berhasil menahan beberapa tentara Jepang. Serdadu-serdadu itu diikat dan dimasukkan ke dalam gerbong kereta dan dikunci. Namun, tentara Jepang itu berhasil lolos dan menyerang masyarakat yang tinggal di sekitar stasiun secara membabi buta. Lie dan beberapa kawannya lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Sekitar tahun 1944, Lie bersama keluarga hijrah ke Tebingtinggi, dan setahun kemudian kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Namun, berita itu baru sampai ke Tebingtinggi pada bulan Oktober. Saat berita itu diterima, Lie yang baru berusia 14 tahun dan kawan-kawan segera melucuti senjata dan sepeda milik tentara Jepang. Bersama pejuang-pejuang lain, Lie bergabung dengan Laskar Napindo. Namun, mereka masih belum bisa menikmati kemerdekaan sepenuhnya. Pada tahun 1947, Belanda melancarkan agresi militer pertama dengan membonceng NICA. Belanda beralasan Indonesia tidak mematuhi perjanjian Linggarjati yang telah disepakati oleh kedua pihak pada tanggal 24 Maret 1947. Belanda berhasil menguasai daerah Jawa Timur dan Jawa Barat sebagai pusat perekonomian.

Ketika Belanda mulai berusaha menduduki Sumatera, perlawanan rakyat di Sumatera Utara dan Aceh pun terjadi. Di Sumatera Utara, tentara Belanda masuk ke Siantar melewati Tebingtinggi. Para pejuang disana tidak tinggal diam. Mereka berupaya menghambat gerak maju tentara Belanda di sepanjang rute tersebut. Lie lalu diangkat sebagai mata-mata dan bertugas melaporkan informasi yang diketahuinya kepada tentara nasional. Dengan menyamar sebagai pengantar sayuran ke kediaman Belanda, ia bisa dengan leluasa mempelajari situasi. Untungnya ia tidak dicurigai sebagai musuh karena pada saat itu tentara Belanda percaya bahwa etnis Tionghoa tidak akan berpihak pada Indonesia.

Tugas sebagai mata-mata adalah tugas yang berbahaya, terutama jika dilakukan oleh seorang remaja. Namun, Lie berhasil melaksanakan tugas itu dengan baik. Menurut penuturan Lie, pejuang dari etnis Tionghoa yang terlibat perjuangan Indonesia pada masa itu cukup banyak jumlahnya. Di regunya saja ada sekitar 3 sampai 4 orang. Lie sendiri menjadi anggota laskar penghubung TKR, TRI dan TNI. Tugas ini diembannya hingga 4 tahun dengan daerah operasi meliputi Kisaran, Tebingtinggi, Pulau Raja dan Labuhanbatu.

Setelah usai perang kemerdekaan, ia mendapat tawaran bergabung sebagai tentara nasional, tapi ditolaknya. Lie lebih memilih menjadi masyarakat sipil dan bekerja untuk menghidupi keluarganya. Berbagai pekerjaan saat itu ia lakoni, mulai dari supir truk hingga mengikat tali jerami. Saat bekerja sebagai pengikat tali jerami itulah ia mengambil ilmu dari anak majikannya. Lie meminta anak majikannya untuk mengajarinya baca-tulis.

Setelah bisa baca-tulis, pada tahun 1950 Lie memberanikan diri melamar pekerjaan di Rumah Sakit Rambutan, Perkebunan Gunung Pamela, Tebingtinggi. Di sana ia belajar merawat dan mengobati pasien yang sakit. Perlahan, Lie mulai mengumpulkan duit hasil pekerjaannya dan akhirnya membangun poliklinik sendiri yang diperuntukkan bagi para veteran, karena beliau sangat menyadari bahwa kehidupan sebagian besar para pejuang dari saat perang hingga merdeka seringkali sulit. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak memiliki biaya berobat ketika mulai tua dan sakit-sakitan. Lie merasa terpanggil untuk meringankan beban teman-temannya dan segera membangun Poliklinik Kebaktian Veteran di Serdangbedagai pada tahun 1962.

Namun, meski sudah turut berjuang melawan penjajahan Belanda, ia masih harus berjuang pula menghadapi tuduhan pengkhianatan dari pemerintahnya sendiri hanya karena ia adalah seorang Tionghoa. Lie sempat dianggap terlibat dalam pemberontakan PKI sehingga beliau dipanggil oleh Kodam setempat untuk diperiksa. Kemudian, seorang tentara mengajaknya pergi ke Kisaran. Ia sendiri tidak mengetahui maksud kepergian ke kota kelahirannya ini. Di Kisaran, Lie bertemu dengan teman-teman lamanya semasa perjuangan. Setelah itu, ia dibawa pulang dan dibebaskan. Belakangan ia baru mengetahui bahwa tentara tersebut membawanya ke Kisaran adalah untuk kepentingan penyelidikan dan pembuktian di antara teman-temannya, apakah ia memang seorang pejuang atau tidak.

Pada tahun 1970-an Lie memutuskan pindah ke Medan. Poliklinik Veteran yang dibangunnya juga ikut dipindahkan ke Belawan. Selama bergabung dengan LVRI, ia kembali bertemu dengan teman-teman lama dan seperjuangan. Atas bantuan teman-temannya tersebut, akhirnya Lie terdaftar sebagai salah satu pejuang kemerdekaan. Selanjutnya ia diangkat menjadi Kepala Kesehatan LVRI Sumatera Utara hingga akhir hayatnya. 

Lie wafat pada tanggal 24 Juni 2013. Beliau dibaringkan diperistirahatan terakhir dengan penuh penghormatan di antara para pejuang lain di Taman Makam Pahlawan Bukit Barisan Medan. Atas jasa-jasanya, Pemerintah Indonesia menganugerahinya beberapa penghargaan, di antaranya Bintang Gerilya, Bintang Perang Kemerdekaan I dan Bintang Perang Kemerdekaan II.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Selain mereka yang tercatat diatas, masih ada banyak pejuang Tionghoa yang berjuang bagi Indonesia. Beberapa pejuang Tionghoa lainnya masih bisa ditelusuri kisahnya. Inilah nama para pejuang tersebut beserta perjuangan mereka:

1. Tan Bun Yin
Tan Bun Yin adalah salah seorang pejuang kemerdekaan dari etnis Tionghoa. Ia diperintahkan untuk membalas dendam kepada seorang mayor Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) yang telah menembak mati dokter Tan Ping Djiang, republiken penentang Belanda saat Clash II pada 1949. Mayor Belanda yang memerintahkan eksekusi dokter Tan tersebut, ditembak dari jarak dekat di Restoran Baru di dalam Kota Tulung Agung sebelah barat alun-alun oleh oleh Tan Bun Yin.

2. Oey Eng Kiat (Raden Ngabehi Widyaningrat)
Beliau terlibat dalam pemberontakan melawan VOC bersama dengan Raden Panji Margono dan Tan Kee Wie (Tan Khe Oey). Beliau gugur dalam pemberontakan pada tahun 1750 bersama dengan Raden Panji Margono.

3. Gian Liam Nio 
Nyonya Gian Liam Nio lahir pada tahun 1901 dan aktif dalam perjuangan melawan Belanda di kamp-kamp para pejuang. Beliau berani menjadi petugas dapur umum pejuang meskipun pekerjaan kecil itu sangat berisiko. Beliau wafat pada tahun 1953, dan dimakamkan secara militer dan dihadiri KASAD Kolonel Bambang Sugeng dan Walikota Malang.

4. Oei Kim Bie (Erawan Gondaseputra) 
Beliau lahir pada tahun 1904, dan mulai berjuang pada tahun 1923. Kim Bie bahkan pernah beberapa kali masuk penjara. Beliau bergabung dengan Laskar Pesindo untuk melawan Inggris dan merampas obat-obatan bagi tentara Republik di Andir, Bandung. Pada tahun 1960, beliau mendapat bintang jasa dari Legiun Veteran RI

5. Djiauw Pok Kie
Djiauw Pok Kie dilahirkan pada tahun 1910. Beliau berperan sebagai penyelundup senjata bagi para pejuang Indonesia. Atas jasa-jasanya, Djiauw mendapat medali kehormatan dari pemerintah Republik Indonesia. Djiauw Pok Kie wafat pada tahun 1973.

6. Sho Bun Seng
Beliau dilahirkan pada tahun 1911, dan merupakan pejuang Tionghoa yang berjuang di Padang, Sumatera Barat dengan bergabung di batalion Pagarruyung. Sho Bun Seng lalu bertugas di Jawa Barat dan Kalimantan Barat. Beliau wafat pada tahun 2000 dan dimakamkan di TMP Kalibata Jakarta.

7. Han Liang Kuan
Beliau dilahirkan pada tahun 1911, dan mengabdi sebagai pejuang di Makassar, Sulawesi Selatan. Han Liang Kuan yang membuka warung kopi menjadikan tempatnya sebagai pusat pertemuan rahasia gerilyawan dari kesatuan “Harimau Republik”. Han juga merupakan salah satu anggotanya dan bertugas menyediakan senjata. Han Liang Kuan wafat pada tahun 1962.

8. Liem Ching Gie (Abdul Malik)
Beliau adalah pejuang Tionghoa dari Sulawesi Selatan, yang dilahirkan pada tahun 1911. Beliau aktif dalam perjuangan bersenjata melawan Belanda, bahkan pernah ditangkap dan dipenjara Belanda pada tahun 1947 hingga tahun 1948. Beliau wafat pada tahun 1970.

9. Oei Pei Hin
Beliau adalah pejuang Tionghoa dari Jawa Barat, yang lahir pada tahun 1912. Beliau berjuang dengan cara mendukung logistik pasukan Siliwangi. Oei Pei Hin pada tahun 1996.

10. Kwee Tjoa Kang
Beliau adalah pejuang Tionghoa dari Jambi. Kwee Tjoa Kang lahir pada tahun 1912. Beliau bergabung dengan Laskar Rakyat di Batalyon I, Resimen II, Divisi II di Jambi. Tugas beliau adalah sebagai pemasok senjata bagi Laskar Rakyat. Beliau juga tercatat sebagai anggota angkatan perang dengan pangkat Letnan I pada 1950. Atas perjuangannya, Kwee Tjoa Kang mendapatkan bintang jasa.

11. Oey Eng Soe (Ujeng Suwargana)
Beliau lahir pada tahun 1917, dan pernah menjadi perwira menengah sekaligus komandan logistik Territorium III Siliwangi. Oey Eng Soe adalah salah satu orang yang dekat dengan Jendral A.H. Nasution. Beliau wafat pada tahun 1979.

12. Tang Kim Teng
Beliau lahir pada tahun 1921, dan merupakan salah satu pejuang Tionghoa bergabung dengan Resimen IV, Divisi IX Banteng, wilayah Sumatra Tengah. Beliau bertugas mencari senjata, bahan peledak (amunisi), seragam tentara, obat-obatan, dan perbekalan lainnya di Singapura. Setelah perang berakhir beliau diakui sebagai Anggota Legiun Veteran RI Riau, dan dianugrahi bintang Satya Lencana Perang Kemerdekaan Kedua.

13. Sung Kim Liung
Beliau lahir ada tahun 1923, dan pernah mengikuti latihan kemiliteran Jepang, yakni sebagai Seinendan. Beliau berjuang di wilayah Kalimantan Barat. Kemampuan yang diperoleh melalui pelatihan dari militer Jepang digunakan untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Pada bulan Juli 1947, Sung Kim Liung bergabung dengan GERAM dan ditugaskan sebagai mata-mata. Beliau menyusup ke daerah musuh guna mengamati kekuatan pasukan Belanda dan bahkan ikut dalam revolusi fisik. 

14. Liong Ki Se
Beliau lahir pada tahun 1925. Pada tahun 1945, Liong Ki Se dan dua saudaranya mengadu nasib di Jakarta. Kedua saudaranya menjadi pedagang, sedangkan Liong Ki Se masuk satuan MOBRIG (sekarang Brimob). Liong Ki Se adalah salah satu pejuang yang gugur dalam pertempuran melawan tentara Belanda di Depok pada tahun 1948. Beliau dimakamkan di pekuburan Ancol, dan kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.

15.Tan Ping Djiang 
Tan Ping Djiang adalah seorang dokter dan aktivis penentang Belanda, meskipun istrinya berkebangsaan Belanda. Ia dengan lantang memerintahkan seorang komandan Belanda untuk memberitahu HJ van Mook bahwa Indonesia dan Asia sudah merdeka. ”Kasih tahu Van Mook, Belanda silakan mundur dari Indonesia!”, demikianlah ucapan Tan Ping Djiang.
Keberaniannya itu membuat Belanda geram. Tan Ping Djiang kemudian tewas ditembak oleh komandan tentara Belanda tersebut.

16.Oei Hok San
Oei Hok San adalah mantan tentara pelajar di Kediri, Jawa Timur. Ia adalah putra dari Oei Djing Swan, seorang Tionghoa yang memerintahkan pejuang Tan Bun Yin untuk membunuh seorang komandan Belanda sebagai aksi balas dendam atas ditembaknya dokter Tan Ping Djian.

17.Yap Tjwan Bing
Yap Tjwan Bing adalah seorang sarjana Farmasi dan apoteker yang juga dosen dan anggota Dewan Kurator ITB Bandung. Tahun 1945 terpilih menjadi salah satu anggota PPKI. Setelah kemerdekaan, ia bergabung dengan PNI. Namanya diabadikan menjadi salah satu ruas jalan di kota Surakarta menggantikan Jalan Jagalan yang diresmikan oleh Walikota Surakarta Joko Widodo pada tanggal 22 Februari 2008 dalam rangka Imlek Bersama di kota Solo.

18.Oei Tjong Hauw 
Oei Tjong Hauw adalah putra dari konglomerat gula Oei Tiong Ham dan penerus usaha Kian-gwan Kongsi. Oei Tjong Hauw berhasil membawa Oei Tiong Ham Concern melewati masa-masa sulit, yaitu “malaise” atau Depresi Besar yang melanda dunia pada akhir dekade 1920-an sampai awal 1930-an, pendudukan Jepang (PD II) dan Perang Kemerdekaan (1945-1949). Berhasilnya Oei Tiong Ham Concern melewati masa-masa sulit, khususnya masa Perang Kemerdekaan/Revolusi ini, antara lain dikarenakan Oei Tjong Hauw (sebagai generasi kedua) tidak hanya berkutat di dunia bisnis saja, namun juga aktif di bidang politik. Ia diangkat menjadi ketua partai Chung Hwa Hui (CHH), partai kaum peranakan Tionghoa yang berpendidikan Belanda, yang dibentuk tahun 1928. Oei Tjong Hauw juga menjabat sebagai anggota BPUPKI pada tahun 1945, sebagai wakil dari golongan minoritas Tionghoa. Aktivitas Tjong Hauw di bidang politik ini membuatnya memiliki relasi yang cukup banyak dari berbagai kalangan, termasuk para tokoh politik Indonesia. Oei Tjong Hauw meninggal akibat serangan jantung pada tahun 1950.

19.Oei Djing Swan
Oei Djing Swan adalah seorang Tionghoa yang sangat aktif dalam perjuangan melawan Belanda. Beliau adalah orang yang memerintahkan Tan Bun Yin untuk membunuh komandan tentara Belanda yang menembak mati dr.Tan Ping Djiang yang dibunuh karena menghardik komandan tentara Belanda tersebut.

20.Auwyang Tjoe Tek
Beliau adalah pejuang Tionghoa yang berada dibawah komando langsung Bung Tomo pada saat peristiwa Pertempuran 10 November di Surabaya yang menewaskan 1.000 warga Tionghoa, dengan jumlah keseluruhan korban tewas dari pihak Indonesia mencapai 20.000 orang. Auwyang berperan sebagai ahli amunisi dan peledak yang didapat dari pertempuran melawan Jepang.



*Beberapa paragraf dan kalimat dalam artikel ini disadur dari wikipedia.org


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ARTIKEL INI DISUSUN DAN DITERBITKAN PERTAMA KALI
OLEH DELEIGEVEN MEDIA

SETIAP ARTIKEL YANG MEMILIKI ISI, SUSUNAN, DAN GAYA PENULISAN
YANG MIRIP DENGAN ARTIKEL INI MAKA ARTIKEL-ARTIKEL TERSEBUT
MENYADUR ARTIKEL INI.

DILARANG KERAS MEMPLAGIAT ARTIKEL INI!

CANTUMKAN LINK LENGKAP ARTIKEL INI DISETIAP KALIMAT YANG ANDA DISADUR DARI ARTIKEL INI. SESUAI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA, JIKA MENYADUR/MENG-COPY MINIMAL SEPULUH KATA TANPA MENCANTUMKAN SUMBER DARI KALIMAT ITU (BERBEDA DARI PENCANTUMAN SUMBER DI CATATAN KAKI (FOOTNOTE) MAKA ITU ADALAH TINDAKAN PLAGIARISME.

JIKA ANDA MENYADUR SEBAGIAN BESAR ARTIKEL INI MAKA ANDA HARUS MENCANTUMKAN KALIMAT:
"ARTIKEL INI DISADUR DARI....(LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA",
ATAU:"SUMBER UTAMA DARI SEBAGIAN BESAR INFORMASI ARTIKEL INI DIAMBIL DARI (LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA"  
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Notes (Catatan):

*We strongly recommend all readers to read all the comments below for the other details which not mentioned by this article
(Sangat disarankan bagi para pembaca untnk melihat komentar-komentar artikel ini sebab beberapa komentar membahas rincian informasi yang tidak ditulis dalam artikel ini)

*Get various information about history in ENGLISH by open or follow our Instagram account: @deleigevenhistory(Dapatkan berbagai informasi sejarah dalam bahasa Inggris di akun instagram kami @deleigevenhistory)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Copyrights Story: Deleigeven Media

Penyusun:
Penulis : Deleigeven
Editor : Juliet
Desain : Deleigeven
Penerbit: Deleigeven Media

Sumber Website:
Wikipedia 
Tempo.com Nasional.
kompas.com


Sumber Gambar:
Koleksi Foto Pribadi Penulis
wikipedia.com


Beberapa paragraf disadur dari:
www.wikipedia.com
(dengan beberapa perubahan)


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------