DELEIGEVEN HISTORICULTURAM

HISTORY IS ONE OF THE BEST INFORMATION FOR OUR CURRENT & FUTURE

Translate

Tuesday, 27 June 2017

DATUK BELAMBANGAN, RAJA PERTAMA BATUBARA






NEGERI BATUBARA

Batubara adalah sebuah kabupaten di provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Wilayah Batubara didominasi oleh wilayah pesisir pantai yang terletak ditepi Selat Malaka. Wilayah Batubara baru menjadi kabupaten pada tahun 2006 setelah sebelumnya digabungkan dengan Kabupaten Asahan.

Negeri Batubara terbentuk disaat yang bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Batubara disekitar tahun 1676-1680. Sebelum Kerajaan Batubara didirikan diwilayah ini, bisa dibilang wilayah ini tidak memiliki penghuni tetap sehingga belum ada peradaban sebelum era Kerajaan Batubara.

Pada jaman dahulu, meskipun berada di wilayah timur Pulau Sumatera, perjalanan sejarah Batubara lebih berkaitan erat dengan Kerajaan Alam Minangkabau di wilayah barat Sumatera. Wilayah Batubara sangat strategis. Selain berada ditepian Selat Malaka, wilayah Batubara juga berbatasan dengan wilayah-wilayah makmur sejak jaman dahulu kala, seperti Asahan, Simalungun, Deli, dan Pematang Bedagai.

Jika mengacu pada tulisan sejarawan ternama, Hamka, yang menyebutkan bahwa kedatangan Islam ke Pulau Sumatera diawali pada abad ke-7, sedangkan penyebarannya mulai merata pada abad ke-12 atau ke-13, maka dipastikan bahwa Kerajaan Batubara berdiri setelah masa Hindu-Buddha dan pada masa Islam sudah menjadi agama utama di Sumatera.

Wilayah Batubara mulanya adalah salah-satu wilayah kekuasaan Kerajaan Simalungun yang menjadi bagian dari Kesultanan Asahan dan dibawahi oleh Kesultanan Aceh. Datuk Belambangan, yang tersasar ke Simalungun saat berburu, diundang sebagai tamu raja Simalungun dan tinggal lama di Simalungun. Beliau kemudian menikah dengan putri raja. Raja Simalungun lalu memberikan wilayah Batubara kepada Datuk Belambangan karena putri raja (istri Datuk Belambangan) sangat menyukai wilayah itu. Inilah mengapa pada jaman dahulu raja-raja kecil di wilayah Batubara meminta legitimasi kepada Yang Dipertuan Pagaruyung dari Kerajaan Alam Minangkabau di Pagaruyung dan kemudian kepada Kesultanan Siak (yang didirikan atas bantuan Kerajaan Alam Minangkabau) ketimbang kepada Kesultanan Aceh yang lebih dekat.





ASAL-USUL DATUK BELAMBANGAN

Raja Belambangan atau Datuk Belambangan adalah salah-satu putra raja Kerajaan Alam Minangkabau. Kerajaan Alam Minangkabau adalah kerajaan yang terletak dibagian barat Sumatera, dan pada masa itu pusat pemerintahannya berada di wilayah Pagaruyung, sehingga kerajaan ini juga kerap disebut Kerajaan Pagaruyung.

Dikatakan, ayah Datuk Belambangan adalah Raja Bujang. Raja Bujang adalah putra Yang Dipertuan Pagaruyung (penguasa utama Kerajaan Alam Minangkabau) saat itu, yaitu Raja Gamuyang. Raja Bujang dan ayahnya, Raja Gamuyang, adalah salah satu dari Tiga Raja Minangkabau (Rajo Tiga Selo) saat itu. Kerajaan Minangkabau saat itu memiliki sistem kerajaan yang unik, yaitu diperintah oleh tiga raja secara bersamaan tetapi memiliki tugas yang berbeda. Raja yang pertama dan utama adalah Raja Alam, atau sultan, yang bergelar Yang Dipertuan Pagaruyung. Raja Alam adalah kepala nagari (negara) yang mengurus pemerintahan. Raja Alam membawahi Raja Adat (mengurus peraturan adat kerajaan) dan Raja Ibadat (yang mengurus urusan keagamaan Islam). Raja Adat dan Raja Ibadat, yang membantu sultan mengurus kerajaan, adalah jabatan yang dipegang turun-temurun. Sistem Rajo Tiga Selo ini terus bertahan hingga meletusnya Perang Padri (1815).

Kerajaan Alam Minangkabau adalah salah-satu kesultanan yang paling berpengaruh di Sumatera, selain Kesultanan Aceh dan Kesultanan Siak Sri Inderapura. Jika dibandingkan dengan Kesultanan Aceh, yang diturunkan oleh Kesultanan Samudra Pasai, dan Kesultanan Siak Sri Idrapura, yang diturunkan dari Kesultanan Johor, Kerajaan Alam Minangkabau memiliki peradaban yang sudah terekam sejak masa Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit. Kerajaan Alam Minangkabau adalah kerajaan penerus Kerajaan Melayu Dharmasraya yang didirikan oleh Raja Trailokyaraja dari Wangsa Mauli pasca runtuhnya Kerajaan Sriwijaya akibat dilemahkan oleh serbuan Raja Rajendra Chola I (dari Kerajaan Koromandel, India). Kerajaan Melayu Dharmasraya adalah salah-satu kerajaan Sumatera yang tercatat namanya dalam Kitab Pararaton dan dalam berbagai relik dan prasasti yang berhubungan dengan Maharaja Kertanegara dan raja-raja Majapahit. Kerajaan ini jauh lebih tua dari Kerajaan Joseon di Korea, Kekaisaran Ming di Tiongkok, Kekaisaran Rusia, dan dinasti-dinasti Eropa yang kini berkuasa di Inggris, Perancis, dan sebagainya. Kerajaan Melayu Dharmasraya juga sangat terkenal hingga di mancanegara karena memiliki kebudayaan yang maju dan hasil bumi yang melimpah. Akibat perubahan iklim politik di Semenanjung Malaka, Kerajaan Melayu Dharmasraya lalu memindahkan ibukotanya dari wilayah pantai ke wilayah pedalaman Sumatera Barat. Masuknya agama Islam sangat mempengaruhi kebudayaan dan politik di Minangkabau. Lama-kelamaan kerajaan ini mengurangi pengaruh Buddhisme dan menggantinya dengan Islam termasuk dalam penamaan kerajaan, walau beberapa rajanya masih menggunakan nama-nama dari bahasa Sansekerta. Wangsa Mauli tidak berganti, tetapi nama kerajaannya berubah. Kerajaan Melayu Dharmasraya lalu diubah namanya menjadi Kerajaan Alam Minangkabau yang rajanya dipanggil sultan.

Dengan latar belakang seperti itu, tentulah raja Simalungun, yang menjadi tuan rumah saat Datuk Belambangan tiba di Simalungun, merasa sangat terhormat saat menerima Datuk Belambangan sebagai tamu mereka.





PERBURUAN YANG GAGAL

Sebelum pangeran dari Kerajaan Alam Minangkabau ini menjadi penguasa negeri Batubara, beliau tinggal dan dididik didalam istana Kerajaan Alam Minangkabau, Sumatera Barat. Usai mempelajari dan menguasai semua ilmu yang wajib diketahuinya, beliaupun menghadap ayahnya, Raja Minangkabau. Datuk Belambangan memohon pada ayahnya agar diijinkan meninggalkan istana untuk pergi berburu rusa untuk melengkapi kebanggaannya sebagai seorang pangeran. Raja mengabulkan permohonan putranya, dan berangkatlah Datuk Belambangan bersama dengan serombongan pengawal, juga beberapa sahabatnya.

Rombongan sang pangeran meninggalkan negerinya dengan menyusuri pesisir pantai, lalu melintasi hutan belantara dan wilayah pegunungan. Namun, belum ada rusa yang terlihat. Walau mereka sudah kelelahan tapi pantang bagi Datuk Belambangan dan rombongannya untuk pulang sebelum mendapatkan hasil buruan.

Akhirnya, terlihatlah oleh Datuk Belambangan, seekor rusa. Datuk Belambangan dan rombongannya memburu rusa itu dan berusaha menangkapnya. Namun, rusa itu mampu melarikan diri sehingga menyebabkan Datuk Belambangan dan rombongannya terpaksa terus melanjutkan peburuan. Perburuan itu membuat Datuk Belambangan dan rombongannya tidak mengetahui waktu dan tempat mereka.

Tiba-tiba, terlihatlah oleh mereka sebuah perkampungan. Oleh orang yang mereka temui dijalan, mereka mendapat informasi bahwa mereka berada di Negeri Simalungun. Setelah mengetahui bahwa yang dihadapan mereka adalah seorang pangeran, maka dihantarkanlah Datuk Belambangan dan rombongannya ke istana salah-satu Raja Simalungun, kemungkinan dari klan Damanik atau klan Sinaga.

Raja Kerajaan Simalungun menyambut Datuk Belambangan dan rombongannya dengan gembira dan mendengar dengan penuh minat mengenai perkembangan Kerajaan Pagaruyung termasuk kabar dari Raja Pagaruyung dan seisi istana, dan juga tentang cerita perburuan Datuk Belambangan. Setelah mendengar cerita tentang perburuan yang gagal, raja Simalungun meminta agar Datuk Belambangan dan rombongannya tinggal sementara waktu di Negeri Simalungun. Tawaran itu disetujui oleh Datuk Belambangan dan dinilai bijak oleh rombongannya.

Keberadaannya Datuk Belambangan di Simalungun berawal sebelum tahun 1680.






MENJADI ANGGOTA KELUARGA KERAJAAN SIMALUNGUN

Datuk Belambangan tinggal cukup lama di Simalungun. Rupanya beliau menaruh hati pada putri raja Simalungun. Datuk Belambangan lalu menghadap Raja Simalungun dan mengutarakan perasaannya, juga meminang putri raja untuk dijadikan istri. Raja Simalungun rupanya juga berharap agar pangeran dari Pagaruyung itu dapat menjadi menantunya. Rajapun menikahkan putrinya dengan Datuk Belambangan. Rakyat Simalungun bersuka-cita, dan rombongan pangeran juga memandang pernikahan itu baik adanya. 

Putri raja Simalungun bermarga “Damanik”, sesuai dengan marga ayahnya. Menurut kebiasaan Simalungun saat itu Datuk Belambangan juga harus memakai marga dari Simalungun. Maka, raja Simalungun memberikan marga pada Datuk Belambangan yaitu marga Sinaga.

Pemberian marga Sinaga pada Datuk Belambangan ini menunjukkan bahwa seluruh raja di Simalungun saat itu sangat menghormati Datuk Belambangan dengan latar belakang Pagaruyung-nya, sebab saat itu marga Sinaga adalah salah satu marga tertinggi disana.

Sistem aristokrasi di Simalungun saat itu sangat ketat dan mewajibkan semua rakyat memiliki marga yang mengikuti marga raja dimana mereka tinggal. Ada empat kerajaan kecil di Simalungun yang juga dipimpin oleh empat raja dengan marga yang berbeda, yaitu Damanik, Saragih, Sinaga, dan Purba. Menurut catatan-catatan tua Simalungun, daerah Simalungun, adalah kerajaan tertua di Sumatera Timur. Marga Damanik adalah marga tertua dan yang paling pertama datang di Simalungun (Proto-Simalungun), yang diperkirakan berasal dari Nagore, India Selatan. Leluhur klan ini tiba di Simalungun pada sekitar abad ke-5 M setelah sebelumnya menempuh perjalanan dari India Selatan melewati Myanmar, menyebar ke Siam dan juga membawa orang-orang dari Siam, kemudian menuju Malaysia, hingga kemudian tiba di Sumatera. Setibanya di Simalungun, klan Damanik mendirikan Kerajaan Nagur (sesuai nama wilayah asal di India). Kerajaan Nagur ini adalah nama lama wilayah Simalungun. Klan Saragih adalah marga kedua datang di Simalungun, yang juga diperkirakan berasal dari Nagore, India Selatan. Leluhur klan ini tiba di Simalungun pada sekitar abad ke-5 M. Setibanya di Simalungun, pemimpin klan Saragih bersama dengan pemimpin-pemimpin klan Purba dan klan Sinaga mengabdi pada Kerajaan Nagur, yang didirikan oleh klan Damanik, sebagai panglima. Ketiga panglima ini menjadi menantu Raja Damanik, dan raja pun menyerahkan wilayah untuk diatur oleh ketiga menantunya ini yang kemudian menjadi Kerajaan Banua Sobou (dipimpin oleh klan Saragih) yang kemudian dikenal dengan nama “Kerajaan Raya” atau “Kerajaan Pematang Raya”, Kerajaan Banua Purba (dipimpin oleh klan Purba) yang kemudian dikenal dengan nama “Kerajaan Silou” atau “Kerajaan Dolok Silou”, dan Kerajaan Saniang Naga (dipimpin oleh klan Sinaga) yang kemudian dikenal dengan nama “Kerajaan Batangiou” dan kemudian berganti lagi menjadi “Kerajaan Tanoh Jawa”. Kerajaan Nagur yang didirikan klan Damanik adalah pendahulu Kerajaan Siantar. 

Klan Sinaga sebenarnya juga datang dari India bersama dengan tiga klan lainnya pada abad ke-5 M. Tetapi, menurut cerita turun-temurun di Simalungun, klan Sinaga lama yang mendirikan Kerajaan Saniang Naga (dikenal juga dengan nama Kerajaan Batangiou) dikalahkan oleh keturunan seorang jenderal Jambi yang tiba pada abad ke-14 saat Kerajaan Majapahit menyerbu Sumatera. Setelah klan Sinaga lama ini kalah maka keturunan jenderal Jambi, yang juga mengaku bernama Sinaga, lalu mendirikan Kerajaan Tanoh Jawa.

Keempat kerajaan ini sepakat tidak saling menyerang satu sama lain dalam suatu perjanjian yang bernama “Harungguang Bolon”. Untuk membedakan keluarga bangsawan dan keluarga rakyat, maka marga yang diambil oleh masing-masing penduduk akan digolongkan ke beberapa golongan, dengan empat marga itu tetap menjadi marga utama dan yang statusnya paling tinggi. Jika saat itu Datuk Belambangan diberi marga dari salah-satu empat marga tinggi itu maka artinya beliau diakui sebagai salah-satu kerabat raja.

Mengenai siapakah raja yang menerima Datuk Belambangan di istananya tidak diketahui pasti, tetapi ada beberapa kemungkinan jika mengacu pada adat-istiadat di Simalungun saat itu. Mungkin Datuk Belambangan pertama kali bertemu dan tinggal di istana raja dari klan Sinaga, sebab marga Sinaga-lah yang diberikan pada Datuk Belambangan, sedangkan istrinya berasal dari marga Damanik. Tapi, bisa jadi juga Datuk Belambangan sejak awal kedatangannya di Simalungun sudah tinggal di istana raja dari klan Damanik dan sering bertemu dengan putri raja Damanik. Karena sebisa mungkin setiap wanita Simalungun harus menikah dengan pria Simalungun atau membawa marga dari Simalungun, dan juga pernikahan se-marga adalah tabu, sedangkan Datuk Belambangan belum memiliki marga dari Simalungun, maka raja Simalungun dari klan Damanik meminta raja dari klan Sinaga untuk menjadikan Datuk Belambangan sebagai anak angkatnya sehingga Datuk Belambangan bisa mendapatkan marga Sinaga, yang saat itu merupakan marga bangsawan tinggi di Simalungun. Menurut permargaan di Simalungun, Keturunan Datuk Batubara yang menikah dengan pria marga Damanik dari Simalungun berada dalam klan Damanik Bariba.

Pernikahan Datuk Belambangan dan keberadaannya di Simalungun terjadi sekitar tahun 1676-1680 (Muhamamad Yusuf Morna, Sejarah Batubara Dari Masa Ke Masa halaman 28, 2010).






MENJADI PENGUASA BATUBARA

Tidak lama setelah menikahi istrinya dari klan Damanik, istri Datuk Belambangan-pun hamil. Saat itu, istrinya sangat ingin melihat pantai. Datuk Belambangan lalu menghadap kepada ayah mertuanya dan mengutarakan permintaan istrinya yang ingin sekali melihat laut dan pantai. Sang raja yang paham betul bahwa putrinya sedang mengidam, memberi ijin pada mereka untuk pergi ke daerah pesisir pantai, dan bahkan memberikan segala kebutuhan putri dan menantunya beserta rombongan mereka seperti perbekalan dan juga pengawal. Datuk Belambangan dan istrinya pun berangkat ke pantai yang masih berada dalam wilayah Simalungun, dan yang dianggap paling indah. Rombongan Datuk Belambangan dan istrinya yang terdiri dari orang-orang asal Minangkabau dan Simalungun kemudian berangkat menuju ke pesisir pantai yang menjadi bagian dari wilayah yang kini dikenal sebagai Negeri Batubara.

Setibanya mereka di wilayah Batubara, mereka langsung mendirikan pemukiman di tepi sungai didekat muara. Pemukiman yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka ini dinamakan “Kuala Gunung” (Muhamamad Yusuf Morna, Sejarah Batubara Dari Masa Ke Masa halaman 29, 2010). Datuk Belambangan bermaksud untuk membuat pemukiman ditempat itu sebagai tempat tinggal tetapnya dan juga ingin membangun daerah itu menjadi sebuah negeri baru. Sang istri juga rupanya mendukung keinginan suaminya. Seluruh rombongan-pun mendukung keinginan dari Datuk Belambangan. Datuk Belambangan lalu mengutus utusan kepada Raja Simalungun untuk menyampaikan keinginan Datuk Belambangan dan istrinya agar bisa menetap didaerah baru itu. Usai mendengar pesan dari putri dan menantunya, rajapun memanggil para penasehatnya dan meminta pendapat para kaum cendekia dinegerinya. Para penasehatnya memandang bahwa keinginan dari putri dan menantu raja adalah baik dan tidak akan menyusahkan Kerajaan Simalungun. Setelah mendengar masukan dari para penasehatnya, maka raja Simalungun lalu mengirim pesan kepada putri dan menantunya bahwa sang raja menyetujui permohonan putri dan menantunya. Raja Simalungun lalu mengirimkan perlengkapan dan semua yang dibutuhkan oleh putri dan menantunya beserta rombongan mereka melalui utusan yang dikirimnya, dan juga mengirim serta rakyatnya yang tertarik untuk menetap dinegeri baru itu dan bersedia menjadi rakyat dari Datuk Belambangan.

Menurut legenda, tidak lama setelah titah pembangunan negeri baru itu diucapkan oleh Datuk Belambangan, dan juga ketika pembangunan itu masih terus dilaksanakan, berkumpulah rakyat negeri yang baru itu dan menghadap Datuk Belambangan. Rakyatnya itu meminta Datuk Belambangan itu menjadi raja dinegeri yang baru itu.

Entah bagaimana Kedatuan Batubara bisa resmi terbentuk, tetapi yang pastinya berdirinya kedatuan baru itu sudah direstui atau malah diprakarsai oleh pihak Simalungun, dengan restu dari Kesultanan Asahan sebagai kesultanan yang membawahi wilayah Simalungun. Cerita-cerita rakyat yang beredar menceritakan bahwa raja Simalungun mendukung penuh pendirian kedatuan baru itu dan merestui Datuk Belambangan sebagai penguasa Batubara.

Wilayah baru ini dinamakan “Batubara” sebab menurut cerita rakyat, pada awal pembangunan pemukiman dan awal pemerintahan di wilayah itu, rakyat menemukan banyak sekali batu-bara. Dalam legenda diceritakan bahwa seorang hulubalangnya yang ditugasi untuk mengawasi penggalian sumur, datang dan berteriak sambil menggenggam batu yang hitam warnanya, sambil berkata, “ini batu yang bisa menyala dan membara, batu bara....” Bukan hanya sebongkahan batu saja, tapi ditemukan banyak sekali batu hitam yang serupa dihampir disetiap sumur yang digali. Legenda-pun merekam titah Datuk Belambangan, “Mari kita namakan saja negeri ini sebagai Negeri Batu Bara, karena ada banyak batu yang bisa membara yang ditemukan disini,” dan mengumumkan pada rakyatnya bahwa nama negeri itu adalah Negeri Batubara.

Wilayah Kuala Gunung, yang menjadi wilayah pemukiman pertama, lalu menjadi pusat pemerintahan pertama kedatuan di Batubara dan baru berubah setelah kematian Datuk Belambangan. 

Rombongan Datuk Belambangan yang mendatangi wilayah Simalungun pada sekitar tahun 1676-1680 diakui sebagai rombongan pertama. Datuk Belambangan tinggal lama di wilayah Simalungun dan Batubara, dan semasa itu beliau belum pernah kembali lagi ke kampung halamannya di Pagaruyung. Tidak begitu lama setelah Kedatuan Batubara didirikan secara de facto, istri Datuk Belambangan memasuki waktu bersalin. Sang permaisuri berhasil melahirkan seorang bayi perempuan. Dikatakan bahwa putri Datuk Belambangan ini tumbuh menjadi gadis yang cantik, hingga kemudian utusan-utusan ayahnya dari Pagaruyung tiba.

Tidak diketahui kapan pastinya rombongan kedua ini tiba. Jika mengacu pada usia akil balig putri Datuk Belambangan, sesuai dengan tradisi pada masa itu, yang menginjak usia 16-18 tahun saat rombongan kedua itu tiba di Simalungun dan kemudian di Batubara, maka itu artinya Datuk Belambangan menerima rombongan kedua yang adalah utusan-utusan ayahnya sekitar tahun 1692-1698.

Dalam rombongan kedua dari Pagaruyung itu, selain ada beberapa tetua dan juga hulubalang, turut serta juga empat pemuda bangsawan dari Pagaruyung. Keempat pemuda ini termasuk dalam kelompok yang tidak ikut kembali ke Pagaruyung mengikuti kepulangan utusan-utusan dari rombongan kedua dan beberapa anggota rombongan pertama yang dulu berburu bersama-sama dengan Datuk Belambangan sebab beberapa orang dari rombongannya dulu rupanya begitu rindu pada kampung halamannya sehingga mereka memutuskan untuk pulang ke Pagaruyung. Ada beberapa orang dari rombongan kedua, termasuk keempat pemuda itu, yang diperintahkan tinggal oleh pemimpin rombongan kedua dengan maksud membantu Datuk Belambangan dan membangun Kedatuan Batubara. Keempat pemuda itu adalah Datuk Jenan, Datuk Paduka Raja, Datuk Panglima Muda, dan Datuk Ayung.

Keempat pemuda dari Pagaruyung yang tinggal dinegeri Batu Bara mulai melakukan tugas-tugas mereka untuk menjadi abdi raja. Karena mereka adalah orang-orang kepercayaan raja dan juga kerabat dekat Baginda Raja Batu Bara, maka Datuk Belambangan menerima lamaran mereka saat mereka meminang putri-putri raja. Karena Datuk Belambangan hanya memiliki seorang putri maka dia mengangkat tiga orang putri sebagai anaknya dan menikahkan mereka dengan para pemuda itu. Agar tidak terjadi perebutan kekuasaan di wilayahnya, seperti yang sebelumnya terjadi di Pagaruyung, Datuk Belambangan membagi wilayah kekusaannya menjadi empat wilayah, sesuai dengan jumlah anak-anaknya, dan menyerahkan pemerintahan empat wilayah itu kepada menantu-menantunya. Sepeninggal Datuk, pusat pemerintahan-pun sudah tidak berada di Kuala Gunung lagi melainkan terbagi di empat wilayah yang sudah dibagi tadi.

Datuk Belambangan meninggal diusia tua dan dimakamkan di Kuala Gunung. Letak makamnya berada di Kecamatan Lima Puluh, Batubara, Sumatera Utara. Makamnya dinamakan “Kubah Keramat Tok Batubara”.






DATUK BELAMBANGAN DAN KETURUNANNYA

Datuk Belambangan awalnya adalah seorang pangeran dari Kerajaan Alam Minangkabau sehingga beliau menurunkan garis Minangkabau pada keturunannya. Datuk Belambangan dan keluarga asalnya berasal dari Dinasti Mauli.

LELUHUR:
- Maharaja Adityawarman, pendiri Kerajaan Kerajaan Alam Minangkabau. Memerintah pada 1347-1375.
- Maharaja Ananggawarman, pengganti Adityawarman yang mulai memerintah pada 1375 hingga waktu yang tidak diketahui. Beliau adalah penguasa Pagaruyung ketika Sumatera diserbu balatentara Majapahit kurun tahun1409-1417.
- Raja Wijayawarman, menantu dan pengganti Ananggawarman.
- Ratu Puti Panjang Rambut II, pengganti dan putri Raja Wijayawarman. Beliau memerintah pada 1441-1470.


KELUARGA:
- Kakek : Raja Gamuyang atau Daulat Yang Dipertuan Raja Gamuyang Sultan Bakilap Alam (bergelar Sultan Alif Khalifatullah Johan Berdaulat Fil’alam I), pendiri Istana Silinduang Bulan pada tahun 1550.
- Ayah : Raja Bujang

- Istri : Putri raja Simalungun dari klan Damanik


KETURUNAN
Keturunan Datuk Belambangan dikenal sebagai raja-raja dan kaum bangsawan yang sangat gencar melawan Belanda. Berikut ini adalah anak-anak dan keturunan beliau:


I. PUTRI GADIS Br.SINAGA (Cik Gadih atau Puang Gadih)

Putri Gadis menikah dengan Datuk Jenan dari klan Tanah Datar di Pagaruyung. Beliau adalah putri tunggal Raja Belambangan sebab dia adalah putri satu-satunya. Putri-putri raja yang lain adalah putri angkat. Datuk Jenan lalu diberikan wilayah di pesisir Selat Malaka yang diberi-nama Kedatuan Tanah Datar (sesuai dengan nama klan Datuk Jenan di Pagaruyung) dengan pusat pemerintahan di Padang Genting. Datuk Jenan adalah raja pertama Kedatuan Tanah Datar. Selain menggunakan nama “Datuk Jenan”, beliau juga dikenal dengan nama “Datuk Jennaton” yang diberikan oleh keluarga istri keduanya. Putri Gadis meninggal mendahului Datuk Jenan, sedangkan Datuk Jenan meninggal di Pulau Penang, Malaysia, pada tahun 1789. keturunan Datuk Jenantaon kelak banyak sekali yang menjadi orang-orang terpandang di Malaysia. Kedatangan Datuk Jenan ke pulau Penang lebih awal dari kedatangan Francis Light di pulau itu (Muhamamad Yusuf Morna, Sejarah Batubara Dari Masa Ke Masa halaman 47, 2010). Pernikahan Putri Gadis dengan Datuk Jenan menghasilkan sepasang anak:


1.PUTRI INTAN, putri sulung Putri Gadis dan Datuk Jenan.

Keturunan Putri Intan kelak menduduki tahta Kedatuan Tanah Datar sepeninggal adiknya.
Putri Intan menikah dengan seorang kerabat dari neneknya dari Kerajaan Simalungun yang bernama Laudin Damanik (Tok Laung). Mereka hanya memiliki seorang anak yang bernama Pangeran Akas. Kelak, Pangeran Akas diangkat menjadi panglima kerajaan sehingga dalam sejarah, beliau dikenal dengan nama “Datuk Panglima Akas”. Pangeran Akas kemudian menggantikan Raja Pambosar sebagai raja Kedatuan Tanah Datar dan keturunannya turun-temurun memerintah Kedatuan Tanah Datar.


2.RAJA PAMBOSAR, putra tunggal Putri Gadis dan Datuk Jenan sekaligus penerus Datuk Jenan sebagai raja di Kedatuan Tanah Datar, yang mulai berkuasa sekitar tahun 1738-1740.

Raja Pambosar lahir dengan nama Pangeran Beramban, yang bergelar “Tok Ongah Beramban” saat masih menjadi pangeran. Setelah beliau diangkat menjadi raja Kedatuan Tanah Datar beliau diberi gelar “Datuk/Raja Pambosar”. Raja Pambosar naik tahta tidak setelah kematian ayahnya, sebab ayahnya mengundurkan diri dan menyerahkan kerajaan pada Raja Pambosar. Ayahnya, Datuk Jenan, lalu memilih menghabiskan hari-tuanya sebagai saudagar dan hidup dengan berlayar mengarungi Selat Malaka.

Anak-anak Raja Pambosar (cicit Datuk Belambangan) adalah:

- Putra Mahkota Mahkota Husin (Tok Muda Husin), putra pertama Raja Pambosar. Seharusnya dialah yang menjadi raja menggantikan ayahnya tetapi beliau meninggal saat berada di Mekkah ketika sedang belajar agama Islam sembari menunaikan Ibadah Haji. Sebelum berangkat ke Mekkah, beliau diangkat sebagai Bendahara Kerajaan Siak diseluruh wilayah Batubara yang jabatannya diwariskan turun-temurun. Sehingga, wilayah yang menjadi pusat pemerintahannya sebagai seorang syahbandar juga dianggap sebagai suatu kedatuan. Kedatuan inilah yang kemudian menjadi Kedatuan Bogak, sehingga beliau dinobatkan sebagai raja pertama Kedatuan Bogak.

- Putri Siti (Cik Udo Siti), putri kedua Raja Pambosar. Beliau menikah dengan seorang bangsawan Deli yang bernama Datuk Tamboke. Putri Siti adalah salah-satu nahkoda wanita ternama dari Sumatera. Namanya sangat terkenal hingga ke Malaysia dan negeri-negeri pesisir Asia Tenggara berkat aktivitas dagangnya di negeri-negeri itu.

- Putri Imas (Cik Mas), putri ketiga Raja Pambosar. Beliau menikah dengan seorang bangsawan Aceh yang bernama Datuk Jamalludin. Datuk Jamalludin mengabdi pada Kedatuan Tanah Datar sebagai pejabat administratif kemasyarakatan dan keagamaan.

- Pangeran Kelana (OK. Kelana), putra bungsu Raja Pambosar. Dia diberi gelar “Orang Kaya” (disingkat OK), yang menunjukkan perannya sebagai saudagar kerajaan saat itu. Sayangnya, Pangeran Kelana meninggal diusia muda saat terjadi huru-hara di Kedatuan Tanah Datar.






II. PUTRI PADUKA RAJA Br.SINAGA

Encik Paduka Raja Br.Sinaga menikah dengan seorang bangsawan Pagaruyung yang bernama Datuk Paduka Raja dari klan Lima Puluh. Beliau adalah salah-satu putri angkat Raja Belambangan yang diambil dari kerabat istrinya. Datuk Paduka Raja lalu diberikan sebagian wilayah Batubara di pesisir Selat Malaka yang diberi-nama Kedatuan Lima Puluh (sesuai dengan nama klan Datuk Paduka Raja di Pagaruyung) dengan pusat pemerintahan di Parupuk. Datuk Paduka Raja adalah raja pertama di Kedatuan Lima Puluh. Pernikahan Datuk Paduka Raja Putri dengan suaminya, Datuk Paduka Raja menghasilkan dua orang anak laki-laki (cucu Raja Belambangan):



1. DATUK RAJA MUDA
Datuk Raja Muda adalah putra sulung Datuk Paduka Raja sekaligus pewaris tahtanya. Beliau memiliki tiga orang putra yang bernama Pangeran Sa’omo, Pangeran Setia Muda, dan Pangeran Mad Putih. Pangeran Sa’omo adalah penerus Datuk Paduka Raja sebagai raja Kedatuan Lima Puluh dengan gelar “Raja Indra Setia”. Sa’omo memerintah sebagai penguasa Kedatuan Lima Puluh pada tahun 1820-1876. Datuk Sa’omo tidak memiliki anak laki-laki sehingga dia mengambil keponakannya, Wan Bagus (cucu Datuk Jenal) sebagai anak angkatnya untuk meneruskan tahta. Pangeran Wan Bagus kemudian menjadi penguasa Kedatuan Lima-puluh dengan gelar “Raja Ongku”. keturunan beliau-lah yang menjadi penguasa Kedatuan Lima Puluh turun-temurun.


2. PANGERAN JENAL
Pangeran Jenal adalah putra kedua sekaligus putra bungsu Datuk Paduka Raja. Beliau bukan pewaris tahta, tetapi sepeninggal keponakannya, Raja Indra Setia, cucunya-lah yang diangkat menjadi raja Kedatuan Lima Puluh. Pangeran Jenal memiliki dua putra yang bernama Pangeran Ismail dan Pangeran Imam Baqi. Pangeran Ismail memiliki dua putra (Wan Bagus dan Wan Tomong) dan Pangeran Imam Baqi memiliki lima orang anak. Putra sulung Pangeran Ismail yang bernama Wan Bagus diangkat menjadi anak sekaligus putra mahkota raja saat itu, Pangeran Indra Setia, yang tidak memiliki anak laki-laki. Wan Bagus lalu menjadi penguasa Kedatuan Lima Puluh sepeninggal pamannya dan keturunannya berkuasa di Kedatuan Lima Puluh turun-temurun hingga kedatuan itu runtuh.






III. PUTRI PANGLIMA MUDA Br.SINAGA

Encik Panglima Muda Br.Sinaga menikah dengan seorang bangsawan Pagaruyung dari wilayah Pangkalan yang bernama Datuk Panglima Muda. Setelah menikah, Encik Panglima Muda Br.Sinaga dan suaminya lalu diberikan sebagian wilayah Batubara di pesisir Selat Malaka yang diberi-nama Kedatuan Pangkalan (sesuai dengan nama daerah asal suaminya di Pagaruyung yang berasal dari wilayah pesisir Sungai Kapuk di Rantau Lima Puluh Koto, Pagaruyung, sebab “pangkalan” berarti “pesisir” ) dengan pusat pemerintahan di Talawi. Datuk Panglima Muda adalah raja pertama di Kedatuan Pangkalan dengan gelar “Raja Semuangsa Tua”. Kedatuan Pangkalan ini biasanya juga disebut “Kedatuan Pesisir”. Tidak jarang juga kedatuan ini disebut “Kedatuan Pangkalan Pesisir” oleh orang-orang dari luar Batubara. Pernikahan Encik Panglima Muda Br.Sinaga dengan suaminya menghasilkan tiga orang anak laki-laki (cucu Raja Belambangan), yang ketiga-ketiganya menjadi penguasa kedatuan, yaitu: 


1.RAJA SEMUANGSA I
Raja Semuangsa I adalah putra pertama sekaligus putra pewaris Raja Semuangsa Tua. Nama lahirnya adalah Jalil sehingga beliau dikenal dengan nama Pangeran Jalil, kemudian dipanggil Putra Mahkota Jalil atau Datuk Muda Jalil. Penerus Raja Semuangsa I adalah adiknya, Pangeran Muhammad Idris.



2.RAJA PAMUNCAK
Raja Pamuncak adalah putra kedua Raja Semuangsa Tua. Nama lahirnya adalah Muhammad Idris sehingga beliau juga dikenal dengan nama Datuk Muhammad Idris. Berbeda dengan kakak dan adiknya yang tertarik melanjutkan pemerintahan ayahnya di Kedatuan Pangkalan, Pangeran Muhammad Idris memilih menjadi pelaut dan berkelana. Beliau lalu berkelana hingga tiba di daerah yang bernama Kuala Pagurawan. Dia sangat ingin tinggal disana sehingga dibukalah daerah itu menjadi kawasan baru dan beliau lalu diangkat menjadi penguasa kedatuan baru itu dengan gelar “Raja Pamuncak”. Kedatuannya dinamai “Kerajaan Pagurawan”. Putra-putra Raja Pamuncak adalah:

- Raja Sri Batara
Beliau adalah pewaris Raja Pamuncak. Nama lahirnya adalah Pangeran Muhammad Noor. Beliau menikahi adik kandung Raja Siantar, yang bernama Putri Perano. Putra-putra Raja Sri Batara adalah Putri Cahaya, Putra Mahkota Muhammad Yusuf, dan Pangeran Akas. Pewaris Sri Batara adalah Pangeran Muhammad Yusuf yang bergelar “Raja Setiawangsa”. Pemerintahan beliau dibantu oleh adiknya, Pangeran Akas. Karena gencar melawan Belanda, Raja Setiawangsa, yang kalah perang, diasingkan Belanda ke Bengkalis hingga meninggal disana. Beliau digantikan putra sulungnya, Pangeran M.Nurdin, yang bergelar Raja Setia Maharaja Lela. Putranya inipun melawan Belanda dan dipaksa turun tahta. Beliau digantikan adiknya, Pangeran Sanding, yang bergelar Raja Setia Putra Raja. Lagi-lagi raja Pagurawan melawan Belanda dan diasingkan. Raja Setia Putra Raja adalah raja terakhir Kedatuan Pagurawan sebab Kedatuan Pagurawan dihapus oleh Belanda dan digabungkan dengan kedatuan-kedatuan lain, yaitu Kedatuan Sipare-pare dan Kedatuan Tanjung Kasau. Tiga kedatuan ini lalu dinamakan Kedatuan Indrapura.

- Pangeran Sri Maharaja
Beliau adalah putra bungsu Raja Pamuncak. Tidak diketahui dengan pasti riwayat keturunannya.



3.RAJA SEMUANGSA II
Raja Semuangsa II adalah putra bungsu Raja Semuangsa Tua. Nama lahirnya adalah Muhammad Husin sehingga beliau juga dikenal dengan nama Datuk Muhammad Husin. Beliau ditunjuk oleh ayahnya, Raja Semuangsa Tua, untuk membantu putra mahkota menjalankan pemerintahan. Kemungkinan beliau naik tahta atas wasiat resmi ayahnya atau kakaknya, sebab putra pewaris kakaknya, Raja Semuangsa I, lebih memilih menjadi saudagar. Raja Semuangsa II memiliki dua orang putra yaitu Pangeran Abdul dan Pangeran Johan Pahlawan. Anak-anak Pangeran Abdul adalah Pangeran Abdullah (ayah dari Raja Abdul Jalil, raja terakhir Kedatuan Pangkalan) dan Putri Halimah. Sedangkan, Pangeran Johan Pahlawan memiliki dua orang putra, Pangeran Ibrahim dan Raja Indera Jaya Indera Jaya (ayah dari Raja Indera Johan).





IV. PUTRI AYUNG Br.SINAGA

Encik Ayung Br.Sinaga menikah dengan seorang bangsawan Pagaruyung dari wilayah Limah Puluh, Pagaruyung yang bernama Datuk Ayung. Beliau adalah salah-satu putri angkat Raja Belambangan yang diambil dari kerabat istrinya. Setelah menikah, Encik Ayung Br.Sinaga dan suaminya lalu diberikan sebagian wilayah Batubara di pesisir Selat Malaka yang diberi-nama Kedatuan Lima Laras (sesuai dengan nama daerah asal suaminya di Pagaruyung yang bernama Lima Lareh). Datuk Ayung adalah raja pertama di Kedatuan Lima Laras. Pernikahan Encik Ayung Br.Sinaga dengan suaminya menghasilkan setidaknya seorang anak laki-laki (cucu Raja Belambangan) yang bernama Pangeran Masidin. Putra mereka inilah yang menggantikan Datuk Ayung sebagai penguasa Kedatuan Lima Laras dengan gelar “Paduka Raja Sri Indra”. Paduka Raja Sri Indra lalu digantikan oleh putranya, Pangeran Ramah, yang bergelar “Raja Sri Asmara”. Raja Sri Asmara memiliki dua orang putra (cicit Encik Ayung B.Sinaga) yang bernama:


1.PUTRA MAHKOTA LAKSAMANA PUTRA
Pangeran Laksamana Putra adalah putra pertama dan pewaris Raja Sri Asmara. Beliau dikenal sebagai salah satu raja Sumatera yang anti-Belanda. Atas hasutan penguasan Kedatuan Bogak, Belanda menyerbu Kedatuan Lima Laras. Laksamana Putra terpaksa mengungsi ke Kesultanan Serdang sepanjang serbuan Belanda itu, sedangkan putra pewarisnya, Putra Mahkota Abdullah, memilih tetap tinggal dan berperang melawan Belanda. Pasukan Pangeran Abdullah dikalahkan oleh Belanda, yang berhasil memasuki dan membakar istana kerajaan. Pangeran Abdullah ditawan dan diasingkan oleh Belanda. Datuk Laksamana Putra yang berlindung di Kesultana Serdang akhirnya juga ditawan Belanda setelah Belanda berhasil menaklukan Kesultanan Serdang dalam rangkaian serbuan mereka ke Sumatera Timur.


2.RAJA SRI INDERA
Raja Sri Indera adalah putra kedua Raja Sri Asmara. Dia menggantikan kakaknya, Raja Laksamana Putra, sebagai penguasa Kedatuan Lima Laras setelah Kedatuan Lima Laras ditaklukan oleh Belanda. Raja Sri Indera terpaksa menandatangani berbagai perjanjian yang menguntungkan Belanda. Tetapi, beliau setelah meninggal dan tahta diduduki oleh putranya, Pangeran Muhammad Yudha, yang bergelar Raja Sri Diraja, Kedatuan Lima Laras kembali membangkang dan melawan Belanda. Raja Sri Diraja adalah penguasa terakhir Kedatuan Lima Laras sebab kerajaan ini akhirnya dihapus oleh Belanda dan digabungkan dengan Kedatuan Bogak. Dua kerajaan yang digabungkan ini dinamakan Kedatuan Suku Dua yang pusatnya di Tanjung Tiram.




-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

KETERANGAN:

- Setiap pria kerabat dan keturunan Datuk Belambangan, juga para pria bangsawan dan orang terpandang dari Sumatera, biasanya diberi gelar atau menggunakan gelar “Datuk”. Tetapi, dalam artikel ini beberapa tokoh, yang juga menggunakan gelar “Datuk”, diubah gelarnya menjadi gelar raja, pangeran, putra-mahkota, jenderal, panglima, dll, agar lebih jelas dan bisa lebih mudah dipahami mengenai kedudukan mereka dalam pemerintahan.

- Setiap wanita kerabat dan keturunan Datuk Belambangan, juga para wanita bangsawan dan terpandang dari Sumatera, biasanya diberi gelar atau menggunakan gelar “Encik”, tetapi dalam artikel ini beberapa tokoh yang juga menggunakan gelar “Encik” diubah gelarnya menjadi gelar ratu, putri, dll, agar lebih jelas dan bisa lebih mudah dipahami mengenai kedudukan dan status mereka.

- Dinasti Mauli : Dinasti asal Pagaruyung yang menjadi penerus Dinasti Sailendra dari Kerajaan Sriwijaya sebagai penguasa Sumatera.

- OK = Orang Kaya: Salah-satu gelar orang orang Melayu yang diberikan bagi para bangsawan atau tamu asing yang biasanya merupakan saudagar (pedagang) kaya atau dianggap sebagai saudagar kaya.

- Tok Muda = Datuk Muda : Artinya sama seperti “Tuan Muda”, dan biasa juga digunakan untuk menyebut “Putra Mahkota” pada kedatuan-kedatuan kecil.

- Raja Muda : Gelar yang diberikan pada putra-mahkota, seperti gelar “Pangeran Mangkubumi” pada kerajaan-kerajaan Jawa, gelar “Seja” di Kerajaan Joseon, gelar “Prince Of Wales” di Kerajaan Inggris Raya, atau gelar “Prince D’Asturias” dari Kerajaan Spanyol. Ada perbedaan antara gelar Raja Muda di kerajaan-kerajaan Melayu dengan gelar putra mahkota dari kerajaan-kerajaan lain yaitu Raja Muda adalah putra-mahkota yang telah diserahkan tugas oleh raja untuk menjalankan pemerintahan sebagai penguasa de facto. Walau beberapa kesultanan atau kerajaan atau kedatuan di Sumatera juga menggunakan gelar “Datuk Muda” untuk putra mahkota, tetapi ada perbedaan antara seorang “Datuk Muda” dan seorang “Raja Muda”. Putra-mahkota yang bergelar “Datuk Muda” juga memang adalah pangeran pewaris, tetapi pemilik gelar ini tidak menjadi penguasa de facto atau pelaksana pemerintahan. Pewaris yang bergelar “Raja Muda”-lah yang bisa menjalankan pemerintahan sebagai wakil raja.




------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ARTIKEL INI DISUSUN DAN DITERBITKAN PERTAMA KALI
OLEH DELEIGEVEN MEDIA

SETIAP ARTIKEL YANG MEMILIKI ISI, SUSUNAN, DAN GAYA PENULISAN
YANG MIRIP DENGAN ARTIKEL INI MAKA ARTIKEL-ARTIKEL TERSEBUT
MENYADUR ARTIKEL INI.

DILARANG KERAS MEMPLAGIAT ARTIKEL INI!

CANTUMKAN LINK LENGKAP ARTIKEL INI DISETIAP KALIMAT YANG ANDA DISADUR DARI ARTIKEL INI. SESUAI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA, JIKA MENYADUR/MENG-COPY MINIMAL SEPULUH KATA TANPA MENCANTUMKAN SUMBER DARI KALIMAT ITU (BERBEDA DARI PENCANTUMAN SUMBER DI CATATAN KAKI (FOOTNOTE) MAKA ITU ADALAH TINDAKAN PLAGIARISME.

JIKA ANDA MENYADUR SEBAGIAN BESAR ARTIKEL INI MAKA ANDA HARUS MENCANTUMKAN KALIMAT:
"ARTIKEL INI DISADUR DARI....(LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA",
ATAU:"SUMBER UTAMA DARI SEBAGIAN BESAR INFORMASI ARTIKEL INI DIAMBIL DARI (LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA"  
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Notes (Catatan):

*We strongly recommend all readers to read all the comments below for the other details which not mentioned by this article
(Sangat disarankan bagi para pembaca untnk melihat komentar-komentar artikel ini sebab beberapa komentar membahas rincian informasi yang tidak ditulis dalam artikel ini)

*Get various information about history in ENGLISH by open or follow our Instagram account: @deleigevenhistory
(Dapatkan berbagai informasi sejarah dalam bahasa Inggris di akun instagram kami @deleigevenhistory)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Copyrights Story: Deleigeven Media

Penyusun:
Penulis : Deleigeven
Editor : Juliet
Desain : Deleigeven
Penerbit: Deleigeven Media


DAFTAR PUSTAKA:
- Alam Terkembang Jadi Guru: Adat Dan Kebudayaan Minangkabau; Navis, A.A; PT.Grafiti Pers; Jakarta; 1984
- An Indonesian Frontier: Acehnese and Other Histories Of Sumatra; Reid, Anthony; Nus Press; 2005.
- Sejarah Batubara Dari Masa Ke Masa; Morna, Muhammad Yusuf; Perpustakaan, Arsip Dan Dokumentasi Kabupaten Batubara; 2010.


SUMBER WEBSITE:
Wikipedia
Tanahdatar.go.id

Saturday, 20 May 2017

KERAJAAN SILLA, ERA AWAL SILLA BERSATU DAN PUNCAK KEMAKMURAN SILLA





Setelah Raja Muyeol wafat, tongkat estafet penyatuan Semenanjung Korea diberikan kepada putra sulungnya, Raja Munmu yang berhasil menguasai sebagian besar semenanjung hingga menaklukkan ibukota Goguryeo. Setelah Raja Munmu meninggal, putranya menjadi raja dan dilanjutkan oleh dan keturunan-keturunan Raja Muyeol yang menduduki tahta Silla selama lebih dari seratus tahun. Klan Kim menjadi penguasa tunggal diera ini. 

Era ini merupakan era keemasan Silla dan bisa dibilang sebagai era keemasan Semenanjung Korea dimasa kuno. Kemakmuran bangsa Korea pada era ini belum bisa tertandingi oleh gabungan kemakmuran diera Kerajaan Goryeo dan Joseon. Uniknya, era ini diawali oleh pemerintahan putra Raja Muyeol namun diakhiri oleh keturunan terakhir Raja Muyeol.

Inilah nama para raja dan ratu yang memerintah pada periode awal penyatuan Korea sekaligus periode puncak kemakmuran Silla (nomor urut para raja disesuaikan dengan urutan raja-raja itu berkuasa sebagai raja Silla):





31. RAJA SINMUN

Raja Sinmun adalah raja Silla ke-31. Beliau adalah putra sulung Raja Munmu. Ibunya bernama Ratu Jaeui.

Sinmun ditunjuk sebagai putra mahkota oleh ayahnya pada tahun 665. Beliau memerintah Silla selama 11 tahun (681 M–692 M). Raja Sinmun menggunakan gelar “Wang” sebagai gelar raja Silla yang disematkan padanya. Sinmun adalah salah-satu cucu Raja Taejong Muyeol.

Berbeda dengan kakek-kakeknya dan ayahnya yang hidup di medan perang, Sinmun lebih banyak tinggal di istana dan menikmati kehidupan aristokrat kelas atas Silla. Inilah yang menyebabkan Sinmun tidak mengetahui kehidupan di medan perang sehingga beliau tidak berempati pada para veteran perang dan juga para hwarang. Inilah yang membuat Sinmun sering berseteru dengan para veteran peran dan kelompok hwarang. Perseteruan ini mulai mengemuka pada masa-masa akhir pemerintahan Raja Munmu.

Tidak ada lagi perang pada masa itu. Sayangnya, justru terjadi konflik pelik di istana antar para pejabat teras dengan raja mengenai kelayakan putra-mahkota (Sinmun) menduduki tahta karena dianggap tidak kompeten dan anti-aristokrat serta tidak menghormati Resimen Hwarang.

Tradisi kebangsawanan Silla sejak kerajaan ini berdiri menganut sistem semi-demokratis. Raja pertama Silla, Park Hyeok-geose, diangkat atas musyawarah para pemimpin klan. Selanjutnya, walaupun rata-rata suksesi diturunkan turun-temurun tetapi dewan istana, yang terdiri dari para bangsawan tinggi, sangat berperan mempengaruhi keputusan raja atas suksesi. Itulah mengapa Raja Talhae, Raja Beolhyu, Raja Michu, Raja Heulhae, Raja Naemul, dan termasuk Raja Jinheung dan Raja Muyeol bisa bertahta walaupun mereka bukan putra raja terdahulu, padahal pendahulu mereka masih memiliki putra pewaris. Ini juga mengapa Raja Jinpyeong (kakek buyut) bekerja-keras melobi dewan istana agar putrinya bisa direstui sebagai pewaris. 

Peran para bangsawan membuat kubu Raja Jinpyeong dan Putri Deokman (Ratu Seondeok) harus bergerak cepat dengan memanfaatkan pemberontakan yang dipimpin Chilsuk dan Seokphum untuk menyingkirkan para penentangnya. Inilah juga yang membuat Ratu Seondeok, yang berhasil menduduki tahta, menempatkan para pendukung-nya diberbagai posisi strategis. Dan untuk berjaga-jaga, Ratu Seondeok dan Jenderal Kim Yushin juga menempatkan para pendukungnya di dewan negara. Tujuan dari ratu adalah untuk memuluskan Pangeran Chunchu menjadi penerusnya jika kelak beliau nanti tidak memiliki keturunan. Rencana Ratu Seondeok ini awalnya berjalan mulus, tapi perseteruan antara Bidam dan Yushin membuyarkan rencana jangka panjang ratu sebab perseteruan ini membuat Bidam memberontak dan banyak bangsawan yang mendukungnya, termasuk para bangsawan yang dipercaya ratu akan dapat mendukung Pangeran Chunchu nanti. Untunglah pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh Kim Yushin, dan Bidam serta semua pendukungnya dihukum mati. Sayangnya, Ratu Seondeok, yang sangat syok akan pemberontakan ini, meninggal tepat setelah pemberontakan padam. Pengganti Ratu Seondeok, Ratu Jindeok, melanjutkan kebijakan Ratu Seondeok mengenai posisi para bangsawan. Langkah Ratu Jindeok ini memuluskan upaya Ratu Seondeok untuk menjadikan Pangeran Chunchu sebagai raja sebab Ratu Jindeok juga tidak memiliki putra.

Akan tetapi, rupanya para bangsawan tidak sesolid dulu sebab suara mereka tidak mengerucut pada calon tunggal melainkan dua calon raja, Pangeran Alcheon dan Pangeran Chunchu. Pangeran Alcheon yang saat itu menjabat sebagai perdana-menteri mendapatkan mayoritas dukungan dari para pejabat dan bangsawan termasuk para keturunan raja. Namun, sahabat terdekat Alcheon, Jenderal Kim Yushin dan kubunya (para bangsawan Gaya) tetap konsisten mendukung Pangeran Chunchu sebagai pewaris. Pangeran Alcheon rupanya juga tetap konsisten dengan pendiriannya saat Ratu Seondeok masih hidup yaitu menjadikan Pangeran Chunchu sebagai raja. 

Pangeran Alcheon lalu menolak dukungan para bangsawan yang ingin menaikkan dia ke atas tahta dengan cara yang cukup ekstrim pada masa itu, mengganti nama marganya dari “Kim” menjadi “So” sehingga otomatis membuatnya tidak bisa menjadi raja sebab syarat utama menjadi raja Silla saat itu adalah harus bermarga “Kim”. Dengan ini, suara para bangsawan mau tidak mau harus bulat untuk menjadikan Pangeran Chunchu sebagai calon tunggal pengganti Ratu Jindeok. Sikap Alcheon inilah yang membuatnya dikenal sebagai “Hwarang yang paling setia.”

Kebijakan-kebijakan kerajaan yang diputuskan oleh raja juga didiskusikan oleh raja kepada anggota dewan istana dan anggota dewan negara. Harmonisasi antara raja dan para bangsawan lah yang membuat Silla sangat solid selama berabad-abad. Percobaan pemberontakan pertama dalam sejarah Silla terjadi setelah 138 tahun kerajaan ini berdiri (165 M) oleh seorang menteri Silla. Tapi, para bangsawan menentang sehingga usahanya pemberontakan ini gagal. Pertikaian berdarah pertama di Silla baru terjadi 444 tahun setelah Silla berdiri ketika Raja Silseong dibunuh (417) oleh Raja Nulji, tapi tidak dikategorikan sebagai pemberontakan sebab saat itu Raja Silseong-lah berusaha membunuh Nulji sehingga Nulji membela-diri. Silla baru mengalami pemberontakan ketika Raja Jinji diturunkan dari tahta (579), 606 tahun setelah kerajaan itu berdiri. Bandingkan dengan pemberontakan besar yang meletus di dua kerajaan lainnya, Goguryeo dan Baekje, dan bahkan di-era dinasti-dinasti penerus mereka, Goryeo dan Joseon, yang rata-rata terjadi kurang dari sepuluh tahun setelah kerajaan-kerajaan ini berdiri.

Harmonisasi politik juga berhasil diciptakan oleh Raja Muyeol dengan menggandeng kelompok rahasia “Mumyeong” untuk membantunya memenangkan perang, padahal kelompok ini sebelumnya merupakan motor utama penggerak pemberontakan Bidam selain Yeomjong dan tentunya Bidam. 

Namun, usaha kakeknya ini justru dirusak oleh Sinmun, sehingga para menterinya gencar memprotes raja. Sikap Sinmun inilah yang menjadi indikator pembubaran Resimen Hwarang.

Raja Sinmun selalu memimpikan sentralisasi kekuasaan ditangan raja. Impiannya ini terbaca oleh para bangsawan sehingga para bangsawan itu lalu meminta Raja Munmu mengganti putra-mahkota. Munmu marah mendengar hal ini, tapi Munmu tidak mau menyingkirkan para bangsawan itu karena sangat menghormati mereka sebab rata-rata para bangsawan itu adalah para veteran perang sejak pemberontakan Bidam dan perang penyatuan Tiga Kerajaan dan bahkan ada yang sudah membela tahta Silla sejak pemberontakan Chilsuk dan Seokpum meletus. Terlebih lagi, hampir semua bangsawan itu adalah mantan hwarang.

Perseteruan antara raja dan para bangsawan adalah hal yang biasa dan Silla telah memiliki pengalaman tentang bagaimana cara mengatasinya. Pada setiap perseteruan ini raja dan ratu selalu dibela oleh Resimen Hwarang, kecuali Raja Jinji yang dianggap mengkhianati Raja Jinheung karena memalsukan surat wasiat Raja Jinheung. Oleh karena itu, saat Sinmun tidak menghormati Resimen Hwarang maka para mantan Hwarang dan mantan Pungwolju pun marah.

Arogansi Sinmun ini tentu membuat banyak hal terjadi dimasa pemerintahannya. Inilah peristiwa-peristiwa terkenal sepanjang pemerintahannya:

- Musim semi 681, pemberontakan Kim Heumdol meletus.
Kim Heumdol adalah mertua Sinmun, tapi beliau memimpin para bangsawan memprotes sikap Sinmun yang selalu berseberangan dengan para bangsawan. Namun, raja menganggap protes ini sebagai pemberontakan. Akibat tekanan dari raja, Heumdol dan kelompoknya lalu mempertahankan diri dengan menggunakan pasukan-pasukan pribadi mereka. Gelombang protes ini melibatkan separuh menteri Silla termasuk menteri senior, Jin-gong (pungwolju ke-26). Bahkan, Kim Gun-gwan (sangdaedung, pungwolju ke-23) juga ikut memprotes raja walau tidak berniat memberontak. Konflik ini lalu semakin mengarah pada pemberontakan. Pemberontakan ini mendapat perlawanan dari kubu pendukung raja serta para Hwarang. Kim Sin-gong sebagai Pungwolju Hwarang tetap mendukung Raja Sinmun sebab sebagai seorang Hwarang dia tidak boleh membelot dari raja, walaupun Kim Sin-gong adalah putra dari Jin-gong. Pemberontakan ini dipadamkan dalam waktu yang sangat singkat, bahkan diyakini sudah diatasi sebelum sempat meletus.

- Tahun 681, Pungwolju Kim Sin-gong gugur dalam tugas di-usia 32 tahun saat memadamkan pemberontakan Kim Heum-dol. Tidak jelas apakah dia tewas akibat terbunuh oleh pemberontak atau karena di-eksekusi mati oleh raja. Kemungkinan besar dia gugur dalam tugas saat menghadapi pemberontak, tapi jika melihat sikap Raja Sinmun yang penuh curiga dan anti aristokrat bisa jadi Sin-gong tewas karena dieksekusi mati atas perintah raja, karena walaupun dia tetap membela raja namun dia adalah putra salah-satu pemimpin pemberontak. Kim Sin-gong adalah Pungwolju Resimen Hwarang terakhir.

- Tahun 681, Kim Heum-on (pungwolju ke-31, putra Kim Heumdol, keponakan Kim Yushin) terbunuh dalam pemberontakan.

- Tahun 681, para pemimpin pemberontak, Kim Heumdol dan Kim Jin-gong, dieksekusi.

- Tahun 681, Sangdaedung Kim Gun-gwan (pungwolju ke-23) dieksekusi mati diusia 79 tahun karena memprotes raja, tapi namanya tidak dimasukan dalam daftar pemberontak karena beliau memang tidak memberontak.

- Tahun 681, Resimen Hwarang dibubarkan oleh Raja Sinmun dan dikembalikan fungsinya sebagai Kelompok Hwarang (kelompok pemuda cendekia) yang bukan lagi berupa pasukan militer.

- Tahun 683, mantan pewaris tahta Goguryeo, Pangeran Anseung, datang ke Silla bersama para pendukungnya dan diterima oleh Raja Sinmun. Anseung dianugerahi gelar kebangsawanan Silla dan diijinkan tinggal di Silla.

- Tahun 684, para pendukung Anseung melakukan pemberontakan pada Silla di kota Iksan. Anseung tetap setia pada Silla dan tidak terlibat dalam pemberontakan ini. Pemberontakan mereka berhasil dipadamkan oleh pasukan Silla yang dipimpin oleh Jenderal Kim Young-yoon (putra Kim Ban-geul dan cucu Kim Heumsun/adik Kim Yushin).

- Tahun 689, Raja Sinmun mencoba memindahkan ibukota pemerintahan dari Seorabeol (Gyeongju) ke Dalgubeol (Daegu) untuk mencegah gangguan dari para bangsawan sebagai imbas dari pemberontakan Kim Heumdol, tapi usaha ini tidak berhasil.



Meskipun banyak pemberontakan terjadi pada masa pemerintahannya, tapi Silla juga menikmati kemajuan pesat selama pemerintahan Sinmun. Banyak sekali yang dilakukan sepanjang pemerintahannya, diantaranya:

- Tahun 682, Gukhak (universitas kerajaan di Silla) dibangun. Gukhak bertahan selama ratusan tahun dan menjadi cikal-bakal Universitas Sungkyunkwan (universitas kerajaan di Joseon).

- Pengiriman utusan pada Kaisarina Wu Zetian dari Kekaisaran Tang untuk meminta salinan “Buku Ritual” dan berbagai salinan buku-buku klasik dari China.

- Pembentukan 9 Provinsi di seluruh Silla yang meniru sistem pembagian provinsi oleh Raja Yu dari Kerajaan Xia (Kerajaan China kuno).

- Pembangunan “ibukota kedua” yang ditujukan untuk menampung bangsawan-bwangsawan pelarian dari Baekje dan Goguryeo.

- Pemulihan hubungan diplomatik dengan Kekaisaran Tang yang sempat putus saat terjadi perang antara Silla dan Tang.

- Tahun 689, sistem pemberian upah dihapus dan digantikan dengan pemberian tanah.

- Penolakan Sinmun atas permintaan Kaisar Gaozong dari Tang. Saat itu, Gaozong mengirim utusan ke Silla dan disertai pesan yang meminta agar gelar “Taejong” yang diberikan kepada Raja Muyeol dihapus, sebab itu adalah gelar yang sama yang dimiliki oleh ayah Kaisar Gaozong, Kaisar Taizong (Taizong = Taejong), yang dianggap tidak sepadan dengan Raja Muyeol karena hanya berasal dari kerajaan kecil. Tapi, Raja Sinmun menolak dengan sopan melalui sebuah surat yang berbunyi:
Walaupun Silla adalah kerajaan kecil, raja kami mampu mempersatukan tiga kerajaan (Samhan/Tiga Konfederasi) melalui kebaikan Kim Yushin yang membantu raja dengan keberanian yang tidak tertandingi. Oleh sebab itu, raja kami dianugerahi gelar Taejong.
(Ha Taehung, Samguk Yusa halaman 91-92, tahun 1972).

Sinmun adalah raja pertama Silla yang menggunakan sistem pemerintahan terpusat, meninggalkan sistem feodal yang sudah diterapkan Silla selama lebih dari 600 tahun. Sistem terpusat ini ditujukan untuk mengontrol wilayah Silla yang sudah semakin luas.

Terlepas dari semua upayanya membangun Silla, pemberontakan Kim Heumdol pada awal pemerintahan Sinmun tetap membekas dan berdampak luas. Pemberontakan Kim Heumdol memang tidak besar, tapi dampaknya sangat besar bagi Silla. Selain terbunuhnya pungwolju saat itu dan dieksekusinya mantan-mantan hwarang dan mantan pungwolju, pemberontakan ini juga mengakibatkan Resimen Hwarang dibubarkan. Kelompok Hwarang masih diijinkan tetap ada tapi tidak lagi sebagai resimen militer karena keberadaan mereka saat itu hanya sebagai kelompok pemuda bangsawan yang belajar berbagai ilmu dan kemudian membantu pemerintahan. Para Hwarang yang tersisa dilarang membentuk pasukan militer dan mengumpulkan nangdo. Hwarang juga tidak bisa lagi memiliki seorang Pungwolju sebab fungsi Pungwolju adalah sebagai komandan pasukan. Kelompok Hwarang dikembalikan fungsinya sebagai kelompok pemuda cendekia seperti saat mereka pertama kali dikumpulkan oleh Raja Beopheung.

Raja Sinmun meninggal pada tahun 692, 11 tahun setelah bertahta dan setelah pembubaran Resimen Hwarang. Sinmun digantikan oleh putranya, Raja Hyoso.

Kematian Sinmun tidak menyelesaikan perseteruan keluarga kerajaan dengan para bangsawan. Setelah Raja Sinmun meninggal, para penguasa Silla penerusnya justru menyesali keputusan Kim Sinmun sebab tidak ada lagi pasukan ‘berani mati’ yang setia membela raja hingga titik-darah penghabisan. Tidak ada lagi para pangeran dan bangsawan yang mempelajari dan mendalami berbagai ilmu serta teruji kesetiaannya pada raja dan negara melalui pengalaman mereka sebagai anggota Resimen Hwarang, sehingga kesetiaan pada raja mulai runtuh dan pemberontakan-pemberontakan besar terjadi secara konstan hingga kerajaan ini runtuh.

Pada beberapa pemberontakan, beberapa raja justru terbunuh oleh pengawal kerajaan. Serial pemberontakan-pemberontakan ini dimulai pada masa pemerintahan Sinmun, dan secara konstan terus berlangsung hanya 8 tahun setelah kematian Sinmun atau 19 tahun setelah pembubaran resimen hwarang. Pemberontakan itu terus berlangsung hingga akhir sejarah Silla.

Kurang dari seabad, tepatnya 99 tahun, setelah pembubaran Resimen Hwarang tidak ada lagi keturunan Raja Muyeol (juga Raja Sinmun) yang menduduki tahta Silla setelah Raja Hyegong terbunuh dalam sebuah pemberontakan yang membuatnya menjadi keturunan terakhir Raja Muyeol diatas tahta Silla. Raja-raja terakhir Silla juga semakin kewalahan menghadapi serbuan dari negara-negara musuh termasuk bekas wilayah Baekje dan Goguryeo, padahal wilayah-wilayah itu dulunya ditaklukkan oleh Resimen Hwarang dibawah pimpinan Kim Heumdol. 

Raja-raja Silla diperiode itu sempat ingin kembali membangkitkan kelompok Hwarang sebagai resimen militer tapi hal itu sudah sangat terlambat.

196 tahun setelah pembubaran resimen hwarang seorang yang bernama Wang Geon lahir di Songak (Kaesong), wilayah yang dulu ditaklukkan pasukan hwarang saat menyerbu Goguryeo. Pria inilah yang meruntuhkan Silla 253 tahun setelah pembubaran Resimen Hwarang.

Tanda-tanda keruntuhan Silla sebenarnya mulai terlihat saat Gyeonhwon dari Hu-Baekje menjadi pemimpin asing pertama dalam sejarah Silla yang berhasil membuat seorang raja Silla terbunuh. Peristiwa ini terjadi pada tahun 927 atau 246 tahun setelah pembubaran Resimen Hwarang, dan 8 tahun kemudian kerajaan Silla resmi runtuh karena menyerah pada Wang Geon dari Goryeo.

Pada periode terakhir ini, banyak bangsawan Silla khususnya kalangan kongfusian yang kembali mengenang masa Silla lalu terutama pada masa-masa kejayaan hwarang.

Hampir tidak ada orang Silla yang setuju pada keputusan Raja Sinmun yang membubarkan Resimen Hwarang di masa-lalu.






32. RAJA HYOSO

Raja Hyoso adalah raja Silla ke-32. Beliau adalah putra tertua Raja Sinmun. Ibunya adalah ratu kedua Sinmun, Ratu Sinmok. Beliau dilahirkan ditahun ke-6 pemerintahan ayahnya, tahun 687 M.

Hyoso diangkat sebagai putra mahkota tidak lama setelah kelahirannya, dan saat ayahnya meninggal (692), Hyoso diangkat menjadi raja Silla diusia 5 tahun. Beliau memerintah Silla selama 10 tahun (692–702). Raja Hyoso menggunakan gelar “Wang” sebagai gelar raja Silla yang disematkan padanya. Hyoso adalah cucu Raja Munmu Yang Agung.

Hyoso adalah raja Silla yang termuda saat naik tahta. Karena masih kecil saat masih menjadi raja, pemerintahan dijalankan oleh walinya. Cukup banyak peristiwa yang terjadi sepanjang masa pemerintahannya, diantaranya:

- Rangkaian pemberontakan para bangsawan dari kasta Jin-geol

- Tahun 702, seorang Ichan (bangsawan tingkat dua dari kasta Jin-geol) yang bernama Gyeong-yeong mencoba melakukan pemberontakan. Gyeong-yeong berhasil ditangkap dan dieksekusi.

- Tahun 702, Menteri Dalam Negeri Silla dipecat karena dianggap bertanggung-jawab atas meletusnya pemberontakan Gyeong-yeong.

- Penguatan sistem pemerintahan sentralisasi.

- Pengiriman utusan-utusan ke Kekaisaran Tang untuk mempererat hubungan diplomatik dengan Kekaisaran Tang.

- Jepang mengirim utusan ke Silla untuk memulihkan hubungan diplomatik yang sempat putus sejak tahun 663 pasca Perang Baekgang.


Hyoso memerintah selama 10 tahun. Beliau meninggal karena sakit di Seorabeol pada musim gugur 702 saat dia baru berusia 15 tahun. Meskipun meninggal diusia muda tapi nama Hyoso sebagai raja Silla tercantum dalam catatan-catatan sejarah pemerintahan Tang dan Jepang (Shoku Nihongi). Hyoso meninggal tanpa keturunan sehingga beliau digantikan oleh adik kandungnya, Raja Seongdeok.






33. RAJA SEONGDEOK

Raja Seongdeok adalah raja Silla ke-33. Beliau dilahirkan pada masa pemerintahan ayahnya, Raja Sinmun. Seongdeok diangkat menjadi raja Silla pada tahun 702 M setelah kematian kakak-kandungnya, Raja Hyoso. Beliau memerintah Silla selama 34 tahun (702–736 M). Raja Seongdeok menggunakan gelar “Wang” sebagai gelar raja Silla yang disematkan padanya, namun sejarah Silla menghormatinya dengan menyebut namanya “Seongdeok Daewang” yang artinya “Raja Seongdeok Yang Agung” (Seongdeok The Great). Seongdeok dihormati sebagai “raja agung” oleh sejarawan Silla karena pada masa pemerintahannya Silla memperoleh kedamaian dan mampu memperluas wilayahnya. Era Seondeok juga adalah puncak keemasan Silla.

Seongdeok adalah salah-satu raja Silla yang naik tahta saat masih belia, dan bahkan belum menikah. Pemerintahan sempat dijalankan oleh walinya. Dia baru menikah pada tahun 702 M dengan Lady Baeso. 

Banyak sekali peristiwa yang terjadi sepanjang 35 tahun masa pemerintahannya, diantaranya:

- Tahun 702, Lady Baeso (putri dari Kim Muntae) diangkat sebagai permaisuri dengan gelar “Ratu Seongjong”.

- Terjadi perselihan antara Raja Seongdeok dengan para bangsawan dari kasta Jin-geol yang berasal dari klan Ratu Seongjeong.

- Tahun 715, Pangeran Jung-gyeong (putra pertama Raja Seongdeok yang lahir dari Ratu Seongjong) diangkat sebagai putra mahkota.

- Tahun 716, Ratu Seongjong digulingkan dari tahta ratu dan diusir dari istana.

- Tahun 717, Putra Mahkota Jung-gyeong meninggal karena penyebab yang tidak jelas.

- Tahun 718, Nugakjeon (Departemen Pemantau Waktu) diresmikan oleh raja.

- Tahun 720, Seongdeok menikahi ratu keduanya, Ratu Sodeok (putri dari Menteri Kim Sunwon). Ratu Sodeok adalah ibu dari Raja Hyoseong dan Raja Gyeongdeok.

- Tahun 721, Seongdeok memerintahkan pembangunan “Tembok Raksasa Silla Utara” (sekarang terletak di provinsi Hamgyeong, Korea Utara).

- Tahun 721, bajak laut Jepang merampok wilayah pantai selatan Silla.

- Tahun 722, Seongdeok memperluas benteng pertahanan di utara Seorabeol (Gyeongju) yang dibangun seluas 10 kilometer, yang dibangun menggunakan tenaga 40.000 orang. Benteng ini menjadi simbol otoritas raja Silla saat itu untuk memuluskan penerapan sistem pemerintahan sentralisasi.

- Pengiriman utusan-utusan ke Kekaisaran Tang untuk mempererat hubungan diplomatik dengan Kekaisaran Tang.

- Tahun 733, Kerajaan Balhae menyerbu wilayah Kekaisaran Tang.

- Tahun 733, Kaisar Xuangzong dari Tang menganugerahi Seongdeok gelar “Komandan Pasukan Ninghai” dan seakan memerintahkan Seongdeok menyerbu Kerajaan Balhae, padahal Seongdeok memang berencana menyerbu Balhae.

- Tahun 733, Seongdeok menggalakan “Kampanye Militer ke Utara” untuk menekan Kerajaan Balhae.

- Tahun 735, Kaisar Xuanzong memberikan wilayah di selatan Sungai Taedong kepada Silla.

- Penguatan sistem pemerintahan sentralisasi.



Seongdeok memerintah selama 34 tahun. Selama pemerintahannya, beliau mencapai banyak hal termasuk penguatan hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan penting seperti Tang dan Jepang. Seongdeok juga mampu menstabilkan politik dalam negeri dengan merangkul banyak pihak dan membuat wilayah-wilayah taklukan Silla tunduk padanya.

Seongdeok meninggal pada tahun 736 saat dia berusia sekitar 45-47 tahun. Seongdeok digantikan oleh putra keduanya, Raja Hyoseong.






34. RAJA HYOSEONG

Raja Hyoseong adalah raja Silla ke-34. Beliau dilahirkan pada masa pemerintahan ayahnya, Raja Seongdeok, disekitar tahun 721. Hyoseong menjadi putra mahkota setelah sebelumnya, kakak tirinya, Putra Mahkota Jung-gyeong, meninggal. Hyoseong diangkat menjadi raja Silla pada akhir 736 M setelah kematian ayahnya. Beliau memerintah Silla selama 5-6 tahun (736–742 M). Raja Hyoseong menggunakan gelar “Wang” sebagai gelar raja Silla yang disematkan padanya.

Hyoseong naik tahta saat dia masih berusia belasan tahun. Tidak banyak peristiwa yang terjadi pada masa pemerintahannya yang dicatat dalam sejarah. Tetapi, konflik istana yang melibatkan ratu dan selirnya adalah salah satu konflik yang sangat terkenal dimasa pemerintahannya.

Hyoseong memiliki seorang ratu tapi dia lalu mengangkat putri dari seorang phajinchan (bangsawan Jin-geol tingkat ke-4), yang bernama Yeongjong, sebagai selirnya. Ratu utama Raja Hyoseong sangat cemburu melihat kehadiran selir baru itu dan membunuh selir itu. Phajinchan Yeongjong, yang sangat marah pada ratu atas kematian putri kesayangannya, membuat konspirasi membunuh ratu. Ratu pun tewas terbunuh. Kematian ratu ini membuat istana gempar, dan dengan mudah Yeongjong ditangkap atas tuduhan pembunuhan itu. Yeongjong akhirnya dihukum mati dan disaksikan sendiri oleh Hyoseong.

Tidak lama setelah konflik berdarah itu, Hyoseong meninggal, padahal dia baru memerintah sekitar 5 tahun, dan baru berusia sekitar 21 tahun. Jenasah Hyoseong, yang meninggal pada tahun 742, dikremasi di selatan Kuil Beomnyusa. Abunya ditaburkan di Laut Jepang (Laut Timur). Hyoseong digantikan oleh adik kandungnya, Raja Gyeongdeok.






35. RAJA GYEONGDEOK

Raja Gyeongdeok adalah raja Silla ke-35. Beliau dilahirkan pada masa pemerintahan ayahnya, Raja Seongdeok, disekitar tahun 723-726. Gyeongdeok diangkat menjadi raja Silla pada tahun 742 M setelah kematian kakaknya. Kakaknya, Raja Hyeoseong, meninggal setelah menghadapi konflik berdarah yang membuatnya kehilangan istri-istrinya.

Gyeongdeok memerintah Silla selama 23 tahun (742-765 M). Raja Gyeongdeok menggunakan gelar “Wang” sebagai gelar raja Silla yang disematkan padanya. Gyeongdeok naik tahta saat dia berusia sekitar 17-18 tahun.

Ada banyak peristiwa yang terjadi pada jamannya tapi Gyeongdeok dikenang dalam sejarah bukan karena berbagai peristiwa yang terjadi pada jamannya, melainkan atas karya-karyanya yang masih dapat dilihat hingga sekarang. Karya-karyanya yang sangat terkenal adalah:

- Kuil Bulguksa. Gyeongdeok adalah raja yang membangun Kuil Bulguksa yang terkenal itu. Kuil ini dibangun pada tahun 751.

- Lonceng Perunggu Raja Seongdeok, yang dibuat sebagai penghormatan pada ayahnya, Raja Seongdeok.

- Gua Seokguram, yang berisikan relief-relief Buddha dan patung Buddha. Gua ini juga memuat fitur-fitur yang menceritakan tentang shamanisme kehidupan Silla sebelum shamanisme dianut oleh orang Silla.


Semua karya Gyeongdeok kini menjadi harta nasional Korea Selatan, dan juga termasuk dalam kumpulan peninggalan-peninggalan Buddhisme terpenting di seluruh dunia. Ada beberapa karya-karyanya diselesaikan pada masa pemerintahan anaknya. Gyeongdeok meninggal pada tahun 765 setelah memerintah selama 23 tahun. Saat itu dia berusia sekitar 42-45 tahun. Gyeongdeok digantikan oleh putranya, Raja Hyegong.






36. RAJA HYEGONG

Raja Hyegong adalah raja Silla ke-36. Beliau dilahirkan pada masa pemerintahan ayahnya, Raja Gyeongdeok, tahun 758. Hyegong diangkat menjadi raja Silla pada tahun 765 M setelah kematian ayahnya.

Hyegong memerintah Silla selama 15 tahun (765-780 M). Raja Hyegong menggunakan gelar “Wang” sebagai gelar raja Silla yang disematkan padanya. Hyegong naik tahta saat dia baru berusia 8 tahun. Ibunya bernama, Lady Manwol.

Ada banyak peristiwa yang terjadi pada jamannya, dan yang paling terkenal adalah rangkaian pemberontakan yang meletus akibat ketidak-puasan para bangsawan yang tidak sudi dipimpin oleh anak kecil. Selain itu, sikap Hyegong yang sejak kecil sudah sering merisaukan banyak pihak juga membuat istana sering berada dalam kekacauan. Sebenarnya, usia Hyegong dan sifat kekanak-kanakannya tidak terlalu menjadi masalah, tapi yang menjadi masalah besar saat itu adalah sifat dan tingkah laku Hyegong yang sangat “kewanitaan”.

Hyegong naik tahta saat Silla sudah sangat makmur dan menjadi salah-satu kerajaan besar dan makmur di Asia. Seorabeol (Gyeongju) saat itu menjadi satu dari 4 kota terpadat didunia. Hidup makmur dan berada dalam masa keemasan membuat Hyegong yang sejak lahir dimanja oleh semua orang tidak bisa menyesuaikan diri pada tuntutan dan tanggung-jawab sebagai raja dalam menjalankan pemerintahan Silla. Saat itu, sudah lebih dari 50 tahun tidak terjadi pemberontakan di Silla, sehingga Hyegong terbuai dengan keadaan sebagai seorang bangsawan dan raja dari kerajaan yang damai dan makmur.

Adapun ciri khas pria-pria bangsawan Silla adalah suka berdandan (seperti para hwarang dulu) dan memakai berbagai perhiasan, dan juga banyak yang berwajah cantik. Para bangsawan muda Silla, terutama kelompok Hwarang, juga suka menari, menyanyi, dan memainkan berbagai alat musik. Semua perilaku orang-orang Silla ini dianggap sangat feminim oleh dinasti-dinasti penerusnya, terutama oleh orang-orang Goryeo, tetapi pada masa Silla, kebiasaan “feminim” ini adalah hal yang biasa. Namun, apa yang dilakukan oleh Raja Hyegong bukan sekedar melakukan hal-hal yang dianggap feminim itu, melainkan memiliki sifat, gaya, dan perilaku seperti seorang gadis.

Perilaku ini dianggap tidak pantas oleh bangsawan-bangsawan pada masa itu sehingga mereka melakukan pemberontakan, yang tidak terjadi hanya sekali tapi berkali-kali hingga Raja Hyegong tewas dalam salah-satu pemberontakan itu. Pemberontakan-pemberontakan itu dan peristiwa-peritiwa lainnya diantaranya adalah:

- Tahun 768, Kim Daegong (seorang pejabat tinggi) memberontak.

- Penyelesaian Lonceng Perunggu Raja Seongdeok, yang dibuat pada masa pemerintahan ayahnya, Raja Gyeongdeok.

- Tahun 770, beberapa bangsawan tinggi memberontak.

- Tahun 775, beberapa bangsawan tinggi kembali memberontak.

- Kim Yang-sang (bakal Raja Seondeok) diangkat sebagai Sangdaedung (perdana-menteri)



Rangkaian pemberontakan ini ditutup oleh pemberontakan ichan Kim Ji-jeom pada tahun 780. untuk menumpas pemberontakan ini, Hyegong menugaskan Kim Yang-sang untuk menumpas para pemberontak. Pemberontakan ini tidak sebesar pemberontakan-pemberontakan yang pernah terjadi di Silla pada masa lalu, tapi, ini adalah pemberontakan pertama yang menewaskan seorang raja Silla.

Memang Raja Silseong tewas terbunuh dalam pertikaian istana tapi dia tidak terbunuh oleh pemberontak melainkan karena ulahnya sendiri. Sedangkan, Raja Jinji, yang dikudeta dan kemudian meninggal, tidak tewas dalam pemberontakan melainkan beberapa saat lamanya setelah pemberontakan tersebut.

Pada saat itu, pemberontak berhasil memasuki istana dan mengacaukan seisi istana. Mereka langsung menuju ke paviliun raja. Raja Hyegong tidak sempat menyelamatkan diri dalam pemberontakan ini sehingga dia ditangkap oleh para pemberontak. Hyegong dibunuh bersama dengan ratunya. Setelah Hyegong terbunuh, barulah pasukan kerajaan yang dipimpin sangdaedung Kim Yang-sang dapat menembus istana dan membunuh para pemberontak, termasuk pemimpin mereka, Kim Ji-jeom.

Beberapa sejarawan berspekulasi bahwa sebenarnya Hyegong dibunuh oleh Kim Yang-sang, karena dialah yang mendapatkan keuntungan paling besar setelah kematian Hyegong. Atau, setidaknya Kim Yang-sang membiarkan para pemberontak itu membunuh Hyegong baru kemudian dia berpura-pura menumpas para pemberontak dan mengambil keuntungan dengan membunuh pemimpin pemberontakan saat itu. Tapi, sejarawan lainnya menolak hal ini, sebab saat itu Seondeok sudah tidak muda lagi dan juga dia tidak memiliki keturunan laki-laki.

Hyegong meninggal pada tahun 780 setelah memerintah selama 15 tahun. Saat itu dia berusia 23 tahun. Hyegong digantikan oleh perdana-menterinya, Kim Yang-sang, yang dinobatkan sebagai Raja Seondeok.

Kematian Hyegong ini menjadikannya sebagai keturunan Raja Muyeol terakhir yang menjadi raja Silla, karena walaupun keturunan Muyeol lainnya berusaha naik tahta tapi semua itu selalu gagal. Kematian Hyegong ini mengawali rangkaian pemberontakan dan kudeta berdarah, sehingga dia bukan satu-satunya raja Silla yang tewas saat dikudeta. Apa yang dialami oleh Hyegong dan raja-raja Silla sesudahnya yang juga tewas saat dikudeta seakan menjadi ironi dengan apa yang dilakukan oleh kakek buyutnya, Raja Sinmun, 99 tahun saat dia membubarkan Resimen Hwarang.






Notes (catatan):

*Please open: Kingdom of Silla for short story about "Kingdom Of Silla" in ENGLISH
(Silahkan membuka link: Kingdom of Silla untuk membaca sejarah singkat Kerajaan Silla dalam bahasa Inggris).

*Get various information about history in ENGLISH by open or follow our Instagram account: @deleigevenhistory
(Dapatkan berbagai informasi sejarah dalam bahasa Inggris di akun instagram kami @deleigevenhistory)

*We strongly recommend all readers to read all the comments below for the other details which not mentioned by this article
(Sangat disarankan bagi para pembaca untnk melihat komentar-komentar artikel ini sebab beberapa komentar membahas rincian informasi yang tidak ditulis dalam artikel ini)



Didahului oleh:
KERAJAAN SILLA
Raja-raja Silla Pada Periode Awal (Era Klan Park)
Raja-raja Silla pada periode kekuasaan Klan Seok
Raja-raja Silla Pada Periode Awal Kekuasaan Klan Kim
KERAJAAN SILLA, PERSIAPAN PENYATUAN TIGA KERAJAAN
KERAJAAN SILLA, PENYATUAN TIGA KERAJAAN


Artikel yang berhubungan dengan Kerajaan Silla:
HWARANG, THE FLOWER KNIGHT OF SILLA
PARA PUNGWOLJU HWARANG
Para Jenderal Termasyur Pada Masa Korea Kuno


Artikel lainnya tentang Sejarah Korea:


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Copyrights Story: Deleigeven Media
Copyrights Picture : MBC (2009), KBS (2011)

Penyusun:
Penulis : Deleigeven
Editor : Juliet
Desain : Deleigeven
Penerbit: Deleigeven Media



Daftar Pustaka:
-Byeon-won Lee; History
-Maurizio Riotto; The Place Of Hwarang Among The Special Military Corps Of Antiquity; The Journal of Northeast Asian History; Northeast Asian History Foundation; 2012
-Richard McBride; Silla Budhist & The Manuscript of Hwarang Segi
-Tae-hoong Ha; Samguk Yusa, Legends and History of the Three Kingdoms of Ancient Karea; Yonsei University Press; 1972; Seoul
-Wontak Hong; Baekche An Offshoot of the Buyeo-Koguryeo in Mahan Land; East Asian History, A Korean Perspective; 2005; Seoul
-Young-kwan Kim, Sook-ja Ahn; Homosexuality In Ancient Korea; Pyongtaek University, Hanyoung Theological University; 2006; Seoul
-Korean History For International Citizen; Northeast Asian History Foundation
-Korea's Flowering Manhood
-The History of Hwarang-do
-The Three Kingdoms of Ancient Korea in the History of Taekwon-Do


Sumber Website: