DELEIGEVEN HISTORICULTURAM

HISTORY IS ONE OF THE BEST INFORMATION FOR OUR CURRENT & FUTURE

Translate

Monday, 12 May 2014

Dinasti Joseon, Masa Kemakmuran

Joseon menikmati era kemakmuran ini selama 160 tahun dibawah kekuasaan lima orang raja. Mereka adalah Raja Sukjong, Raja Gyeongjong, Raja Yeongjo, Raja Jeongjo, dan Raja Sunjo. Pada masa ini, Joseon tidak mengalami invasi dari luar dan juga hampir tidak ada kekacauan politik, juga tidak ada kudeta atas tahta. Kerja keras Raja Hyojong dan Raja Hyeonjong tidak sia-sia. Mereka memulihkan kerajaan dari berbagai kekacauan yang timbulkan oleh para penguasa terdahulu, dan menetapkan pondasi yang kuat bagi raja selanjutnya. 

Era ini juga menuliskan beberapa peristiwa tragis seperti kematian Pangeran Sado, pembantaian umat Katholik, dan penggulingan beberapa orang ratu. Namun era ini tetaplah merupakan era paling gemilang dalam sejarah Joseon. Ini adalah kelima raja yang berkuasa pada era tersebut (nomor urut yang diberikan adalah berdasarkan urutan raja tersebut memerintah sebagai penguasa Joseon):






19. RAJA  SUKJONG

Sukjong dilahirkan pada tanggal 15 Agustus 1661, sebagai putra Raja Hyeonjong dan Ratu Myeongseong di Istana Changdeok. Namanya adalah Yi Sun. Pangeran Yi Sun lalu diangkat menjadi putra mahkota pada tahun 1667 dengan nama Putra Mahkota Myeongbo, dan lalu menjadi pengganti ayahnya sebagai raja yang memerintah Joseon pada tahun 1674-1720. Ia mulai memerintah Joseon sejak usia 14 tahun, dan menjadi raja Joseon yang ke-19. Sukjong merupakan "raja terkuat" pada era keemasan Dinasti Joseon.

Raja Sukjong adalah seorang politisi yang cerdas, namun pemerintahannya ditandai oleh pertengkaran intens beberapa fraksi di dalam Dinasti Joseon. Sukjong sering mengganti-ganti fraksi yang berkuasa untuk menguatkan otoritas kerajaan. Pada pergantian tersebut, yang disebut dengan hwanguk (환국 - pergantian negara), fraksi yang kalah dsingkirkan seluruhnya dari politik dengan eksekusi dan diasingkan. Walaupun demikian, pergantian itu tidak memengaruhi populasi umum secara signifikan, dan pemerintahannya dianggap sebagai salah satu dari masa kemakmuran Joseon.

Sukjong merupakan salah satu dari sedikit raja-raja Joseon yang memiliki otoritas yang sangat kuat. Raja-raja yang tercatat memiliki kekuasaan yang sangat kuat adalah raja-raja Joseon era awal, yaitu raja Taejo, Raja Taejong, Raja Sejong, dan Raja Sejo. Setelah era Sejo, lama sekali Joseon mendapat seorang raja yang memiliki otoritas kerajaan yang sangat kuat. Ini dibuktikan saat Raja Jungjong membuat kebijakan yang selalu mendapat campur tangan dari para fraksi yang mengangkatnya, hal yang sama juga terjadi pada masa Injo. Kematian Raja Injong yang misterius juga menunjukkan lemahnya kekuasaan raja, bahkan yang paling terkenal adalah penggulingan Gwanghae-gun. Baru pada era Sukjong, keluarga kerajaan kembali memperoleh otoritas yang kuat. Kekuasaan di tangan Sukjong adalah hasil dari kerja keras kakeknya, Raja Hyojong, dan ayahnya, Raja Hyeonjong, yang berhasil secara bertahap mengatasi kekacauan politik dari era Injo, dan berusaha melanjutkan kembali rekonstruksi ekonomi dan politik Gwanghae-gun.

Istri-istri Sukjong adalah:

1.RATU IN-GYEONG
Ratu In-gyeong berasal dari klan Gwansang Kim. Beliau dinikahi Sukjong pada 1671. Ratu In-gyeong memberikan Sukjong dua orang putri namun keduanya meninggal saat masih bayi. Rupanya, beliau tidak dikaruniai umur yang panjang. Ratu pertama Sukjong ini wafat diusia 19 tahun pada bulan Oktober 1680.


2. RATU INHYEON
Ratu Inhyun berasal dari klan Yeoheung Min. Beliau dinikahi Sukjong satu tahun setelah kematian ratu pertamanya (1681). Pernikahan mereka berlangsung lama namun Ratu Inhyun tidak memberikan keturunan pada Sukjong. Walau demikian, beliau adalah salah-satu ratu yang paling terkenal dalam sejarah Joseon. Mungkin dikarenakan oleh berbagai konflik dramatis yang terjadi selama hidupnya. Beliau adalah ratu kedua Sukjong yang menikah dengan Sukjong saat Sukjong berusia 20 tahun dan dia baru berusia 14 tahun. Drama kehidupan Ratu Inhyun pun dimulai saat Sukjong menikahi Jang Ok-jung dan mengangkatnya menjadi selir istana. Selir Jang lalu memberikan Sukjong seorang putra pewaris yaitu Pangeran Yoon/Putra Mahkota Hwiso (bakal Raja Gyeongjong). Fraksi Barat yang merupakan pendukung Ratu Inhyun berusaha agar Pangeran Yoon tidak diangkat menjadi putra mahkota karena mereka tidak mau istana dikuasai oleh Partai Selatan (partai pendukung Selir Jang). Partai Selatan yang mengetahui upaya-upaya Partai Barat lalu merancang serangan balik dan upaya mereka berhasil. Raja Sukjong sangat marah pada partai barat karena menganggap mereka menentang pengangkatan putranya. Pemimpin Partai Barat lalu dieksekusi, partai barat disingkirkan dari istana, dan Ratu Inhyun yang didukung oleh partai barat terkena imbasnya dengan diturunkan dari tahta ratu dan hidup dipengasingan selama lima tahun (1689-1694). Sebagai gantinya, Selir Jang diangkat sebagai ratu. Rupanya, hasil ini masih dianggap kurang oleh Partai Selatan. Mereka-pun merancang konspirasi untuk menyingkirkan partai barat dan Ratu Inhyun selama-lamanya. Namun, mereka tidak tahu jika Raja Sukjong sangat menyesal atas perlakuannya pada Ratu Inhyun. Saat raja akan memikirkan bagaimana caranya membawa Inhyun kembali ke istana, konspirasi partai selatan diketahui oleh raja. Raja yang marah lalu berbalik menyingkirkan partai selatan dari kekuasaan dan memerintahkan agar pemimpin-pemimpinnya dieksekusi. Jang Ok-jung lalu diturunkan dari posisinya sebagai ratu, dan Inhyun dikembalikan posisinya sebagai ratu oleh Sukjong. Sayangnya, Inhyun sering sakit-sakitan. Beliau akhirnya meninggal. Kematiannya ini lalu menjadi penyebab langsung dieksekusinya banyak orang dari partai selatan, dan menjadi penyebab tidak langsung pertengkaran antar partai beberapa tahun kemudian. Ratu yang sangat populer ini lalu meninggal pada tahun 1701 karena sakit.


3.RATU JANG (JANG OK-JUNG)
Nama lahir beliau adalah Jang Ok-jung, dan beliau lebih dikenal dengan nama ini sebab beliau digulingkan dari tahta ratu dan dikembalikan sebagai selir. Jang Ok-jung adalah ibu dari Putra Mahkota Hwiso (Raja Gyeongjong) dan Pangeran Seongsu (kisahnya diragukan, mungkin meninggal saat masih kecil). Karena beliau dikembalikan posisinya dari ratu menjadi selir, maka Jang Ok-jung kehilangan hak hukum sebagai ibu bagi anak-anaknya, termasuk Putra Mahkota Hwiso (Raja Gyeongjong). Secara hukum, semua anaknya menjadi anak dari ratu yang saat itu berkuasa, yaitu Ratu Inhyun. Inilah mengapa dalam silsilah Raja Gyeongjong dan saudara-saudara kandungnya (dan juga putra Dong Yi, Raja Yeongjo), Ratu Inhyeon ditulis sebagai ibu mereka. Jang Ok-jung adalah salah-satu selir yang paling terkenal dalam sejarah Joseon. Jang Ok-jung terkenal sebagai wanita yang cantik, cerdas, namun sangat ambisius. Jang Ok-jung lahir pada masa pemerintahan kakek Sukjong, Raja Hyojong, pada 19 September 1659. Ayah kandungnya dikenal secara luas bernama Jo Sa-seok, keponakan Ibu Suri Jangryeol (Ratu Kedua dari Raja Injo). Ayah kandungnya ini kemungkinan besar adalah seorang pedagang. Sebenarnya siapakah ayah Jang Ok-jung tidak tercatat secara resmi (dalam Sillok), tetapi ibu beliau secara resmi tercatat bernama Lady Yoon. Jo Sa-seok memiliki seorang pesaing bernama Jang Hyeon yang adalah seorang pedagang pada masa itu. Jo Sa-seok dituliskan oleh literatur dan berbagai jurnal sejarah sebagai pihak yang kalah dalam persaingan dengan Jang Hyeong, dan kehilangan banyak hal termasuk uang dan aset-asetnya. Salah satu selirnya atau mungkin istri tidak resminya (gundik), yaitu Lady Yoon lalu diambil oleh Jang Hyeong sebagai selir. Karena Lady Yoon adalah selir resmi dari Jang Hyeong, maka putra dan putrinya lalu mengambil marga dari Jang Hyeong, yaitu Jang Hee-jae dan Jang Ok-jung. Jang Hyeong juga adalah pelindung bagi Jang Hee-jae dan Jang Ok-jung (berdasarkan hukum yang berlaku saat itu). Jang Ok-jung direkomendasikan oleh Pangeran Dongpyeong (sepupu Raja Sukjong) untuk melayani Ibu Suri Jangryeol. Jang Ok-jung yang berasal dari kelas chungin (bangsawan kalangan menengah) bertemu pertama kali dengan Raja Sukjong pada tahun 1686 (tahun ke-12 pemerintahan Sukjong) ketika Sukjong berusia 25 tahun. Saat itu, Sukjong berkunjung ke Ibu Suri Jangryeol. Jang Ok Jung bukanlah sosok selir yang sangat jahat dari awalnya. Awalnya beliau adalah istri dan wanita yang sangat baik & sangat setia. Karakternya berubah total setelah dia memiliki putra. Ok-jung sangat takut putranya akan disingkirkan akibat perebutan kekuasaan antar partai yang mendukung masing-masing selir & ratu. Ok-jung lalu terlibat dalam beberapa konflik istana, hingga Ratu Inhyeon wafat karena sakit. Konon, Sukjong bermimpi didatangi oleh arwah Ratu Inhyeon yang menunjuk ke arah pavilliun Jang Ok Jung, Sejarah mencatat bahwa Sukjong memergoki Jang Ok Jung, Jang Hee-jae & seorang Shaman (dukun) sedang merayakan keberhasilan mereka menjampi-jampi kematian Inhyeon (dengan menusuk sebuah boneka dengan panah). Jang Ok Jung, Jang Hee-jae & setiap orang yang terlibat dihukum mati. Karena Jang Ok Jung adalah anggota keluarga raja maka hukuman matinya berbeda dari lainnya, yaitu meminum racun (hukuman mati yang paling terhormat). Jang Ok Jung berusia 42 tahun ketika dihukum mati. Sukjong lalu membuat hukum yang melarang selir-selir diijinkan menjadi Permaisuri di kemudian hari agar tragedi seperti itu tidak terulang lagi. Hingga keruntuhan dinasti Joseon, hukum tersebut tidak pernah dicabut.


4.RATU INWOON
Ratu Inwoon adalah ratu keempat Sukjong secara de facto, tapi menurut hukum saat itu beliau adalah ratu ketiga Sukjong. Setelah Ratu Inhyeon meninggal dan Selir Jang dihukum mati ditahun yang sama, Sukjong lalu membuat peraturan bahwa para selir tidak boleh menjadi ratu. Ini membuatnya mengambil ratu dari luar istana. Sukjong-pun menikah dengan Ratu Inwoon yang berasal dari klan Imcheon Jo pada 1702. Ratu Inwoon lahir pada 3 November 1687. Ratu Inwoon tidak memiliki keturunan, namun dia adalah ratu yang mendampingi Sukjong hingga Sukjong meninggal. Dia juga menjadi ibu suri ketiga putra-putra tirinya memerintah sebagai raja. Beliau adalah ratu yang sangat berjasa di kehidupan politik Pangeran Yeoning (Raja Yeongjo) dan merupakan pelindung utama Yeoning setelah ibu Yeoning meninggal.


5.SELIR AGUNG SUK-BIN CHOI
Suk-bin Choi adalah salah-satu istri Sukjong yang paling terkenal. Beliau berasal dari kalangan rakyat jelata dari klan Haeju Choi, yang lebih terkenal dalam sejarah dengan nama Dong-yi. Nama lahirnya adalah Choi Dong-yi. Beliau lahir pada 17 Desember 1670. Ayahnya adalah Choi Hyo-won dan ibunya bermarga Hong. Dia memiliki seorang kakak  laki-laki yang bernama Choi Dong-hu, dan seorang kakak perempuan. Selir Choi memberikan Sukjong 4 orang anak yaitu Pangeran Yeongsu (meninggal saat masih kecil), dan Pangeran Yeoning (Raja Yeongjo), dan seorang putra dan seorang putri yang meninggal tidak lama setelah dilahirkan. Sebelum menjadi seorang selir, beliau berprofesi sebagai seorang pelayan pengangkat air di-istana. Ketulusannya-lah yang membawa namanya berada dalam catatan raja-raja Joseon. Dong Yi pertama kali memasuki istana saat dia berusia 9 tahun. Dia adalah pelayan pengangkat air di-istana yang juga bekerja di istana ketika Ratu Inhyun diasingkan. Mungkin Dong-yi pernah bertemu dengan sang ratu dan terpesona pada Ratu Inhyun yang memang terkenal lembut, sehingga saat Ratu Inhyun diasingkan Dong-yi merasa sangat sedih. Dong-yi lalu memanjatkan doa demi kesehatan Ratu Inhyun. Doanya didengar oleh Sukjong yang baru pulang dari sebuah perjalanan dari luar istana. Yang membuat Sukjong takjub bukan saja karena doa dari Dong Yi, melainkan juga bagaimana dia berdoa. Saat itu, Dong-yi berdoa didepan sebuah meja dan mendandani meja itu menjadi meja pemujaan dan meletakkan papan nama Ratu Inhyun diatasnya. Hal ini merupakan tindakan yang sangat berani karena sejak Ratu Inhyun dilengserkan, tidak ada orang yang berani mendoakannya seperti itu bahkan membicarakannya karena khawatir dibunuh oleh partai penguasa yang pro pada Jang Ok-jung yang saat itu menjabat sebagai ratu. Dong-yi melakukan hal ini karena menganggap apa yang terjadi pada Ratu Inhyun adalah kebesaran hati sang ratu demi kebaikan raja. Dong-yi yang akhirnya mengetahui kehadiran raja lalu menjelaskan apa yang dilakukannya. Rupanya hari itu adalah hari ulang-tahun Ratu Inhyun. Sebagai pelayan istana yang dulunya juga pernah melayani Ratu Inhyun, Dong-yi merasa dirinya wajib mendoakan sang ratu di hari ulang-tahunnya. Raja sangat takjub mendengar hal itu dari Dong-yi. Sukjong pun jatuh hati pada ketulusannya, dan sering bertemu dengan Dong-yi. Sukjong sangat menyukai Dong-yi dan menganggap Dong-yi jauh dari konflik istana. Dong-yi lalu diangkat sebagai selir oleh Sukjong pada tahun 1693 (satu tahun sebelum Ratu Inhyun dikembalikan ke posisinya sebagai ratu). Perlahan tapi pasti, posisi Dong-yi sebagai selir di istana pun naik. Dia lalu dianugrahi posisi 'Bin" yang merupakan ranking selir tertinggi, dan diberi nama "Suk" yang artinya "tulus", sehingga namanya menjadi "Choi Suk-bin" yang berarti "Selir raja yang tulus hati". Sukjong lalu memberikan paviliun yang dulunya merupakan kediaman Ratu Inhyun kepada Dong-yi. Dong-yi kembali menunjukkan ketulusan hatinya saat Ratu Inwoon (ratu ketiga Sukjong) jatuh sakit. Dia adalah orang yang paling sibuk mencarikan obat bagi sang ratu. Sang ratu pun sembuh. Sayangnya, diusianya yang menginjak setengah abad, Dong-yi mulai sakit-sakitan. Dong-yi lalu meminta untuk tinggal diluar istana untuk memulihkan kesehatannya. Namun, kondisinya semakin memburuk. Pangeran Yeoning lalu mengirim surat pada raja agar raja menambah bantuan obat-obatan dan juga dokter. Tapi, sebelum bantuan dari raja tiba, Dong-yi menghembuskan nafas terakhirnya. Putranya, yang kelak menjadi Raja Yeongjo berusaha untuk meningkatkan status ibunya, dan tidak ingin orang-orang mengingat ibunya hanya sebagai seorang pelayan. Saat itu, Yeoning/Yeongjo dianggap sebagai putra Ratu Inwoon bukan Dong-yi karena secara hukum memang demikian. Perjuangan Yeongjo berbuah manis. Dia akhirnya bisa membuat Dong-yi diakui sebagai ibundanya secara hukum.


6. SELIR AGUNG MYEONG-BIN PARK
Selir berasal dari klan Miryang Park. Beliau adalah ibu dari putra kesayangan Sukjong, Pangeran Yeon-ryeong (Pangeran Yi Hwon). Pangeran Yeon-ryeong adalah putra yang paling disayang Sukjong karena lahir dimasa tua-nya. Selain Pangeran Yeon-ryeong, Selir Myeong-bin juga memberikan seorang putra (kakak Pangeran Yeon-ryang) yang meninggal saat masih kecil.


7. SELIR GWI-IN KIM
Beliau tidak memberikan anak pada Sukjong. Beliau meninggal pada tahun 1735.


8. SELIR YEON-BIN KIM
Beliau tidak memberikan anak pada Sukjong. Beliau meninggal pada tahun 1735.


9. SELIR SO-UI YOO
Beliau tidak memberikan anak pada Sukjong. Beliau meninggal pada tahun 1707.



Di awal tahun pemerintahan Sukjong, fraksi Selatan dan Barat berselisih tentang upacara Pemakaman Kerajaan, masalah yang kelihatannya kecil mengenai periode berkabung untuk Ratu Insun. Fraksi Selatan menuntut bahwa periode berkabung harus dilakukan selama satu tahun dan sebaliknya fraksi Barat menuntut periode berkabung selama sembilan bulan. Satu tahun masa berkabung berarti Hyojong (kakek Sukjong) dianggap sebagai putra tertua dan periode sembilan bulan menandakan bahwa Hyojong tidak dianggap sebagai putra tertua karena mendiang Raja Hyojong menjadi putra mahkota yang menggantikan kakaknya, putra mahkota Seohyun, yang wafat. Pertikaian diikuti dengan peraturan pada kelas Yangban (bangsawan). Bagi fraksi Barat, keluarga kerajaan setara dengan kelas Yangban dengan posisi sebagai bangsawan kelas satu, dan bukan merupakan kelas bangsawan agung dari kelas yang lebih tinggi dan terpisah dengan kelas bangsawan lainnya. Kedua fraksi tersebut berseteru dalam memerangi Dinasti Qing, yang dianggap sebagai negara barbar (yang beda dengan Dinasti Ming), yang mengancam keamanan nasional Joseon. Fraksi Selatan yang dipimpin oleh Huh Jeok dan Yoon Hyu, mendukung perang melawan Qing dan fraksi Barat pertama-tama ingin fokus di dalam mengembangkan kondisi domestik.


Tokoh-tokoh sejarah Joseon yang terkenal pada jamannya adalah:

Jang Hee-jae
Jang Hee-jae adalah kakak dari Jang Ok-jung. Boleh dibilang dia adalah pendukung utama Jang Ok-jung. Dia adalah seorang sarjana yang sangat cerdas. Dia juga adalah orang yang berjuang keras agar Pangeran Yoon bisa naik dan diakui sebagai putra mahkota Joseon. Peruntungannya berbalik saat partai selatan jatuh, namun posisinya diistana bisa terselamatkan berkat status Jang Ok-jung di istana. Tetapi, karena konspirasi terhadap Ratu Inhyun yang melibatkan Jang Ok-jung sehingga Selir Jang dihukum mati, Jang Hee-jae dan ibunya pun dihukum-mati. Terlepas dari sifatnya yang ambisius, Jang Hee-jae dikenang dalam sejarah sebagai seorang kakak mati-matian yang melindungi adiknya hingga ajal menjemput.

Pangeran Dongpyeong
Pangeran Dongpyeong adalah sepupu Sukjong dari salah satu bibi Sukjong, namun Pangeran Dongpyeong dijauhkan dari istana dan dilarang mendekati Sukjong atas perintah Ratu Dowager (ibu suri, ibunda Raja Sukjong) karena dikhawatirkan akan memperoleh banyak dukungan partai oposisi untuk merebut takhta Sukjong. Namun, literatur-literatur sejarah Joseon menuliskan bahwa hubungan Sukjong dan Dongpyeong sangat baik dan tidak ada permusuhan. Dia adalah orang yang membawa Jang Ok-jung sampai bisa bekerja dan melayani Ratu Dowager Jangryeol. Mungkin, Pangeran Dongpyeong jugalah yang memperkenalkan Jang Ok-jung secara langsung pada Sukjong. Meskipun seorang pangeran, namun kehidupan Pangeran Dongpyeong sangat jauh dari politik istana.

Huh Jeok
Huh Jeok adalah pemimpin partai selatan dan merupakan pendukung Jang Ok-jung. Dia dieksekusi mati dengan tuduhan pengkhianatan.

- Song Si-yeol
Song Si-yeol adalah pemimpin partai barat dan merupakan pendukung Ratu Inhyun. Dia dieksekusi mati dengan tuduhan pengkhianatan sebagai akibat dari pembersihan yang dilakukan oleh partai selatan terhadap orang-orang partai barat pada peristiwa Gisa Hwangguk, yang merupakan pembalasan atas kematian Huh Jeok yang sebelumnya telah terlebih dahulu dieksekusi atas tuduhan pengkhianatan yang dituduhkan oleh partai barat.

- Pangeran Yeon-ryeong
Pangeran Yeon-ryeong lahir pada tahun ke-25 pemerintahan Sukjong, tepatnya pada 13 Juni 1699. Pangeran Yeonryeong adalah putra kesayangan Raja Sukjong karena dia adalah putra bungsu Sukjong yang lahir dimasa tua-nya. Beliau lahir dengan nama Yi Hwon. Sejak usia 5 tahun Pangeran Yeon-ryeong tinggal dan dibesarkan sendiri oleh ayahnya, Raja Sukjong, sebab ibu kandungnya (Selir Myeong-bin) meninggal dunia (pada 1703). Kematian ibunya membuat Pangeran Yeon-ryeong kecil berlari-lari di istana sambil memanggil-manggil nama ibunya. Akhirnya ayahnya menyadari bahwa walaupun Pangeran Yeon-ryeong tidak mengerti apa itu kematian, tetapi dia tahu bahwa ibunya sudah pergi dan tidak akan kembali. Sukjong sangat sedih melihat putra bungsunya ini sehingga beliau membawanya tinggal di kediamannya. Ini sangat melanggar peraturan dan tradisi istana Joseon, tetapi Sukjong tidak mempedulikan hal itu. Pangeran Yeon-ryeong dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh ayahnya, ratu, dan juga kakak-kakaknya. Seharusnya, Pangeran Yeon-ryeong baru boleh mendapat gelar kepangeranan pada usia 6 tahun, tetapi Sukjong memberikannya gelar kepangeranan pada usia 5 tahun. Sukjong membungkam semua pihak yang ingin mengganggu gelar kepangeranan Pangeran Yeon-ryeong dan bahkan mengasingkan beberapa dari mereka. Pangeran Yeonryeong meninggal diusia 21 tahun, hanya satu tahun sebelum kematian Sukjong. Raja Sukjong sangat terpukul atas kematian sang pangeran. Sukjong ingin menghadiri seluruh upacara pemakaman putra kesayangannya itu, tapi tidak bisa karena dia sedang sakit dan juga para pangeran lainnya termasuk Putra Mahkota Hwiso (bakal Raja Gyeongjong) dan Pangeran Yeoning, dan juga para pejabat istana menentang keinginan raja karena khawatir hal itu akan memperburuk kesehatannya. Pangeran Yeonryeong tidak memiliki keturunan, sehingga Sukjong mengadopsi seorang anak sebagai pengganti Pangeran Yeonryeong dan memberikan posisi pangeran pada pangeran pengganti. Pangeran pengganti ini diwajibkan menjadi Pangeran Yeongryang dan diharapkan akan melanjutkan garis keturunan Pangeran Yeongryang. Pangeran Yeonryeong dimakamkan di samping makam ibunya, Selir Myeong-bin Park .



Terlalu banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi pada era Sukjong yang dicatat sejarah, peristiwa-peristiwa berikut adalah peristiwa-peristiwa paling terkenal pada era Sukjong: 

- Peristiwa Kyungshin Hwanguk pada tahun 1680
Kyungshin hwanguk adalah pemberantasan kekuasaan fraksi yang disaat itu dipegang oleh fraksi selatan pimpinan Huh Jeok.
Sukjong mulanya berpihak pada fraksi Selatan, namun pada tahun 1680, Huh Jeok dituduh berkhianat oleh fraksi Barat, yang mengakibatkan Huh Jeok dan Yoon Hyu di eksekusi yang diikuti dengan pemberantasan dari fraksi Selatan. Sekarang yang berkuasa adalah fraksi Barat yang dibagi menjadi fraksi Noron (Pelajaran Lama) yang dipimpin oleh Song Siyeol, dan fraksi Soron (Pelajaran Baru), yang dipimpin oleh Yoon Jeung. 

- Peristiwa Gisa Hwangguk pada tahun 1689 
Peristiwa Gisa hwangguk adalah pemberantasan terhadap fraksi Noron yang ambruk setelah 9 tahun berkuasa, ketika Sukjong menggulingkan Ratu Inhyeon, dan menunjuk Selir Hee dari klan Jang (atau Selir Jang) sebagai ratu yang baru. Fraksi Noron (barat) membuat geram Sukjong ketika mereka menentang pelantikan putra Selir Jang sebagai putra mahkota. Fraksi Selatan, yang mendukung Selir Jang dan putranya, mendapatkan kembali kekuasaan dan menyingkirkan fraksi Barat, lalu mengeksekusi Song Siyeol sebagai tindakan balas dendam.

- Peristiwa Gapsul Hwanguk pada tahun 1694
Peristiwa Gapsul hwanguk adalah pemberantasan kembali kekuasaan fraksi Selatan (Partai Namin). Fraksi Selatan yang merasa diatas angin, merencakan pemberantasan lainnya terhadap fraksi Barat yang dituduh berkonspirasi untuk menempatkan kembali Ratu Inhyeon yang diasingkan. Namun tanpa mereka duga, Sukjong mulai menyesal telah mengasingkan Ratu Inhyeon, dan juga menyayangi Selir Suk dari klan Choi (sekutu Ratu Inhyeon dan fraksi Noron). Marah dengan usaha fraksi Selatan yang memberantas fraksi Barat, Sukjong tiba-tiba berbalik memberantas faksi Selatan dan membawa fraksi Barat kembali berkuasa. Fraksi Selatan tidak pernah pulih dari pukulan ini. Jika anda menonton beberapa drama Joseon yang mengambil latar setelah era Sukjong seperti "Sunkyunkwan Scandal", anda pasti familiar dengan cerita para bangsawan Namin yang dikucilkan atau tidak memiliki pengaruh, bahkan diremehkan. Peristiwa Gapsul Hwanguk adalah alasan mengapa diskriminasi seperti itu dialami oleh para bangsawan Namin. Terlebih lagi, para bangsawan Namin adalah bangsawan-bangsawan awal di Joseon yang memeluk agama Kristen, yang meskipun agama Kristen dilindungi dan tidak diganggu dimasa pemerintahan Raja Sukjong dan Gyeongjong, namun dimasa pemerintahan raja-raja setelah Sukjong dan Gyeongjong, penganut Katolik merupakan sasaran pembasmian, termasuk diantaranya para bangsawan Katolik dari fraksi Namin. Anggota fraksi Namin terutama penganut Katolik hanya merasakan sedikit kelegaan di masa pemerintahan Raja Jeongjo yang toleran dan murah hati, dan di masa pemerintahan Raja Gojong yang terkenal sebagai seorang reformator. Itupun baru dapat dinikmati oleh penganut Kristen ketika Raja Gojong berhasil mengambil kekuasaan penuh dari sang ayah, Pangeran Besar Heungseun.

- Penurunan gelar Ratu Jang, dan pengangkatan kembali Ratu Inhyeon.
Peristiwa Gapsul Hwanguk menyebabkan peristiwa lainnya terjadi. Sukjong menurunkan Ratu Jang, menjadi Selir Jang, dan mengangkat kembali Ratu Inhyeon sebagai ratu. 

- Wafatnya Ratu Inhyeon pada tahun 1701.
Ratu Inhyun wafat karena penyakit yang tidak diketahui. Kematiannya ini menyebabkan beberapa orang dieksekusi dan menjadi secara tidak langsung akar perselisihan partai-partai dimasa mendatang.

Selir Jang dihukum mati pada tahun 1701
Selir Jang (Jang Ok Jung) akhirnya dieksekusi dengan minum racun karena didakwa mengutuk Ratu Inhyeon yang kemudian wafat.

- Kematian Putri Mahkota.
Putri Mahkota dari Pangeran Yi Yoon (calon raja Gyeongjong) meninggal secara misterius saat Gyeongjong masih sebagai putra mahkota yang menjalankan pemerintahan sebagai pengganti Sukjong yang sering sakit. Hingga kini tidak ada catatan sejarah yang menjelaskan penyebab kematian putri mahkota.

- Pengakuan Pulau Ulleung dan Batu Liancourt oleh Jepang sebagai wilayah Joseon pada tahun 1696, dimana di era sekarang kembali diperebutkan oleh kedua negara, yang populer disebut Sengketa Pulau Dokdo. Pulau ini sebelumnya telah diakui sebagai milik Joseon pada era raja Sejong.

- Penetapan perbatasan nasional di sungai Yalu dan Tumen sebagai kerjasama dengan Dinasti Qing pada tahun 1712.

- Wafatnya putra kesayangan Sukjong, Pangeran Yeongryang pada 2 Oktober 1719. 


Banyak prestasi yang dibuat oleh Sukjong, yaitu reformasi sistem pajak, mengijinkan kelas menengah dan anak-anak selir untuk maju ke posisi pemerintah yang lebih tinggi di provinsi-provinsi, juga mengembangkan pertanian dari provinsi jauh dan meningkatnya aktivitas budaya termasuk publikasi-publikasi.

Raja Sukjong wafat setelah 46 tahun memerintah pada tahun 1720 pada usia 60 tahun. Ia dimakamkan di Myeongreung (명릉) di provinsi Gyeonggi, Kota Goyang di dalam Pemakaman Lima Kerajaan Barat (서오릉).

Raja Sukjong memerintah Joseon dimasa yang sama ketika wangsa Stuart di Inggris digantikan oleh wangsa Hanover dengan raja mereka, yaitu George I. Eranya juga merupakan era ketika Inggris dan Skotlandia bersatu sehingga wilayah ini disebut Britania Raya. Sukjong juga memerintah di-masa yang sama saat Raja Louis V menjadi Raja PrancisSukjong juga memerintah sebagai raja Joseon ketika Peter I Yang Agung diangkat menjadi czar Rusia. Sukjong hidup dimasa yang sama dengan masa pemerintahan Pakubuwana I. Ia juga memerintah Joseon ketika terjadi pemberontakan Trunajaya di Jawa dan juga pada masa-masa perjuangan Untung Suropati melawan Belanda. Sukjong juga memerintah Joseon saat pulau Madura jatuh ketangan VOC. Ia masih menjadi Raja Joseon ketika wangsa Bourbon memerintah Spanyol dengan raja-nya, Raja Felipe V, dan saat João V masih menjadi raja Portugal. 


Para Aktor yang memerankan Raja Sukjong


Era Raja Sukjong merupakan era yang paling sering diceritakan dalam film dan serial drama, namun yang paling terkenal adalah serial drama DONG YI dimana Raja Sukjong diperankan oleh Ji Jin He dan juga drama JANG OK JUNG dimana Raja Sukjong diperankan oleh Yoo Ah In. 

Drama dan film lainnya tentang Raja Sukjong adalah film "Shadow In The Park", "Jang Hee Bin" (1961), "Female Fatal Jang Hee Bin" (1968), "500 Years of Joseon: Queen Inhyun" (1988), "Jang Hee Bin" (2002), dan drama "Queen Inhyun’s Man" (2012). Sukjong juga merupakan raja dalam drama "Daebak" (atau "Jackpot") yang dibintangi oleh Jang Geun-suk dan Yeo Jin-goo.





20. RAJA  GYEONGJONG 

Raja Gyeongjong lahir sebagai Yi-Yoon pada tahun 1688. Ia merupakan raja ke-20 Dinasti Joseon, dan merupakan putra Sukjong dengan Selir Hee-bin dari klan Jang, atau dalam sejarah lebih dikenal dengan nama Jang Ok-jung. Ketika ibunya dihukum mati pada tahun 1701, ia baru berusia 13 tahun. Gyeongjong diangkat menjadi putra mahkota pada 16 Juni 1690 dengan nama Putra Mahkota Hwiso. Saat diangkat menjadi putra mahkota, Gyeongjong baru berusia 2 tahun. Gyeongjong menggantikan ayahnya sebagai raja yang memerintah Joseon pada tahun 1720-1724. 


Berbeda dengan ayahnya yang memiliki banyak istri, Gyeongjong hanya menikah dua kali dan tidak pernah memiliki selir. Istri-istri Gyeongjong adalah:

1.RATU DAN-UI
Ratu Dan-ui berasal dari klan Shim Changseong. Beliau lahir pada 11 Juli 1686. Beliau lebih tua dua tahun dari Raja Gyeongjong. Ratu Danui adalah keturunan ke-12 Raja Seongjong. Beliau dinikahi oleh Gyeongjong saat berusia 11 tahun, pada tahun 1696. Ratu Dan-ui tidak memberikan Gyeongjong keturunan. Namun, Gyeongjong, yang seakan trauma pada pertikaian antara selir dan ratu yang mengakibatkan kematian ibunya, bersikeras tidak mau mengambil seorang selir yang bisa memberikannya keturunan. Saat itu, hanya sedikit orang yang tahu bahwa Gyeongjong mandul. Desas-desus yang beredar adalah Dan-ui lah yang mandul, tetapi Gyeongjong dan ayahnya berusaha membungkam semua isu itu. Gyeongjong sangat mencintai Dan-ui, demikian juga dengan Sukjong yang sangat menyayangi menantunya itu. Sayangnya, Ratu Dan-ui meninggal sebelum Gyeongjong naik takhta. Saat itu ratu Dan-ui masih menjadi seorang putri mahkota, setelah Gyeongjong menjadi raja, barulah dia mendapat nama anumerta yaitu Ratu Dan-ui. Ratu Dan-ui memang tercatat sering jatuh sakit. Beliau sudah mulai jatuh sakit pada tahun 1701. Saat itu, saat kematian Ratu Inhyeon, beliau dicatat sedang sakit dengan gejala yang sama dengan Ratu Inhyeon. Tetapi, kematiannya masih misteri. Dalam Sillok Raja Sukjong dicatat bahwa dua tahun sebelum Sukjong meninggal (dua tahun sebelum Gyeongjong naik tahta), putri-mahkota (Ratu Dan-ui) tiba-tiba menghilang dan kemudian ditulis bahwa dia meninggal (8 Maret 1718). Ratu Dan-ui berusia 32 tahun ketika beliau meninggal. Gyeongjong sangat syok atas kematiannya, dan juga, Raja Sukjong sangat berduka dan meratapi kematiannya. Walau Dan-ui tidak pernah menjadi ratu tetapi Gyeongjong menobatkannya sebagai ratu pertamanya secara anumerta. Setelah Gyeongjong meninggal, adiknya, Raja Yeongjo, juga mengukuhkan status Dan-ui sebagai ratu pertama Gyeongjong dan memberikan gelar anumerta padanya. Setelah kematiannya, adiknya, Shim Yoo-hyeon, bergabung dengan kubu pendukung Gyeongjong dan menuding bahwa kematian Gyeongjong akibat racun. Sikap adiknya ini membuat keluarga Ratu Dan-ui mengalami nasib buruk akibat ditangkap dan diasingkan.


2.RATU SEON-UI
Ratu Seon-ui berasal dari klan Hamjong Eoh. Beliau lahir pada 14 Desember 1705. Ratu Seon-ui lebih muda 17 tahun dari Gyeongjong. Beliau dinikahi oleh Gyeongjong ditahun yang sama dengan tahun meninggalnya Ratu Dan-ui (1718) saat berusia 14 tahun. Ratu Seon-ui tidak memberikan keturunan pada Gyeongjong. Karena tidak kunjung memiliki anak, beliau kemudian berusaha mengangkat Pangeran Myeongphil (keturunan Putra Mahkota Sohyeon) sebagai putra angkatnya. Setelah Gyeongjong meninggal, Ratu Seon-ui turun tahta. Beliau tidak menjadi ibu suri sebab Ratu Inwoon (ratu terakhir Sukjong) masih hidup. Ratu Seon-ui diperlakukan dengan baik oleh adik iparnya, Raja Yeongjo. Beliau tidak tinggal di Istana Changdeok melainkan di istana Chang-gyeong hingga kematiannya pada 12 Agustus 1730, hanya enam tahun setelah kematian Gyeongjong. Beliau baru berusia 25 tahun saat meninggal.



Berbeda dengan anggapan banyak orang saat ini, saat masih menjadi seorang pangeran, Gyeongjong sebenarnya adalah seorang pangeran yang sehat. Beliau tidak bertubuh lemah, walau memang benar dia mandul. Konon, Ibu Gyeongjong, Selir Jang (Jang Ok-jung), yang menyebabkan Gyeongjong menjadi mandul. Saat Selir Jang dijatuhi hukuman mati dengan minum racun pada tahun 1701, dia memohon untuk melihat anaknya, sang Putra Mahkota. Ketika Selir Jang berlari ke arahnya untuk menyambut Gyeonjong, ia terjatuh dan menimbulkan cedera parah pada perut bagian bawah Putra Mahkota yang membuat Putra Mahkota menjadi mandul. Walau demikian, Gyeongjong masih mampu menjalankan tugas sebagai seorang putra mahkota.

Pada tahun 1718, Raja Sukjong mengijinkan Gyeongjong yang masih sebagai putra mahkota, untuk memerintah negara sebagai pendamping raja. Posisi Gyeongjong ini disebut sebagai Raja Muda atau Raja Kedua. Gyeongjong, saat masih menjadi Putra Mahkota Hwiso adalah satu dari tiga putra mahkota Joseon yang pernah menjadi raja muda saat raja sebelumnya masih memerintah. Putra mahkota sebelum Gyeongjong yang pernah menjadi penguasa de facto Joseon saat raja Joseon masih berkuasa adalah Pangeran Yi Hyang (Raja Munjong) yang menjadi penguasa de facto Joseon menggantikan ayahnya (Raja Sejong) yang telah tua dan sakit-sakitan, dan Pangeran Gwanghae yang menjadi penguasa de facto Joseon saat ayahnya (Raja Seonjo) harus melarikan diri dari ibukota karena serbuan Jepang pada perang Imjin.

Fraksi Soron mendukung Putra Mahkota, putra Selir Jang (Raja Gyeongjong), dan fraksi Noron mendukung putra Selir Choi (Pangeran Yeoning, kemudian menjadi Raja Yeongjo). Mendiang Ratu Inhyeon dan Ratu yang baru Inwon tidak memiliki keturunan. 

Pada tahun 1690, pelantikan Gyeongjong sebagai pewaris menimbulkan pertikaian di antara fraksi Noron dan Soron. Setelah kematian Raja Sukjong tahun 1720, Putra Mahkota Hwiso (Yi Yun) naik tahta pada usia 33 sebagai Raja Gyeongjong. Sukjong diduga mengatakan kepada Yi Yi-Myoung untuk menunjuk Pangeran Yeoning sebagai pewaris Gyeongjong namun tanpa pencatat catatan harian kerajaan. Gyeongjong menderita sakit selama pemerintahannya, dan faksi politik Noron menekan Gyeongjong untuk mundur dan menunjuk saudara tirinya, Pangeran Yeoning, untuk menggantikan dia sebagai Raja. Pada 1720, dua bulan setelah penobatannya, saudara tirinya, Pangeran Yeoning, dilantik sebagai Putra Mahkota untuk menangani urusan negara karena Gyeongjong yang sering sakit.

Karena tubuh Raja Gyeongjong sangat rapuh, ia tidak punya energi atau waktu untuk melakukan banyak hal dalam empat tahun pemerintahannya, sehingga memperburuk perebutan kekuasaan dan menyebabkan pembantaian besar. Partai Noron mengirim peringatan kepada raja itu tidak ikut campur dalam pemerintahan sedangkan partai Soron memanfaatkan raja demi keuntungan mereka.

Masa pemerintahannya yang singkat diwarnai dengan berbagai peristiwa yang dramatis, antara lain:

- Percobaan pembunuhan terhadap Pangeran Yeon-ing
Fraksi Noron yang mendukung pangeran Yeon-ing sebagai putra mahkota merasa ketakutan saat Gyeongjong menjadi raja, karena mereka khawatir Raja akan membalas dendam atas kematian ibunya, selir Jang, yang dihukum mati atas desakan partai Noron. Sedangkan fraksi Soron justru khawatir jika Yeon-ing kelak menjadi raja, karena mereka akan menjadi partai yang akan diberantas. Oleh karena itu berbagai upaya pun untuk dilakukan untuk melenyapkan pangeran Yeon-ing. Anggota partai Soron memiliki ide untuk membunuh Pangeran Yeoning, dengan berpura-pura berburu rubah putih yang dikatakan selalu mengganggu istana. Para pembunuh menyerbu istana untuk membunuh putra mahkota Yeon-ing, sehingga sang putra mahkota harus bersembunyi didalam pakaian kerajaan Ratu Inwoon (ratu terakhir Raja Sukjong), yang sangat dekat dan lebih menyayangi Yeon-ing ketimbang putra tirinya yang lain, termasuk raja.

- Pemberantasan anggota fraksi Noron, pada tahun 1721 dan tahun 1722
Akar dari peristiwa ini adalah surat wasiat Raja Sukjong. Sukjong yang wafat pada tahun 1720, konon setelah memberitahu Yi Yi-myoung untuk menunjuk Pangeran Yeon-ying adik Gyeongjong dari selir Sukbin, sebagai pewaris Gyeongjong, namun tanpa kehadiran pencatat sejarah atau diari kerajaan. Wasiat ini menimbulkan pertentangan antar fraksi mengakibatkan fraksi pendukung pangeran Yeon-ing yaitu fraksi Noron diburu. Empat pemimpin Noron di eksekusi pada tahun 1721, dan kemudian terjadi eksekusi 8 anggota Noron pada tahun 1722.

- Pengukuhan adiknya, Pangeran Yeon-ying sebagai putra mahkota
Pengangkatan ini disebabkan oleh kekurangan Raja Gyeongjong yang tidak memiliki keturunan. Beliau lalu berusaha memenuhi wasiat ayahnya untuk mengangkat adiknya sebagai Putra Mahkota, namun proses pengangkatan sang adik sebagai putra mahkota merupakan salah satu sumber konflik yang menyebabkan dieksekusi-nya para pejabat pendukung adiknya yaitu pejabat dari fraksi Noron. Gyeongjong mengupayakan semua cara dengan maksimal agar adiknya dapat menggantikannya sebagai raja kelak jika dia tidak memperoleh keturunan. Pengangkatan Yeon-ing sebagai putra mahkota sangat berisiko. Gyeongjong menghadapi banyak pertentangan termasuk dari fraksi yang mendukungnya yaitu fraksi Soron. Pertentangan ini memuncak saat fraksi Soron memberantas fraksi Noron dan juga diduga berusaha membunuh pangeran Yeon-ing, yang membuat Gyeongjong murka, sehingga dia benar-benar mengukuhkan adiknya sebagai putra mahkota. Gyeongjong kemudian menyingkirkan fraksi pendukungnya sendiri dari kekuasaan, yang diduga kuat sebagai upaya Gyeongjong memuluskan jalan Yeon-ing jika nanti menjadi raja. Pertikaian ini membuat para sarjana Soron jauh dari kekuasaan bahkan hingga beberapa abad kemudian.


Jika anda pernah menonton drama Sungkyunkwan Scandal, anda pasti familiar terhadap pertengkaran antar fraksi. Sebenarnya era inilah akar cerita mengapa Moon Jae-shin (diperankan oleh Yoo Ah-in) sangat membenci partai Noron karena dianggap telah membunuh kakaknya. Sebelumnya, Soron dan Noron bekerja-sama untuk menjatuhkan fraksi selatan (Namin) namun saat salah-satu dari mereka berkuasa, maka fraksi yang lain juga berusaha merebut kekuasaan. Rupanya pertikaian antar fraksi ini terus berlangsung sampai berpuluh-puluh tahun kemudian dan semakin memanas hingga berakibat meninggalnya Pangeran Sado yang dihukum mati ayahnya atas petisi dari partai Noron, kemudian pertikaian itu terus berlanjut di era raja Jeongjo (latar drama Sungkyunkwan Scandal), dan pada salah-satu konflik antar fraksi, kakak dari Moon Jae-shin terbunuh oleh pengikut fraksi Noron. Fraksi Noron keluar sebagai pemenang, itulah mengapa saat kita menonton Sungkyunkwan Scandal, kita melihat ayah dari Moon Jae-shin harus menuruti semua perintah dari perdana menteri yang adalah ketua fraksi Noron.

Sebagian besar prestasi-prestasi Gyeongjong dibuatnya saat dia masih menjadi Putra Mahkota yang menggantikan Raja Sukjong dalam menjalani pemerintahan. Walau demikian, dia juga membuat prestasi-prestasi lain dimasa singkat pemerintahannya, Selama pemerintahannya, ia membuat senjata kecil yang meniru senjata barat, modernisasi ini sangat membantu Joseon dalam menjaga wilayahnya. Dia juga mereformasi sistem pengukuran tanah di bagian selatan negara itu. Peninggalan lainnya adalah beberapa karya kaligrafinya yang selamat hingga kini yang ditulis olehnya saat dia masih menjadi pangeran.

Raja Gyeongjong jatuh sakit akibat keracunan seafood dan meninggal pada 1724. Ia dimakamkan di pemakaman Uireung di Seokgwan-dong, Seongbuk-gu, Seoul. Ada beberapa spekulasi dari anggota partai Soron bahwa saudara tirinya, Pangeran Yeoning, ada hubungannya dengan kematiannya, karena upaya fraksi Noron yang berusaha menaikkan Yeon-ing menggantikan Gyeongjong, tetapi beberapa ahli sejarah modern berpendapat Gyeongjong bisa saja meninggal makan seafood yang sudah rusak, seperti yang dikutip dalam buku Homer, The History of Korea. "Tapi kami meragukan kebenaran rumor tersebut, karena tidak ada yang mengatakan bahwa adiknya yang melakukan tindakan itu, lalu poin kedua adalah, orang memang kemungkinan dapat mati keracunan akibat makan seafood yang dibawa sejauh tiga puluh mil dari laut pada pertengahan musim panas tanpa didinginkan dengan es." 

Riwayat pemerintahan Gyeongjong dipublikasikan di bawah pemerintahan adiknya, Raja Yeongjo, pada tahun 1732.

Raja Gyeongjong memerintah Joseon dimasa yang sama George I masih memerintah Inggris. Gyeongjong juga memerintah di-masa yang sama saat Raja Louis V masih menjadi Raja Prancis dan ketika Peter I Yang Agung mempersatukan seluruh Rusia. Gyeongjong hidup dimasa yang sama dengan masa pemerintahan Amangkurat IV, dan juga memerintah Joseon saat Spanyol masih diperintah oleh Raja Felipe V, dan saat João V masih menjadi raja Portugal. 


Beberapa Aktor yang memerankan Raja Gyeongjong

Tidak banyak drama yang menceritakan Gyeonjong sebagai tokoh utama, namun ia sering diceritakan dalam drama yang menggambarkan Raja Sukjong atau para ratu dan para selir Sukjong sebagai tokoh utama, karena posisi Gyeongjong sebagai Putra Mahkota era Sukjong. Drama yang sempat menceritakan kehidupan Gyeongjong adalah "Dong Yi" dan "Jang Ok Jung", yang menceritakan saat dia masih menjadi pangeran. Gyeongjong juga muncul dalam drama "Daebak" (atau "Jackpot") yang dibintangi oleh Jang Geun-suk dan Yeo Jin-goo, dan sempat muncul dalam film "The Royal Tailor".

Tokoh Pangeran Lee Gak dalam "Rooftop Prince" mirip dengan kisah Raja Gyeongjong saat dia masih seorang pangeran, karena Putra Mahkota Hwiso (Gyeongjong) adalah Putra Mahkota Joseon di era 300 tahun yang lalu sebelum drama Rooftop Prince dibuat. Dalam drama Rooftop Prince, terlihat bahwa Gyeongjong memiliki otoritas yang sangat besar bahkan bisa memerintah para menteri istana, mirip dengan status Gyeongjong yang menjadi penguasa de facto Joseon di tahun-tahun terakhir pemerintahan ayahnya. Persamaan lainnya dari tokoh Lee Gak dan Raja Gyeonjong adalah Putri Mahkota Gyeongjong (saat Gyeonjong masih sebagai Putra Mahkota Hwiso) meninggal mendadak dimasa pemerintahan Raja Sukjong, yang mana kematian Putri Mahkota merupakan inti cerita dari drama tersebut.





21. RAJA  YEONGJO 



Raja Yeongjo dalam lukisan kerajaan

Raja Yeong-jo lahir sebagai Yi-Geum pada tahun 1694, dan memerintah pada tahun 1724–1776 dan merupakan raja Joseon dengan masa pemerintahan terlama dalam sejarah Joseon. Ia merupakan putra kedua Raja Sukjong dengan Selir Suk-bin dari klan Choi, yang menggantikan kakaknya, Raja Gyeongjong sebagai raja. Ia memperoleh gelar Yeong-jo, karena ibunya (selir Choi) berasal dari rakyat jelata (bekas dayang pengangkat air di istana), sehingga dia tidak mendapatkan nama kuil yang berakhiran ‘-jong’ seperti kakaknya dan ayahnya. Ia adalah raja Joseon yang memerintah paling lama, yaitu 52 tahun.

Raja Yeongjo menikah dengan Ratu Jeongsong dari klan Dalsung Seo pada November 1703. Pernikahan mereka berlangsung lama namun Ratu Jeongsong tidak memberikan keturunan pada Yeongjo. Ratu Jeongsong meninggal pada tahun 1757 karena sakit. Yeongjo baru menikah kembali dengan ratu keduanya dua tahun kemudian. Ratu keduanya itu adalah Ratu Jeongsun dari klan Gyeongju Kim pada 1702. Ratu Jeongsun pun tidak memiliki keturunan.

Yeongjo juga memiliki banyak selir yaitu:
Selir Agung Istana Jeong dari klan Yi (Yi Jeong-bin) yang memberikan Yeongjo 3 orang putra yaitu Putra Mahkota Hyojang (lahir pada 1719 namun wafat diusia 9 tahun pada tahun 1728), Putri Hwaeok (1717-1718), dan Putri Hwasoon (1720-1758).
Selir Agung Istana Yeong dari klan Yi (Yi Yeong-bin) atau yang lebih terkenal dalam sejarah dengan nama Lady Seonhui. Lady Seonhui memberikan Yeongjo empat orang anak yaitu Pangeran Sado (1735-1762), Putri Hwapyeong (1727-1748), Putri Hwahyeop (1733-1752), dan Putri Hwawan (1738-1808).
Selir Istana Jo (Jo Gwi-in) yang memberikan Yeongjo seorang putri yaitu Putri Hwayoo (1741-1771).
Selir Moon (Moon Suk-ui) yang memberikan Yeongjo dua orang putri yaitu Putri Hwaryeong (1752-1821), dan Putri Hwagil (1754-1772).



Tokoh-tokoh sejarah Joseon yang terkenal pada jamannya adalah: 
Park Mun-su, seorang inspektur kerajaan yang merupakan pejabat kesayangan Raja Yeongjo. Beliau telah mengabdi pada Joseon sejak era Raja Sukjong. Park Mun-su adalah pejabat Joseon yang sangat berjasa dalam memadamkan pemberontakan Yi In-jwa. Baliau juga sering pergi mengelilingi Joseon untuk menangkapi para pejabat lokal yang korupsi atas nama raja.

Pangeran Sado, putra kedua Raja Yeongjo yang lahir saat Yeongjo telah berusia 40an tahun. Karena sering terkena demam dan panas tinggi, mentalnya terganggu. Dia sangat sering bersiteru dengan Raja Yeongjo. Puncak perseteruan mereka adalah ketika Sado dihukum mati (secara tidak langsung) oleh Raja Yeongjo. Sado merupakan putra mahkota paling terkenal dalam sejarah Joseon.

Pangeran Yi-san, cucu raja (putra sulung Sado) yang kelak menjadi Raja Jeongjo.

Lady Hyegyeong, istri dari Pangeran Sado.

Ratu Jeongsun, ratu terakhir Raja Yeongjo. Dia adalah seteru abadi Pangeran Sado dan Raja Jeongjo. Pada masa pemerintahan Raja Jeongjo, para pengikut ratu ini memberontak dan mencoba membunuh Jeongjo tapi akhirnya bisa dikalahkan. Ratu Jeongsun pun dicabut semua keistimewaannya namun tetap diijinkan tinggal di istana. Setelah Jeongjo meninggal, dia menjadi wali dari Raja Sunjo (putra Jeongjo) dan kembali melakukan pembantaian pada para pendukung Jeongjo.

Ratu Dowager Inwoon, ratu terakhir Raja Sukjong (ayah Raja Yeongjo). Beliau sangat dekat dan sangat sayang pada Raja Yeongjo. Beliau adalah orang yang yang menolong Yeongjo saat masih menjadi pangeran Yeoning dan menyembunyikan Yeongjo dalam pakaiannya saat Yeongjo akan dibunuh oleh pihak oposisi.

Hong Pong-han, ayah dari Lady Hyegyeong. Beliau adalah keturunan langsung Hwajung (putri bungsu raja Seongjo)

Putri Hwayeop, salah-satu putra raja Yeongjo dari Lady Seonhui. Beliau meninggal karena wabah cacar. Dia adalah adik kesayangan Pangeran Sado.

Putri Hwawan, salah-satu putra raja Yeongjo dari Lady Seonhui. Bersama dengan Ratu Jeongsun mereka  adalah seteru abadi Pangeran Sado dan Raja Jeongjo. Pada masa pemerintahan Raja Jeongjo, dia diasingkan, dan sempat diijinkan kembali ke ibukota namun kembali diasingkan hingga dia meninggal.

Putri Hwasoon, alah-satu putra raja Yeongjo dari Lady Seonhui. Beliau meninggal karena bunuh diri setelah suaminya meninggal. Pada masa modern, beliau merupakan teladan tentang kesetiaan seorang istri pada seuaminya. Dia adalah adik yang dekat dengan Pangeran Sado.

Lady Seonhui, selir kesayangan dari Raja Yeongjo. Beliau adalah ibu dari Pangeran Sado.

- Yi In-jwa, seorang bangsawan dari partai Soron yang yang merupakan pendukung Raja Gyeongjong (kakak Yeongjo). Dia melakukan pemberontakan untuk menggulingkan Raja Yeongjo. Yi In-jwa bangsawan dari klan Yi dari Cheonju. Dia adalah keturunan Raja Sejong dari garis Pangeran Imyeong (salah satu pendukung Pangeran Suyang/Raja Sejo). Yi In-jwa sangat menentang keputusan Raja Gyeongjong yang mengangkat Pangeran Yeoning sebagai putra-mahkota. Sangat mungkin dia juga terlibat dalam percobaan pembunuhan Pangeran Yeoning/Raja Yeongjo oleh partai Soron pada masa pemerintahan Gyeongjong. Yi In-jwa sangat marah dan kecewa saat melihat para bangsawan partai Soron justru dikucilkan dari pemerintahan oleh Raja Gyeongjong demi memuluskan jalan adiknya sebagai raja. Diam-diam dia merencanakan pemberontakan. Pasukan Yi In-jwa berhasil menguasai ibukota dan hampir menguasai istana. Pasukan pemberontak berhasil dipukul muncur pada tanggal 26 Maret 1728 (kalender lunar), dan keesokan harinya Yi In-jwa. Nama Yi In-jwa tidak dipulihkan oleh Raja Gojong meskipun para sarjana Soron mengajukan pemulihan namanya.


Era dari Raja Yeongjo adalah salah satu era kemakmuran Joseon. Ia melanjutkan era kemakmuran era Sukjong, yang juga berhasil mempertahankan otoritas keluarga kerajaan. Beberapa sejarawan menilai kuatnya kekuasaan yang dimiliki oleh Yeongjo adalah berkat legitimasi yang diberikan oleh ayahnya, Raja Sukjong, saat dia masih menjadi pangeran, dan juga berkat segala upaya yang dilakukan oleh kakaknya, Raja Gyeongjong, yang menghadapi banyak rintangan saat berusaha mengangkat Yeongjo sebagai putra mahkota dan mempersiapkan jalannya menjadi raja. 

Raja Yeongjo sangat mendalami Konfusian dan memiliki pengetahuan yang lebih hebat dibandingkan dengan para pejabatnya. Selama pemerintahan Yeongjo dan cucunya Jeongjo, Konfusian berada di puncaknya sebagai alat pemulihan ekonomi dari perang-perang yang terjadi di akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17.

Raja juga terkenal sangat menyayangi Park Mun-su, yang menjabat Amhaeng-eosa (암행어사) atau inspektur rahasia pemerintah.

Namun raja tidak  akur dengan sang putra mahkota, Pageran Sado. Raja Yeongjo adalah raja yang mudah marah, dia bahkan marah karena kejadian yang sangat sepele. Parahnya, sang Putra Mahkota selalu membangkitkan kemarahan ayahnya. Akibatnya, Sado menjadi sangat takut pada ayahnya dan selalu bertindak dengan hati-hati di hadapan raja. Hal ini memperburuk hubungan ayah dan anak itu. Sado selalu gugup saat bertemu ayahnya. Ketika diberikan pertanyaan, Sado tidak pernah bisa menemukan jawaban dengan cepat sehingga membuat sang ayah, yang terkenal sangat cerdas, semakin marah. Setiap kali mereka bertemu, kebencian Raja Yeongjo terhadap Sado terlihat lebih mendominasi perasaannya, melebihi kasih sayangnya pada sang putra. Raja tidak pernah duduk bersama-sama dengan Putra Mahkota, dan sering memarahinya di hadapan orang lain. 

Raja Yeongjo sangat percaya takhyul dan fengshui. Ia menghindari kata-kata seperti 'kematian'. Ketika ia kebetulan mendengar kata-kata tak menyenangkan, biasanya ia akan mencuci telinganya. Setelah berbicara beberapa kata dengan Pangeran Sado, Raja akan selalu berkumur-kumur, mencuci telinganya, dan berganti jubah baru. Raja juga sangat teliti tentang mana pintu yang digunakan. Ia membedakan antara pintu untuk tugas yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Dia sering memerintahkan Sado untuk menggantikannya melakukan beberapa tugas yang tak menyenangkan, seperti yang memimpin penyiksaan para kriminal. Entah kenapa selalu ada ketidak-cocokan di antara mereka, dan Pangeran tidak pernah bisa melakukan apapun yang baik dimata raja. Secara bertahap, Raja mulai menghindari Putra Mahkota. Konflik-nya dengan Putra Mahkota kelak ini mengakibatkan kematian sang putra.


Peristiwa-peristiwa terkenal yang terjadi pada masa pemerintahan Raja Yeongjo adalah:

- Kematian Pangeran Hyojang pada tahun 1728. Pangeran Hyojang adalah putra pertama Raja Yeongjo, dia adalah kakak dari Pangeran Sado. Kelahiran Pangeran Hyojang sempat menimbulkan perdebatan karena Pangeran Hyojang lahir di masa-masa perkabungan kematian ibu Raja, yaitu Dong Yi, karena menurut adat Joseon, sang raja tidak boleh melakukan hubungan suami-istri dimasa perkabungan atas kematian orang-tuanya.

Pemberontakan Yi In-jwa pada tahun 1728, yang berhasil dipadamkan dengan bantuan Park Mun-su. Yi In-jwa adalah seorang bangsawan dari partai Soron yang merupakan pendukung Raja Gyeongjong (kakak Yeongjo). Dia melakukan pemberontakan untuk menggulingkan Raja Yeongjo. Yi In-jwa bangsawan dari klan Yi dari Cheonju. Yi In-jwa diam-diam dia merencanakan pemberontakan untuk mengkudeta Raja Yeongjo yang dianggap sebagai orang yang paling bertanggung-jawab atas pemubunuhan anggota partai Soron. Da lalu mengerahkan tentara dari Cheonju dan berhasil mengalahkan pasukan kerajaan disana, setelah itu Pada bulan Februari 1728, pasukan Yi In-jwa berhasil menguasai ibukota, dan pada bulan Maret 1728 pasukan pemberontak menyerbu istana dan hampir menguasai istana. Pasukan pemberontak berhasil dipukul muncur pada tanggal 26 Maret 1728 (kalender lunar), dan keesokan harinya, pemberontakan berhasil dipadamkan dan Yi In-jwa terbunuh (27 Maret 1728 kalender lunar atau 5 Mei 1728 kalender masehi). Nama Yi In-jwa tidak dipulihkan oleh Raja Gojong meskipun para sarjana Soron mengajukan pemulihan namanya.

Mewabahnya epidemi campak pada tahun 1752. Wabah ini membuat adik kesayangan Pangeran Sado, Putri Hwayeop meninggal.

- Wafatnya Putri Hwasoon karena bunuh diri
Putri Hwasoon adalah putri Yeongjo dari selirnya, Lady Jeong dari klan Lee. Ia menikah dengan Kim Han-sin (Wol Sung-wee), namun suaminya ini mati muda. Sang putri sangat terpukul atas kematian suaminya dan memutuskan bunuh diri. Dia sangat dihormati oleh rakyat Joseon atas kesetiaannya pada sang suami.

- Pembantaian pertama pada penganut Katolik
Yeongjo adalah Raja Joseon pertama yang beraksi melawan aktivitas-aktivitas Katolik Roma di dalam negara. Pada abad ke-18, Katolik mulai mendapat pengikutnya terutama di propinsi Gangwon dan Hwanghae. Pada tahun 1758, Yeongjo secara resmi menganggap Katolik sebagai sebuah praktik yang jahat. Rakyat jelata dan kalangan terpelajar sangat menyambut baik ajaran Kristen karena agama Kristen mengajarkan dan menegaskan tentang kasih kepada Tuhan yang dibuktikan dengan mengasihi sesama manusia, juga anti-penindasan dan perbudakan karena ada Firman yang berbunyi bahwa "Semua manusia adalah orang-orang merdeka didalam Tuhan." Namun ajaran ini mendapat penolakan keras dari kaum Yangban yang berkuasa. Bukan karena ajaran kasih atau anti-penindasan tersebut, namun ajaran tentang kesetaraan adalah ajaran yang sangat tidak masuk akal dan sulit diterima oleh para kaum yangban yang berkuasa karena dapat mengancam posisi mereka dalam pergaulan sosial dan dalam pemerintahan.


- Skandal Raja & Skandal Putra Mahkota. 
Pada 1753, Raja Yeongjo menjalin hubungan dengan seorang wanita dari istana yang bermarga Mun, dan membuatnya hamil, dia pun diangkat menjadi selir. Sekitar waktu yang sama, Pangeran Sado melakukan hal yang sama dengan wanita istana lain, Yangiye. Sado mencoba untuk membuat Yangiye melakukan aborsi, karena ia takut reaksi ayahnya. Raja murka besar pada Sado. Yangiye melahirkan seorang putra, dan, segera setelah itu, dia melahirkan anak lain. Pada 1754, selir Raja melahirkan 2 putri. Saudara laki-laki selir Mun, Mun Söng-guk, mulai melaporkan rincian perilaku eksentrik Sado kepada Raja. Ini memperburuk hubungan antara ayah dan anak lebih jauh.


- Kematian Putra Mahkota Sado
Dari semua kisah dan prestasi di era Yeongjo, kisah keamtian putranya ini adalah yang paling terkenal. Putra Mahkota Sado (13 February 1735 – 12 July 1762) adalah putra raja Yeongjo dari selirnya, Lady Sönhui (1696-1764).  Dia memiliki penyakit mental dan selalu berbeda pendapat dengan ayahnya. Pada tanggal 4 Juli 1762, Sado dipanggil oleh Raja Yeongjo. Raja memerintahkan pegawai istana untuk mengambil kotak kayu yang berat, yang digunakan untuk menyimpan beras atau gandum. Sado dimasukkan ke dalamnya dan ditutup sangat erat. Di penjara yang sempit ini, Sado dibiarkan kelaparan. Setelah 8 hari, pada tanggal 12 Juli, Sado ditemukan mati. Ia dimakamkan di pemakaman kerajaan. Ia adalah salah satu dari beberapa Putra Mahkota Joseon yang tidak pernah naik takhta.


Setelah Raja Yeongjo wafat, dan putra pangeran Sado, Yi San, menjadi raja, sebagai Raja Jeongjo. Awal dari tahun pemerintahannya ditandai oleh intrik politik dan kecemasan para pejabat istana yang takut kalau-kalau Jeongjo akan membalas dendam pada mereka atas petisi yang diajukan mereka yang menyebabkan kematian ayahnya, Putra Mahkota Sado. Pada abad ke-19, salah satu keturunan Sado secara anumerta menghadiahi Pangeran Sado gelar kerajaan "Jeonjo". Selama abad ke-19, ada rumor bahwa Pangeran Sado tidak sakit mental, tetapi telah dijebak. Namun, rumor tersebut dibantah oleh istrinya, Lady Hyegyeong, di The Memoirs of Lady Hyegyeong. Kematian Sado tetap menjadi isu perdebatan mengenai apakah kematiannya adalah pembalasan bagi kesalahan yang sebenarnya atau jika dia adalah korban dari sebuah konspirasi oleh lawan-lawan politiknya.

Yeongjo dimakamkan di makam dinastik di Donggureung. Pada era nya, lahir Gang Jeong-il dang, Sarjana wanita Joseon; Hong Daeyong, Ahli astronomi yang disebut ‘Copernicus dari Joseon’; Yi Saju-dang, Penulis buku pendidikan pra-kelahiran pertama di dunia;Yu Deukgong ; pelukis ternama, Kang Dong Ho; Ahli beladiri ternama, Baek Dong Soo; dan Yu Suwon.

Ia dimakamkan bersama istri keduanya di makam kerajaan Wonneung (원릉) di kota Guri.

Raja Yeongjo memerintah Joseon dimasa yang saat George II masih memerintah Inggris. Yeongjo juga memerintah di-masa yang sama diakhir masa pemerintahan Raja Louis V sebagai Raja PrancisYeongjo juga memerintah sebagai raja Joseon ketika Yekaterina II yang Agung mulai memerintah sebagai kaisar Rusia. Yeongjo juga hidup dimasa yang sama ketika Kartasura terbagi menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Kesultanan Yogyakarta). Yeongjo juga memerintah Joseon saat Spanyol diperintah oleh Raja Fernando VI dan Raja Carlos III.

Beberapa Aktor yang memerankan Raja Yeongjo


Era Yeongjo menjadi latar dalam film "The Grand Heist" (2012), yang dibintangi oleh Cha Tae-hyun, Oh Ji-oh, dan Song Joong-ki, dan merupakan raja dalam film "The Royal Tailor" yang dibintangi oleh Park Shin-hye, Go Soo, dan Yoo Yeon-seok. Kisah masa akhir pemerintahan Raja Yeongjo diceritakan dengan cukup detail dalam drama "Yi San". Drama atau film lainnya adalah "The Memoirs Of Lady Hyegyeong" (1988), dan "Warior Baek Dong Soo". Dia juga diceritakan dalam drama "Daebak" dan dalam drama "Dong Yi" saat dia masih menjadi pangeran, dan juga muncul di-episode terakhir saat dia telah menjadi raja. 


Kisah detail tentang Raja Yeongjo dan Pangeran Sado diceritakan dalam film "SADO" (dibintangi oleh Yoo Ah-in sebagai Pangeran Sado, Song Kang-ho sebagai Raja Yeongjo, dan Moon Geun-young sebagai istri pangeran Sado. Pangeran Sado juga menjadi tokoh utama dalam drama "Secret Door", yang bercerita tentang konspirasi para bangsawan yang berusaha menjatuhkannya dan pertikaiannya dengan ayahnya, Raja Yeongjo.



22. RAJA  JEONGJO 


Raja Jeongjo dalam lukisan kerajaan

Raja Jeongjo lahir dengan nama Yi-san pada tahun 1752. Ia mewarisi tahta kakeknya Raja Yeongjo pada tahun 1776. Ia adalah cicit dari Raja Sukjong. Sama seperti kakeknya, Raja Jeongjo, ia tidak mendapatkan nama kuil yang berakhiran ‘-jong’ karena nenek buyutnya (selir Choi) berasal dari rakyat jelata (bekas dayang pengangkat air di istana), juga ayahnya, Pangeran Sado adalah Putra Mahkota yang tidak pernah menjadi raja bahkan dieksekusi mati, sehingga dia memiliki gelar yang berbeda dari kakek buyutnya. Dalam Sejarah Joseon, Raja Jeongjo dikenal sebagai "raja yang visioner".

Ia merupakan putra dari Pangeran Sado, yang dihukum mati oleh ayahnya sendiri, Raja Yeongjo. Pengangkatannya sebagai putra mahkota dan penobatannya sebagai raja menimbulkan ketakutan yang luar biasa dari para penentang ayahnya. Lawan-lawan politiknya khawatir jika Jeongjo akan melakukan balas dendam atas kematian ayahnya.

Ia adalah seorang pemimpin dan visioner Joseon yang sukses, setara dengan Raja Sejong. Raja Jeongjo merupakan salah satu raja terbesar dari Joseon. Bersama dengan kakeknya, Raja Yeongjo, dan pendahulunya, Raja Gyeongjong, Jeongjo melanjutkan tongkat estafet era kemakmuran Joseon yang dimulai oleh kakek buyutnya, Raja Sukjong.

Raja Jeongjo hanya memiliki seorang ratu, yaitu Ratu Hyoui dari klan Cheongpung Kim, yang dinikahi Jeongjo pada 1762 saat Jeongjo masih seorang pangeran. Pernikahan mereka berlangsung lama namun Ratu Hyoui tidak memberikan keturunan pada Jeongjo. Sebagai gantinya, dia mengadopsi dua orang putra dari selir-selir Jeongjo. Ratu Hyoui meninggal pada tahun 1821 (21 tahun setelah Jeongjo wafat).

Jeongjo juga memiliki beberapa selir yaitu:
Selir Agung Istana Won-bin dari klan Pyeongsan Hong (Hong Won-bin). Beliau tidak memberikan Jeongjo keturunan. Dia meninggal setahun setelah diangkat menjadi selir agung istana.
Selir Agung Istana Hwa-bin dari klan Yun (Yun Hwa-bin). Beliau sempat mengandung namun mengalami keguguran.
Selir Agung Istana Ui-bin dari klan Seong (Seong Ui-bin) yang memberikan Jeongjo seorang pangeran pewaris yaitu Putra Mahkota Munhyo. Namun, Putra Mahkota Munhyo hanya mampu hidup hingga di usia 4 tahun. Selir Seong juga melahirkan seorang putri namun meninggal setelah dilahirkan. Selir yang malang ini akhirnya meninggal saat beliau mengandung.
Selir Agung Istana Su-bin dari klan Park (Park Su-bin) yang memberikan Jeongjo putra pewaris yaitu Pangeran Yi Gong (Raja Sunjo), dan juga seorang putri yang cerdas, yaitu Putri Sukseon (pencipta Kkakdugi).


Tokoh-tokoh sejarah Joseon yang terkenal pada jamannya adalah: 
Lady Hyegyeong
Ratu Jeongsun
Jeong Yak-yeong
Hong Pong-han
Putri Hwawan
- Hong Guk-yeong
- Baek Dong-soo
- Yi Seung-hyun
- Kim Hong-do


Peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa pemerintahannya termasuk prestasi dan karya dari Raja Jeongjo adalah sebagai berikut: 

- Pendirian Kyungjagak (perpustakaan kerajaan), yang juga digunakan untuk merekrut orang-orang yang berbakat untuk ditempatkan sebagai pejabat-pejabat kerajaan, dengan tujuan untuk meningkatkan kebudayaan dan politik Joseon.

- Penghapusan sistem kelas pada setiap lini pemerintahan, termasuk penunjukkan pejabat tinggi kerajaan.

- Keputusan untuk melanjutkan kebijakan Tangpyeong dari Raja Yeongjo.

- Pemindahan istana ke kota Suwon, dengan tujuan agar dia lebih dekat dengan makam ayahnya.

- Pembangunan Benteng Hwaseong, yang bertujuan menjaga makam ayahnya, Pangeran Sado. Tanggung jawab pembangunan Benteng Hwaseong dipercayakan oleh raja kepada Jeong Yak-yeong, seorang sarjana Silhak penganut Katholik. Benteng Hwaseong kini menjadi salah satu dari Situs Warisan Dunia UNESCO.

- Kematian Putra Mahkota Munhyo, yang posisinya digantikan oleh putra keduanya, Pangeran Gong.

- Gereja Kristen didirikan untuk pertama kali pada tahun 1784 oleh Yi Seung-hun, yang dibaptis di China.


Ketika ia masih menjadi seorang Putra Mahkota, Raja Jeongjo bertemu dengan Hong Guk-yeong, seorang politisi yang kontroversial yang mulanya mendukung kenaikan tahta dan bekerja keras untuk meningkatkan kekuasaan raja namun akhirnya diusir karena kerakusannya akan kekuasaan. Jeongjo berusaha keras membersihkan nama ayahnya semasa pemerintahannya. Kehidupannya sangat sulit karena ayahnya dibunuh. Keputusan Raja Yeongjo untuk mengeksekusi Pangeran Sado dipengaruhi oleh para politisi penentang Pangeran Sado, hal ini membuat Jeongjo mendapat banyak masalah namun dapat teratasi dengan bantuan Hong Guk-yeong. Namun, Hong Guk-yeong lalu menjadi tinggi hati sehingga menjadi batu sandungan bagi raja. Ia akhirnya diturunkan dari jabatannya dan diusir dari istana. Dia lalu menjadi sangat menyesal karena menganggap dirinya sebagai seorang pengkhianat yang mengkhianati kepercayaan rajanya.

Jeongjo mencoba mengontrol seluruh politik negara dengan meng-akuisisi berbagai pusat kekuasaan untuk mencapai pertumbuhan nasional yang positif.

Jeongjo memiliki banyak dukungan dari banyak sarjana Silhak termasuk Jeong Yak-yong, Yu Deuk-gong, Park Ji-won dan Park Je-ga. Era Raja Jeongjo adalah masa pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Joseon yang populer. Ia juga merupakan raja yang sangat toleran, karena berusaha menghentikan pembantaian umat Kristen, dan bahkan mengangkat Jang Yak-young yang merupakan penganut Katolik sebagai supervisor pembangangunan Benteng Hwaseong yang terkenal itu. Jaman Raja Jeongjo adalah tahun-tahun aktif dari pelukis ternama, Kim Hong-do. 

Ia menerima penghormatan dalam sejarah sebagai Raja yang inovatif. Namun prestasinya terhenti karena kematiannya yang mendadak. Ia tiba-tiba wafat pada tahun 1800 secara misterius, tanpa sempat menyaksikan impiannya yang diwujudkan oleh putranya, Sunjo. Sejak dahulu, ada banyak buku yang menceritakan tentang kematiannya yang misterius, bahkan hingga kini.

Ia dimakamkan bersama dengan istrinya di pemakaman kerajaan Geolleung (건릉) di kota Hwaseong.

Ibunya, Lady Hyegyeong, menulis sebuah biografi, The Memoirs of Lady Hyegyeong, menceritakan kehidupannya sebagai Putri Mahkota Joseon yang bernasib malang. Buku ini adalh sumber informasi sejarah yang berharga tentang kejadian politik selama masa pemerintahan Raja Yeongjo, Raja Jeongjo dan Raja Sunjo.

Raja Jeongjo memerintah Joseon dimasa yang saat George III memerintah Inggris. Jeongjo juga memerintah di-masa yang sama saat terjadi Revolusi Prancis yang menggulingkan monarki Prancis. Ia juga adalah Raja Joseon ketika Raja Louis VI dan Ratu Maria Antoinette dari Prancis dipenggal dengan menggunakan guilotine. Jeongjo juga memerintah sebagai raja Joseon ketika Paul I memerintah sebagai kaisar Rusia. Jeongjo juga hidup dimasa yang sama ketika Sri Sultan Hamengkubuwono II menjadi sultan Yogyakarta. Jeongjo memerintah Joseon saat Spanyol diperintah Raja Carlos IV. Ia juga adalah raja Joseon saat Raja Thaksin Yang Agung memerintah Thailand. Jeongjo juga merupakan Raja Joseon saat Amerika memproklamasikan kemerdekaannya dan menjadi negara Amerika Serikat dengan presiden pertama yaitu George Washington. Ia juga adalah raja Joseon dimasa-masa awal kehidupan Kapitan Pattimura dari Ambon. 



Beberapa Aktor yang memerankan Raja Jeongjo

Raja Jeongjo adalah tokoh raja dalam serial drama Sungkyunkwan Scandal. Dia juga adalah raja dalam drama "Painted In The Wind" (yang dibintangi oleh Moon Geun Young), dimana Raja Jeongjo diperankan dengan sangat baik oleh aktor Bae Su-bin. Film terkenal yang menggambarkan masa awal pemerintahaan Raja Jeongjo adalah "The Fatal Encounter" dimana Raja Jeongjo diperankan oleh aktor terkenal, Hyunbin, sedangkan serial drama yang menggambarkan sosok raja ini dengan detail dan sangat baik adalah serial "Yi San". Era nya juga menjadi latar dalam film "Detective K:Secret Of Virtuous Widow", yang dibintangi oleh aktor Kim Myung-min. Drama atau film lainnya adalah "Pa Mun" (1989), "Ambition" (1994), "Hong Guk Yong" (2001), dan "Warrior Baek Dong Soo" (2011). Jeongjo juga sempat muncul diakhir film "Sado" (diperankan oleh So Ji-sub).

Raja Jeongjo juga merupakan salah satu tokoh yang diceritakan dalam drama "Scholar Who Walks The Night", yaitu tokoh yang diperankan oleh Changmin (DBSK). Drama tersebut juga dibintangi oleh aktor Lee Joon-ki. Tokoh Raja Jeongjo juga diceritakan dalam komik "Vampire Of The East" karya Jo Joo-hee dan Han Seung-hee.






23. RAJA  SUNJO

Beliau lahir pada tahun 1790 dan memerintah pada tahun 1800 hingga 1834. Ia dilahirkan sebagai Pangeran Gong (Yi Gong), putra kedua Raja Jeongjo dengan selirnya, Lady Subin. Pada tahun 1800, ia naik tahta setelah kematian ayahnya, Raja Jeongjo. Karena ia baru berusia 11 tahun pada saat naik tahta, Ibu Suri Jeongsun, ratu kedua mendiang Raja Yeongjo, memerintah sebagai walinya. Raja Sunjo adalah raja Joseon terakhir yang tidak menggunakan nama kuil berakhiran ‘-jo’. 

Pada tahun 1802, ia menikahi Lady Kim dari Andong yang dikenal dengan nama anumertanya sebagai Ratu Sunwon, putri Kim Jo-sun yang merupakan pemimpin dari klan Andong-Kim.

Raja Sunjo hanya memiliki seorang ratu, yaitu Ratu Sunwon dari klan Andong Kim, yang dinikahi Jeongjo pada 1802. Ratu Sunwon berhasil memberikan Sunjo pangeran pewaris, yaitu Putra Mahkota Hyomyeong (ayah dari Raja Heonjong). Sayangnya, putra mahkota meninggal diusia yang sangat muda. Namun, Ratu Sunwon juga memberikan seorang putra (meninggal saat masih bayi), dan tiga orang putri, yaitu Putri Myeongon (1810-1832), Putri Bokon (1818-1828), dan Putri Deokon (1828-1844). Sunjo hanya memiliki seorang selir yaitu Selir Suk-ui dari klan Park (Park Suk-ui). Beliau memberikan Sunjo seorang putri, yaitu Putri Yeongon.


Tokoh-tokoh sejarah Joseon yang terkenal pada jamannya adalah: 
Lady Hyegyeong
Ratu Jeongsun
- Pastor Andrew Choi Taegoon
- Hong In-hong
- Hong Na-gim


Peristiwa dan prestasi dari jamannya adalah:

- Diciptakannya tarian resmi istana Korea (Hyangak Jeongjae) oleh Putra Mahkota Munjo pada tahun ke-28 dan ke-29 masa pemerintahan Raja Sunjo. Tarian ini adalah penyempurnaan dari tarian istana Cina (Dangak Jeongjae)

- Wafatnya Putra Mahkota Munjo (Pangeran Hyomyeon) pada 18 September 1809, di usia 21 tahun. Putra Mahkota menikahi Permaisuri Sinjeong (yang menjadi Ratu Jo, ibu suri dari Raja Heonjong dan juga Raja Cheoljong), istri dari Pangeran Munjo inilah yang kelak akan sangat berjasa menaikkan Gojong sebagai Maharaja Joseon. Putra mahkota Munjo adalah salah satu dari Para Putra Mahkota Joseon Tanpa Takhta.

- Penganiayaan terhadap Katolik tahun 1801, yang juga dikenal sebagai Penganiayaan Sinyu, merupakan sebuah penyiksaan masal penganut Katolik Korea yang diperintahkan oleh Janda Ratu Jeongsun (ratu dari Raja Yeongjo) pada masa pemerintahan Raja Sunjo dari Joseon pada tanggal 8 April, 1801 (hari ke-26 bulan lunar ke-2). Berbeda dengan Raja Jeongjo yang toleran, era Raja Sunjo melanjutkan kebijakan dari kakek buyutnya, Raja Yeongjo, untuk memberantas penganut Katolik. Banyak penganut Katolik dihukum mati, hal ini diperparah oleh "Insiden Hwang Sa-yeong". Pemimpin Gereja Hwang Sa-yeong menulis sepucuk surat yang merupakan sebuah kritik terhadap pemerintahan Joseon dan juga menganjurkan sebuah rencana untuk meminta sebuah kapal Barat untuk datang ke Korea dengan upaya untuk membantu umat Katolik yang dianiaya. Surat tersebut dicegat di dalam perjalanannya ke Beijing. Hal tersebut membangkitkan amarah pemerintahan dan membuat Hwang dieksekusi mati. Namun tidak seluruhnya umat Katolik dieksekusi. Sekitar 199 orang diasingkan, mereka diejek dan diawasi dengan ketat selama sisa hidup mereka.

Era Sunjo adalah era yang mengawali kekuasaan klan Andong-Kim di Joseon. 

Raja Sunjo memerintah Joseon dimasa yang saat George III digantikan oleh George IV sebagai raja Inggris dan saat William IV mulai memerintah Inggris. Sunjo juga memerintah di-masa yang sama saat Napoleon Bonaparte memimpin Prancis. Sunjo juga memerintah sebagai raja Joseon ketika Alexander I memerintah sebagai kaisar Rusia. Sunjo hidup dimasa yang sama ketika Perang Diponegoro berkecamuk di Jawa, dan saat H.W.Daendels menjadi Gubernur Jendral Hindia Belanda. Sunjo memerintah Joseon saat Spanyol diperintah oleh Dinasti Bonaparte. Namun, eranya juga merupakan era yang sama dengan era kejatuhan Napoleon Bonaparte di Eropa melalui kekalahannya di pertempuran Waterloo pada tahun 1815. Sunjo juga adalah raja Joseon ketika Kapitan Pattimura memimpin perjuangan melawan Belanda pada tahun 1817. Sunjo memerintah Joseon saat Hindia Belanda (Indonesia) berada dibawah mandat Inggris dibawah pimpinan Thomas Stanford Raffles yang lalu digantikan oleh Gubernur Jendral John Fendall. Sunjo adalah pemimpin Joseon saat Inggris mengambil alih Singapura dari Kesultanan Johor. Sunjo juga adalah raja Joseon saat Amerika Serikat dipimpin oleh Presiden Thomas Jefferson, dan juga masih memerintah Joseon saat Amerika Serikat dipimpin oleh presiden James Madison, presiden James Monroe, dan presiden James Quincy Adams.

Kisah tentang Raja Sunjo sempat diceritakan dalam serial drama "Sangdo" (Merchant Of Joseon). Tokohnya juga diceritakan dalam beberapa drama yang mengambil latar masa pemerintahan ayahnya, Raja Jeongjo yang termasyur.



Didahului oleh:

Artikel lain tentang Joseon:
Para Putra Mahkota Joseon Tanpa Takhta
Para Jendral Termasyur Dari Korea Kuno

Artikel lainnya tentang Sejarah Korea:


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ARTIKEL INI DISUSUN DAN DITERBITKAN PERTAMA KALI
OLEH DELEIGEVEN MEDIA

SETIAP ARTIKEL YANG MEMILIKI ISI, SUSUNAN, DAN GAYA PENULISAN
YANG MIRIP DENGAN ARTIKEL INI MAKA ARTIKEL-ARTIKEL TERSEBUT
MENYADUR ARTIKEL INI.

DILARANG KERAS MEMPLAGIAT ARTIKEL INI!

CANTUMKAN LINK LENGKAP ARTIKEL INI DISETIAP KALIMAT YANG ANDA DISADUR DARI ARTIKEL INI. SESUAI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA, JIKA MENYADUR/MENG-COPY MINIMAL SEPULUH KATA TANPA MENCANTUMKAN SUMBER DARI KALIMAT ITU (BERBEDA DARI PENCANTUMAN SUMBER DI CATATAN KAKI (FOOTNOTE) MAKA ITU ADALAH TINDAKAN PLAGIARISME.

JIKA ANDA MENYADUR SEBAGIAN BESAR ARTIKEL INI MAKA ANDA HARUS MENCANTUMKAN KALIMAT:
"ARTIKEL INI DISADUR DARI....(LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA",
ATAU:"SUMBER UTAMA DARI SEBAGIAN BESAR INFORMASI ARTIKEL INI DIAMBIL DARI (LINK ARTIKEL INI) YANG DITERBITKAN OLEH DELEIGEVEN MEDIA"  
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Notes (Catatan):

*We strongly recommend all readers to read all the comments below for the other details which not mentioned by this article
(Sangat disarankan bagi para pembaca untnk melihat komentar-komentar artikel ini sebab beberapa komentar membahas rincian informasi yang tidak ditulis dalam artikel ini)

*Get various information about history in ENGLISH by open or follow our Instagram account: @deleigevenhistory(Dapatkan berbagai informasi sejarah dalam bahasa Inggris di akun instagram kami @deleigevenhistory)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Copyrights Story: Deleigeven Media
Copyrights Picture: SBS, MBC, KBS, CJS Media, Showbox

Penyusun:
Penulis : Deleigeven
Editor : Juliet
Desain : Deleigeven
Penerbit: Deleigeven Media

Daftar Pustaka:
- Jeong Yak-young, The Joseon Dynasty's Social Reformer; Lim Ji-young; Korea (magazine) Edisi Maret, 2011
- Chandeok Palace; Korea Tourist & Culture Department
- Korea Travel Guide; Korea Be Inspired
- Shaping Korea For 21st Century; Tariq Hussein
- Design Seoul Story
- Korea Food & Stories; Korea Tourist & Culture Department
- East Asia And 15th-19th Century Joseon; Kang Sung-ho; Sunchon National University
- Unexpected Treasures From Asia; National Library Of Australia; Edisi Juni 2011
- Joseon King's Personal Belief in Buddhism And Its Political Significance; Pu Nam Chul; Youngsan University
- Jongmyo (Royal Shrine): Iconography Of Korea; Han Eun-ri
- Joseon's Royal Heritage (500 Year of Splendor); Korea Essential No.7; Korea Foundation
- Marginalization Of Joseon Buddhism And Methods Of Research; Thomas Kim Sung-eun
- Verivication Of The Calender Days Of The Joseon Dynasty; Lee Ki-won, Ahn Young-sook, Min Byeong-hee; Journal Of Korean Astronomical Society; 2012
- Portrait Of The Joseon Dynasty; Journal Of Korean Art Vol.5; 2011


Sumber Website:
www.wikipedia.com
www.inisajamostory.blogspot.com
www.kbs.co.kr


Beberapa paragraf disadur dari:
www.wikipedia.com
http://madmonarchs.guusbeltman.nl


Sumber gambar:
wikipedia.com (foto lukisan resmi kerajaan)
dramafever.com
flicker.com
SBS
MBC
KBS

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

55 comments:

  1. Wahh, benar juga.. Setelah membaca mengenai Raja Gyeongjong, rupanya memang banyak kemiripan dengan tokoh Lee Gak. Nice info. Thank U.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas apresiasinya.... Senang melihat anda kembali berkunjung ke blog ini....

      Delete
  2. Lagi suka nonton drama korea dgn latar belakang era joseon. Jadi suka nyari hubungan antara raja/putra mahkota yang di drama A, ex: dongyi dgn drama B, ex: rooftop prince atau dae jang geum dll. Jadi terbantu sekali.
    Walau masih bingung sih..., di drama the moon embracing the sun raja heonjong akhirnya kan punya pangeran mahkota dari ratu yg dicintainya. Trnyata di sejarahny tidak ada keturunan ya??. Oiya terimakasih ya.. ☺

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Sdr. Fakhrina Lubis

      Terima kasih karena sudah berkunjung juga untuk apresiasinya.
      Dari yang saya baca diberbagai sumber, memang raja Heonjong tidak punya keturunan. Dia adalah raja terakhir dari keturunannya Raja Jeongjo (Raja di Sungkyunkwan Scandal, Yi San, dll.). Karena tidak memiliki keturunan maka sepupu jauhnya lah yang diangkat menjadi raja. Drama The Moon Embracing The Sun adalah drama yang diangkat dari novel, jadi mungkin ada banyak kisah-kisah fiktif walaupun raja yang paling sesuai dengan cerita tersebut memang raja Heonjong. Drama The Moon Embracing The Sun juga mengambil kisah raja-raja yang lain, contohnya kakak sang raja yang mendukung adiknya menjadi raja lalu sang kakak pergi berkelana (mirip dengan sejarah raja Sejong), ayah raja yang sengaja menjauhi putranya sendiri walaupun dia adalah putra yang pertama (mirip dengan kisah raja Injo & raja Yeongjo), dll.
      Kalau Dae Jang Geum, drama yang sangat berhubungan adalah drama Mandate Of Heaven (Lee Dong Wook, Seulong 2AM, & Song Ji Hyo). Itu adalah drama yang menceritakan tentang putra mahkota di Dae Jang Geum.

      Semoga penjelasan dan postingan-postingannya membantu.
      Terima Kasih.

      Delete
  3. Karya yang bagus, bisa dijadikan referensi. Masih kuliah apa udah kerja?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Sdr. Jhon Miduk

      Terima kasih karena telah berkunjung dan juga untuk apresiasinya.
      Saya belum lama tamat kuliah dan sekarang telah bekerja,
      karena sejak dulu suka membaca sejarah maka saya membuat blog ini.

      Silahkan berkunjung ke postingan lainnya,
      semoga artikel-artikelnya dapat membantu.

      Delete
  4. wih ternyata sejarahnya sama dengan filmnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Sdr.Hensen,
      Terima kasih sudah berkunjung di blog ini & juga untuk apresiasinya.
      Silahkan berkunjung kembali ke postingan lainnya.

      Delete
  5. Bagus ,bagus bagus
    terima kasih referensi nya

    jadi penasaran Hyun Bin yg memerankan Raja Joeng Jo nya ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Sdri.Deria,
      Terima kasih atas kunjungan dan apresiasinya.
      Film nya bagus sekali, dan banyak juga pemain terkenal yang terlibat didalamnya.
      Selamat menonton. Salam.

      Delete
  6. Wah bagus banget... efek kebanyakan nonton drakor jadi pengen nyari sejarah joseon yg sebenarnya... kbetuln nemu situs sejarah joseon komplit di sini... gomawoyo :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear sdr./i Biru Langit..
      Terimakasih telah mengunjungi blog ini dan juga atas apresiasinya.
      Saya juga memposting tentang sejarah Goryeo, mungkin anda tertarik.
      Silahkan mengunjungi artikel2 saya yang lain.
      Salam.

      Delete
  7. Wuihhh dibanding yg lainnya disini lebih lengkap...
    Jadi tambah jatuh cinta dgn drama2 korea..yg meskipun digubah sdikit jalan ceritanya tapi tetap dbest lah buat ditonton berkali2pyn gak bosan...paling senang dgn kisah raja sukjong dan PM soehyun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, terima kasih atas kunjungannya.
      Semoga artikel2 nya membantu dan silahkan mengunjungi artikel lainnya.
      Salam.

      Delete
  8. waah.. bener bener tertarik sama sejarah joseon gara gara nonton secret door, masih ga nyangka pangeran sado mati T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai saudari Maulida,
      terima kasih telah berkunjung.
      Yah, demikianlah kisah sejarahnya T_T
      Tentang Pangeran Sado dapat dibaca lebih lengkap di: Para Putra Mahkota Joseon Tanpa Tahta
      Semoga artikelnya bisa membantu. Silahkan berkunjung kembali. Salam.

      Delete
  9. tq info..sy dari malaysia...sy suka drama berbentuk historical...sejak sy menonton drama jang ok jung...sy semakin berminat mengkaji sejarah joeson....sedih kesian semua ada...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama sdr./i Elin Nur,
      Kami menantikan kunjungan anda selanjutnya. Salam...

      Delete
  10. BEST nih....
    Ane seminggu ini search dr artikel2 sampe wiwki.. Sejauh ini yang terbaik dalam menjelaskannya adalah anda.. karenaaaaaa, mengambil drama/ film sebagai penggambarannya... Jadi nyambung ama kita2 yang kebetulan nonton drama2 historical korea...

    Ane paling tertarik sam KISAH pRINCE Sado tentu saja...
    Semua drama/ film nga ada yang sama dalam menggambarkan sado. Baik sbs, kbs, mbc, tv kabel lain.. semua punya versi tersendiri..

    Paling kontroversial tentu saja Secret Door nya SBS...
    KBS malah ada film pendek yang menggambarkan Sado itu dibawah pengaruh makhluk halus.. ane nntn di chanel youtube nya KBS..

    Kalo dr segi Yang Paling Mendekati catatan "Annals of the Joseon Dynasty" sepertinya film The Throne...

    ======

    BTW, ane lagi ubek2 wiki, sejarah korea sejak jaman Pra sejarah. Ternyata Queen Seondeok yang di drama itu hidup di masa yang jauh sebelum Joseon yah..
    Lalu ternyata ada dinasti sebelum joseon.

    Sapatau anda bisa membuat artikel yang sama tentang semua masa ini. Minimal dr masa Three Kingdom lah.

    Makasih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo saudara/i Sugiarto Kahar,
      Terima kasih atas kunjungan dan apresiasi saudara/i,
      Ada beberapa kerajaan di Korea yang memerintah sebelum era Joseon. Saya baru menulis dua dari kerajaan-kerajaan tersebut yaitu Silla dan Goryeo.
      Saya menulis mengenai raja-raja di kerajaan-kerajaan itu secara serial, dan dapat anda baca di: Kerajaan Silla dan Kerajaan Goryeo

      Delete
  11. dalam drama korea Jang Ok Jung ada di ceritakan mengenai penulisan novel Lady Sa oleh pihak pembela Ratu In Hyun sebagai upaya politik untuk mempengaruhi pemikiran masyarakat sehingga memandang Jang Ok Jung sebagai sosok yang ambisius dan jahat sehingga dapat mengembalikan posisi Ratu kepada In Hyun. Mohon penjelasan mengenai hal ini. kalau di pikirkan hal ini memang bisa sangat berpengaruh terlebih lagi pada masa itu rakyat kelas rendah belum mengeyam pendidikan dan pemikirannya di pengaruhi oleh orang diatas mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Hazhiyah,
      Terim kasih telah mengunjungi blog ini.

      Mengenai sejarah Jang Ok-jung yang sebenarnya, drama Dong Yi adalah yabg paling bagus. Setahu saya pada masa Inhyun dilengserkan, memang ada novel yang ditulis untuk membelanya. Tapi bukan karena novel itu sehingga Inhyun diangkat lagi menjadi ratu melainkan karena Raja Sukjong yang menginginkannya.

      Perkataan dan pendapat raja adalah yang paling pasti karena dicatat dalam Sillok yang tidak bisa diubah. Sedangkan pendapat rakyat tidak dicatat, hanya laporan para pejabat yabg dicatat dalam catatan administrasi kerajaan (seungjongwon ilgi) yang dilaporkan pada raja.

      Jang Ok Jung bukanlah sosok selir yang sangat jahat dari awalnya. Awalnya dia sangat baik & sangat setia. Dia terkenal karena kecantikannya & kepandaiannya & merupakan teman cerita Raja Sukjong jika ingin membicarakan hal-hal politik. Karakternya berubah total setelah dia memiliki putra akibat perebutan kekuasaan antar partai yang mendukung masing-masing selir & ratu.

      Drama Dong Yi jauh lebih mendekati kenyataan ketimbang drama Jang Ok Jung.
      Sosok Jang Ok Jung merupakan wanita yang cerdas dan tegas (tidak lemah).
      Sosok Jang Heejae (kakak Jang Ok Jung) juga digambarkan sesuai sejarah dalam drama Dong Yi (sangat cerdas namun haus kekuasaan).
      Karakter Ratu Inhyun juga lebih tepat digambarkan dalam drama Dong Yi karena ratu Inhyun terkenal berhati lembut.

      Jang Ok Jung memang terkenal ambisius namun dia tetap dihormati sebagai seorang wanita yang sangat mencintai suaminya dan juga atas pengabdiannya pada Raja.

      Demikian penjelasannya, semoga bisa membantu.

      Delete
  12. Suka banget sama blog ini,sangat informatif dan bermanfaat buat pecinta drama korea 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, maaf baru dibalas.
      Terima kasih atas apresiasi saudara/i.
      Kami menantikan kunjungan anda selanjutnya.... Salam...

      Delete
  13. Suka banget sama blog ini,sangat informatif dan bermanfaat buat pecinta drama korea 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo..
      Terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Saya juga menulis tentang Silla dan Goryeo.
      Semoga informasinya bisa membantu. Salam.

      Delete
  14. Em mau tanya klo choi suk bin itu apakah sejahat yg di drama jang ok jung?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Yorina,
      Mengenai Choi Sukbin, beliau sebenarnya tidak memiliki pengaruh apa-apa sebab yang sebenarnya berseteru adalah Jang Ok-jung dengan Ratu Inhyun. Nah Choi Sukbin hanyalah salah satu pendukung Ratu Inhyun. Dia juga tidak memiliki partai pendukung. Setelah menonton drama Jang Ok-jung ada baiknya menonton juga drama Dong Yi agar mendapat gambaran sejarah yang pas soalnya drama Dong Yi lebih sesuai dengan sejarah.

      Delete
  15. Duh telaat googling,, dulu pas nnton drama joseon2 gtu suka ga ngerti, yang penting nnton ajja.. ternyta dari film satu dan yang lainnya menceritkan versi nya masing2.. paling tertarik sama drama Jang OK Jung.. bkin baper karena dari kelas rendahan bisa jadi selir dan sangat mnctai raja bgtupun sbliknya,, Tapi blm pernah nnton Dong Yi nih, bisa diceritakan ga sekilas .. oh iya mengenain kemtian ratu inhyeon apa benar selir Jang Hui bin memantrai nya? Kalo di film Jang ok jung kan dia persembahn untuk mengobati putra mahkota ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo....
      Maaf sekali kami lambat membalas komentar anda soalnya tertumpuk dengan komentar-komentar lain.

      Mengenai Jang Ok-jung, ada baiknya anda membandingkannya dengan drama Dong Yi.
      Drama Dong Yi mengambil cerita yang lebih sesuai dengan sejarah.
      Jang Ok Jung adalah wanita yang baik, tapi sikap beliau berubah total sejak kelahiran anaknya (calon Raja Gyeongjong), soalnya dia harus melindungi anaknya. Tapi, cara yang digunakan Jang Ok-jung sangat ekstrim, yaitu dengan menyingkirkan semua lawan-lawannya termasuk ratu Inhyeon. Dia sangat ingin menjadi ratu agar status anaknya menjadi "anak ratu" bukan anak selir.

      Jang Heejae (kakak Jang Ok Jung) juga adalah seorang politikus yang kejam. Mereka berdua yang nanti memantra-mantra Ratu Inhyun.
      Bedanya, putra mahkota (anaknya Jang Ok Jung) tidak mandul sejak lahir (seperti yang diceritakan dalam drama-drama termasuk Dong Yi) tapi karena Jang Ok Jung tidak sengaja jatuh menimpa perut putra mahkota, saat akan memeluk putra mahkota sebelum dihukum mati, sehingga perutnya cedera parah.
      Silahkan mengunjungi artikel selanjutnya untuk mengetahui kisah tentang Domg Yi dan Jang Okjung. Kami menyarankan juga agar saudara/i membaca komentar2 disetiap artikel karena ada beberapa artikel yang memuat komentar tentang Jang Okjung.

      Demikian penjelasannya, semoga membantu.
      Salam ^^

      Delete
  16. Keren ...kerennnn ...paket komplit di blog ini semua ada. Tapi emang drama dongyi kayaknya lebih sesuai sejarah kan kalo jang ok jung lebih kecerita pribadi ada bumbu-bumbu nya. Kayak dong yi kan di kisahkan juga ikut nimbrung sama pertikaian jang ok jung , ratu, sma fraksi. Padahal dalam sejarah dia gak kayak gitu cuma dia pro nya lebih keratu. Bela ratu supaya dapet hak nya yang semestinya . Jadi agak gak sesuai sama kisah atau sejarah aslinya subjektif , tapi tetep bagus kok ^^. Sebenernya agak jengkel juga sama fraksi-fraksi ikut campur sama kehidupan keluarga kerajaan apa gak ada kerjaan lain ajah. Oh ya kenapa kok tiap partai atau fraksi punya pihak atau kubu dari masing-masing ratu ? Atau selir, apa perempuan juga ikut andil dalam urusan politik dan kekuasaan kerajaan ? . sebernya pas nonton drama sungkyunkwan scandal juga bingung kok pada musuhan begitu bingung ada partai beda-beda. Oh ternyata karena kisah ini jadi penyebab semuanya. Sebenernya pengin nonton drama sejarah full tapi kebanyakan episode nya beeeeuuhhh ratusan XD . oh ya btw, kakanya kuliah jurusan sejarah yah pinter bangett.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo,
      maaf lama membalas. Komentarnya tertumpuk dengan komentar lain ^^
      Setiap pertanyaan pasti akan dibalas, tapi waktunya variatif. Bisa lama bisa juga cepat. Harap maklum ^^

      1.Dong Yi tidak ikut campur dalam urusan Jang Ok-jung.
      Benar pendapat saudara/i, Dong Yi sebenarnya memang tidak berseteru dengan Jang Ok-jung. Dia hanya ikut terbawa konflik antara Ratu Inhyun dan Jang Ok-jung karena Dong Yi mendukung Ratu Inhyun.

      2.Mengapa partai-partai atau fraksi di-back-up oleh ratu atau selir?
      Setiap partai atau faksi pasti berusaha mencari dukungan ratu atau selir yang berpengaruh. Jika seorang selir sampai memiliki putra, maka posisinya menjadi sangat berpengaruh. Bangsawan Joseon tidak ada yang netral, semuanya pasti akan masuk dalam golongan/partai yang sudah ada, seperti Partai Namin (Partai Selatan, partai-nya Jang Ok-jung), Fraksi Barat Noron, atau Fraksi Barat Soron. Lalu, dalam masing-masing fraksi masih juga terbagi beberapa klan, mulai dari klan besar hingga klan kecil (contohnya klan Andong Kim).
      Nah, semua anggota keluarga kerajaan pasti terikat dengan salah-satu fraksi. Seorang ratu atau selir pasti berasal dari keluarga salah-satu fraksi. Contohnya Jang Okjung yang berasal dari fraksi Selatan dan Ratu Inhyun yang berasal dari fraksi Barat (waktu itu masih satu fraksi, belum terpecah sebagai Soron dan Noron). Hubungan kekeluargaan ini yang membuat anggota keluarga kerajaan didukung oleh fraksi yang berbeda-beda.

      3.Apa perempuan punya andil dalam urusan politik kerajaan?
      Joseon menganut paham Kongfusius yang seakan mengharamkan wanita menjadi pemimpin negara. Tapi, budaya Korea tentang kepemimpinan wanita dalam suatu negara yang diwariskan oleh Kerajaan Silla membuat Joseon juga cukup familiar dengan campur tangan para wanita (selir atau ratu) dalam pemerintahan, terutama yang memiliki banyak pendukung dan berasal dari klan yang berpengaruh.

      Demikian penjelasannya. Semoga membantu ^^

      Delete
  17. Hai, salam sejahtera dan salam kenal admin. Saya sudah lama memulai membaca artikel-artikel di blog Anda, semuanya lengkap dan yaa lengkap. Ada salah satu hal yang membuat saya penasaran semenjak saya menikmati sejarah korean khususnya joseon, urutan dan syarat ketentuan seleksi putri mahkota apa aja sih? Hal itu sering 'dituliskan' di drama(dll) sebagai hal yang ketat, mungkin admin mau mengurangi rasa penasaran saya. Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syalom dan Salam Sejahtera.
      Terima kasih telah menjadi pengunjung tetap blog ini.

      mengenai Syarat Menjadi Putri Mahkota Joseon, ada banyak sekali syaratnya, antara lain:

      Syarat dasar:
      1.Harus berasal dari keluarga bangsawan, tanpa memandang apakah dia adalah bangsawan kaya atau bangsawan miskin.
      2.Gadis bangsawan itu harus masuk dalam daftar rekomendasi yang diberikan pada ratu dari para hakim dan gubernur masing-masing wilayah
      3.Kedua orang-tuanya harus masih hidup pada saat masa seleksi putri mahkota berlangsung
      4.Diutamakan berasal dari keturunan raja (sejak abad pertengahan)
      5.Masih perawan (dan tidak pernah menikah)
      6.Tidak memiliki cacat fisik dan cacat mental
      7.Fisik harus sehat dan Tidak boleh mandul
      8.Tidak berasal dari keluarga pengkhianat negara (salah-satu anggotanya dihukum dengan tuduhan pengkhianatan)
      9.Usianya lebih muda dari putra mahkota

      Setelah lulus dari tahap awal (sesuai dengan persyaratan dasar diatas) maka setiap putri mahkota harus lulus seleksi tahap lanjut, berupa:
      1.Pemahaman filosofi Kongfusius
      2.Pemahaman tata tertib istana
      3.Lulus ujian budi pekerti

      Diatas semua itu, keputusan akhir berada ditangan ratu selaku kepala istana dalam.

      Setelah seorang gadis terpilih sebagai putri mahkota, maka upacara pernikahan pun dilakukan. Pada hari pernikhanannya, calon putri mahkota akan dijemput oleh putra mahkota di kediaman keluarganya dan membawanya ke istana. Diistana, putri mahkota akan langsung tinggal di kompleks paviliun yang sama dengan putra mahkota.

      Demikian penjelasannya, semoga bisa membantu....
      Salam ^^

      Delete
  18. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  19. Min, saya mau bertanya, apakah di drama JACKPOT, tokoh Baek Dae gil ini merujuk pada kakak laki-laki pangeran yeoning yang meninggal masih bayi krn sakit? Tetapi d drama ini dibuat seolah2 dia meninggal tetapi hidup d luar istana, krn choi suk bin kan sebelum memiliki yeoning, dia punya putra pertama dulu.

    harap d balas pertanyaan yang ada dikolom komentar putra wang geon juga ya

    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mengenai Tokoh Baek Dae-gil, seperti yang sudah dikonfirmasi oleh tim produksinya, adalah tokoh fiktif.
      Plot ceritanya juga fiktif.
      Raja Yeongjo (Pangeran Yeon-ing) memang sangat cerdas tapi beliau adalah orang yang berpikir sangat tradisional dan menghormati prinsip-prinsip Kongfusianisme, sehingga tidak sesuai dengan cerita drama yang menceritakan beliau gemar berjudi bahkan mempertaruhkan hal-hal yang sangat penting.
      Yeongjo juga sangat percaya takhyul dan mitos-mitos "pamali" atau "pantangan", "pertanda baik atau buruk", dan juga "kabar baik dan kabar buruk". Dia juga adalah orang yang sangat serius. Beliau terkenal sebagai orang yang sangat klasik dan anti-hal baru/perubahan. Jadi, tidak mungkin dia memiliki karakter seperti dalam drama Jackpot.

      Demikian penjelasannya. Salam.

      Delete
  20. Wah baru tau kalau raja di film the royal tailor adalah raja yeongjo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Acep,
      terima kasih telah mengunjungi blog ini. Semoga artikel-artikel kami bisa membantu. Kami menantikan kunjungan saudara selanjutnya. Salam.

      Delete
  21. Saya harap blog ini juga mengupas sejarah kerajaan kerajaan di nusantara (pulau Jawa khususnya hehe) dari mulai kerajaan kuno salakanagara di Jawa Barat sampai keruntuhan Majapahit sangat menarik untuk ditelusuri ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo,
      Terima kasih atas feedback nya. Sebenarnya blog ini tidak khusus membahas sejarah Korea. Salah-satu artikel sejarah tentang Indonesia dapat dibaca di:
      DATUK BELAMBANGAN, RAJA PERTAMA KERAJAAN BATUBARA

      Semoga artikelnya membantu. Salam.

      Delete
  22. Banyak yang berkata bahwa masa lalu choe suk bin tidak di ketahui,bahkan nama aslinya,jadi menurut saya dong yi bukanlah nama aslinya melainkan hanya nama dari drakor saja
    Dan satu lagi yang saya ketahui,suk bin di keluarkan oleh raja karena sakit,bukan meminta untuk tinggal di luar istana,jadi mana yang betul?:)
    Dan menurut saya drama dong yi lebih pas dengan sejarah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Anugrahbagas Kurnia,

      1.Nama asli Choi Suk-bin memang belum terverifikasi karena belum ditemukan catatan sejarah perihal itu. Mungkin nama "Dong-yi" di ambil sebagai nama feminim mengikuti nama kakak laki-lakinya "Dong-hu" (nama yang memang tercatat dalam catatan sejarah). Mengenai dari mana nama "Dong Yi" bisa muncul kami belum tahu. Apakah dimunculkan oleh tim produksi drama "Dong Yi" atau pernah muncul nama ini dalam cerita-cerita rakyat dan novel-novel fiktif klasik era Joseon yang tidak dicatat dalam Sillok.

      2.Selir Suk-bin tinggal diluar istana pada akhir hayatnya karena sakit tetapi bukan karena diusir. Saat itu yang bisa mengusir seorang selir kelas "Bin" hanya Raja dan Ratu. Raja Sukjong tidak pernah memberikan perintah agar Selir Suk-bin diusir dari istana. Ratu Inwoon juga memiliki hubungan yang akrab dengan Selir Suk-bin. Tapi tidak ada catatan mengenai percakapan saat itu tentang bagaimana Selir Suk-bin keluar istana. Saat berada diluar istana, Selir Suk-bin tinggal di istana Inhyeon yang megah dan luas, yang artinya beliau tidak diasingkan. Istana ini diberikan oleh Raja Sukjong pada Suk-bin walau sempat diprotes oleh para menterinya. Jadi, mungkin kenyataannya seperti dalam drama "Dong Yi" yaitu bahwa Selir Suk-bin yang memilih tinggal diluar istana, entah agar penyakitnya bisa menular atau karena dia lebih nyaman disana. Satu tahun setelah Suk-bin tinggal diluar istana, Raja Sukjong mundur dari pemerintahan dan menyerahkan urusan pemerintahan pada putra mahkota. Setahun kemudian Suk-bin meninggal, sedangkan Sukjong menyusul 2 tahun setelah kematian Suk-bin.

      3.Dibanding drama lain, drama Dong-yi memang lebih mengikuti fakta sejarah.

      Demikian penjelasannya. Salam.

      Delete
  23. Terimakasih atas informasi yang admin bagikan. Saya baru saja menyelesaikan drama jang ok jung sehingga sangat penasaran dengan kisah nyatanya, dan sebelumnya saya pernah nonton beberapa drama historical tapi sy belum nonton drama dong yi. Saya sangat tertarik dengan cerita drama historical yang ternyata berhubungan satu sama lain meskipun sudut pandang berbeda.Yang masih mengganjal tentang kisah cintanya. Semua drama histirical pasti dibumbui dengan menambahakan kisah pertemuan dan akhir kisah cinta yang manis. Faktanya semua raja joseon mampu memiliki istri lebih dari satu. Pendapat sy setelah membaca artikel dan nonton drama bisa saja kisah jang hee bin dijebak dalam ritual pengukutan ratu inhyeon itu benar dan choi suk won yang bersekongkol dengan ratu inhyeon mohon tanggapan admin.Terima kasih

    ReplyDelete
  24. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  25. Makasih infonya min.. bener2 membantu banget artikelnya..
    Aku termasuk penonton yang kepo kalo lihat drama korea..
    Kak boleh minta penjelasan cerita di drama-drama Arang and the magistrate, 100 days my prince, Live up to your name, my sasy girl, black knight, dr Jin.. mana cerita yang fiktif dan mana yg diambil dri sejarah
    Thanks a lot kaka

    ReplyDelete
  26. Paling suka kl thema kolosal. . Suka sejarah Joseon... Smpe tingakatan2 raja. .permaisuri hingga pengangkatan selir.. .pngen tw apa sebutan atw gelar2 yg diberikan kpda selir.. Smpe bs naik tahta. .. Tq. .sdh membrikan sejarah dr ngra seol

    ReplyDelete
  27. Kak...kan di film haechi ada kisah raja yeongjo...ulas dunk kak mana yg nama fiktif ato ada dlm sejarah raja yeongjo para pejabat nya di film itu..tq kak

    ReplyDelete
  28. Sangat suka artikelnya tetntang sejarah korea.. Sangat kompleks

    ReplyDelete
  29. Penggambarannya sangat mirip sama drama Haechi, karena memang drama Haechi diambil dari fakta sejarah. Yang membuat saya penasaran, di drama Haechi ada tokoh Pangeran Mil Poong atau Yi Tan. Saya berusaha nyari apakah dia itu benar-benar ada, tapi informasi tentang Yi Tan sangat sedikit. Jadi saya harap admin mau membantu saya, apakah Yi Tan atau Pangeran Mil Poong itu nyata atau tidak? Dan kalo nyata, apakah dia memang sejahat itu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. di atas di jelaskan " Ratu Seon-ui tidak memberikan keturunan pada Gyeongjong. Karena tidak kunjung memiliki anak, beliau kemudian berusaha mengangkat Pangeran Myeongphil (keturunan Putra Mahkota Sohyeon) sebagai putra angkatnya."

      mungkin pangeran Mil Poong itu pangeran Myeongphil??

      Delete
  30. Wow saya sangat suka sejarah kerajaan oorea era joseon,intrik politik dan kekuasaan antar partai dan anggota kerjaan sangat nyata difilm2 saeguk, membuat kita nerasa menyaksikan sndiri sejarah tersebut, dr uraian tersebut dr yg saya lihat dibbrp sumber dan drama terbaru HAECHI, pemberontak bernama Yi injwa pemberongak pada era yeongjo adalah dr partai NAMIN yg digulingkan oleh 2 partai berkuasa soron dan noron, sedangkan diuraian anda dia dr partai soron. Terima kasih

    ReplyDelete
  31. baru selesai nonton haechi,dramanya berkaitan dengan drama dong yi dan jang ok jung, tapi di haechi ada adegan seseorang menghasut raja Gyeongjong, kalau gak salah dia bilang kalau ibu pangeran yeoning yg menyebabkan kematian ibu raja Gyeongjong, itu cuma hasutan aja atau memang sebenarnya dong yi yg membuat ok jung mati?. kalo nonton di drama jang ok jung, dong yi ini sosok yg jahat, kalau di dong yi dia sosok yg baik, tapi pas di haechi malah jadi bingung sebenarnya dong yi ini gimana hubungan nya sama jang ok jung..

    ReplyDelete
  32. Saya apresiasi dengan penulis drama Jang Ok Jung. Kita tidak tahu kenyataannya, apakah Dong Yi aslinya tulus atau tidak. Karakter Dong Yi yang dituliskan dalam drama Jang Ok Jung adalah satu kemungkinan, bahwa Dong Yi sebenarnya juga ambisius seperti Jang Ok Jung. Sebaliknya, bisa saja aslinya Jang Ok Jung memang hanya difitnah dan dijebak dalam situasi yang sulit.
    Beberapa penulis yang berdasarkan sejarah China, juga mengembangkan kisah yang berbeda antara Step Empress-Permaisuri Ke II Kaisar Qian Long dari dinasti Qing dengan Permaisuri Ling-Peramisuri ke III. Dalam Ruyi's Royal Love in The Palace, Permaisuri Ling dikisahkan sangat kejam, tapi dala The Story of Yanxi Palace dikisahkan Permaisuri Ke III sangat baik, sedangkan Permaisuri Ke II malah kejam.
    Nampaknya, karakter seorang tokoh akan disesuaikan dengan keinginan penulisnya, sehingga bagi kita penonton, tidak dapat mengetahui asli karakter masing2 tokoh.
    Namun hal ini sah-sah saja, justru membuat kita tidak menghakimi seorang tokoh sejarah yang mungkin tidak bersalah.
    Apresiasi untuk penulis blog ini: Deleigeven Historical. Sukses selalu untuk Anda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba deh bandingkan dg menonton drama series Dong Yi

      Delete

CATATAN PADA PARA PEMBACA:

-Silahkan membaca, mengambil, dan menggunakan artikel ini dalam karya tulis anda tapi CANTUMKAN KREDIT LENGKAP ARTIKEL INI dalam daftar sumber anda dan JANGAN MENYADUR/MENGCOPY-PASTE apalagi MEM-PLAGIAT 100% isi tulisan ini. Kembangkanlah kreativitas dalam penulisan anda.

-Pembaca DAPAT memberikan komentar dengan akun TANPA NAMA (Annonymous).

-Gunakanlah kata-kata yang baku agar komentar tidak dikategorikan sebagai "komentar Spam" secara otomatis oleh google filter machine.

-Harap MEMBACA ARTIKEL INI dan komentar-komentar sebelum anda DENGAN TELITI sebelum berkomentar, karena mungkin pertanyaan anda TELAH DIJELASKAN secara langsung melalui artikel ini, dan juga agar pertanyaan-pertanyaan yang sama tidak ditanyakan secara berulang.

-DILARANG memberikan informasi dan komentar yang melecehkan Suku, Agama, Ras, dan golongan tertentu (SARA) dan mengandung unsur pornografi.

-Kami menerima setiap kritik dan masukan dari para pembaca melalui kolom komentar, namun Setiap komentar yang melecehkan pihak lain, baik pelecehan berbau SARA atau yang mencerminkan FANDOM WAR akan kami HAPUS.

-Setiap komentar dan iklan yang mengandung unsur PORNOGRAFI dan PERJUDIAN, dan ajakan untuk bergabung dalam usaha SIMPAN PINJAM, KREDIT USAHA dan sejenisnya akan KAMI HAPUS karena berpotensi terjadi PENIPUAN.

-Jika anda memiliki informasi tambahan yang berhubungan dengan artikel ini, kami sangat senang jika anda membagikannya pada pembaca yang lain melalui website ini dan kami sangat senang jika anda juga turut membagikan artikel ini pada orang lain.